
Rasa malu nampaknya sudah menghilang dalam diri Henny ketika ia dihadapkan langsung dengan kakak sepupu Ree. Tanpa pikir panjang Henny melepas genggaman di lengan Servio dan langsung menarik tangan Luceat keluar dari ruangan menuju tempat dimana ia tidak akan diganggu oleh orang lain. Bahkan Henny tak mengindahkan panggilan orang-orang di dalam karena Servio sendiri membiarkan Henny melakukan apa yang ia ingin lakukan.
“Hei! Apa yang kamu lakukan!? Apa ini sopan untuk memperlakukan orang yang baru kamu temui?!”
Telinga Henny cukup panas mendengar protes dari pria yang ia tarik jasnya dengan tidak etis sama sekali menuju teras lantai dua restoran. Suasana sepi menjadi tempat yang cocok bagi Henny, jika bisa ia ingin mengeksekusi Luceat di malam ini juga jika ia tidak memikirkan rasa kemanusiaannya.
“Apa yang kamu lakukan?! Kamu siapa?!” Luceat menyibakkan jas yang sudah Henny lepas, bekas cengkraman kuat Henny meninggalkan kusut di permukaan jas yang terbuat dari sutra itu. Tenaga fisik Henny cukup kuat untuk membuatnya kusut.
Henny belum merespon Luceat, matanya masih menyusuri seluruh penampilan formal sepupu Ree satu itu dari atas sampai ke wajahnya yang sedang menatap Henny heran.
“Aku adalah Henny, selain menjadi kekasih Servio, aku merupakan teman Ree.”
Ia masih menjalani permainan kekasih ini, namun tidak bagi Henny untuk menutupi pertemanan antara ia dan Ree.
“Apa-apaan ini, jangan membuatku tertawa. Kemarin aku juga bertemu dengan Ree dan Servio. Kini kamu yang hadir menggantikannya? Biar aku tebak, apa Ree memintamu melakukannya?”
Urat kepala Henny rasanya timbul dari dalam dan menampakkan diri ke permukaan kulit akibat merasa dongkol setelah mendengar ucapan sarkas Luceat. Terlalu awal bagi Henny untuk meledakkan amarahnya, ia masih memiliki kata-kata untuk disampaikan.
“Kamu bilang apa? Apa pikiranmu terhadap Ree serendah itu hingga menilainya demikian? Ah! Benar juga, kamu adalah orang yang menghancurkan hidup Ree.” Henny menyeringai, memancing sesuatu yang sedikit ia ketahui tentang Luceat. Wajah Luceat seketika menegang, bersamaan dengan kedua telapak tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. Wanita di hadapannya ini bukan hadir sekedar untuk mengacaukan pertunangan melainkan melakukan sesuatu balasan terhadap apa yang telah terjadi dengan temannya.
“Ah!! Aku tidak akan mengatakan lebih lanjut, karena memang dirimu sudah nampak seburuk itu. Aku menarikmu hanya untuk bicara bahwa, jangan bicara macam-macam seolah kamu tahu. Tidak! Kamu tidak tahu apa-apa yang terjadi di antara aku dan Servio lalu Ree.” lanjut Henny. Pria di hadapannya saat ini adalah orang yang mengaku membuat Ree menjadi seperti sekarang, membuat sahabatnya selalu ketakutan ketika berada di tempat umum. Hidup terbatas yang Ree jalani hingga sekarang, ingin Henny kumpulkan semuanya dalam sebuah tinju yang dapat melayang ke salah satu pelipis Luceat.
“Kamu berbicara seolah tahu tentangku.” cibir Luceat geram.
“Mungkin aku baru bertemu denganmu secara langsung hari ini, namun Servio sudah menceritakannya padaku betapa buruknya kamu dan dengan percaya dirinya kamu mengakui keburukan di hadapan Servio sementara itu Ree kembali menderita.” Henny masih bisa dengan santai berkata-kata dengan menahan rasa kesal dalam hati. Namun ia tidak bisa menghabisi Luceat malam ini, karena bagaimanapun juga tujuannya dan Servio bukan membuat anak orang babak belur.
“Ingat baik-baik, aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Ree lagi. Saat ini ia berada di tahap perubahan, kamu yang tidak tahu betapa ia menderita selama ini, lebih baik diam saja dan jauhi dia.”
Henny menahan hati dan segera kembali ke tempat semula dengan meninggalkan Luceat sendiri di teras. Pria dewasa itu terdiam, bayang-bayang masa lalu perbuatannya terhadap Ree membuatnya memaku diri di tempat. Kala itu, apa salah dirinya dengan jujur menampakkan perasaannya. Daripada ia harus menahan dan menderita. Namun kejujuran malah membuat orang lain lebih menderita.
“Ree…” Luceat memanggil nama wanita cinta pertamanya yang selalu menghantui hatinya selama bertahun-tahun dan sampai saat ini, mengantarkan bisikan kecil itu melalui angin malam dan berharap pemilik nama dapat mendengarnya.
Henny kembali ketika hanya ada tersisa para keluarga Lumen, ia tidak tahu bahwa Servio akan di bawa paksa oleh orang tuanya untuk pulang.
“Henny, bibi tidak tahu akan seperti ini jadinya. Kami semua sangat kaget dan memutuskan untuk membatalkan pertunangan. Namun, jangan terlalu merasa bersalah! Bibi tidak akan menyalahkanmu dan akan menjelaskan baik-baik pada Brina…”
Bagaimana mungkin Henny menerima begitu saja ketika ia diminta untuk tidak merasa bersalah oleh ibu Ree.
“Sayang tenanglah!! Sebaiknya kita pulang dan menenangkan diri…”
Henny pun ditinggal sendirian di ruang itu, keluarga Lumen sudah pergi dengan wajah yang tidak perlu ditanyakan lagi betapa kecewanya semua orang. Hancur memang rencana pertunangan itu, sesuai dengan rencananya dan Servio. Tentang selesainya seperti apa, Henny tidak tahu apa yang akan terjadi pada Servio selanjutnya.
Berkat perbuatannya, Servio mendapat tamparan keras di kedua pipinya dari ayahnya yang sudah menahan murka selama diperjalanan.
“Kamu mengecewakan ayah! Membuat malu nama keluarga!! Apa kamu tidak memahami betapa pentingnya pertunangan dengan keluarga Lumen?!”
Dandelia langsung maju menarik lengan suaminya yang ingin menampar putra mereka sekali lagi. Bahkan dari sudut bibir Servio sudah mengeluarkan darah dan belum lagi wajahnya yang sudah merah dan memar. Dalam hati, Servio merasa bersalah telah meninggalkan Henny sendirian dan harus berhadapan dengan kemurkaan ayahnya saat ini. Tentu saja Servio tidak ingin membuat Henny dalam bahaya dan lebih baik ia sendiri yang berhadapan dengan ayahnya.
“Apa yang ayah bicarakan? Aku tidak merasa melakukan kesalahan dalam menentukan hidupku sendiri.”
“Berhenti bicara!!”
“Sayang!!”
Servio tidak dapat menahan mulutnya untuk protes, hidup diatur seperti ini bukanlah gaya dirinya. Membuatnya sesak dalam bernapas dan terbatas dalam bergerak. Servio tidak ingin melihat wajah orang tuanya memutuskan untuk pergi dari hadapan mereka menuju kamarnya. Situasi seperti ini, percuma saja jika Servio tetap berdiri di hadapan orang-orang dewasa yang seenaknya mengatur dirinya dalam menjalani kehidupan.
Alhasil, keputusan tuan Florence mengurung Servio di kediaman dan tidak memperbolehkan putra bungsunya untuk pergi ke akademi.
*
*
*
Tidak ada angin sekencang di pelabuhan menurut Henny ketika ia pergi mengunjungi ibu kota Crystallo. Meski tak sekencang di Litore karena wilayah pesisir, namun cukup menyegarkan pikiran Henny. Ia masih belum mendengar berita satupun dari Servio setelah tadi malam mereka menghancurkan pertunangan Servio. Bukan Henny jika ia tidak mengambil pusing sedikitpun, ia pulang dengan santai dan percaya saja bahwa segalanya bisa diselesaikan dengan baik. Tujuan utama sudah mereka dapatkan, masalah nasib kehidupan Servio selanjutnya berada di keputusan Servio itu sendiri.
__ADS_1
Henny menghentikan lamunannya dan melanjutkan pengamatannya di menara gedung militer. Teropong kecil ia hadapkan dengan mata kirinya demi melihat sesuatu lebih detail tentang situasi markas tempat ia magang. Menara pemantau yang cukup menjulang di pelabuhan itu membuat mata hampir bisa melihat keseluruhan pelabuhan, dimana dari jauh kapal datang dan pergi meninggalkan dermaga, serta kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang di dalamnya.
“Henny!!”
Henny langsung menghentikan kegiatannya ketika namanya dipanggil oleh kapten yang mengayominya dari tangga menara.
“Ada tamu mencarimu.”
Puas Henny menebak siapa yang mau bertemunya di jam sibuk seperti ini, jika itu Ree rasanya tidak mungkin karena perempuan itu pasti sibuk di akademi. Sementara Servio, rasanya ragu jika pria itu masih hidup pikir Henny ketika mengingat bagaimana wajah ayahnya.
Tak lama bagi Henny menuju ruang tempat tamu biasanya menunggu. Namun, sosok yang memunggunginya bukan seperti apa yang ia pikirkan. Henny sudah langsung tahu meski baru satu kali bertemu tadi malam.
Siapa lagi jika bukan kakak sepupu dan seorang anggota keluarga Lumen yang ia tarik dengan tidak etis semalam.
“Luceat…” rintih Henny ketika mata mereka saling bertabrakan satu sama lain.
Henny tak habis pikir dengan pria yang mengenakan setelah kemeja rapi berwarna putih dengan coat mantel berbulu yang panjang sampai lutut itu ikut bangkit berdiri ketika tahu Henny sudah tiba dan ada di mulut pintu masuk.
“Aku masih belum bisa menerima bagaimana kamu menilaiku semalam dan memang pembicaraan kita tidak semudah itu usai.”
Tanpa ragu Henny maju mendekati pria dengan surai coklat seperti Ree namun sedikit ikal. Tidak ada rasa takut sedikitpun ketika Henny menatap tajam ke arah Luceat yang juga menatapnya tanpa gentar.
“Apa yang harus kamu jelaskan?” tanya Henny jengah.
“Sampai sekarang Ree tidak dapat dengan tenang berada dimana-mana ketika harus berhadapan dengan lawan jenisnya. Sulit baginya tuk bernapas, tangannya tak jarang berkeringat dingin dan bergetar karena ketakutan. Bagaimana bisa kamu datang hari ini untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi selama bertahun-tahun belakangan?!”
Henny selalu mengingat hari-hari dimana Ree selalu memaksakan diri bahkan ketika menjadi murid yang diutus ke La Priens. Wanita itu tidak peduli dengan dirinya sendiri dan hanya ingin terlihat baik-baik saja di depan mata orang lain sementara dirinya menahan ketakutan akibat luka lama.
*
*
*
10 tahun yang lalu,
Ree yang sering ditinggal berlayar oleh kedua orang tuanya sering kali dititipkan di kediaman Luceat dan keluarganya. Karena keluarga Lumen merupakan pelaut, membuat rata-rata anggota keluarga selalu menghabiskan waktu dengan berlayar mengarungi lautan dan jarang kembali ke rumah. Bahkan kediaman mereka lebih sederhana dibanding dengan kapal yang membawa mereka di laut.
Luceat sendiri cukup sering menemani Ree dan Brina bermain.
“Kakak Luceat, apa yang sedang kakak lakukan?” tanya Ree ketika Luceat hanya duduk membaca buku sementara ia dan Brina sedang bermain boneka. Brina yang sudah tertidur di sisi Luceat membuat Ree bosan karena ia tidak biasa tidur di siang hari.
“Ree, bukankah kamu diminta untuk tidur juga?” tanya Luceat heran. Setahunya ibunya akan tetap menyuruh Ree dan Brina untuk tidur siang meskipun kadang Ree tidak melakukannya.
Ree duduk di sisi kiri Luceat sementara Brina sudah terlelap di sisi kanan kakak laki-lakinya tanpa ingat dunia lagi. Tangan Ree masih memeluk bonekanya dan matanya melihat barisan kalimat dalam buku yang Luceat genggam.
“Apa kamu bisa mengerti bacaannya?” tanya Luceat. Ree mengangguk dan mengaku sudah pandai membaca dengan lancar.
Luceat pun dengan senang hati membagi buku bacaannya dengan Ree, ia membuka lengannya dan membiarkan Ree bersandar di antara lengan dan tubuhnya. Tidak sulit bagi Luceat untuk merangkul Ree karena adik sepupunya itu bertubuh mungil.
Hari demi hari dan berganti menjadi berbulan-bulan sebelum Luceat pergi meninggalkan kediaman untuk sementara waktu. Selain belajar, matanya tak lepas mengamati apa yang dilakukan adik-adiknya.
“Luceat, kami tak akan lama. Tolong jaga adik-adikmu.”
“Baik bu.”
Waktu itu, kedua ibu dan ayah Luceat harus melakukan pelayaran selama beberapa hari ke luar kota untuk mengambil barang-barang yang dikirim oleh orang tua Ree di luar kota. Luceat tentu menjadi salah satu orang yang dipercayai untuk menjaga rumah beserta adik-adiknya selain para pelayan yang bekerja di kediaman mereka.
Tak sulit bagi Luceat karena Ree maupun Brina sama-sama sudah cukup bisa mengerti.
Seharusnya di mata Luceat tidak ada yang aneh dari Ree. Ia sama seperti Brina yang merupakan adik perempuannya. Terlebih mereka memiliki nama belakang yang sama. Namun Luceat selalu menyangkalnya di awal. Ree tidak berbeda, tidak ada yang istimewa dari gadis itu, bahkan tidak ada tindakan istimewa darinya terhadap Luceat. Hanya saja, sering kali Ree merasa seperti orang yang kesepian, bukan tanpa alasan. Hal itu karena kedua orang tua serta saudara kandungnya tak sering menemuinya karena sibuk berlayar.
Sifat Ree tidak semanja Brina, meski kadang tak dapat menyembunyikan perasaan cengengnya terhadap sesuatu dan selalu mengatakan hal-hal yang ia takuti pada Luceat.
Salah satu ketakutan Ree yang Luceat ketahui adalah sendirian di tempat yang gelap tanpa cahaya sedikitpun. Tak jarang bagi Luceat untuk menemani Ree ketika datangnya malam saat ia bermimpi buruk dan tidak dapat tidur.
__ADS_1
Seperti malam ini, dimana Reani kembali mengetuk pintu kamar Luceat yang tepat berada di samping kamarnya. Datang dengan wajah pucat karena ketakutan dengan apa yang ada di dalam mimpi buruknya serta suasana sepi di dalam kamar. Rasanya sudah biasa, Luceat tidak mempermasalahkan jika ia harus sering bangun di tengah malam.
“Kakak, kita mau kemana?” tanya Ree ketika Luceat tidak membawanya kembali kamar melainkan ke sebuah ruang baca tempat dimana biasanya mereka menghabiskan keseharian.
“Kenapa ke sini? Aku rasa kamu masih takut dengan kamarmu. Bagaimana kalau kita membaca beberapa buku sampai kamu mengantuk?” tawar Luceat sembari tangannya menarik sebuah buku dengan sampul berwarna kehijauan keluar dari rak buku tinggi di ruang baca itu.
Luceat selalu seperti ini, mengalihkan pikiran takut Ree terhadap kamarnya dengan membawa ke ruang baca yang tak jauh dari kamar. Saat mengantuk tak ada yang bisa mengalahkan rasa kantuknya bahkan ketakutan. Sisanya Luceat hanya menunggu Ree sampai tidur barulah ia kembali ke kamarnya.
“Kakak, terima kasih dan maaf selalu membuatmu terbangun.” Meski masih belia, namun Ree tahu bagaimana cara ia mengucapkan terima kasih dan merasa tak enak hati karena selalu mengandalkan Luceat.
Mendengar kalimat yang keluar dengan polos seperti itu, Luceat ingin tertawa. Bahkan Brina yang merupakan saudari kandungnya sama sekali tidak pernah mengatakan kata-kata itu padanya dan seringkali membuatnya kesal.
“Apa yang kamu bicarakan? Wajar saja jika seorang kakak memperlakukan adiknya dengan seperti itu.”
Sewajarnya mungkin memang begitu, jika perasaan dapat dibatasi. Namun, tak sedikit orang lain malah tak sadar telah melewati garis terlarang itu.
“Ree, apa kamu senang bisa bertemu dengan kakak?” tanya Luceat setelah lama hening menunggu Ree terlelap dengan duduk di samping kasurnya.
“Apa yang kakak bicarakan, tentu saja aku senang bisa bersama kakak. Karena saudaraku selalu ikut berlayar, aku tidak memiliki teman, namun ada kakak dan Brina menemani.”
Dalam setengah sadar ketika ingin tertidur, mata yang sayu dari gadis mungil itu menatap Luceat dengan senyum tipisnya.
Bagaimana mungkin, detak jantung Luceat menjadi tidak normal ketika melihat senyuman adiknya. Mulutnya sulit membalas kata-kata sederhana itu, dan sulit baginya untuk mengalihkan pandangannya dari wajah manis gadis mungil itu.
Apa yang harus Luceat lakukan? Bagaimana ia bisa menghentikan langkahnya di hadapan garis yang tak seharusnya ia lewati?
Jemari Luceat bergerak sendiri, masuk ke dalam selimut Ree dan meraih jari gadis itu keluar dari selimut. Membuat pemilik jari mungil itu terlihat bingung dan membiarkan saja apa yang dilakukan oleh Luceat.
“Ree, apa kamu menyayangiku?” tanya Luceat mengangkat jemari Ree dan mencium lembut punggung tangan itu.
Apa ini? Luceat sulit menghentikan dirinya dan tidak ingin melepas tangan Ree saat ini juga.
“Apa yang kakak pikirkan, tidak alasanku untuk membencimu.”
Namun perasaan sayang Ree dan Luceat memiliki arti yang berbeda.
“Ree, jika kamu sudah dewasa nanti, siapa yang ingin kamu nikahi?!!” tanya Brina saat ia dan Ree sedang istirahat dari belajar bersama di ruang baca.
Ree yang sedang mengambil potongan buah di piringnya menatap Brina dihadapannya dengan tatapan bingung, sementara Luceat hanya diam membaca bukunya di samping Ree.
“Jika bisa seseorang yang baik padaku.” ucap Ree tanpa ingin mendeskripsikan lebih lanjut tentang seperti apa pria idamannya.
“Hee… seseorang yang baik? Jika begitu sama saja dengan kakak Luceat yang selalu baik padamu.”
Mendengarnya Ree terkekeh lalu menatap Luceat yang tidak ingin ikut dengan pembicaraan kedua adiknya.
“Kakak Luceat adalah kakak bagiku. Berbeda lagi dengan orang yang akan bersamaku.”
Tap! Luceat tiba-tiba saja menutup buku bacaannya dan langsung berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata. Ree serta Brina kompak menatap Luceat.
Luceat langsung mengalihkan pandangannya pada Ree yang sedang ikut menatap dirinya dengan penuh tanya. Kalimat yang diucapkan Ree barusan bukanlah sesuatu yang patut disalahkan, namun Luceat merasa tidak bisa menerima begitu saja.
“Aku ingin istirahat dulu.” Tak ingin berpikir terlalu jauh, Luceat memilih pergi dari ruangan itu.
Cukup membuat Ree khawatir, setelah Luceat pergi meninggalkan ruang baca, ia langsung menyusul langkah Luceat tak lama setelah kelasnya selesai. Selama ini ia selalu berada di bawah perlindungan Luceat ketika ia ketakutan ataupun kesepian. Saat ini, Ree merasa ada yang harus ia pastikan, bahwa Luceat tetap baik-baik saja. Maka dari itu, Ree menyusul menuju kamar Luceat.
Tak lama baginya untuk tiba ke kamar Luceat, ia dengan perlahan membuka pintu kamar dengan menghasilkan suara derit engsel pintu dengan pelan. Matanya menyusuri kamar luas itu hingga pada kasur yang terletak di sisi kamar dekat dengan jendela besar yang mengarah pada lautan lepas kota Litore.
Terlihat Luceat sedang merebahkan dirinya di sana, menutup mata tanda ia sedang tertidur. Ree dengan pelan mengatur langkahnya agar tak menginterupsi seseorang yang sedang terlelap itu. Ia hanya ingin memastikan bahwa Luceat baik-baik saja.
Saat Ree ingin menyentuh jidat Luceat dan baru telunjuknya yang mengenai poni kakak sepupunya itu, tiba-tiba pergelangan Ree di genggam erat oleh pemilik kamar dan langsung menatapnya dengan sangat tajam seolah merasa terganggu.
“Apa yang kamu lakukan disini??” geram Luceat pada Ree.
__ADS_1
To Be Continued.