
Kabar Frigid jatuh pingsan tak sepenuhnya membuat kediaman heboh, namun informasi itu bisa sampai ke telinga Ree saat ia mendengar beberapa pelayan membahas hal itu saat mereka sudah ingin pergi kembali ke kamar mereka. Para pelayan di kediaman Cali seolah menganggap itu adalah hal biasa dan menjadi perbincangan ringan mereka disela mengerjakan pekerjaan.
Betapa sulitnya Frigid hidup dirumah ini, pikir Ree. ia bertanya-tanya apa ada orang yang mengurus pria itu disaat semuanya hanya menganggap itu kejadian biasa, lalu esoknya berlaku seolah tak terjadi apa-apa. Rumah orang lain memang beda dengan rumahnya, membuat Ree cukup terkejut. Segera malam itu juga, Ree tidak bisa tidur. Ia tidak bisa berdiam diri di kamarnya, ia ingin menemui Frigid tapi ia tidak tahu bagaimana cara ia ke gedung yang berbeda itu.
Di ruang tengah Ree berdiam sendirian sembari menggenggam botol obat dari Wizzle melamunkan tentang cara bagaimana ia bisa menyeludupkan dirinya ke kamar Frigid untuk sekedar melihat keadaan anak itu.
Lamunan Ree terhenti saat suara daun pintu utama terbuka dan terlihat Smith datang dengan penampilan yang cukup berantakan di mata Ree. kemeja putih yang biasanya rapi saat dikenakan cukup kusut saat ini dan rambut hitamnya yang selalu tertata rapi dengan pomade beberapa anak rambutnya keluar dari barisan.
“Tuan Smith? Ada apa?” tanya Ree terkejut karena Smith seolah baru saja terlihat seperti berkelahi tapi bukan itu yang menjadi masalahnya.
“Haa, aku baik-baik saja. Melihat Frigid kembali pingsan membuatku cukup panik dan benar saja tebakanku, nona Ree kamu pasti tidak bisa tidur.”
Ree benar-benar dipergoki saat ini, ia tersenyum canggung mengakui tentang apa yang ia rasakan.
“Aku tahu cukup sulit keadaan saat ini untuk bertemunya, tapi mendengarnya baik-baik saja tuan Smith aku rasa sudah cukup.” Sebenarnya tak cukup bagi Ree, ketika kekhawatirannya hanya dihapus oleh kabar dari ucapan orang tanpa matanya sendiri yang melihat. Demikian yang didengar oleh Smith, namun matanya tak bisa memastikan apa yang dikatakan oleh Ree sesuai dengan perasaannya. Kalimat itu diucapkan dengan suara yang bergetar dan agak ragu, meski Ree sudah semampunya menutup tanpa memberi celah, nyatanya Smith adalah orang yang teliti dan berhasil mendapati celah dari kalimat yang diucapkan Ree.
“Bersiaplah Ree, ganti bajumu dengan ini.” Tanpa menyadari bahwa sebenarnya Smith membawa sebungkus pakaian untuk Ree.
“Apa ini?” tanya Ree mengambil sepasang gaun hitam panjang dan celemek berwarna putih yang terdapat sulaman garis berwarna kuning.
“Keluarga kami memang cukup ketat, ini adalah pakaian pelayan yang melayani kediaman utama, pakailah, dengan ini kamu bisa masuk ke gedung utama.”
Ree sempat beberapa saat terdiam menatap baju yang ia pegang saat ini.
“Apa akan baik-baik saja?” tanya Ree sedikit khawatir.
Mendapat pertanyaan Ree membuat Smith terkekeh pelan.
“Setelah sekian kenekatan yang kamu lakukan, kamu bertanya akan baik-baik saja?”
Itu benar, Ree terlalu nekat dengan hidupnya akhir-akhir ini.
“Tunggu sebentar tuan Smith, saya akan mengganti baju saya.”
*
*
*
Jantung jika bisa jatuh ketika berdegup terlalu kencang, mungkin Ree bisa mati saat ini juga. Bukan karena kesunyian lorong gedung utama yang saat ini sedang ia masuki bersama Smith. Sejak awal memang sudah cukup larut malam dan kini ia memegang lilin untuk menerangi jalannya dan Smith menuju kamar Frigid yang berada di ujung lorong. Langkah mereka berdua juga tak begitu berisik karena saling menjaga kesunyian suasana agar tak memancing kecurigaan orang lain.
“Tuan Smith, rasanya aku mau mati, ini terlalu tegang.” Ree membicarakan suasana yang saat ini mereka rasakan.
“Berada ditengah kegelapan memang akan terasa seperti itu. entah mengapa saat dipelukan kegelapan seolah-olah seluruh tubuh ditimpa oleh sekeliling kita dan terasa sangat berat. Belum lagi karena kesunyian.” ucap Smith membalas ucapan Ree dengan pelan.
__ADS_1
“Setidaknya lilin ini membuatku tenang karena ia cukup terang.” timpal Ree menatap sebatang lilin yang ia pegang.
“Ree aku hanya akan mengantarmu sampai di sini, aku akan menunggu di ruangan ini. Pintu kamar Frigid ada di ujung itu,” Smith menunjuk ada sebuah daun pintu kayu yang cukup lebar dan tinggi menjadi ruangan pribadi Frigid untuk pria itu istirahat.
Benar saja jantung Ree tak karuan.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Smith ketika melihat raut wajah Ree seolah sangat gelisah.
“Ah, aku baik-baik saja tuan Smith, terima kasih sudah menemaniku sejauh ini.”
Memang benar Ree merasa sangat gelisah saat ini, ia juga tidak lupa bahwa kehadirannya seringkali diabaikan oleh Frigid. Kali ini untuk kesekian kalinya ia kembali menghampiri orang yang sama yang pernah membuatnya cukup kecewa dengan keputusan hidupnya. Ree juga tahu tindakannya saat ini sangat tidak sopan, tapi memangnya ada cara yang lebih sopan untuk menemui Frigid di tengah situasi gila ini?
Karena itu Ree kembali melangkah maju, berapa kali ia dielak, ia juga hanya ada pilihan untuk maju sebelum ada orang yang benar-benar akan menariknya mundur.
Ree tiba didepan daun pintu itu, kamar itu tidak dikunci saat Ree memutar knop pintu dengan pelan dan bisa terbuka tanpa menimbulkan keributan yang sia-sia. Ia masih membawa lilin yang ia pakai sejak tadi untuk menerangi.
Ruangan gelap itu cukup besar dan luas dari yang Ree bayangkan, ada satu tempat tidur berukuran besar bisa Ree ketahui ada orang yang terbaring di atasnya meski melihatnya cukup sulit karena cukup gelap.
Ree masih berdiri di depan mulut pintu, anehnya kakinya merasa sangat kaku saat ini sulit untuk melangkah maju memasuki ruang asing yang tak pernah ia masuki sebelumnya. Tindakan gila ini baru ia sadari betapa gilanya setelah ia pergi sejauh ini.
Meski begitu, pemilik kamar itu bukanlah seorang yang bodoh. Ia tak begitu nyaman untuk tidur sejak ia pingsan dan begitu sadar ia sudah berada dikamarnya sendirian dan hari nampak semakin gelap karena malam sudah larut. Tenaganya seolah terkuras habis dan matanya bisa melirik bahwa ada cahaya lilin di mulut pintu dan bayangan seseorang yang tengah terdiam di mulut pintu itu tanpa ingin mundur keluar ataupun masuk ke dalam. Namun penglihatan Frigid tidak begitu buruk, ia hanya perlu beberapa saat untuk memperjelas pandangannya tentang siapa yang berdiri sambil menatap lurus ke arah kegelapan yang mana tertuju pada dirinya. Sosok itu tak lama semakin jelas dan menjadi orang yang tak asing baginya.
“Ree?” panggilnya untuk memastikan dan benar saja orang yang dipanggil itu terperanjat kaget di mulut pintu. Lekas-lekas Ree masuk dan kembali menutup pintu hingga ia benar-benar memasukkan dirinya sendiri seolah ke dalam perangkap.
“Kamu baik-baik saja?” Ree bergegas meletakkan lilin yang ia bawa ke atas meja di samping pintu dan menghampiri kasur Frigid. Pria pemilik kamar itu nampak tak percaya dengan apa yang ia lihat entah karena Ree memakai seragam pelayan kediamannya atau raut wajah penuh dengan kekhawatiran itu terlihat jelas meski hanya ada satu lilin disudut ruangan yang menerangi.
“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Frigid masih tak percaya.
Benar, meski alasannya mungkin sudah didengar serta tak diinginkan Ree akan tetap menjawabnya.
“Tentu saja melihat keadaanmu, aku dengar kau jatuh pingsan ‘lagi’, bukankah itu terdengar sering terjadi?”
Kalimat disertai pertanyaan panjang itu rasanya sudah sangat lama tidak Frigid dengarkan.
“Aku tidak menanyai keberadaanmu di sini, tapi di rumah ini. Kenapa kamu pergi sejauh ini?” suara pelan Frigid mengisi ruangan itu dengan tatapan herannya yang terasa sangat dingin dan menusuk langsung ke dalam diri Ree.
Sejauh apa sebenarnya Ree sudah melangkah masuk ke dalam kehidupan Frigid?
“Maaf,” ucap Ree sebagai kalimat pembukanya, perlahan tangannya terulur mendekat pada jemari kiri Frigid dan menggenggam tangan itu meski ia sendiri sangat gugup hingga Frigid bisa merasa tangan Ree cukup bergetar namun tak berniat untuk mundur.
“Aku membuatmu tidak nyaman selama ini, kemarin aku hanya tidak bisa berdiam diri dan langsung bergegas mengejar tuan Smith ke stasiun dengan selembar tiket ditanganku. Aku berpikir bahwa pagi buta itu aku harus segera menyusulmu.” Sempat tercekat oleh napas sendiri, Ree menarik dengan tenang dan melanjutkan penjelasannya.
“Aku juga bicara dengan ibumu, kamu tahu itu?”
“Aku sudah melihatnya, jadi kamu tidak perlu memberitahuku.” ucap Frigid yang terang-terangan mengakui bahwa ia sering melihat Ree dan ibunya bersama. Ree menggeleng, interaksi yang Frigid lihat memang fakta, namun pria itu tidak tahu apa yang dibahas saat ia dan Bianca bersama.
__ADS_1
“Kami banyak membicarakanmu,” Ree mengakui bahwa ia dan Bianca sebenarnya lebih banyak membahas Frigid dibanding hal lain.
“Kadang aku berpikir, sebenarnya tindakan seperti apa yang benar ketika dihadapkan dengan masalah, apakah memilih untuk menghadapi meski rasanya tak mungkin, apa harus pasrah mengikuti alur dan berharap, atau memilih menghapus ingatan diri sendiri sebagai perlawanan? Aku tidak bisa menilai mana yang benar, cara beliau menghadapi masalah adalah dengan melupakan semua yang berkaitan dengan masalah itu, beliau melakukannya sebagai perlawanan sekaligus pertahanan untuk dirinya sendiri, meski yang orang lain lihat itu seperti pasrah dengan keadaan.” Kalimat panjang Ree seolah terdengar seperti dongeng di telinga Frigid, meski dengan suara dan tubuh yang terlihat bergetar. Bahkan saat Frigid melirik tangan kirinya masih digenggam erat oleh Ree dengan keberanian penuh.
“Asal kamu tahu, ibumu sama sekali tidak melupakanmu, ia tahu kamu sepenuhnya masih hidup, pergi ke akademi bahkan mengikuti magang, ia tahu siapa yang memelihara buaya di kediaman, ia tahu segalanya namun memilih terlihat seolah-olah menutupinya, melupakan putranya, bahkan,”
“Cukup Ree,” ucapan Ree terpotong oleh pendengarnya.
“Cerita seperti itu tidak ada gunanya untukku, sejak awal ia sudah mengabaikanku dan melupakanku,”
“Iya, aku menceritakannya bukan dengan tujuan untuk menghiburmu, kamu harus tahu itu.” dan jangan lupa dengan balasan Ree ketika sudah merasa kesal dengan sifat keras hati seorang Frigid.
“Aku juga tidak memintamu untuk memaafkan siapapun, meski sudah mendengar dan berbagi cerita yang banyak dengan ibumu ataupun Smith, tetap saja tujuanku ke sini tidak ada yang berubah. Aku hanya benar-benar ingin mengucapkan salam perpisahan yang benar, tidak seperti pagi itu terkesan terburu-buru. Aku tidak akan lagi membujukmu untuk membawa obat dari Wizzle, karena semuanya sudah selesai, begitu menurutmu, aku tidak juga akan membujukmu untuk tetap menikmati hidupmu meski sebenarnya terlihat sangat tidak nyaman. Karena itu aku ke sini,” seperti kelihatannya, Ree memang bukan seseorang yang memiliki kekuasaan ataupun kekuatan yang sangat besar, lawannya cukup kuat dan besar, sampai saat dimana ia hanya bisa menemani Frigid sampai langkah dimana ia tidak bisa maju lagi, Ree masih bersedia.
“Aku kesini untuk mengucapkan itu, meski beberapa waktu yang lalu kamu sendiri yang mengatakan aku yang harus ada disisimu, kamu sendiri yang menyeretku karena memiliki tanggung jawab yang besar karena memilih untuk tetap berjuang untuk hidup, tapi kamu sendiri juga yang mempertanyakan apa aku sanggup untuk terus disisimu.” Ree menghela napasnya, rasanya waktu ia bercerita sudah cukup panjang dan harus ia akhiri secepatnya agar tak membuat orang yang mendengarnya ini mengantuk hingga jatuh tertidur. Ree tidak melihat ekspresi Frigid karena seolah dirinya sudah tahu bagaimana pria itu akan menatapnya, yang ia lakukan sepanjang ia bercerita hanya menatap alas tempat tidur Frigid yang tak jelas warnanya seperti apa karena tertimpa cahaya lilin, namun bisa ia tebak bahwa warna itu adalah biru muda yang lembut. Ree kembali tersenyum dan mengangkat kepalanya pada akhirnya untuk menatap pendengarnya yang selalu diam itu.
“Aku tidak akan mengusikmu lagi sehabis ini,” belum Ree menyelesaikan kalimat terakhirnya dengan cepat Frigid menarik tubuhnya kedepan dan mendekap wanita muda yang masih menggenggam jemarinya dengan erat seperti yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Bahkan Ree sendiri terjatuh ke dalam pangkuan itu ketika tangan kanan Frigid menarik pinggangnya hingga dimana wajah pria itu ada didepan bahu kirinya, menyandarkan kepalanya disana seolah itu adalah tempat yang paling nyaman untuknya bersandar.
“Kamu tahu? jika harus mati, aku ingin mati saat ini saja ketika kamu ada disini bersamaku.” Frigid tidak bisa membayangkan hari-hari berikutnya jika ia memang harus kehilangan orang-orang yang mendukungnya untuk tetap hidup. Bahkan saat ini jika harus ia menyerahkan nyawanya, ia hanya ingin di keadaan dimana Ree masih menggenggam tangannya dan berada dipelukan hangat wanita itu.
“Hari-hari terakhir akan sangat menyakitkan, jika sampai sejauh ini kamu terus meraihku, aku tahu aku akan sangat egois,”
Ternyata jurang yang menjadi tempat Ree terjatuh saat ini masih sangat dalam dan belum mencapai dasar jurang seutuhnya. Ia sudah terlanjur maju melangkah dan memberanikan diri, di saat ia berpikir untuk mengambil langkah mundur, ternyata Frigid kembali menariknya untuk terus maju. Tangan Ree pun terulur untuk membalas pelukan pria itu dengan keberanian yang tersisa. Rasa takutnya juga bercampur dengan kesedihan dalam benaknya.
“Apa yang kamu bicarakan? Aku ke sini bukan untuk mendengar napas terakhirmu. Frigid, tetaplah hidup, meski hari-hari akan terasa sangat berat, niatanmu untuk hidup sudah cukup membuatku bahagia.” Bahkan saat dimana Ree tidak lagi bisa melihat atau bertemu dengan Frigid.
“Tidak, aku tidak mau itu. Hidup dalam ketakutan, aku tidak akan sanggup dan pasti memilih untuk mati.” Bahkan Ree bisa merasakan air mata Frigid yang mengalir di lehernya karena pria itu memindahkan pandangannya ke arah leher Ree.
Kali ini Ree yang tidak sanggup mengatakan sepatah kata apapun, kini gilirannya yang sangat tenang menghadapi seorang Frigid dalam keadaan sangat frustasi itu.
“Seharusnya kamu membenciku saja. Jangan datang, aku adalah orang yang tidak pernah berterima kasih padamu ataupun mengucapkan kata maaf karena tahu kata-kataku pernah menyakitimu. Kenapa kamu harus datang di saat-saat seperti ini? Kamu terus bersikap keras kepala dan peduli padaku, padahal aku sudah berkali-kali mengabaikan hal itu, tapi pada akhirnya aku tetap akan egois seperti ini dan tidak ingin melepaskanmu sama sekali, meski sadar aku tidak memiliki apa-apa.” Peran pendengar itu sudah dirubah menjadi Ree saat ini. Karena posisi kepala Frigid yang berada tepat berada di bawah daun telinga Ree membuatnya sangat jelas mendengar semua keluhan pria itu. Berkatnya juga Ree tidak bisa bergerak semaunya karena batasan ruang yang diberikan Frigid sudah diambil semua.
“Bagaimana bisa aku membencimu sementara aku sudah sejauh ini? Kita memang banyak bertengkar dan sudah berlalu, tapi tetap saja aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkan orang sepertimu.” Seperti yang sudah Ree rasakan bahwa ia sedang terjun ke sebuah jurang kehidupan Frigid dan masih belum menemukan dasar dari jurang itu dan seberapa dalam jurang itu, seutas tali yang bisa menjadi pegangannya hanyalah orang-orang yang membantunya sampai saat ini.
“Apa masih terasa sakit?” tanya Ree mengalihkan pembicaraannya yang mana mengarah pada dada kiri Frigid yang membuatnya sampai jatuh pingsan.
“Masih, sampai sekarang masih terasa sakitnya.” ucap Frigid pelan dan tidak berniat melepas Ree sama sekali.
“Ree,” panggil Frigid setelah Ree memilih untuk diam saja sampai Frigid merasa bosan memeluknya lalu melepasnya.
“Hmm, ada apa?” tanya Ree melirik ke helai-helai rambut hitam yang ada di bawah dagunya saat ini.
“Bagaimana kalau kita lari saja?” Ree menarik napasnya cukup dalam dan bisa Frigid dengar dengan jelas suara napas itu dan matanya melirik keatas dimana wajah wanita itu hanya menatap dinding kamarnya seolah sambil memikirkan sesuatu tentang kalimatnya barusan.
“Lari dan tinggal di suatu tempat yang sangat jauh dari sini. Hanya ada aku dan kamu, tanpa orang-orang yang tidak kita kenali sama sekali.”
__ADS_1
Bagaimanapun juga Frigid ingin menjadi seseorang yang egois seperti ini.
To Be Continued.