
Istana merupakan tempat dimana banyak kegiatan dilangsungkan, tak hanya menjadi tempat tinggal raja dan keluarga kerajaan, beberapa bangunan di istana difungsikan untuk banyak hal seperti kegiatan administrasi yang memperjakan para bangsawan serta menjadi tempat Alexander melaksanakan magangnya.
Tak hanya ia sendiri murid La Priens yang pergi ke istana untuk magang. Di sana ada Yohan dan Maglina di bagian yang sama di unit keamanan.
“Alexander, aku mendapat kabar bahwa pangeran Yohan sedang menginginkan sebuah wilayah. Ayah harap kamu bisa mencari tahu apa itu berhubungan dengan Frigid atau tidak karena pangeran Yohan tak pernah seperti ini sebelumnya.”
Alexander masih ingat pembahasan pertemuannya dengan ayahnya semalam terkait tindakan Yohan akhir-akhir ini. tak biasanya Yohan membicarakan masalah wilayah kekuasaan karena ia hanya fokus berlatih pedang dan hanya peduli dengan medan perang.
Siang itu, Alexander iseng berjalan-jalan di sekitar istana tempat para prajurit berlatih. Terlihat para murid magang termasuk Maglina dan Yohan juga beristirahat sembari makan siang.
“Bukankah itu Alexander?” tanya Maglina pada Yohan.
Keduanya juga melihat keberadaan Alexander yang sedang berjalan-jalan di koridor sementara Yohan dan Maglina berada di halaman.
“Apa kamu tahu, meski aku sudah mengenal lama Alexander, aku kurang bisa percaya padanya.” Ucap Yohan sembari menghabiskan roti lapisnya yang terakhir.
“Apa ini? Apa kamu mengajakku bergosip sekarang?” tanya Maglina heran.
“Tidak juga, aku hanya mudah mengatakan apa yang dipikiranku terkait orang lain.” ucap Yohan.
Maglina masih menatap salah satu pangeran di negerinya saat ini. meskipun ia merupakan pangeran dan anak raja, Maglina sendiri tak mengerti kenapa malah berada di tempat para prajurit latihan dan tidak mengikuti pelatihan khusus saja.
“Selama itu tidak menggangguku, aku tidak mempermasalahkannya.” ucap Maglina sembari mengelap bilah pedangnya yang sedikit kotor karena ia pakai untuk latihan.
Tanpa di sangka keduanya ternyata Alexander sudah berjalan menuju Yohan dan Maglina yang tengah duduk atas rumput bersama.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Alexander sekedar menyapa.
“Oh, hai Alexander. bagaimana magangmu? Kami hanya istirahat setelah latihan.” jawab Maglina santai.
“Yang Mulia, kenapa anda duduk di atas rumput? Bukankah itu akan mengotorkan bokong anda?” tanya Alexander malah terdengar meledek di telinga Yohan.
“Apa yang kamu bicarakan, bukankah sudah aku katakan bahwa panggil aku Yohan saja. Aku bukan pangeran saat ini melainkan murid magang.” ucap Yohan tak habis pikir.
“Tapi bagaimanapun juga tempat ini adalah istana.” balas Alexander.
Yohan menatap Alexander tajam seolah risih dengan ucapan pria itu.
“Tentu saja meskipun begitu, aku masih memiliki hak untuk melakukan apa yang aku inginkan.” Timpal Yohan.
“Termasuk menginginkan suatu wilayah?” sambut Alexander.
“Apa yang kamu maksud?” tanya Yohan serius karena permintaan itu sebenarnya masih rahasia. Jika sampai Alexander tahu, berarti terdapat kebocoran informasi.
Yohan tak bisa mengelak karena telinga dan mata dinding istana sangat luar biasa.
“Saya hanya mendengar isu… terlebih wilayah Leafa yang anda inginkan, bukankah itu wilayah yang biasa saja?” tanya Alexander sembari mengingat pandangannya tentang kota Leafa yang ingin Yohan kuasai.
Yohan perlahan bangkit berdiri dan menghadap pria yang memiliki tinggi yang sama dengannya.
“Ada banyak hal yang kamu bisa lihat dari sesuatu yang mungkin tak menarik di mata orang. Tapi, meski begitu… Alexander kamu tak perlu repot-repot memikirkannya dan membahasnya denganku.” ucap Yohan sembari bersiap untuk pergi karena latihan mereka hari ini sudah selesai. Begitu pula Maglina yang ada di belakang Yohan juga bersiap pergi.
“Terlebih, aku rasa kamu harus mengurangi perhatian berlebihanmu pada Frigid dan lebih baik pikirkan dirimu dulu terlebih dahulu.” ucap Yohan lalu pergi bersama Maglina.
Alexander yang tadinya mengeluarkan senyum, merubah air wajahnya dalam waktu yang singkat. Kurva yang terbentuk di bibirnya menjadi rata sesuai dengan perubahan hatinya karena mendengar kalimat terakhir Yohan sebelum pria itu pergi.
Apa selalu seperti ini watak Alexander? Ia hanya berjalan pada jalan yang sudah disiapkan untuknya dan melakukan sesuai yang diperintahkan oleh orang dewasa padanya.
__ADS_1
“Memikirkan diri sendiri?”
Saat ini Alexander berada di dalam titik terbingungnya. Sampai saat dimana ia hanya hidup karena diatur oleh orang lain, tentu saja orang lain sudah lebih dulu memikirkannya dan Alexander tidak perlu repot melakukannya. Lantas, saat diminta untuk memikirkan diri sendiri, pertama-tama Alexander bertanya pada dirinya, sebenarnya yang ia inginkan itu apa?
*
*
*
Meskipun istana memiliki penghuni yang cukup banyak, tapi saat ini apa yang Maglina lihat hanya dirinya dan Yohan saja saat berjalan menuju tempat mereka tinggal di sebuah gedung istana. Meskipun sebenarnya Yohan bisa pulang ke istananya, namun pria itu tetap menikmati untuk tinggal di asrama prajurit.
“Kalian nampaknya memiliki masalah yang cukup berat ya…” ucap Maglina tak habis pikir bahwa ia dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa. Mulai dari Ree sampai Yohan.
Masalah mereka yang nampak luar biasa itu.
“Apa maksudmu?” tanya Yohan tak mengerti.
Maglina menyeka keringat di dahinya yang masih saja keluar akibat latihan yang ia lakukan hari ini. tak ada hari tanpa latihan fisik membuat tubuh Maglina semakin berotot saja.
“Entah itu Ree, Liliana, sampai-sampai kamu, selalu mengeluarkan ekspresi wajah yang tegang dan cukup serius. Sebenarnya ada apa dengan kota Leafa itu?” tanya Maglina yang sempat mendengar pembahasan Yohan dan Alexander tentang kota Leafa.
Sampai-sampai wajah Maglina ikut tegang ketika melihat teman-temannya yang pada stress semua.
“Akhir-akhir ini aku hanya merasa seperti orang bodoh. Tentu saja aku tidak memaksa mereka untuk menceritakan padaku terkait masalah mereka. Namun, tetap saja tidak nyaman.” timpal Maglina mengingat bagaimana Liliana maupun Ree seolah menyembunyikan sesuatu dari padanya.
Yohan tahu apa yang Liliana dan Ree sembunyikan di belakang Maglina. Karena masalah itu juga ia ketahui dan sedang ia perjuangkan, terlebih menyangkut hidup Frigid, Yohan sendiri juga berpikir akan lebih berhati-hati ke depannya.
“Tapi Maglina, aku sudah mengenalmu sejak masuk akademi militer dan bersiap menjadi salah satu ksatria keluarga kerajaan. aku tahu, apapun yang teman-temanmu sedang lakukan saat ini tidak akan menyakitimu dan kamu pasti percaya pada mereka.” ucap Yohan berusaha menyemangati Maglina yang mungkin merasa kesepian akhir-akhir ini.
Mendengar ucapan Yohan membuat Maglina mengeluarkan senyum kecilnya.
“Kalau begitu Maglina, nampaknya kita harus berpisah di persimpangan ini.” ucap Yohan ketika mereka berdua berjalan sudah sampai pada persimpangan, dimana jika lurus akan menuju asrama sementara jika berbelok ke arah kanan, akan menuju kediaman sang ratu.
“Kamu ingin menemui Yang Mulia Ratu?” tanya Maglina.
Yohan mengangguk.
“Ada yang perlu aku bicarakan. Sampai nanti, aku akan kembali saat makan malam.”
Maglina hanya mengiyakan dan melanjutkan perjalannnya, sementara Yohan masih berdiam dan menatap punggung Maglina yang semakin menjauh.
Saat ini situasi Yohan juga cukup rumit. Ia tidak terjun langsung ke lapangan seperti Yohanna, saudari kembarnya itu. Namun, ia harus menghadapi lika-liku kehidupan istana yang tak bisa dikatakan mudah itu.
Saat ini yang menjadi penghalangnya adalah ayahnya sendiri atau raja. Dimana tidak semudah itu ayahnya memberikan wilayah pada Yohan, meskipun ia seorang pangeran dan putra kandung. Perlu alasan yang harus dicantumkan dalam proposal, mencakup segala sesuatu yang kuat untuk Yohan agar ia bisa memimpin wilayah tersebut dan mengambil alih pemerintahan yang ada sebelumnya.
Untuk itu ia memutuskan untuk menemui ibunya dan kakaknya yang merupakan putra mahkota.
Tanpa perlu gentar, Yohan melangkah menyelusuri lorong yang akan berujung pada sebuah pintu dimana ibunya berada.
Hal ini memang sudah menjadi rencana cadangan Yohan ketika ia tidak bisa mendapat persetujuan ayahnya dengan mudah, setidaknya ia harus mencari pendukung lain dimana Yohan bisa menguatkan pendapat dirinya.
“Yang Mulia, pangeran Yohan ingin bertemu dengan anda dan putra mahkota.”
“Suruh ia masuk.”
Tak sulit bagi Yohan untuk bertemu kedua orang yang ingin ia temui karena keduanya sering kali menghabiskan waktu bersama jika berada di istana. Yohan sendiri pun tak sulit untuk masuk karena memang pada dasarnya ia adalah salah satu bagian dari penghuni istana.
__ADS_1
“Kehadiran saya seharusnya tidak perlu lagi dipertanyakannya.” Ucap Yohan ketika ia sudah berdiri di hadapan dua orang yang sedang menikmati teh sorenya dengan tenang sembari menikmati pemandangan kota dari jendela besar yang ada di ruangan itu. Benar-benar langsung mengarah ke pusat kota Crystallo.
“Ibu sudah mendengarnya dari kakakmu, Yang Mulia mengatakan bahwa permintaanmu terlalu mendadak dan tak matang untuk dipertimbangkan, setidaknya kamu bisa menjelaskan apa yang sebenarnya kamu rencanakan.” ucap ibu Yohan yang merupakan ratu kerajaan Pulchra itu, ratu Heis.
Karena salah satu putranya akan berbicara hal penting, tidak ada salahnya ia meletakkan cangkir tehnya dan memusatkan perhatiannya.
“Aku juga bingung dengan keputusanmu Yohan. Aku bisa saja memberi dukungan dan menjadi pendukung bagian belakangmu. Namun kamu harus menjelaskan kenapa harus kota kecil seperti Leafa? Apa yang kamu lihat dari kota yang mayoritas wilayahnya hanyalah hutan itu?” tanya kakak laki-laki sulungnya yang merupakan putra mahkota, Yog.
Yohan sudah menetapkan bahwa ia tidak akan membawa nama Frigid dalam keputusannya mengambil kota Leafa. Meskipun secara garis besar ia lakukan untuk Frigid.
“Secara garis besar, karena wilayahnya yang terdiri dari hutan itu membuatku ingin meninjau lebih dalam lagi dan membangun pusat penelitian di sana. di Leafa sendiri dikenal dengan banyak tumbuhan herbal dan menjadi obat tradisional. Meski kita tidak sekaya tetangga kita kerajaan Agnus perihal sumber daya alamnya, namun Leafa sendiri sudah menjadi tempat yang ideal dan bisa saja banyak yang ditemukan di sana.” sejauh ini Yohan sudah meneliti dan membaca sedikit banyaknya tentang kota Leafa yang ada di tenggara Pulchra. Ia tidak mengetahui lebih dalam dan belum pernah mengunjunginya secara langsung, namun Yohan bisa mengerti secara garis besar apa yang ada di sana.
“Karena itu, saat ini Leafa sendiri memiliki tuan wilayah yang cukup buruk. Laporan pendapatan di kota itu dari tahun ke tahun semakin menurun dan jumlah kemiskinan semakin naik, jika melihat dari potensi alam dan pemerintahan di sana, berarti ada yang tidak seimbang dan harus diperbaiki.”
Penjelasan itu mungkin terdengar panjang, namun Heis dan Yog dapat mudah mengerti tentang pandangan Yohan.
“Mungkin sangat mengejutkan mendengar aku tiba-tiba menginginkan wilayah, bukan semata untuk keuntungan, namun ini juga untuk memperbaiki wajah keluarga kerajaan yang ada di masyarakat Leafa bisa saja tidak puas.”
Heis nampak tersenyum bangga terhadap putranya yang paling muda itu. nampaknya anak kecil yang selalu berdebat dengan kembarannya tahun-tahun belakangan ini sudah beranjak dewasa dan memikirkan kerajaan.
“Yog, setelah mendegar penjelasan Yohan, seharusnya kamu bisa mengerti.” Ucap Heis kembali melanjutkan tehnya.
“Tentu saja Yang Mulia. Yohan, meski belum bisa secara langsung, aku akan mengajarkanmu membuat proposal terkait Leafa, agar kamu bisa mengantarnya pada ayahanda dan mepresentasikannya seperti di depan kami.” ucap Yog.
Respon positif dari ibu dan kakaknya membuat degupan jantung Yohan yang sudah seperti orang berlari itu menjadi sedikit tenang. Wajahnya yang tegang menjadi sumringah karena mendapat pujian.
“Apa ini!! kenapa kamu cepat sekali dewasa!! Bukankah kamu dan Yohanna seringkali memperebutkan barang yang kalian berdua sukai!?” ucap Yog sembari mengacak surai keemasan Yohan dengan gemas.
“Ap-!! Aku tidak pernah berebut dengan Yohanna!” ucap Yohan mengelak.
Ini baru permulaan, semua tindakan ini tak ada artinya jika Yohan ragu dalam hati. Dalam benaknya, ia hanya ingin mengucapkan terima kasih pada perempuan yang ia temui di kandang kuda waktu itu, Yohan tidak menyangka jika ujungnya akan menjadi seperti ini. semuanya mungkin berkat orang-orang yang sebenarnya Maglina khawatirkan itu.
Mau Ree ataupun Liliana, mereka berdua melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa merubah hidup banyak orang.
*
*
*
Penebusan dosa menurut manusia mungkin banyak cara yang bisa dilakukan tanpa harus dengan meminta maaf meski itu merupakan hal utama. Tak jarang permintaan maaf itu tidak menyembuhkan luka yang ada dan malah membuat luka tidak mudah untuk sembuh. Satu-satunya yang bisa Luceat lakukan sebagai penebusan kesalahannya di masa lalu tak lain adalah bekerja keras saat ini. dimana ia sudah berada di suatu wilayah yang memiliki tumbuhan langka untuk bahan utama obat Dandelia.
“Menurut peta secara geografis, tumbuhan itu berada di wilayah padang rumput dan lembah. Saat ini musim yang ideal untuk mencarinya karena tidak terlalu lembab maupun kering.” jelas Luceat yang menjadi pemimpin kelompok pencarian.
Sejauh ini perjalanan mereka berjalan dengan lancar, meskipun Luceat sudah menjelajah hutan yang asing lebih dalam dan meninggalkan kapalnya di dermaga, sama sekali Luceat tidak merasa keberatan. Ia hanya ingin menemukan tumbuhan itu secepat mungkin sampai dimana Ree dan Servio tidak perlu menikah.
Tapi nyatanya, tidak ada jalan yang mulus meski sudah merencanakannya dengan matang sekalipun. Rencana manusia tak selalu sempurna dan memiliki setidaknya kesalahan kecil.
Namun, di mata Luceat saat ini bukanlah masalah kecil semata.
“Tuan Luceat, 50 meter lagi adalah wilayah Agnus, namun tumbuhan yang kita cari ada di wilayah mereka.”
Hal itu yang tidak mau Luceat dengar.
Bukan solusi untuk mempermudah, melainkan masalah baru.
Luceat bukannya tidak tahu, kerajaan Agnus yang dipimpin oleh Agnesia itu merupakan kerajaan yang kaya dengan sumber daya alam. Namun dibalik kekayaannya itu, mereka sama sekali tidak berminat membagikannya dengan kerajaan lain, bahkan untuk kerajaan Pulchra, itu akan dibayar dengan harga yang sangat tinggi sampai tak masuk akal.
__ADS_1
To Be Continued.