We And Problems

We And Problems
Chapter 71 : Tekad Si Kembar


__ADS_3

Perut Ree benar-benar kenyang ketika ia sudah banyak membeli makanan di luar sebelum kembali ke rumah dinas. Namun ia tidak langsung menyibukkan diri seperti para penghuni lain yang sudah ada di kamar mereka masing-masing.


Ree baru saja selesai mandi dan duduk di meja makan dan menatap ketel yang sedang memasak air untuknya.


Ia berniat membuat teh sebelum masuk ke dalam kamar.


Saat ini isi kepalanya penuh dan berisi dengan hal-hal yang cukup merepotkan. Ia sudah mengirim surat pada ibunya dan mengatakan bahwa ia saat ini sudah baik-baik saja dengan Servio, Ree juga mengatakan bahwa terdapat keputusan yang ia dan Servio ambil. Ree harap ia tidak mencemaskan ibunya.


Selain mengabarkan diri, Ree juga pergi mengunjungi kediamannya di salah satu sisi kota Litore secara diam-diam, membongkar beberapa dokumen di ruangan kakeknya yang kini sudah menjadi ruang penyimpanan untuk mencari tahu relasi yang keluarganya bentuk selama berlayar.


Matanya hanya fokus pada ketel alumunium itu sampai seseorang masuk ke dalam dapur dengan membawa gelas ditangannya.


Itu Frigid.


Awalnya mata Ree mengikuti pergerakan pria yang sedang mengisi air minum ke dalam gelasnya, namun fokusnya kembali ke ketel yang sudah berbunyi menandakan air yang ia masak sudah mendidih. Ree pun segera mengangkat tubuhnya dan mulai bergerak mengisi air panas ke dalam cangkir yang sudah ia tuangkan daun teh hitam di sana.


“Apa kamu yakin ada jalan keluarnya?”


Untungnya Ree sudah selesai menyeduh teh, jadi ia bisa memusatkan perhatiannya pada pria yang bertanya itu.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanya Ree cukup penasaran. Karena ia pikir Frigid tidak lagi peduli setelahnya.


“Masalah dengan orang-orang Agnus itu, sebenarnya aku bisa melakukannya sendirian tanpa perlu Servio yang terjun ke sana langsung.”


Ree masih diam di tempatnya, mendengar pria yang berdiri di belakangnya ini berbicara sampai selesai.


“Bukankah kamu bilang itu sangat berisiko, berhubungan dengan kerajaan Agnus.” Timpal Ree.


Frigid memang mengatakan itu.


“Memang seperti itu bagi Servio yang tidak mengenal bagaimana kerajaan Agnus itu sebenarnya. Jika langsung diserahkan padaku, aku tinggal memintanya saja.”


Memang terdengar mudah seperti itu. Ree memutar tubuhnya, meninggalkan gelas berisi tehnya di belakang dan menatap punggung Frigid.


Frigid menyadari pergerakan Ree dan memutar tubuhnya untuk bertatapan muka dengan wanita itu.


“Lagi pula setelah lulus, aku akan tinggal di sana. aku rasa mendapatkan tumbuhan itu tidak akan lama…”


Solusi Frigid memang sangat mudah dan bahkan tidak perlu repot-repot mengotorkan tangan orang lain. Tapi, wajah Ree tidak nampak puas dengan penjelasan Frigid.


Jika Frigid berpikiran seperti itu sementara Smith saat ini sedang berjuang keras untuk menyelamatkannya tentu saja membuat Ree geram mendengar ucapan itu.


“Aku tidak menyetujuinya.” Ree melipat tangannya di depan dada dan memberikan protes pada opsi Frigid.


“Aku juga tidak setuju jika Servio mengorbankan dirinya.”


“Bukankah aku sudah mengatakannya, bahwa aku tidak akan mau mengaitkan masalah yang ada pada dirimu dengan milik Servio. Meskipun berada di jalur yang sama.” Ree tidak ingin usaha Smith sia-sia dan Servio melakukan hal yang membuat Dandelia bersedih.


“Ini seperti bisnis Ree, kamu tidak bisa memenangkan semuanya. Servio tinggal menitip padaku yang sudah menjalin hubungan dengan mereka.”


“Biar aku tanya…” dengan cepat Ree memotong kalimat Frigid.


Lalu menatap pria itu cukup serius.


“Apa kamu senang dengan ‘bisnis’ yang kamu jalankan selama ini? apa kamu senang bisa pergi dari Pulchra sebentar lagi?” tanya Ree.


Ree tidak tahu bagaimana ia akan menjelaskan pada Frigid tentang alasan ia mengeluarkan pertanyaan itu. Ia tidak bisa memberitahukan hubungannya dengan Margaretha serta Smith pada Frigid.


Tapi, satu hal yang Ree ingin tahu dari perasaan pribadi Frigid adalah tentang bagaimana anggapannya sendiri.


Ree sudah tahu Frigid membenci hidupnya, bahkan kini ia sudah tahu alasan dibalik kebencian itu.


Tapi, Ree tidak merasa bahwa itulah perasaan yang sebenarnya dari Frigid.


“Ree… apa yang kamu maksud? Aku bahkan masih mengonsumsi obat dari mereka…” Frigid nampak tertawa dan terkesan sangat hambar di telinga Ree.


Ree menurunkan tangannya dan menatap Frigid resah.


“Apa kamu benar-benar ingin meninggalkan Pulchra? Apa tidak ada alasanmu untuk tetap tinggal di sini?” tanya Ree sekali lagi.


“Itu tidak mungkin Ree. Semuanya sudah diputuskan sejak lama.”


Bahkan saat Frigid belum mengerti apa-apa tentang dunia, itu sudah diputuskan tanpa persetujuan ataupun pendapatnya.


“Meskipun kamu pergi ke sana, obat yang kamu konsumsi lambat laun hanya akan merusak tubuhmu dan membuat hidupmu kembali terancam.”


Frigid juga tahu itu, sampa saat ini apa yang bisa membuatnya bertahan adalah obat yang Ree katakan racun itu.


“Itu mungkin lebih baik daripada aku menahan sakit.”

__ADS_1


Bagaimana mungkin lebih baik? Ree sama sekali tidak melihat kebaikannya. Justru membuat Frigid menjadi ketergantungan.


“Kamu benar, aku juga tidak memiliki alasan untuk menahanmu di sini.” Ree juga sadar akan posisinya yang bukan siapa-siapa. Rasa simpati dalam dirinya hanya berlaku untuk saat ini saja, selebihnya rasanya Ree tidak memiliki kekuatan untuk menahan Frigid pergi.


Frigid menganggap tidak ada alasan baginya untuk tetap tinggal, sementara Ree tahu bahwa Smith saat ini tengah berjuang keras selama bertahun-tahun untuk melepas belenggu yang mengikat itu. andaikan Ree tidak menutup mulut dan memberitahukan ketulusan Smith, apa Frigid akan memikirkan ulang tentang keputusannya itu?


Malam itu, Ree sedikit kesulitan tidur.


*


*


*


Situasi kota Leafa belum membaik sama sekali, meski tidak mengganggu kegiatan rakyat sehari-hari, mereka yang memberontak itu bersembunyi di balik bayang-bayang masyarakat. Hampir semua gedung pemerintahan ditutup dan di jaga ketat oleh prajurit kerajaan dari ibu kota sembari menunggu kedatangan pangeran yang di utus untuk mengambil alih kota itu.


Yohanna sendiri mendapat hari libur dan bisa berkeliaran dengan penjaganya ke kota menuju tempat Wizzle dan Brina berada. Keduanya tidak menetap di kota melainkan berada di kapal dagang keluarga Lumen yang Brina pimpin.


“Wahhh… aku tidak menyangka jika kamu bisa tinggal di tempat yang selalu terombang-ambing ini.” komentar Yohanna yang hampir selalu sama setiap kali wanita itu mengunjungi Brina di kapal membuat si pemilik kapal merasa geli dan terkekeh.


Yohanna nampak baru menaiki kapalnya bersama prajurit yang selalu menjaganya karena mengingat status wanita itu bukan orang biasa.


“Karena biaya berlabuh di sini tidaklah mahal, aku lebih memilih tinggal di kapal dari pada menyewa rumah.” Brina sendiri sedang menikmati kesehariannya setelah berdagang dan bernegoisasi dengan rekannya. Ia hanya duduk di kursi yang sudah disiapkan di dek kapal dan menikmati pemandangan pelabuhan kota Leafa yang tidak besar itu.


“Apa itu?” Yohanna menyinggung kertas yang ada di tangan Brina.


“Oh… ini surat dari kakak Ree, ia menanyai kabarku dan memberitahukan kabarnya juga…” ucap Brina sembari menyerahkan surat dari Ree yang ada di Litore pada Yohanna.


“Wah!! Dia bertunangan dengan Servio!? Pantas saja ia nampak frustasi sebelum pergi magang.” ucap Yohanna tak menyangka bahwa keluarga Florence memiliki hubungan yang cukup dalam dengan keluarga Lumen.


“Itu dulu… mereka sudah membatalkannya beberapa hari yang lalu dengan baik-baik. Aku rasa kakak Ree sudah mendapat semangat hidupnya saat ini.” ucap Brina senang.


“Meskipun ia bertunangan, aku sendiri tidak dapat membayangkan akan jadi seperti apa Ree. berdampingan dengan orang sekaku Servio… aku lebih memilih Frigid.” timpal Yohanna mengambil posisi duduk di kursi yang kosong di hadapan Brina.


“Nampaknya Frigid itu orangnya banyak didukung ya…” ucap Brina yang tidak pernah melihat Frigid secara langsung.


“Frigid itu hanya pria bodoh yang tidak peduli dengan dirinya sendiri dan lebih memperhatikan orang lain.” ucap Yohanna.


“Apa kamu sudah mengenalnya sejak lama?” tanya Brina ingin tahu.


Yohanna mengangguk.


“Tentu saja… aku sudah mengenalnya sejak kecil. Meski ia sakit-sakitan, aku tidak mempermasalahkannya dan kadang berkunjung ke kediamannya. Tapi… sejak wanita tua itu datang… ia menghancurkan Frigid yang aku sayangi dan menjadi kaku seperti sekarang ini…” Yohanna benar-benar tidak bisa memaafkan keberadaan Agnesia yang datang ke Pulchra dan mencari seseorang. Mengatakan ingin menyembuhkan Frigid, nyatanya malah menaruh hidup pria itu dalam bahaya.


“Kamu benar… tunggu… kapal itu nampaknya menuju ke pelabuhan ini.”


Fokus Yohanna tiba-tiba saja teralihkan pada sebuah kapal besar menuju ke pelabuhan kecil Leafa.


“Biar aku lihat…” ucap Brina sembari meraih teropongnya dan berjalan ke sisi lain kapal untuk melihat siapa yang datang dengan membawa rombongan galleon yang banyak itu.


“Apa yang kamu lihat?” tanya Yohanna pada Brina yang masih mengamati.


“Kapten!! Itu kapal kerajaan!!” seru salah satu awak kapal yang ada sudah lebih dulu mengamati dari atas tiang layar.


Yohanna kaget bukan kepalang karena ia tidak menyangka akan secepat ini rombongan orang-orang kerajaan datang.


“Itu benar, lambang yang ada di bendera itu tak lain adalah lambang keluarga kerajaan dan beberapa lambang milik keluarga sekutu kerajaan.” jelas Brina setelah selesai mengamati.


Yohanna tahu bahwa Yohan sedang berjuang di ibukota untuk membuktikan betapa buruknya pemerintahan di kota Leafa. Ia tidak menyangka akan secepat ini Yohan datang dan membawa rombongannya.


“Apa itu pulaunya?” tanya Yohan yang berada di kapal paling depan pada kapten kapal ketika tak jauh di depan matanya ada sebuah pulau dan pelabuhan sudah nampak.


“Tidak salah lagi Yang Mulia, radiusnya 300 km lagi.”


“Bagus, teruskan sampai ke sana.”


Yohan tak menyangka jika ia bisa memimpin sebuah armada untuk pergi merombak sebuah sistem berkarat dalam negerinya. Selama ini ia hanya merasa sebagai pangeran muda yang tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia hanya bisa melihat kakaknya sebagai putra mahkota bergerak dengan caranya sendiri.


Sejujurnya Yohan tidak begitu memiliki karisma yang besar sebagai seorang pemimpin, bahkan kekuatan fisiknya saja ia tidak bisa sekuat kakaknya. Tapi, jika untuk membantu seorang temannya, Yohan kadang berpikir, kekuatan ia sebagai seorang pangeran itu apa? Apakah ada sebuah nilai bagi dirinya?


“Yohan…” bisik Yohanna masih tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya saat ini.


Perjalanan dari pelabuhan Crystallo yang hanya sungai sampai ke lautan lepas seperti ini bukanlah hal mudah untuk dilakukan di sela kegiatan magang seperti ini. Yohanna sendiri tak tahu apa yang Yohan perbuat hingga bisa melakukannya.


Selama ini orang-orang memandang mereka hanya sebagai putri-pangeran yang kembar tanpa adanya pengaruh apa-apa.


Tapi ini barulah awal bagi Yohanna dan Yohan.


Banyak hal yang harus mereka tuntaskan di kota ini.

__ADS_1


Dinding yang menyusahkan sudah menunggu di depan mata.


“Sejauh yang aku lihat nampaknya rata-rata keadaan di sini adalah hutan belantara semua…” Maglina maju mendekati Yohan dan melihat pulau tempat kota Leafa berada hanya dipenuhi oleh pemandangan hijau dan hijau. Beberapa rumah barulah nampak di sekitar pelabuhan.


Meski masing berstatus magang, Maglina merupakan prajurit wanita yang dipilih untuk menemani Yohan ke perjalan pertamanya kali ini. Hal itu tak perlu ditanyakan karena Maglina sendiri memiliki kemampuan yang tak diragukan oleh para seniornya.


“Nampaknya kamu sangat santai Maglina.” timpal Yohan pada teman satu akademinya saat ini.


Maglina memang terlihat santai, tapi ia selalu siap ketika ada yang menyerang orang yang ia jaga.


Persis seperti saat ini.


Ketika mereka semakin mendekati teluk yang mana terdapat pelabuhannya, sebuah panah melesat begitu saja dari arah hutan menuju ke arah pemimpin mereka namun dengan cepat Maglina menarih lengan Yohan untuk berada di belakangnya sementara anak panah itu sudah menancap ke sisi kapal.


“Serangan! Cepat lindungi pangeran!!” seru salah satu prajurit.


Secara refleks mereka langsung mengelilingi Yohan dan Maglina, perlahan Maglina juga mundur dengan menyeret Yohan untuk masuk ke dalam kabin.


“Wah…wahh… situasi di sini nyatanya lebih dari yang aku duga…” ucap Yohan pada Maglina ketika sudah masuk ke dalam kabin.


“Itu benar, karena di luar berbahaya kamu tidak boleh keluar. Bisa saja itu adalah gertakan untuk membuatmu takut atau juga merupakan serangan skala besar. Kita akan tetap berlabuh sebentar lagi.” elas Maglina yang juga pergi mengambil pedangnya dan memasang ikat kepala untuk tidak membiarkan rambutnya mengganggunya untuk bergerak, padahal rambut Maglina sudah sangat pendek seperti laki-laki.


“Yang Mulia!! Kami mendapat surat!” seorang prajurit yang berjaga di luar membawa masuk sebuah surat yang tidak mungkin surat cinta itu.


Yohan pun mengambilnya dan melihat isinya yang tak lain adalah ancaman itu sendiri.


“Nampaknya mereka memiliki dendam yang teramat besar padamu.” ucap Maglina yang juga melihat isi surat meminta Yohan untuk tidak menginjakkan kakinya pada kota Leafa.


“Ini merupakan tindakan yang kekanakan untuk seorang mantan pemimpin wilayah. Bagaimanapun juga kota ini sudah menjadi wilayah kekuasaanku. Kita harus mulai menyisir tempat tinggal mereka dan menangkap keluarganya untuk di eksekusi sesuai dengan hukum kerajaan.” Yohan tidak bisa menerimanya begitu saja. Ia meremas surat yang ditulis dengan darah itu dan membuangnya ke lantai.


Benar, jika ia tidak tegas, ia bisa kalah dalam hal seperti ini.


“Kakak, pinjamkan keberanianmu untukku bertindak…” bisik Yohan mengharapkan keberanian putra mahkota untuk membimbingnya.


Sementara itu di kapal Brina yang bertengger di pelabuhan masih mengamati datangnya rombongan kerajaan itu.


“Nampaknya terdapat kekacauan di sana.” ucap Brina yang matanya tak kalah tajam dengan teropong. Yohanna kagum sekaligus khawatir dalam waktu yang sama. Ia tidak ingin Yohan kenapa-kenapa dan hanya bisa menunggu di kapal milik Brina.


*


*


*


Sementara itu di Pusat Iklim dan Geografis kerajaan Pulchra tepatnya berada di kawasan istana dimana gedung itu menjadi tempat pengawas keadaan alam seperti cuaca dan situasi alam kerajaan, merupakan tempat dimana Ghea magang.


Mungkin ia sangat aneh di mata orang-orang di akademi, namun Ghea sendiri memiliki kemampuan yang cukup sensitif terhadap keadaan alam di sekitarnya.


“Apa dia sudah seperti itu sejak istirahat tadi?”


“Bahkan sejak masuk ke sini ia selalu seperti itu setiap istirahat.”


Kata-kata itu tak lain diucapkan oleh para senior Ghea yang berada di dalam satu tempat kerja. Dimana Ghea hanya akan berdiam di jendela dan menatap langit sepanjang waktunya istirahat dengan memegang buku ramalan yang suka ia baca.


“Permisi, saya meminta data prakiraan cuaca untuk besok.” Tiba-tiba Alexander masuk ke dalam gedung itu dan mengejutkan orang-orang di dalamnya, kecuali Ghea yang bahkan berdiri di samping pintu masuk.


“Ohh… kamu pasti dari gedung Administrasi, tunggu sebentar…”


Alexander pun menunggu dengan tenang sembari matanya mengitari sekitar ruangan yang penuh dengan berbagai buku serta alat peraga dan alat-alat yang mendukung pengamatan alam. Lalu matanya menangkap seseorang yang tak asing baginya.


Seorang wanita yang seumuran dengannya baru saja bergerak dari posisi nyamannya yang bersandar di bingkai jendela karena merasa waktu istirahat sudah usai. Tak sengaja matanya juga menatap Alexander yang tengah memperhatikannya.


Sorot mata itu terlihat hampa namun tidak terkesan dingin.


“Ah… apa kamu tahu, bahwa tindakanmu saat ini menghalangi kebahagiaan orang lain dan dirimu sendiri.”


“Eh?” tanya Alexander bingung karena mereka tidak pernah mengobrol satu sama lain, tiba-tiba saja ia langsung dikomentari.


“Ah! Apa aku mengucapkan sesuatu? oh tidak! Aku harus pergi ke lapangan hari ini.” ucap Ghea langsung bergegas pergi dari hadapan Alexander. Ia terlalu banyak mengamati awan, membuatnya menghabiskan waktu istirahat yang cukup lama.


Alexander masih berdiam di tempat. Sejujurnya ia tidak tahu siapa Ghea, tapi ucapan wanita itu seolah mengetahui sesuatu yang tidak Alexander pahami.


Siapa dia? Kenapa ia berkata-kata seperti itu pada Alexander? apa ia tahu sesuatu tentang Alexander?


Puas Alexander bertanya tentang siapa Ghea dan sifatnya itu.


Sementara itu Ghea yang tengah mempersiapkan barang-barang untuk pergi ke lapangan juga cukup kepikiran tentang Alexander. Ia tidak seakrab itu dengan Alexander seperti Ree atau yang lainnya, tapi Ghea merasa ada yang janggal dari pria satu itu.


“Dia seperti awan besar.”

__ADS_1


 


To Be Continued.


__ADS_2