
Kejadian itu terjadi pada usia Frigid masih menginjak 12 tahun, dimana belum lama ia mendapat kabar bahwa dirinya adalah kandidat selir untuk ratu yang lebih tua dari ibunya sendiri. Mengejutkan, namun Frigid muda tidak ingin terlalu memikirkannya karena bagaimanapun mulutnya protes dan tidak ingin, keputusan orang dewasa tidak akan berubah. Saat-saat ini merupakan masa pemulihannya berkat obat yang didapati dari ratu Agnesia.
Tidak ada yang tahu penyakit yang diderita Frigid, ia hanya diawasi oleh seorang pelayan dan seorang teman sebaya yaitu Alexander dari keluarga Northway yang merupakan sekutu keluarganya. Pelayan wanita yang sebaya dengan kakak pertamanya bernama Margaretha.
Iya, Margaretha yang sama dengan sosok wanita yang Servio kenal di La Priens. Frigid jauh lebih lama mengenal Margaretha dari pada Servio karena sebelum Margaretha pergi ke La Priens sebagai pengajar, wanita itu lebih dulu menjadi salah satu pelayan rumah keluarga Cali.
“Frigid, tidak ada penyakit yang tidak bisa sembuh. Selalu ada solusi di setiap masalah, jika kamu tidak mau makan, bagaimana kamu bisa sembuh?”
Frigid selalu menolak dan sulit untuk makan semenjak tubuhnya menerima obat-obatan yang berasal dari Agnesia. Selalu ada rasa takut dalam hatinya ketika mengonsumsi obat itu.
“Tapi, Margaretha. Aku seperti ini hanya karena obat yang diberikan wanita itu, tanpa itu aku bukanlah apa-apa.”
Mengejutkan memang, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun memikirkan arti kehidupannya sendiri.
“Akan ada suatu hari nanti di masa depan, dimana masa itu kamu akan sangat bersyukur karena bisa hidup.”
Apakah perkataan Margaretha itu adalah harapan yang bisa Frigid pegang sampai nanti?
“Margaretha, jangan pergi kemana-mana, tetap bersamaku saja sampai aku menemukan rasa syukur itu.”
Frigid pikir, akan datang hari dimana ia bisa bersyukur ketika bisa hidup. Asal bersama dengan orang-orang yang baik seperti Margaretha di sisinya, Frigid merasa semuanya akan baik-baik saja. Pikirnya begitu, sangat sederhana.
Hingga hari dimana ia harus berpisah dengan Margaretha karena ulah putra sulung Cali yaitu Smith.
“Margaretha akan berhenti bekerja disini.”
Orang-orang seenaknya memutuskan hal tersebut dan tidak memberi Frigid satu kesempatan untuk melayangkan protesnya.
“Kenapa?! Kenapa Margaretha pergi!?” protes Frigid pada Smith.
“Tentu saja karena permintaannya sendiri. Apa kamu pikir ia akan menghabiskan sisa hidupnya disini untuk seorang anak kecil?” tanya Smith.
“Margaretha adalah wanita muda, masih banyak hal yang dapat ia lakukan.”
Frigid tidak berhenti mengejar jejak terakhir Margaretha sampai wanita itu belum menaiki kereta kuda yang akan membawanya keluar dari halaman kediaman Cali. Sembari menyerukan namanya, wanita bernama Margaretha itu berhenti dan menoleh pada seorang anak laki-laki yang selalu ia layani saat bekerja di kediaman Cali.
“Kenapa kamu pergi?” tanya Frigid menahan ujung lengan gaun hitam milik Margaretha. Mencegah wanita itu untuk pergi.
Margaretha meletakkan koper yang ia jinjing, berlutut di hadapan Frigid sembari merapikan kerah kemeja anak laki-laki itu yang sedikit berantakan sembari tersenyum.
“Inilah keinginan saya sejak lama, keluarga saya memang memiliki hutang dengan keluarga Cali dan saya berniat membalasnya. Namun, saya diberi kesempatan untuk belajar lebih. Saya memiliki cita-cita dan ingin menjadi seorang guru, tuan Smith memberi saya kesempatan untuk itu.” jelas Margaretha.
Namun di mata Frigid, wanita dihadapannya ini tidak sebahagia penjelasannya dan matanya menemukan sesuatu yang mencurigakan pada diri Margaretha.
“Margaretha, apa itu luka?” tanya Frigid dengan polosnya menunjuk sebuah tanda gelap di atas kulit leher Margaretha yang samar-samar tertutupi oleh syal wanita itu.
Margaretha hanya nampak tersenyum sembari merapikan syalnya.
“Bukan apa-apa tuan, sebaiknya anda masuk ke dalam rumah, cuaca hari ini cukup dingin.” ucap Margaretha.
“Margaretha apa yang kamu tunggu!? Naiklah sekarang!”
Frigid barulah menyadari bahwa Margaretha tidak pergi sendiri melainkan bersama dengan Smith.
Juga, menyadari bahwa lebam tidak hanya ada di leher Margaretha. Frigid meyakini kepergian Margaretha hari itu bukanlah keinginan Margaretha sepenuhnya.
Mengejutkan memang, Frigid kembali bertemu dengan Margaretha di La Priens dan wanita itu merupakan salah satu pengajar muda di La Priens. Meski tidak seakrab dulu dan Frigid sangat sulit mendekati Margaretha yang sangat berbeda dari apa yang ia kenal.
Tuduhannya pada Smith bukanlah tuduhan buta semata. Frigid sering melihat kakak sulungnya itu kedapatan menyiksa para pelayan dirumahnya tanpa ampun dan tidak pandang bulu mau itu pria atau wanita. Sikap keras itu tidak dapat dipungkiri bahwa Margaretha juga mendapatkannya. Meski Frigid masih bertanya-tanya kenapa hari itu Margaretha pergi bersama Smith dan beberapa tahun kemudian wanita itu tidak lagi mengenal Frigid.
*
*
*
“Silahkan duduk nona Lumen dan Frigid.”
Seperti permintaan Ree, akhirnya Frigid diperbolehkan ikut dalam pembicaraan antara Smith dan Ree. Meski tidak terlihat mencurigakan, namun Frigid merasa ada yang aneh.
Kenapa Smith mengajak Ree bertemu? Atas dasar apa pertemuan ini diadakan? pertanyaan seperti ini terus memenuhi kepala Frigid.
“Apa kalian ingin meminum sesuatu? Aku bisa minta pelayanku menyiapkannya.” ucap Smith. Karena mereka berada di ruang khusus, membuat beberapa minuman seperti teh atau kopi tersedia di dalam ruangan itu.
“Tidak perlu, kami akan melanjutkan tugas kami lagi. Jadi jangan lama-lama.” Dengan cepat Frigid memotong arah pembicaraan yang seharusnya ditujukan pada Ree dari Smith.
__ADS_1
Ree tidak tahu seburuk apa keputusannya ketika membawa Frigid. Pria itu jelas tidak menyukai Smith. Jarang-jarang melihat Frigid tidak menyukai orang lain.
“Tidak apa-apa tuan, jadi apa yang ingin anda bicarakan?” tanya Ree sembari menarik jubah seragam Frigid karena tubuh pria itu sedikit condong ke arah Smith.
“Ah, kamu benar. Aku hampir saja lupa. Ini, apa benda ini bisa seharga dengan mangkok bunga mataharimu?”
Smith menyodorkan sebuah nampan yang tertutupi oleh kain hingga pada akhirnya dibuka oleh pelayannya dan menampakkan satu set cangkir bercorak bunga matahari di setiap cangkir dan teko keramik itu.
Frigid bingung sementara Ree cukup kaget. Ia baru mengingat jelas bahwa Smith adalah pria yang menegurnya ketika ia berkunjung ke toko barang antik kemarin. Ree kaget dengan niat Smith pada mangkok bunga matahari milik Ree sampai dikejar seperti ini.
Smith masih menunggu keputusan Ree dengan tenang, sementara Ree masih kebingungan karena memikirkan sepenting apakah benda yang diinginkan oleh Smith.
“Saya tidak tahu jika benda itu sangat penting bagi anda. Tapi, saya tidak membawanya dan mangkok itu berada di asrama.”
Penjelasan Ree tentu saja adalah jawaban yang menyegarkan bagi Smith.
“Tidak masalah nona Lumen, saya bisa pergi kemana saja asal untuk barang-barang yang saya sukai! Juga, ini terkait dengan urusan akademik anda nona Lumen.”
Kali ini arus pembicaraan telah berubah ketika Smith mengeluarkan sebuah amplop coklat dan mengeluarkan selembar kertas putih dari dalamnya kemudian menyodorkannya tepat dihadapan Ree dan Frigid.
“Apa ini?” tanya Ree penasaran.
“Itu adalah profil lembaga kementerian, seperti yang anda tahu bahwa La Priens memiliki sistem pendidikan yang unik dan pada beberapa bulan semester akhir akan diadakannya magang bagi seluruh murid tingkat akhir selama 3 bulan. Karena kebaikan anda ingin menukar mangkok saya memberikan anda tiket untuk masuk dalam program magang di Kementerian Pendidikan.”
Frigid dan Ree sama-sama terkejut mendengar penjelasan Smith. Perlahan Ree meraih lembaran itu dan membaca dengan seksama isi lembaran. Seperti yang dijelaskan oleh Smith bahwa selembar kertas itu merupakan profil Kementerian dan pemberitahuan program magang.
“Saya senang mendengar tawarannya.” ucap Ree sembari kembali meletakkan kertas tersebut di atas meja.
“Tapi, ini seperti ada yang salah.” lanjut Ree lagi.
Smith nampak bingung dengan ucapan Ree barusan.
“Salah? Apa ada kesalahan dalam penulisan? Atau anda kurang paham?”
Ree menggeleng, ia merasa ada yang salah dengan tawaran Smith.
“Bukankah ini terlalu tiba-tiba, bukannya saya kurang percaya. Hanya saja, biasanya akademi memberikan pengumuman lebih dulu.” ucap Ree.
“Kamu benar Ree, biasanya pihak akademi akan memberi penjelasan. Aku juga kurang yakin dengan tawaran pria ini meskipun ia dari lembaga Kementerian.” cibir Frigid sembari memicingkan matanya pada kakak laki-lakinya itu.
“Ehem! Nampaknya kalian berdua salah paham. Sebenarnya nona Lumen memang berada di daftar murid yang akan pergi ke kementerian, hanya saja saya membocorkannya lebih dulu pada nona Lumen.”
Smith terkekeh.
“Anda cukup perhatian pada teman-teman anda rupanya. Tapi, daripada mengkhawatirkan keadaan orang lain, lebih baik perhatianlah sedikit pada dirimu sendiri Frigid.”
Frigid jelas tahu arah pembicaraan ini hingga membuatnya langsung menarik Ree untuk berdiri dan segera ingin beranjak pergi dari ruangan itu.
“Frigid!?” seru Ree kaget.
“Saya rasa pembicarannya selesai, kalau begitu kami akan melanjutkan tugas senat.”
Berulang kali Ree memanggil nama Frigid dan mempertanyakan alasan pria itu sering menarik lengannya secara tiba-tiba hari ini.
Smith hanya mengulum senyum menatap lembaran putih di atas meja dan satu set cangkir itu.
“Kamu tahu waktumu tidak banyak disini Frigid, maka dari itu bersenang-senanglah selagi sempat.” ucapnya pada ruang kosong.
*
*
*
Ree tidak mengerti dengan Frigid, pria itu terlalu misterius dan sulit ditebak. Ree tidak paham kenapa Frigid sampai sebenci itu melihat wajah Smith yang notabene adalah saudaranya sendiri. Ree memang tidak mengetahui masa lalu keduanya, hanya saja Ree tidak bersalah disini sampai-sampai harus diseret oleh Frigid sejak beberapa menit yang lalu meninggalkan ruangan Smith.
“Lepaskan! Kamu menjijikan!!” protes Ree sudah tidak dapat menahan rasa jijiknya ketika tangannya digenggam oleh Frigid.
Langkah Frigid pun terhenti dan menatap sebentar lengan Ree yang ia tarik lalu melepasnya dengan kasar.
“Berhentilah memanggilku menjijikan. Kamu seharusnya sadar diri.”
Oh, kini siapa yang giliran kesal? Ree heran, sejak tadi Frigid terus mengerutkan wajahnya dan nampak masam sekali. Emosi pria ini cukup buruk sampai-sampai membuat Ree heran.
“Apakah aku ada memintamu untuk menarikku? Lenganku sampai merah karenamu. Terlebih yang mengherankan lagi, ada apa denganmu? Kenapa aku tidak bisa bicara dengan tuan Smith barang sebentar? Meski ada urusan pribadi antara kamu dan tuan Smith, setidaknya jangan libatkan aku.”
__ADS_1
Frigid nampak acuh tak acuh dengan protes yang Ree keluarkan dan pergi meninggalkan Ree begitu saja di koridor.
“Apa-apaan manusia itu!? Seenaknya sekali!!” Ree geram akan kelakuan Frigid dan ingin mengunyah kepala pria itu saat ini juga.
Frigid tidak mendengar protes dari wanita yang ada dibelakangnya. Ia hanya memikirkan kemungkinan Smith akan menemui orang-orang disekitarnya. Sangat memungkinkan bahwa Ree akan bertemu dengan Smith karena masalah barang antik bodoh itu. Satu-satunya yang dapat Frigid lakukan adalah menjauhkan Ree dari Smith. Mungkin terdengar bodoh entah itu bagi dirinya sendiri bahkan orang lain, tentang kenapa ia tidak ingin adanya interaksi antara Smith dan Ree.
Satu, karena ia tahu kekurangan Ree.
Kedua, firasatnya memang menganggap Smith bukan manusia yang baik.
“Frigid! Dengarkan aku!”
Lamunan Frigid hancur, forum diskusi antara pikiran dan hatinya dihancurkan oleh wanita yang ia tarik kemana-mana hari ini. Ree menatap Frigid cukup tajam, meski pria itu hanya membalas tatapan seperti seekor ikan mati yang kehabisan oksigen. Tatapan tanpa emosi itu, sudah kembali sejak mereka keluar dari ruangan Smith.
“Baiklah, apa yang ingin kamu bicarakan?” Frigid mungkin merasa bersalah karena ia seenaknya menarik Ree seperti peliharaan. Hal itu membuat Frigid menghentikan jalannya dan memasang perhatian penuh kepada wanita yang berhasil mengejar langkah lebarnya itu.
Sebenarnya seluruh protes sudah habis Ree keluarkan di sepanjang perjalanan, hingga ketika Frigid memasang perhatian penuh padanya kepala Ree langsung kosong begitu saja dan memilih pergi lebih dulu.
“Tidak ada! Lain kali minta maaflah padaku.” gerutu Ree sembari mendahului jalan Frigid.
“Ah, itu. aku minta maaf.” ucap Frigid tak lama setelah Ree menggerutu sembari ikut menyusul berjalan di belakang wanita itu.
Meski Frigid bingung, namun ia merasa harus mengatakan maaf pada Ree.
*
*
*
Keesokan harinya Ree mengantar kepulangan Henny dan Roche dari akademi. Bersama dengan Servio di samping Ree, membuat Henny terus-menerus menatap tajam terhadap pria yang menjadi teman Ree di La Priens itu.
“Ree, apa kamu akan magang di Litore? Kamu akan kesana bukan?” tanya Henny penuh harap.
Benar juga, magang juga pernah disinggung oleh Smith kemarin, pikir Ree. Menanggapi pertanyaan Henny, Ree hanya tersenyum sembari menggenggam kedua tangan sahabatnya erat.
“Lihat saja nanti keputusannya bagaimana.” ucap Ree.
“Hah!? Nanti?! Bagaimana bisa! Profesor! Ree akan magang di Litore bukan!?” kini Henny seolah meminta kepastian pada Roche.
“Itu adalah rahasia akademi. Untuk murid seperti Ree, tidak mungkin ia magang di tempat biasa.” timpal Roche.
“Tapi! Tapi! Litore juga kota besar!!” protes Henny.
“Oh! nona Lumen! Kebetulan sekali bisa bertemu disini! Terima kasih mangkoknya, saya akan menyimpan dengan baik.”
Pembicaraan Ree dan teman-temannya terpotong karena kehadiran Smith yang juga ingin pergi dari La Priens dengan menaiki kereta yang berada di samping milik Roche dan Henny.
“Saya senang mendengarnya, saya juga berterima dengan set cangkirnya. Terima kasih tuan Smith.” ucap Ree.
“Ah iya! Nona Lumen, semoga kita bisa bertemu lagi.”
Haruskah Ree senang dengan salam perpisahan seperti itu? menyikapinya Ree hanya tersenyum mengantar Henny kembali ke Litore dan berharap temannya itu dapat tiba dengan selamat.
Setelah mengantar para tamu, Ree belum kembali ke asrama karena masih menunggu beberapa kelas yang akan mulai beberapa jam lagi. Sementara Servio sudah lebih dulu pergi karena mengikuti kelasnya, di tengah perjalanan Ree ia tidak sengaja berpas-pasan dengan Michael yang merupakan sekretaris senat sekaligus juniornya.
“Kak Ree!” panggil Michael sembari menghampiri Ree dengan terburu-buru.
“Syukurlah aku menemukan anggota senat.” ucap Michael terengah-engah seperti sehabis berlari dan memang ia berlari.
“Michael, apa yang kamu lakukan? Berlari di koridor itu bahaya.” ucap Ree tanpa lupa peranannya sebagai bagian keamanan senat.
Tiba-tiba Michael menyodorkan Ree sebuah amplop coklat.
“Maaf kak Ree, aku memiliki kelas dan aku lupa memberikan amplop ini pada ketua. Bisakah kakak menaruhnya di meja ketua Frigid. Sampai jumpa kak Ree!!”
Tanpa menunggu jawaban Ree, Michael langsung bergegas pergi.
“Tumben sekali Michael terburu-buru.” Ujar Ree heran mengingat Michael adalah junior yang tenang dan selalu disiplin waktu. Disamping semua itu, Ree masih memahami bahwa Michael tetaplah manusia biasa.
Seperti yang dimintai tolong oleh Michael, Ree pun pergi ke ruang senat meski awalnya tempat itu bukanlah tujuannya.
Dari luar pintu ruangan senat terlihat tenang-tenang saja di mata Ree, hingga tangannya memutar dan mendorong daun pintu ruang senat dan menemukan Frigid terkapar di bawah meja senat sembari meringis kesakitan mencengkram dada bagian kirinya. Wajahnya pucat dan banjir akan keringat dingin serta tangannya berusaha meraih sesuatu yang ada disekitarnya.
“Frigid!!”
__ADS_1
To Be Continued.