We And Problems

We And Problems
Chapter 94 : Merinding


__ADS_3

Lari? Dipikir mudah untuk lari dari kenyataan yang ada. Jika hanya seseorang dengan hutang lalu kabur yang mencari mungkin hanya penagih hutang. Akan tetapi jika seorang Frigid kabur terlebih membawa seorang perempuan, bukan hanya penagih hutang yaitu kerajaan Agnus, seisi kerajaan Pulchra juga akan mencarinya. Ree mengakui dirinya cukup nekat untuk sampai sejauh ini, tapi menjadi buronan nasional bukan salah satu impian masa kecilnya. Malam itu Ree biarkan sampai Frigid sendiri terlelap dibahunya dan ia bisa pergi dari kamar Frigid meski sampai membuat Smith terjaga. Smith sendiri bahkan bertanya-tanya kenapa Ree terlihat sangat lelah setelah keluar dari kamar Frigid. Apa aura di kamar itu sangat menguras tenaganya?


“Kamu sudah mendapat balasannya? Cepat sekali.” Tak sampai seminggu Ree sudah mendapat balasan dari surat yang dikirimkan Smith pada Luceat. Kini Smith mengajak Ree kembali bertemu di ruang baca miliknya.


“Aku menggunakan pos kilat, karena kupikir sangat penting.”


“Bukankah itu mahal? Kamu bahkan tidak memberikanku tanda terimanya untuk mengganti uangmu.”


“Tidak tuan Smith, tinggal disini saja sudah lebih dari harga mengirim sebuah surat. Kamu tidak perlu mengganti apa-apa.” Timpal Ree tidak nyaman.


“Ree, ini sudah lebih dari cukup. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan Luceat karena aku tahu ia mengambil istrinya dari Agnus. Ada hal yang bisa jadi solusi ditengah permasalahan ini aku rasa begitu.” Terdengar seperti secercah cahaya dipenghujung gua gelap yang dilalui, membuat mata Ree yang awalnya terbuka setengah karena mengantuk kini sepenuhnya terisi energi dan telinganya mendengarkan perkataan Smith dengan seksama.


Smith juga tidak bisa menyembunyikan informasi yang berguna bagi Ree karena pertemuanya dengan pangeran Yohan kemarin tak sia-sia. Banyak yang ia bahas, disisi lain Smith sangat mengapresiasikan keberanian Yohan untuk mencari jalan keluar sebatas menyelamatkan sepupunya yang seolah terjebak dalam belenggu berduri selama bertahun-tahun mengharuskan pangeran muda itu bertaruh dengan segala hal.


“Yohan dan aku membahas tentang sebuah tambang di Agnus yang dicurigai bahwa pekerja di tambang tersebut merupakan salah satu tindakan perbudakan.”


Perbudakan manusia adalah tindakan ilegal dan terlarang di dunia mereka, begitulah yang terlintas dipikiran Ree sasat ia mendengar perkataan Smith barusan.


“Tambang itu dicurigai juga menjadi salah satu balasan ratu Agnesia untuk mendapatkan Frigid.” Kali ini mulut Ree cukup terbuka lebar karena tidak menduga akan terjadi pertukaran sebesar itu.


“Itu terdengar seperti barang jual beli.” Kasar mulut Ree mengatakan demikian, namun memang kalimat itu yang lebih menggambarkan situasi sebenarnya. Frigid bukan semata diberikan, ada harga lain yang juga dibayar selain obat itu. jika Ree pikir-pikir memang tidak masuk akal jika Agnesia datang dan memberi obat untuk Frigid sebagai bayaran, dari pihak keluarga terutama kepala keluarga Cali ternyata meminta bayaran yang setimpal.


“Asosiasi kemanusiaan tidak akan pernah membiarkan hal itu. Tambang itu bukan suatu gedung yang besar dan terbuka, jika transaksi mereka berhasil dan tambang itu jatuh ke tangan ayah dan pangeran Joan, maka Pulchra akan dalam bahaya karena berurusan dengan sisa kejahatan dari Agnus. Mereka tidak akan mau mengakui kesalahan mereka.”


“Apa kamu akan bertemu dengan Luceat untuk membahas hal itu?” tanya Ree sekali lagi.


“Tidak seluruhnya, hanya sedikit mengambil informasi yang diperlukan, bagaimana pun Luceat tidak akan mau istrinya tersakiti karena pertanyaan-pertanyaan tentang kerajaan Agnus.” Hari-hari kedepan Ree merasa akan sangat berat. Bukan hanya orang-orang disekitarnya saling bentrok dan terlibat, tapi ruang lingkup masalah ini cukup besar. Orang yang menjadi lawan bukan berasal dari seseorang seumuran mereka melainkan orang yang lebih berpengalaman dalam berbagai bidang, entah itu politik, permainan kotor, dan sebagainya.


“Smith, aku menjadi tahu bahwa ranah masalah ini sebenarnya tidak kecil berkatmu, aku tidak tahu apa yang bisa aku bantu. Tapi aku juga ingin membantu jika kamu membutuhkanku.” Sorot mata Ree menyala dan terlihat bertekad bahwa ia juga akan memberikan bantuan serta meyakinkan Smith agar juga mengikutsertakan dirinya dalam apapun rencana Smith.


“Tentu saja, tugasmu adalah tetap berada di samping Frigid apapun yang terjadi.” ucap Smith sembari tersenyum lembut. Awalnya Ree terlihat bingung karena ia tidak mengerti kenapa perannya seolah sebagai penjaga.


“Apa itu benar-benar akan membantu kalian?” tanya Ree bingung.

__ADS_1


“Tentu saja,” Smith sendiri sangat memahami peran yang paling cocok untuk Ree dalam rencananya.


“Satu-satunya yang menjadi kekuatan anak bodoh itu adalah nona Ree. Tetaplah berada di samping Frigid menjadi pendukungnya. Ia adalah orang sangat penting, menjadi penjaga dari orang yang penting adalah sesuatu yang keren, bukan begitu?”


Tiba-tiba Ree terkekeh, merasa lucu dan sedih dalam sekaligus ia keluarkan dalam ekspresi tawa renyahnya. Entah bagaimana kalimat itu bisa benar adanya, tidak ada peran yang lebih cocok untuk Ree selain itu.


Benar-benar klise, seperti kisah romansa yang dimana seseorang memiliki pendukung penting atau seseorang yang penting harus dilindungi, bukan dengan kekuatan dan material semata. Di sana ada dukungan emosi yang membuat seseorang penting itu harus tetap bertahan. Payung pelindung itu, bukan terbuat dari sosoknya yang besar atau dari ribuan lembaran uang, lagipula Ree tidak memiliki dua hal itu, apa yang ia miliki hanyalah keinginannya untuk melindungi Frigid dan mulut cerewetnya tentang pria itu. karena itu ia menyebutnya sangat klise dan merasa geli dengan dirinya sendiri.


Berbicara dengan Ree, memang tak memakan waktu yang sedikit. Tidak semuanya pembicaraan berat yang menjadi topik antara Smith dan Ree. Setelah mengobrol dengan Ree, Smith memutuskan untuk kembali ke ruang kerjanya meninggalkan Ree di ruang baca kediamannya karena nampaknya wanita itu menikmati waktu di sana dengan membaca buku.


Seperti yang dipikirkan Smith bahwa Ree sangat betah berada di ruang baca milik Smith yang tak jauh dari gedung kediaman Bianca. Hanya saja ruang baca itu satu gedung dengan gedung utama namun memiliki pintu yang juga tersambung ke halaman belakang dimana menjadi halaman depan gedung kediaman Bianca. Ditemani oleh cemilan yang Smith belikan untuknya dan teh, Ree masih sibuk membolak-balik lembaran buku cerita klasik yang ia tertarik untuk dibaca. Ia tidak tahu bahwa Smith juga suka mengumpulkan cerita-cerita klasik yang menarik, bahkan Ree sendiri belum pernah mendengarnya sebelumnya.


Disela-sela kegiatan membacanya, Ree meregangkan kepalanya kekanan dan kekiri lalu menatap langit-langit ruangan cukup lama. Pikirannya mengarah pada buku yang ia baca, dimana ia membaca sebuah cerita tentang pemeran utama yang mati karena terbunuh oleh orang terdekatnya, orang terdekat itu adalah seseorang yang iri dan penuh dengan dendam dimana tidak menyukai hal-hal yang selalu dimiliki padahal orang terdekat itu adalah salah satu orang yang dikasihi oleh pemeran utama itu.


“Percaya yang berlebihan nyatanya tidak begitu baik,” Ree berpikir apa itu juga yang dirasakan oleh Frigid pada masa lalu dimana semua orang terdekatnya sama sekali tidak merasa peduli, daripada memilih percaya pada orang-orang, lebih baik membunuh diri sendiri dan menderita sendiri.


Tetapi Ree belum selesai membaca buku itu. Memang sang pemeran utama mati di bab yang terakhir, namun ia belum sampai ke paragraf terakhir dimana semua orang menyesali perbuatannya dan merasa sangat kehilangan. Hingga Ree menyelesaikan buku itu dan perasaannya diselimuti oleh rasa yang aneh dan menggantung.


Smith masih merenungi surat balasan dari Luceat, mengabarkan dirinya bahwa Luceat akan berlayar ke Crystallo sebentar sebelum benar-benar melakukan pelayaran besar dengan membawa Asteria istrinya. Seolah memahami maksud Smith, Luceat juga bersedia mempertemukan Smith dan Asteria setiba mereka di Crystallo. Sementara ditangan kirinya terdapat dokumen yang diberikan Yohan terkait informasi pertambangan permata di Agnus yang juga lokasinya tak jauh dari perbatasan kerajaan Pulchra dan Agnus.


“Dana sebanyak ini untuk mendukungmu naik ke takhta, Joan kamu benar-benar tidak percaya diri sekali dan malah mencoba membuat skandal.” timpal Smith berbicara pada diri sendiri. Tiba-tiba dari arah luar suara ketukan pintu.


“Masuklah,”


Muncul Frigid dari koridor, masuk dengan tenang setelah dipersilahkan oleh pemilik ruangan. Mengejutkan karena memang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Smith bahwa Frigid akan muncul ke ruangannya tanpa ada yang meminta anak itu untuk datang. Cepat-cepat Smith membereskan pekerjaannya di meja, bahkan surat dari Luceat dan dokumen dari Yohan ia simpan di laci mejanya.


“Frigid? Ada apa?” tanya Smith bingung. Gelagat Smith yang terburu-buru itu tidak membuat Frigid risih maupun penasaran, wajah datarnya sama seperti biasa dan terlihat lebih tenang dibanding biasanya. Tidak, anak satu ini memang tenang pembawaannya namun sorot matanya seolah untuk hari ini tidak seperti ikan mati atau kosong. Ada pantulan sosok Smith di dalam sana, menandakan perasaan anak itu sedang dalam keadaan baik.


“Aku hanya penasaran satu hal.” ungkap Frigid saat ia sudah berada tepat di depan meja kerja Smith.


“Satu hal?” satu hal yang Frigid penasaran dan ada pada Smith? Apa itu? Smith memang selalu menjadi objek tuduhan Frigid selama ini, adiknya selalu menaruh rasa curiga dan penasaran dengan setiap langkah yang ia lakukan. Tapi tidak pernah diungkapkan secara terang-terangan oleh adiknya itu.


“Kenapa kamu memegang kunci itu?”

__ADS_1


Kunci? Ah, pikiran Smith langsung bisa menangkap maksud dari Frigid. Kunci yang dimaksud adalah kunci dokumen yang sangat penting untuk keberlangsungan kerajaan dan keluarga mereka saat ini. Secara turun-temurun dikeluarga Cali akan menyerahkan kunci itu pada putra sulung keluarga.


“Secara tradisi memang benar begitu, kakek tidak mungkin melakukan kesalahan. Karena itu ada padaku.” ucap Smith santai. Lagi-lagi Frigid mengerutkan dahinya tak mengerti dan tak merasa perkataan Smith masuk akal.


“Apa kamu berpikir, kenapa kakek langsung memberikannya padaku tidak pada ayah terlebih dahulu? Bukan begitu?” seolah bisa menebak rasa penasaran Frigid, kalimat Smith terdengar sempurna.


Smith bangkit berdiri dan menghampiri adiknya yang tak jauh perbedaan dengan tingginya. Ia tersenyum menatap wajah adiknya yang terlihat cukup bodoh saat ini karena menyimpan rasa penasaran sendiri.


“Nampaknya kamu harus banyak membaca Frigid, buku silsilah keluarga ada di ruang bacaku dan disana kamu bisa menemukan jawabannya sendiri kenapa kunci itu ada ditanganku saat ini.” Smith menepuk bahu adiknya pelan lalu berlalu meninggalkan Frigid sendiri di ruangannya dan tak lupa senyuman usilnya ketika sudah membelakangi adiknya.


Mengikuti ucapan Smith, membuat Frigid pergi ke ruang baca milik Smith yang tak jauh dari ruang kerja putra sulung keluarga Cali itu. Ia masuk dari arah koridor dan seperti biasa tak akan dikunci. Sebenarnya Frigid tidak begitu penasaran awalnya dan merasa masa bodoh, namun ada alasan saat ini ia juga harus tahu tentang keadaan, ada yang harus ia pertahankan dan ia lindungi. Ada hidupnya dan seseorang yang harus ada disampingnya. Agar ia bisa selalu berada di samping seseorang itu, Frigid sendiri juga harus mencari jalan keluar agar rasa egoisnya bisa terpenuhi.


Seseorang yang sangat ingin Frigid pertahankan disampingnya saat ini sedang nampak merebahkan diri serta terlelap di sofa panjang dengan buku cerita bersampul kulit sintetik berwarna hijau dipelukannya tanpa menyadari seseorang masuk dari arah koridor yang mana tubuhnya menghadap ke sana. Awal masuk Frigid membuka pintu itu dengan saat tenang dan saat ia melihat ada seseorang di dalam ruang baca membuat Frigid menjadi sangat berhati-hati menutup daun pintu agar tidak membangungkan wanita yang ia inginkan itu terganggu tidurnya. Tanpa Frigid sadari sebenarnya ia masuk ke dalam kejahilan Smith, pria satu itu tahu bahwa Ree pasti berlama-lama di ruang bacanya dan membuat Frigid juga datang ke ruangan itu dan kembali mempertemukan mereka kembali.


Frigid seolah lupa dengan tujuannya ke ruang baca, membuat pria yang menggunakan kemeja hitam pendek itu menghampiri dan berlutut menghadap figur yang saat ini sangat nyenyak. Menatap seluruh detail wajah perempuan nekat yang selalu mengusiknya dan tak sadar ia terlalu nyaman menatapnya. Entah selelah apa Ree, sampai tidak sadar ada yang sedang menikmati pemandangan wajahnya saat ia tertidur saat ini. Seolah bermimpi indah, membuat wajah Ree sama sekali tidak berkerut atau mengeluarkan ekspresi yang tidak nyaman.


Tapi tak memerlukan waktu cukup lama juga untuk alam bawah sadar Ree menyadarkan dirinya bahwa ada seseorang sedang menatapnya. Ree merasakan kehadiran seseorang di sekitarnya, membuatnya perlahan sadar dan membuka matanya pelan. Dihadapannya saat ini ada seseorang yang sedang membaca sebuah buku tebal duduk di sofa yang berlawanan dengan posisinya saat ini. Hanya ada meja pendek yang menengahi jarak antara mereka berdua membuat Ree cukup jelas melihat siapa yang datang. awalnya ia juga tidak akan menduga melihatnya saat ini, karena Ree pikir akan sulit untuk saling bertemu, tapi sosok pria yang memeluknya semalam saat ini terlihat begitu jelas. Wanita yang menggunakan terusan berwarna coklat muda itu terduduk dan membuat pria yang sedang serius membaca menjadi menaruh perhatian padanya.


“Padahal kamu bisa tidur lebih lama lagi.”


“Bagaimana bisa aku tidur ketika ada seseorang bersamaku saat ini. Kenapa kamu ada di sini? Bukankah ini ruang baca milik tuan Smith?” suara bangun tidur Ree sangat khas karena suaranya cukup serak, ia merasa tidur cukup lama padahal ia hanya merasa lelah dan berencana untuk tidur sebentar karena habis membaca cerita sebelum kembali ke kamarnya.


“Tentu saja untuk bertemu denganmu, memangnya ada alasan lain untukku berada diruangan milik orang yang tidak aku sukai?”


Ree tidak tahu apa semalam setelah ia mengunjungi kamar Frigid, pria ini ada terpeleset hingga membentur kepalanya dengan keras atau bagaimana. Bisa-bisanya baru saja ia bangun tidur siang dan orang yang selalu mengatakan kata-kata dingin mengatakan hal semanis itu dihadapannya.


“Frigid, kamu tidak gila? Iya kan?” merasa merinding dengan ucapan Frigid membuat Ree bertanya tentang kewarasan Frigid.


“Tentu saja tidak,” ucap pria itu sembari membalik buku silsilah keluarganya yang sangat tebal dan memusingkan saat ini lalu kembali menatap wajah bengkak Ree.


“Aku sudah bilang aku akan bersikap egois. Kali ini meski kamu menganggapku gila, aku tidak akan berpisah denganmu dalam keadaan apapun.” Frigid mengatakannya dengan senyuman manisnya anehnya bukan membuat Ree merasa tersanjung atau ada debaran yang berbeda dijantungnya, melainkan rasa yang cukup asing hingga membuatnya benar-benar merinding dan linglung mempertanyakan tentang siapa yang ia hadapi saat ini. Karena Ree merasa seolah-olah Frigid yang ia lihat adalah orang lain.


Frigid mungkin tidak merasa seperti itu karena ia memang seharusnya seperti ini sebelumnya. Ia menyadari betapa pentingnya hidupnya sendiri dan bertahan demi hidupnya bukan karena pasrah oleh perlakuan orang lain yang menjijikan padanya. Bertahun-tahun menjadi seorang boneka sebenarnya membuat Frigid sangat muak. Ia sebelumnya sudah mengetahui bahwa orang disekitarnya sangat mempermainkan hidupnya diatas tangan mereka, kini setelah Frigid memiliki keegoisan diri dan ingin memiliki sesuatu Frigid tidak bisa memikirkan apa-apa selain hidup bersama Ree.

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2