
Pikirnya mungkin ada orang yang tertarik untuk berkenalan atau mungkin sedang menawarkan produk jualannya, sehingga tiba-tiba muncul di hadapan seperti orang yang tidak tahu malu. Tapi, saat ini bukan seperti penjual ataupun orang yang sekedar ingin kenalan yang muncul di hadapan Ree.
Melainkan orang-orang yang sama sekali terlihat tidak ramah dan mencurigakan.
“Jika kamu tidak berontak dan menolak, keributan tidak akan terjadi dan tidak akan ada yang terluka.”
Ree merasa belum jauh dari tempat pertemuannya dengan Smith, ia hanya berjalan mengambil jalan yang tak terlalu ramai namun tetap ada orang yang berlalu lintas melalui jalan itu. Ree merasa tidak pernah ada masalah selama ia tinggal di Litore selain kesulitan berinteraksinya itu.
Pertama kalinya saat ini ia dicegat oleh orang-orang yang tidak dikenal namun ingin membawanya ke suatu tempat yang pastinya tidak akan Ree turuti.
“Apa ini? siapa kalian?” tanya Ree yang sudah tidak tahu mana rasa takutnya terhadap pria itu pergi.
“Kami tidak akan menyakitimu asalkan kamu mau menuruti dan ikut kami.”
Salah satu dari 2 orang pria yang tidak Ree kenal itu menawarkan sesuatu yang sangat mencurigakan.
Mana mungkin Ree mau ikut begitu saja tanpa ada alasan yang jelas.
Ree tidak peduli siapa yang mengutus mereka. Jika ia tidak kenal, ia tidak akan mudah menuruti perkataannya.
“Atau kamu mau kami bawa secara paksa?”
Itu juga bukan keinginan Ree.
Kedua pria itu semakin mendekati Ree untuk meraih wanita itu, tentu saja Ree yang memiliki kelainan refleks menjauh dan tetap menjaga jarak aman.
Apapun itu, siapapun mereka, Ree tidak merasa baik-baik saja jika ia sampai tertangkap.
*
*
*
“Kenapa ia belum juga kembali??”
Liliana, wanita itu sejak ia sudah pulang dan berbenah, ia sudah mondar-mandir di ruang tamu dengan berguman kata-kata yang menanyakan kehadiran seseorang yang seharusnya sudah ada di rumah yang sama dengan dirinya saat ini.
“Ree… kenapa dia belum juga kembali??” tanyanya pada dirinya yang sudah berpuluh-puluh kali ia lakukan.
Frigid yang baru kembali dari kamar mandi ingin rasanya mengabaikan gelagat teman serumahnya itu namun dengan cepat ia urungkan ketika matanya dan mata Liliana saling bertemu.
Jelas saja, Liliana langsung menghampiri Frigid yang sudah Liliana tetapkan sebagai tersangka.
“Dimana Ree??” tanya Liliana tanpa basa-basi.
“Kamu bertanya seolah melihatku sebagai penculiknya.” jawab Frigid heran.
“Jangan beralasan… katakan dimana temanku satu itu!”
Benar juga, mau beratus kali Frigid mengeluarkan alasan dan pembelaan terhadap dirinya, ia tidak akan pernah benar di mata Liliana. Bahkan sejak awal, itu sudah terjadi.
“Haa… ia sedang bertemu dengan temannya dan pulang agak terlambat.” jawab Frigid setahunya. Karena diingatannya ia hanya tahu Ree berpisah dengannya di jalan.
Liliana tampak tak percaya, tapi Frigid tak peduli karena benar adanya.
“Ia pergi menemui temannya?? Kenapa kamu tak ikut?!” protes Liliana.
“Tunggu dulu, kenapa aku harus ikut?? Bukannya ia ingin bertemu dengan temannya dan tidak mengajakku sama sekali? Untuk apa aku mempermalukan diriku seperti itu??” tanya Frigid heran.
Liliana berdecih dan tak terima dengan jawaban Frigid.
“Tentu saja harus! Bagaimana bisa kamu setega itu membiarkannya pulang sendirian di malam hari??” Liliana terlihat geram dengan ketidakpekaan Frigid terhadap situasi Ree.
“Kamu terlalu berlebihan terhadapnya… tidak bisakah kamu membiarkannya saja?” Frigid cukup heran dengan cara Liliana perhatian kepada Ree. Ia menilai hal tersebut cukup berlebihan tiap kali Ree tidak ada di padangan Liliana.
Liliana terlihat geram, mulutnya seolah ingin mengeluarkan sebuah kalimat pada Frigid namun tertahan di bibir yang terkatup itu. ia tidak mengeluarkannya dan masih menatap Frigid geram.
“Ada apa ini? aku tahu kalian berdua tidak akur, tapi aku nampaknya ketinggalan akan satu hal.” Servio baru saja pulang dari tempat magangnya dan melihat dua orang sedang beradu tatap yang tak ramah sama sekali di ruang tamu membuat Servio cukup bertanya.
“Ree belum juga kembali dan Frigid tidak peduli padanya…”
Mendengarnya malah membuat Frigid kesal dan ingin menyumpal mulut Liliana agar tidak menuduhnya sembarangan.
“Hentikan tuduhanmu yang tidak jelas itu… ia sudah mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan temannya.” geram Frigid.
“Apa? Ree belum kembali? Ini sudah hampir larut malam…” ucap Servio.
Dibanding Servio dan Liliana, jam pulang Frigid dan Servio sangat teratur dan tetap, oleh karena itu saat Servio sudah kembali di malam hari menyelesaikan magangnya, Frigid sudah cukup lama sampai di rumah.
“Aku akan mencarinya.” ujar Liliana memutuskan apa yang harus ia lakukan daripada berdebat dengan Frigid.
__ADS_1
“Cih! Lakukan saja sesukamu.” ucap Frigid tak peduli dan berniat kembali ke kamarnya.
Frigid tak jadi pergi ke kamarnya karena Liliana sudah lebih dulu meraih bajunya dari belakang sembari menyeringai.
“Tentu saja aku akan melakukan sesukaku… heehe.” Senyuman itu bahkan terlihat sangat licik di mata Frigid dan Servio.
“Ahh… benar juga, kita bertiga akan mencarinya bersama-sama…” ucap Servio.
“Tapi… kenapa aku harus ikut?” protes Frigid tak terima.
“Apa yang kamu katakan? Kamu mengatakan padaku untuk melakukan hal sesukaku. Menyeretmu untuk ikut mencari adalah cara yang aku sukai itu.” timpal Liliana merasa ia tidak akan kalah dari Frigid untuk hal seperti ini.
Kesan Frigid pada Liliana seakan tambah buruk dan menganggap wanita itu licik sekali.
*
*
*
“Ahh… dia sudah tidur di kamar dan belum lama kembali.” Jelas Henny pada ketiga orang datang ingin menemuinya malam-malam di depan gedung utama akademi mereka.
“Benarkah!? syukurlah… aku sempat mengkhawatirkannya yang tidak kembali ke rumah dinas.” Ucap Liliana yang akhirnya bisa merasa lega karena orang yang mereka temui lebih dulu adalah Henny.
Henny nampak bingung kenapa Ree sampai di cari seperti ini. Padahal beberapa hari yang lalu Ree juga akan pergi ke asrama jika ia ingin.
“Sudah aku katakan, bahwa kamu berlebihan memikirkannya… dia tidak akan tersesat ataupun bermasalah di kotanya sendiri…” sambut Frigid.
Terdengar masuk akal, karena Ree memang berasal dari kota Litore dan sangat aneh jika wanita itu tersesat dan tidak tahu seluk beluk kotanya.
“Ya sudah… saatnya kembali…” ucap Liliana yang memilih untuk diam saat ini karena ia tidak ingin membuat keributan di malam hari.
Henny hanya bisa memaklumi Liliana dan melihat ketiga orang itu sudah pergi meninggalkan kawasan akademinya.
*
*
*
“Setidaknya dia sudah diketahui keberadaannya…” ucap Liliana lega saat mereka sudah di jalan pulang dan sebentar lagi sampai ke rumah dinas.
Karena suasana hati Liliana sedang baik-baiknya, ia tidak langsung menyerang Frigid dan hanya tersenyum lega sembari menatap jalanan yang sudah mulai sepi.
“Itu karena aku tahu rasanya kehilangan orang baik.” Jelas Liliana.
Selagi masih bisa berbuat baik dan saling membantu, kenapa tidak? Ree tidak pernah terlihat peduli saat ia menderita dengan orang-orang yang menyukai Alexander hanya untuk melindungi Liliana. Kali ini, setidaknya kekhawatiran Liliana adalah bentuk balasan atas perbuatan Ree padanya.
“Aku tidak begitu mengerti.” ucap Servio.
Mungkin sebagian orang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh kehilangan orang baik itu. Tapi mendengarnya Frigid bisa tahu rasa kehilangan orang baik itu seperti apa, karena ia pernah mengalaminya dan tak bisa berbuat sejauh Liliana saat ini.
Itu semua karena ia tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melindungi orang baik itu.
Saat itu, kekuatan hanya dimiliki oleh orang-orang yang lebih tua darinya, termasuk orang yang sedang berdiri di depan rumah dinas mereka saat ini.
“Bukankah itu kakakmu?” tanya Servio merasa tak salah dengan apa yang ia lihat saat melihat sosok pria tinggi dengan rambut hitam dan mengenakan setelan jas berwarna abu-abu berdiri di bawah lampu jalan tepat di depan pagar rumah dinas akademi La Priens itu.
“Kakakmu? Aku tidak pernah melihatnya…” ucap Liliana menatap Frigid meminta konfirmasi benar atau tidak.
Menyadari orang yang membicarakannya, Smith yang sejak awal sudah ada di depan rumah itu seperti orang resah menatap ketiga penghuni rumah dan menghampirinya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Frigid geram.
“Lupakan urusan kegeramanmu padaku… apa Ree ada di rumah?” tanya Smith sedikit terburu-buru.
Sejak awal ia sudah berlari ke rumah dinas ini untuk memastikan keberadaan Ree baik-baik saja karena ia tidak lagi melihat wanita itu dimana-mana sejak orang-orang ayahnya mengatakan mengirim orang untuk bicara dengan Ree.
Frigid jadi tersadar akan sesuatu.
“Apa yang Ree maksud teman itu…” lirih Frigid tak percaya.
Apa yang Ree maksud teman yang mau ia temui itu adalah Smith?
“Ah… kami baru saja kembali dari mencarinya… Ree sekarang ada di asrama akademinya dan sudah tidur.” jawab Liliana santai.
“A-asrama??” Smith bisa tahu bahwa ketiga orang di depannya ini juga kembali dari mencari tahu keberadaan Ree yang tidak kembali ke rumah dinas.
Perasaan resah yang awalnya memenuhi dirinya menghilang secara perlahan dan membuat hati Smith terasa lebih ringan.
“Benarkah?? syukurlah… kalau begitu saya pergi dulu…” pamit Smith.
__ADS_1
Setidaknya setelah memastikan bahwa Ree baik-baik saja, Smith bisa merasa lega dan bisa kembali ke tempatnya.
“Tunggu…”
Smith mengurungkan niatnya untuk langsung pergi ketika adiknya yang tidak pernah ramah padanya itu menghentikannya dengan satu suara.
“Kalian bisa pergi ke dalam lebih dulu.” ucap Frigid meminta untuk tidak ada yang menguping pembicaraannya dengan kakaknya.
Liliana mungkin tidak terlalu mengerti, namun ia turuti saja dari pada ia punya masalah dengan Frigid, sementara Servio sedikit bisa mengerti karena ia tahu bahwa hubungan Smith dan Frigid tidak pernah akur sejak dulu.
“Tumben sekali kamu ingin bicara denganku.” singgung Smith yang bisa tahu kenapa Frigid menghentikannya.
“Apa kamu bertemu dengan Ree sore ini?” tanyanya dengan suara yang tidak ramah sekali.
Smith tidak habis pikir, baik Ree maupun Frigid mereka sama-sama tidak sadar akan satu sama lain bahwa saling menaruh perhatian dengan cara yang tidak biasa.
“Jika itu benar, ada apa?” tanya Smith.
Frigid belum menjawab dan langsung mengalihkan padangannya sembari mendengus kecil.
“Apa yang kamu rencanakan padanya?”
“Merencanakan sesuatu padanya??” Smith terlihat sedang memikirkan sesuatu dan langsung tersenyum.
“Memangnya kamu perlu tahu akan hal itu??”
Jika boleh Frigid ingin melempar Smith ke laut saat ini juga ketika senyumannya sangat terlihat tidak menyenangkan di mata Frigid.
Smith nampaknya menikmati saat-saat menggoda Frigid seperti ini.
Frigid terlihat geram dan belum mengeluarkan kata-kata balasannya.
“Sejujurnya nona Ree adalah patner bisnis yang menyenangkan. Tapi kamu melihatku seolah aku akan melakukan hal buruk padanya…” timpal Smith tak habis pikir dengan buruknya dirinya di mata Frigid.
“Tentu saja, gelagatmu terlalu mencurigakan dan semua yang terjadi dalam hidupku menjadi buruk karena kamu mengambil sesuatu yang berharga bagiku.” Frigid tidak akan mudah lupa dengan bagaimana Smith membawa Margaretha pergi dari hidupnya.
“Sepenting apa pelayan itu? Hingga kamu seperti menanam dendam padaku.”
Tentu saja penting, tidak ada pendukung hidup Frigid selain Margaretha. Satu-satunya orang seperti itu malah diambil dari sisi Frigid.
“Carilah orang lain, jangan mengusik Ree ataupun orang di sekitarku, bahkan jangan muncul di sekitarku.” Frigid tidak ingin hal itu terulang lagi. Bayang-bayang Ree menceritakan ketakutannya dalam berinteraksi dengan laki-laki terus menganggu pikiran Frigid. Ia mungkin menawarkan Ree untuk terbiasa dengan orang lain, tapi pilihan Smith benar-benar opsi yang terburuk.
“Aku akan menganggap apa yang kamu ucapkan itu tidak pernah ada… sejak awal kamu hanya peduli dengan hidupmu sendiri, jadi jangan tiba-tiba peduli dengan orang lain. Itu menggelikan…”
Frigid tersentak kaget mendengar ucapan Smith. Ia mungkin akan teriak dan menyangkal jika tidak menyadari bahwa saat ini ia berada di depan rumah dinas yang mana akan membuat situasi semakin buruk saja.
Bagaimana mungkin ia dikatakan hanya peduli dengan hidupnya sendiri, sementara selama ini ia sangat membenci hal itu. bahkan orang lain yang lebih peduli dengan hidupnya dibanding dengan dirinya sendiri.
Smith tentu tidak mengatakan hal itu secara serius. Ia tidak tahu apa anggapannya benar terkait Frigid yang tidak tahu harus seperti apa dengan hidupnya sendiri, tapi Smith tidak tahu bahwa Frigid lebih membenci hidupnya sendiri lebih dari apapun itu.
Karena Frigid tidak lagi menyambut kata-katanya, Smith memutuskan untuk pergi dari hadapan adiknya itu. ia merasa sudah cukup menggodanya dan tidak ingin membuat pria muda itu semakin frustasi akan kehadiran dirinya.
*
*
*
Kembali ke asrama Akademi Wanita Litore, dimana Henny baru saja tiba di kamar dan menatap teman sekamarnya yang sudah terlelap sejak tadi ia baru tiba.
Memang sedikit mengejutkan Hennt, namun Henny tidak ingin menceritakan awal Ree tiba di asrama tadi.
Wajah wanita itu nampak pucat dan sedikit berantakan seperti orang yang habis berlari. Nampak ketakutan namun tak ingin menceritakan apa yang terjadi.
Henny tidak tahu apa yang terjadi pada Ree, ia berharap agar wanita itu bisa bercerita tentang apa yang terjadi.
Sementar itu, Ree yang dikira sudah tidur ternyata belum menutup matanya sama sekali. Ia membelakangi Henny dan membalikkan tubuhnya saat Henny sudah menaiki ranjangnya yang ada di atas milik Ree.
Ree masih bisa mengingat kenapa ia memutuskan untuk datang ke asrama.
Tak lain adalah ia lari dari kejaran orang-orang yang misterius itu.
Ree tidak memilih untuk bicara dengan mereka karena Ree memikirkan situasi terburuk ketika ia ikut. Akhirnya Ree memutuskan untuk berlari dan kabur, rasa takut Ree saat itu sangatlah besar sehingga sulit bagi Ree untuk berpikir jernih.
Ia memang sudah tahu garis besar masalah Frigid itu seperti apa.
Namun, nampaknya situasi Frigid lebih parah dari apa yang ia bayangkan.
To Be Continued.
__ADS_1