
Baiklah, dari sekian banyak orang yang bisa mendengar, akan ada dimana seseorang yang paling tidak diharapkan hadir. Contohnya seperti yang Frigid maupun Servio alami saat ini.
Dari sekian teman atau orang yang mereka kenal, Liliana adalah yang paling tidak diharapkan untuk tahu semua akar masalahnya.
Ujung-ujungnya tindakan yang sama sekali tidak pernah diinginkan terjadi pada kedua pria itu ketika Liliana berada di hadapan keduanya yang sedang duduk melipat kaki di dalam taman.
“Apa ini? kenapa kita harus melakukan ini?” protes Frigid tak terima ketika ia juga ikut duduk.
Namun protes itu dengan cepat dipotong oleh hentakan tongkat kayu yang secara acak Liliana pungut belum lama ini.
“Berhentilah protes dan sadarlah dengan keadaan kalian.” timpal Liliana geram.
“Sudah kukatakan untuk diam saja dulu.” ucap Servio yang sadar bahwa tidak akan ada habisnya berdebat untuk saat ini saat melihat lawan mereka adalah Liliana.
“Bagus Servio, nampaknya kamu mengerti. Karena itu aku tak memerlukannya lagi.” timpal Liliana dengan santai mengeluarkan sebuah pisau bedah dari saku celananya dan membuang benda itu ke sembarangan semak-semak.
Tindakan gila Liliana tentu saja membuat Frigid dan Servio tertegun, siapa yang menyangka akan melihat sebuah pisau bedah keluar dari saku celana wanita itu.
Apa wanita itu berniat membunuh mereka berdua?!
“Baiklah, nampaknya suasana sudah tenang.” timpal Liliana melihat ke sekeliling untuk memastikan tidak ada orang keempat yang muncul.
Suasana tenang ini tak jauh dari ulah barbar Liliana, pikir kedua pria yang seperti disandera saat ini.
“Jadi sekarang aku tahu dari mana obat berbahaya itu berasal dan kamu bisa menggunakannya.” ucap Liliana membuka pembicaraannya.
Ia tak menyangka bahwa Frigid memiliki hubungan yang cukup rumit dengan kerajaan Agnus dimana jaminan hidup pria itu adalah bayarannya.
Sejak awal Liliana puas memikirkan dari mana Frigid mendapatkan bahan obat yang berbahaya serta ilegal di kerajaannya itu dengan mudah, ternyata orang yang berada di belakang ketua senat mereka itu bukanlah orang biasa.
“Lalu dirimu Servio, setelah kamu membuat Ree hampir kehilangan gairah hidupnya, kini kamu mau melakukan sesuatu yang gila. Kamu pikir apa yang akan Ree lakukan ketika ia mendengar keputusan sepihak seperti ini lagi?” tanya Liliana tak habis pikir.
“Liliana, seharusnya kamu tahu bahwa Ree memang sangat ingin kami tidak bertunangan.” jawab Servio.
“Itu benar, biarpun kamu tetap keras kepala, aku yang akan datang menghancurkan pertunaganmu. Terlebih setelah aku tahu apa yang terjadi saat ini membuat segalanya menjadi mudah bagiku.” Liliana sendiri tidak akan menyembunyikan niatan sebenarnya pada orang seperti Servio.
“Tapi apa Ree akan menerimanya? Meskipun kamu mengatakan membatalkan pertunangan yang tidak ingin ia lakukan, tapi yang kamu melakukan itu untuk menggantikan posisi Frigid? Dari Frigid sendiri ia sudah bertahun-tahun menjadi calon selir…” Liliana kembali melirik Frigid yang sejak tadi terdiam.
“Sejak awal memang mustahil. Ratu Agnesia bukan orang yang mudah untuk hal seperti ini, ia tidak akan mau orang lain setelah memberiku penopang untuk hidup selama bertahun-tahun. Karena itu, aku jelas menolak idemu Servio.” Tentu saja Frigid tidak ingin ada orang lain menggantikannya, karena jelas merugikan diri orang itu.
“Ratu Agnesia merupakan orang yang selalu tetap pada target awalnya, bahkan jika kamu berniat menggantikanku, mungkin kita berdua yang menjadi mangsanya. Sejak awal ini adalah masalahku dan aku tidak ingin melibatkan orang lain. Servio, saat hidupmu masih sebebas sekarang lebih baik kamu jalani itu dari pada menjalani hidup sepertiku.”
Frigid akhirnya memberanikan dirinya untuk berdiri karena merasa lelah untuk duduk terlalu lama di atas tanah yang keras, diikuti oleh Servio.
“Servio, masalah ini tidak bisa selesai dengan keputusan sembronomu itu, kalaupun kamu menggantikan Frigid untuk menjadi kandidat, itu malah bisa berada di situasi yang paling buruk. Baik untukmu maupun Frigid. Terlebih, ibumu tidak akan bisa menerima ini… sejak awal kamu melakukannya untuk ibumu bukan?” tanya Liliana.
Servio kembali merenungkan tentang apa yang sudah ia perbuat. Semuanya benar-benar dalam posisi yang kacau saat ini. Ia datang ke Litore bersusah payah dan ingin bertemu dengan Ree, tapi semua kabar yang datang tidak ada yang baik baginya justru semakin membuatnya jatuh ke jurang lebih dalam lagi.
“Baiklah!! Ketika semua masalahnya jelas seperti ini, kita akan kembali.” Liliana tiba-tiba memutuskan semuanya sendirian.
“Eh… tapi bagaimana dengan Ree…??” Servio menunjuk ke arah Ree pergi berlari belum lama tadi.
Liliana tersenyum santai menanggapi pertanyaan itu.
“Kamu benar, aku bahkan belum menyapanya saat ia tiba karena kehadiranmu yang pasti mengejutkannya… terlebih kamu malah mengejar Frigid daripadanya, nampaknya urusanmu datang ke Litore sudah berubah.”
Ucapan Liliana mirip dengan puluhan panah yang menusuk tubuh dan hati Servio.
“Wah… kamu lebih buruk dari yang aku kira.” ucap Frigid tak menyangka.
Bahkan Frigid juga ikut bergabung mengomentari Servio.
Bahkan Servio bertanya pada dirinya sendiri tentang apakah tepat baginya pergi ke Litore??
*
*
*
Seharian di tempat magang Ree sudah tidak lagi bersama dengan Frigid, karena ia dipindahkan ke unit yang lain. Hal itu membuatnya tidak perlu repot-repot merasa tidak enak. Ree sendiri belum memutuskan untuk kembali ke rumah dinas dan menetap di asrama untuk sementara waktu karena ia belum ingin bertemu dengan Servio.
“Waahh… aku tidak menyangka hanya akan bertemu denganmu di kantin Ree… apa kamu belum mau kembali ke rumah dinas?” tanya Liliana sembari menyerahkan beberapa barang Ree karena Henny memberitahukan Liliana pagi-pagi sekali.
__ADS_1
“Sebenarnya aku tidak ingin kalian melakukan hal ini untukku. Padahal aku juga tidak ingin repot seperti ini.” ucap Ree tak enak karena sudah menyusahkan Liliana dan Henny.
“Ya… akan lebih mudah jika kamu berpikir demikian… karena itu, berdamailah dengan dirimu sendiri dulu baru kembali ke rumah dinas ya!” pesan Liliana sembari menepuk lengan Ree agar setidaknya terisi semangat dalam wanita itu.
Liliana tidak merasa direpotkan meski ia harus mengambil beberapa barang Ree, ia hanya tidak ingin Ree malah merasa terbebani dengan apa yang selama ini sudah ia alami. Terlalu banyak temannya ini menanggung berbagai masalah, sampai-sampai terlihat hampir gila (di mata Liliana).
“Ugh… aku jadi ingin menghajar kedua pria itu.” sungut Liliana ketika mengingat rasa kesalnya pada Frigid maupun Servio.
“Ahaha… Liliana kamu nampak lebih bersemangat saat ini.” ucap Ree tak habis pikir dengan Liliana.
Sorenya, seperti keputusan awal Ree bahwa ia belum kembali ke rumah dinas dan kembali tinggal di asrama. Entah mengapa hidupnya terasa kembali ke awal lagi, dimana hanya menghabiskan waktu sebentar di luar ruangan lalu kembali ke asrama untuk menghabiskan hari-harinya.
Saat Ree melihat langit sore dan menghela napasnya pelan, seolah membuang semua serpihan berat dalam hati maupun pikiran yang sebenarnya Ree sendiri tidak tahu kenapa bisa ada.
Jelas saja, ia terlalu banyak melalui garis-garis yang mungkin tak seharusnya ia lewati begitu saja.
Liliana mengatakan pada Ree bahwa ia ingin memberitahukan sesuatu pada Ree, namun sebelum itu Ree harus memaafkan dirinya sendiri dan Servio.
Karena itu, Liliana menunggu keputusan Ree terkait Servio.
“Ah…” saat ingin masuk ke dalam gedung utama, mata Ree tak sengaja berpas-pasan dengan Margaretha yang ingin pulang karena sudah selesai mengajar untuk hari ini.
“Selamat sore nyonya Margaretha.” ucap Ree menyapa Margaretha sebagai formalitas.
“Ah, nona Lumen… saya pikir kamu berada di rumah dinas La Priens saat ini.”
Seharusnya begitu, namun Ree tidak bisa ke sana untuk saat ini. Ree pikir setelah ia menyapa ia akan masuk ke dalam gedung utama.
“Ahh… Ree, apa kita bisa bicara sebentar? Saya sedang menunggu suami saya menjemput saya.”
Namun, nampaknya mereka akan mengobrol sedikit panjang terkait sesuatu.
Tak jauh dari pintu masuk gedung utama, dihadapannya sudah ada taman akademi yang cukup luas dan menjadi salah satu tempat rekresasi masyarakat umum. Ke situlah Margaretha mengajak Ree untuk duduk di sebuah bangku taman setelah mentraktir wanita muda itu sebuah minuman hangat.
“Jadi, apa yang ingin anda bicarakan nyonya Margaretha?” tanya Ree cukup penasaran.
Margaretha nampak tersenyum dan terus memandang Ree.
“Aku hanya ingin bertanya kenapa kamu bisa mengenal Frigid, bahkan nampaknya kalian berdua cukup akrab.”
“Kami tidak cukup dekat, saya hanya ada di satu organisasi dengannya. Beberapa kali kami memang sering satu kelompok.” Dari segala macam kebetulan yang ada pada dirinya dan Frigid memang cukup banyak waktu yang mereka habiskan bersama, terlebih beberapa kali di momen yang menyebalkan.
“Syukurlah… nampaknya anak itu benar-benar menikmati masa-masanya di akademi.” Ucap Margaretha terlihat lega.
“Tapi, kenapa anda membicarakannya pada saya? Saya tidak bisa dipercayai begitu saja, bukan begitu?” tanya Ree bingung karena tiba-tiba Margaretha malah mengajaknya berbicara tentang Frigid.
Margaretha menggeleng.
“Saya tahu kamu Ree, terlebih untuk Frigid yang tidak mudah bergaul dengan orang-orang disekitarnya…”
Kini bertambahlah pertanyaan di kepala Ree tentang Margaretha.
“Permisi, kenapa anda bisa mengenal Frigid?” tanya Ree untuk menuntaskan rasa penasarannya.
“Ahh… kamu pasti bingung kenapa saya tiba-tiba saja berbicara…” Akhirnya Margaretha menyadari bahwa ia harus menerangkan asal-usulnya terlebih dahulu.
“Saya dulu bekerja di kediaman Cali dan bertugas mengasuh Frigid sewaktu kecil.”
Tentu saja jawaban Margaretha membuat wajah Ree seperti orang yang tidak pernah mendengar sesuatu yang menakjubkan dalam hidupnya alias terkejut. Ya, Ree benar-benar terkejut.
“Itulah mengapa saya bisa mengatakan semua ini padamu. Ree, meski saya tidak tahu sejauh mana kamu dan Frigid saling berteman, namun saya tidak merasa kamu bukanlah orang yang buruk ketika bersamanya. Karena perasaan itulah, saya berani berbicara denganmu.” Ucap Margaretha.
Sejujurnya setelah meninggalkan kediaman Cali dengan segala kesulitan yang Margaretha alami, ia juga memikirkan bagaimana Frigid di kemudian hari tanpa dirinya. Ia mengkhawatirkan hal itu setelah tahu apa yang di alami laki-laki itu dalam usia yang masih sangat muda. Ibunya meninggalkannya dan tidak lagi dalam keadaan yang sehat jiwanya, ayahnya yang tega ‘menjual’ nya dengan embel-embel ingin mempertahankan hidup anak itu, lalu seorang kakak yang masih belum memiliki kekuasaan dan kekuatan yang besar untuk menyelamatkannya.
Margaretha sadar bahwa ia mungkin meninggalkan luka pada anak itu, namun ia juga merasa menderita dan masalahnya sendiri hampir tak mampu ia tanggung lagi membuatnya harus lari dari kehidupan anak itu.
Sementara di pihak Ree, meski ia tidak terlalu memahami siapa Frigid sebenarnya, namun secara garis besar Ree tahu bahwa pria itu memiliki masalah dalam menghargai hidupnya. Pria itu sedang berada di ujung tebing dimana ia ingin melompat kapan saja untuk mengakhiri hidupnya. Namun, ada duri yang menjalar menyelimuti tubuhnya menahan agar tidak jatuh.
Ia tertahan di ujung tebing kematian itu namun dengan cara yang paling mematikan dan bisa membunuhnya secara perlahan.
“Frigid… sampai saat ini ia membenci hidupnya sendiri… meski saya tidak tahu kenapa ia demikian, saya hanya merasa tidak nyaman dengan caranya menilai hidup.” Ree sering kali memperdebatkan hal itu dengan Frigid hingga membuat dirinya sendiri lelah dan bertanya kenapa ia harus peduli.
“Selain masalah hidupnya ia juga nampak tak akur dengan tuan Smith…” lanjut Ree ketika mengingat suasana yang tercipta ketika Frigid melihat Smith di sekitarnya terlebih ketika berinteraksi dengan Ree.
__ADS_1
Si Frigid itu mungkin ingin membunuh kakaknya sendiri, begitulah anggapan Ree.
“Ah… jadi kamu juga mengenal tuan Smith?” tanya Margaretha.
Ree mengangguk.
“Itu mungkin pertama kali sangat kebetulan, ternyata setelah beberapa kali bertemu ia merupakan pelanggan tetap usaha yang dijalankan keluarga saya.” jelas Ree kenapa ia bisa mengenal Smith.
“Seolah tuan Smith adalah musuh bebuyutannya, aku tidak mengerti kenapa Frigid selalu membuatku menjauh dari tuan Smith.” ucap Ree heran.
Mendengarnya membuat Margaretha terkekeh. Tentu saja kekehan Margaretha justru membuat Ree bingung.
“Apa itu lucu? Tentang keakuran mereka sebagai saudara.” tanya Ree penasaran.
“Ahaha… entahlah, mereka berdua memang tidak sedekat saudara lainnya, namun saya senang kamu juga mengenal tuan Smith.” ucap Margaretha.
“Haa… begitu, tapi kenapa dengan tuan Smith? Jujur saja, kesan pertama saya padanya adalah orang yang sangat misterius.” Ree secara jujur mengatakan bahwa ia tidak terlalu percaya dengan Smith sejak awal pertemuan mereka, terlebih karena sifat Frigid yang seperti orang kepanasan ketika melihat Smith di sekitarnya.
“Tidak… mungkin kesan pertamamu tentang tuan Smith tidak saya salahkan, karena memang seperti itu orangnya. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu… tuan Smith adalah orang yang paling tepat menurut saya untuk dimintai bantuan.”
“Dari sekian banyaknya orang yang dikenal?” tanya Ree.
Margaretha mengangguk.
“Beliau adalah pria yang peka dan tegas, meski memiliki sikap tegas, hatinya itu sangat lembut.” Margaretha mengingat masa-masa dimana ia diselamatkan oleh Smith yang masih remaja untuk lepas dari belenggu Leonard Cali.
“Jika beliau tidak ada, saya tidak tahu seperti apa saya saat ini… beliau adalah penyelamat saya.” ucap Margaretha.
“Saya tidak tahu tuan Smith adalah orang yang berperan besar bagi hidup anda…” ucap Ree seolah tak percaya.
Margaretha mengangguk.
“Bahkan saat adiknya sudah tergantung dengan obat yang diberikan ratu Agnesia, sampai saat ini tuan Smith masih mencari alternatif di Pulchra terkait penyakit jantung yang Frigid idap dari kecil.”
Tentu saja fakta itu baru Ree tahu, tentang usaha Smith mencari obat alternatif untuk penyakit Frigid.
Dibalik sisi misterius seorang kakak terdapat rasa kasih sayang yang tidak pernah disangka akan sebesar itu pada adiknya.
Juga, akhirnya Ree bisa tahu dari mana Frigid mendapat obat terlarang itu dan usaha Smith selama ini.
“Dia jelas membenci hidupnya karena ratu itu, berkat orang itu, Frigid tidak dapat tumbuh seperti orang biasa… hidupnya sudah terikat oleh orang lain, wajar saja jika ia membenci hidupnya sendiri…” Bagi Margaretha sempat melihat seorang anak kecil seolah seperti alat membuatnya sedih, Frigid bagi Margaretha bukan sekedar anak kecil biasa yang ia asuh. Anak kecil itu masih sangat polos dan selayaknya bisa hidup normal dan bahagia.
Belenggu Frigid yang menahannya saat ini bukan sekedar duri melainkan duri beracun yang sulit hilang dan sudah menetap lama di dalam hidupnya, bagi Ree membayangkannya saja sudah sangat menyakitkan.
Hal ini membuat semuanya terasa masuk akal, ketika keinginan Frigid hanya ingin lulus dari La Priens dengan normal tanpa hambatan.
Mendengarnya membuat Ree bingung harus bagaimana ia berperasaan. Hidup orang lain nyatanya ada yang lebih menyedihkan. Mungkin Frigid sama sekali tidak mempedulikannya lagi dan bisa saja akan marah ketika Ree bisa tahu kebenaran dalam diri pria itu. tapi, entah mengapa… Ree secara tidak sadar melelehkan air matanya begitu saja.
“Ahh… nampaknya simpatiku muncul lagi.” ucap Ree dengan cepat menghapus air matanya.
“Aduh… saya tidak bermaksud membebanimu dengan bercerita seperti ini… padahal kamu tidak terlalu akrab dengannya… seharusnya saya simpan saja cerita itu…”
Ree langsung menggeleng dan menatap Margaretha dengan matanya yang masih berkaca-kaca.
“Tidak apa-apa… saya justru sangat berterima kasih karena anda menceritakannya pada saya. Setiap kali saya bertanya padanya… kami berdua berakhir dengan bertengkar dan berdebat tanpa tahu tujuan awal kami seperti apa… mendengar cerita anda membuat saya puas karena pria itu juga seenaknya ikut campur masalah saya akhir-akhir ini…” ucap Ree.
Rasa puas, simpati, sedih, bahkan geram Ree rasakan saat ini. ia puas mendengar kebenaran yang ia ingin ketahui. Kadang juga ia lega karena Smith tidak seburuk Frigid katakan tentang pria itu.
Ree pun bangkit berdiri karena mengingat hari sudah sangat malam, ternyata obrolan mereka lumayan panjang dari yang Ree duga.
“Ree, pesan saya… tolong jangan sampai Frigid tahu tentang pertemuan kita… sampai saat ini saya belum bisa bertemu dengannya dan membuatnya tidak bisa menikmati masa-masa di akademi dengan nyaman…”
Ree merasa cukup mengerti dengan masalah itu. bagaimanapun juga Margaretha tidak ingin Frigid sibuk mencarinya, ia hanya ingin pria yang membenci hidupnya sendiri itu menikmati masa-masa di La Priens dengan teman-temannya tanpa harus peduli dengan masalah hidupnya.
“Juga saya sangat berterima kasih bahwa kamulah orang yang berada di sekitar Frigid… karenanya, tolong tetap berteman dengan Frigid ke depannya untuk menemaninya menghabiskan masanya bebas saat ini.”
Entahlah, Ree tidak tahu perannya dalam hidup Frigid itu seperti apa. Tapi bukanlah hal buruk baginya untuk berada di sekitar pria itu. mengingat Frigid sendiri baru-baru ini menawarkan diri untuk membantu Ree sembuh dari kelainannya.
Menanggapi kalimat Margaretha, Ree tersenyum lepas dan terkesan ringan.
“Saya hanya melakukan sesuai dengan gaya saya…” ucap Ree menutup pembicaraannya dengan Margaretha.
__ADS_1
To Be Continued.