We And Problems

We And Problems
Chapter 55 : Magang


__ADS_3

Jarak kerajaan Agnus dan Pulchra hanya dibatasi oleh pagar alami yang mana di sepanjang perbatasan kerajaan hanya ada deretan pegunungan yang memiliki salju abadi di sana. Pemilik pegunungan salju itu adalah Pulchra itu sendiri sementara di bagian kerajaan Agnus, akan ditemukan deretan gunung dan bukit yang hijau karena cuaca kerajaan itu memiliki iklim tropis.


Syricie sudah lama tiba di ibu kota Agnus dan akan menemui wanita yang ia layani atau ratu dari kerajaan Agnus yaitu Agnesia.


“Apa Yang Mulia ada di tempat?” tanya Syricie pada penjaga yang berada di ruang kerja Agnesia.


“Tentu saja tuan, tapi Yang Mulia sedang tidak ingin menemui siapa-siapa.” ucap penjaga itu.


Syricie nampak tahu situasi yang terjadi di dalam ruangan itu. Tak lain Agnesia sedang menikmati waktunya bersama salah seorang selirnya.


“Tak apa, masalahnya akan saya tanggung. Silahkan pergi.” Ucap Syricie sembari memutar knop pintu lebar itu dan benar seperti apa yang dokter muda itu pikirkan.


Dua orang sedang bercumbu mesra di atas sofa, sang wanita paruh baya itu memimpin di atas sibuk mengecup berulang kali leher pria muda di bawahnya hingga ia sadar ada yang menginterupsi kegiatannya dengan masuk begitu saja ke dalam ruangan.


“Bukankah sudah aku katakan untuk tidak ada yang boleh masuk ke dalam ruangan ini?” tanya sang wanita sembari bangkit memperbaiki dirinya dan gaun yang ia kenakan.


“Yang Mulia, maafkan tindakan saya yang tidak sopan ini, namun saya datang membawa laporan yang anda tunggu.” ucap Syricie membela dirinya di hadapan sang ratu.


“Kamu boleh pergi, kita akan lanjutkan nanti malam.” ucap Agnesia mempersilahkan salah satu selirnya di atas sofa itu untuk pergi.


“Baik Yang Mulia.” ucap pria muda bersurai pirang itu sembari mengecup punggung tangan Agnesia lalu pergi dengan melempar tatapan tak suka.


“Dasar penjilat.” cibir pria itu pada Syricie dengan suara sangat pelan.


Ini merupakan hal biasa dalam istana Agnus, ia salah satu selir yang hidup di sini. Persaingan dalam banyak hal selalu terjadi dalam dinding istana. Salah satunya mendapat hati sang ratu, meskipun itu sangat tidak mungkin.


Sampai saat ini dari sekian banyak selir yang ratu pilih dari berbagai kerajaan dan daerah, tidak ada yang Agnesia tunjuk untuk memiliki anak dengan Agnesia.


“Jadi, apa yang kamu dapatkan dari kunjungan kenegaraanmu kali ini?” tanya Agnesia yang sudah kembali ke tempat duduknya semula.


“Tentu saja laporan tentang calon selir anda tuan Frigid Vetfons Cali juga tentang kerja sama kerajaan dalam hal pendidikan di La Priens.” ucap Syricie.


“Bagus, apa kamu melihat ada hal mencurigakan dari anak itu?” tanya Agnesia.


Syricie mengamati Frigid secara langsung di La Priens, namun tidak ada hal khusus yang ia lihat. Frigid tumbuh menjadi pria biasa dengan wajahnya yang tampan dan sikapnya yang biasa selayaknya putra bangsawan.


Namun, ada dimana sikap Frigid membuat Syricie sedikit bingung. Pada malam itu, saat Frigid mendatangi Ree ketika wanita itu mendapat luka di tangannya.


“Sampai saat ini tidak ada hal yang mencurigakan dari tindakannya.” jawab Syricie.


“Kamu yakin dan ia tidak memiliki hubungan khusus dengan orang lain?” tanya Agnesia sekali lagi.


“Tentu saja, saya juga memasang mata pada kakaknya Smith.” ucap Syricie dengan senyum tipisnya.


“Bagus, aku suka laporanmu. Sebentar lagi ia akan datang ke istana ini, aku akan memintamu yang mengarahkannya nanti.”


Entahlah, mungkin itu perintah langsung dari Agnesia, tetap saja Syricie masih sama dengan para selir yang lain. Ia juga tidak ingin posisinya terancam hingga menjadi selir yang tidak disukai ratu.


“Sebelum itu Yang Mulia, apa anda pernah gagal dalam mendapatkan selir?” tanya Syricie tanpa takut akan konsekuensinya mempertanyakan hal tak sopan itu pada Agnesia.


“Syricie, aku akan berbalik bertanya padamu. Apa kamu pernah melihatku gagal jika aku sudah ingin akan sesuatu?” tanya Agnesia dengan suaranya yang dalam.


Syricie sendiri tercengang dengan cara Agnesia menatapnya cukup tajam hingga membuatnya langsung menyesali tindakannya saat itu juga.


“Maafkan saya Yang Mulia.” sesal Syricie.


Meskipun begitu, Syricie tidak pernah meragukan ratunya, bahkan untuk mendapatkan seorang pria itu bukan hal yang sulit untuk Agnesia lakukan.


*


*


*


Pagi yang cerah di stasiun kereta La Priens, yang mana di pagi hari ini Ree dan Liliana akan pergi ke Litore untuk magang selama 3 bulan di kota pesisir itu. dimana Ree seperti pulang kampung dan Liliana untuk pertama kalinya ia mengunjungi Litore.


“Ingat Ree, kita akan berada di penginapan yang sama. Kamu tidak boleh jauh dariku.”


“Liliana, bukankah kamu terlalu protektif padaku? Kita hanya berada di Litore yang mana kota asalku, bagaimana mungkin aku mendapat masalah di sana.” ucap Ree tak habis pikir.


Tawa Liliana malah memenuhi sekitaran Ree yang masih juga menunggu kereta yang menjemput mereka ke stasiun utama untuk pergi dengan kereta lain ke Litore. Saat keberangkatan ini stasiun kereta La Priens dipenuhi oleh para murid yang akan pergi ke luar kota untuk magang.


Saat kereta kota sudah sampai, Ree dan Liliana pun masuk ke dalam gerbong dengan membawa cukup banyak barang terutama Ree.


Sesampai di stasiun kota, Ree dan Liliana langsung menuju kereta milik La Priens yang akan berangkat ke Litore.


“Entah mengapa jantungku berdebar.” timpal Liliana saat kereta yang mereka ingin tumpangi itu sudah tiba dihadapan mereka bertiga.

__ADS_1


Bertiga?


Awalnya Ree dan Liliana tidak menyadari karena banyaknya orang di stasiun La Priens hingga ke stasiun utama seperti ini, yang mana terdapat seseorang juga nampaknya menuju ke Litore.


“Itu wajar saja jika kamu baru pertama kali pergi ke sana.”


Dua wanita itu kompak menoleh ke sebelah kanan Liliana, seorang pria jangkung yang menggunakan seragam La Priens dan membawa koper besar digenggamannya. Belum lagi topi bundar berwarna hitam yang mengitari kepalanya untuk menghalangi sinar matahari ke wajahnya.


“Frigid!?” seru Liliana kaget.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Ree juga ikut kaget.


Ia tidak pernah tahu bahwa tempat yang akan Frigid datangi untuk magang adalah Litore.


Frigid juga tidak ingin ada reaksi berlebihan seperti ini, ia hanya melirik dua wanita yang ada di samping kirinya itu sedang kompak menatapnya heran, belum lagi Ree yang belum lagi terlibat perkelahiannya dan Servio juga menatapnya.


“Tentu saja berangkat magang. Kebetulan sekali kita satu kota.” ucap Frigid santai.


Entah mengapa mendengar jawaban santai dari seorang Frigid itu bukan kebetulan yang menyenangkan bagi Liliana maupun Ree.


“Apa ini? apa mereka gila menerimanya di Litore? Aku jadi bertanya-tanya kenormalan tempat yang menerimanya magang.” bibir Liliana yang sebenarnya jelas didengar oleh Frigid.


Entahlah, mana mungkin seseorang seperti Frigid diterima di sembarang tempat. Ree rasa lembaga besar di Litore akan menerima Frigid untuk magang di tempat mereka. Sementara Ree, ia hanya kembali ke rutinitas biasanya yaitu pangkalan Angkatan Laut kerajaan di Litore, dimana tempat itu sudah menjadi lokasi tiap kali ada praktik dari Akademi Perempuan Litore.


Seperti yang pernah Ree jalani dulu, ketika ia pergi ke Crystallo itu akan memakan waktu yang cukup lama dalam perjalanan. Namun Ree tidak merasa kesepian sedikitpun karena Liliana berada di sekitarnya, meskipun akhirnya wanita itu tertidur setelah membaca hampir setelah buku tentang anatomi hewan.


“Apa kamu terkejut?” tanya Frigid yang juga berada di baris bangku yang sama dengan Ree, terlebih pria itu duduk di hadapan ia dan Liliana.


“Terkejut dalam hal apa? Akhir-akhir ini banyak yang mengejutkanku.”


Jika Frigid menyinggung akan kehadirannya, tentu membuat Ree sedikit terkejut. Sebab ia pernah bertanya tentang lokasi tempat pria itu akan magang. Namun, jika maksud Frigid tentang perkelahian beberapa hari yang lalu, itu membuat Ree takut, bukannya terkejut.


Frigid mengangkat pandangannya untuk menatap orang yang ia ajak bicara itu. nampak Ree sedang mengalihkan pandangannya ke luar jendela yang mana menampakkan pepohonan pinus yang tumbuh di sepanjang rel kereta, karenanya hanya itulah pemandangan yang ada sepanjang perjalanan.


“Apa kamu pernah ke Litore sebelumnya?” tanya Ree mengalihkan topik lain.


Frigid juga lelah dengan buku yang ia baca untuk membunuh rasa bosan di kereta selama berjam-jam, ia pun memutuskan untuk menutup bukunya dan ikut menatap pemandangan yang sedang Ree tatap.


“Belum, ini merupakan salah satu keputusan terbesarku untuk pergi ke luar kota.”


Terdengar sederhana, namun keputusan Frigid saat ini bukanlah hal mudah yang ia buat. Demi apapun, meski hidupnya tak lama akan diambil orang lain, setidaknya Frigid ingin menemui seseorang yang ia cari selama ini.


“Jika begitu, berhati-hatilah dengan angin laut di Litore karena kadang bisa membuatmu mabuk laut.”


Menanggapinya Frigid hanya tertawa kecil. Meskipun selalu memasang wajah tanpa ekspresi, bukan berarti Frigid tak dapat menampakkan emosi seperti orang pada umumnya.


“Terima kasih atas peringatannya.” timpal Frigid.


“Aku akan menikmati waktuku di Litore.” lanjutnya lagi.


Ree tidak tahu, jika orang yang membenci hidupnya sendiri seperti Frigid akan berpikir untuk menikmati waktu magangnya. Meski aneh, bukankah itu terdengar seolah dirinya ingin pergi jauh dan tak tinggal di Pulchra lagi?


*


*


*


“Apa ini? apa yang aku lihat ini kenyataan?” tanya Liliana tak habis pikir.


Liliana tengah mempertanyakan realita yang ia lihat saat ini. ia tahu bahwa setiap murid yang magang di kota yang sama akan mendapat tempat tinggal yang sama, namun dari sekian banyak lembaga dan usaha di kota sebesar Litore, kenapa ia kembali melihat Ree dan Frigid harus berada di tempat magang yang sama yaitu Pangkalan Angkatan Laut Kota Litore.


Saat ini mereka sudah tiba kemarin sore di Litore dan pergi ke rumah dinas milik La Priens, dimana ketiganya akan tinggal bersama dalam beberapa bulan ke depan. Pagi ini ketika ketiganya ingin pergi ke tempat magangnya masing-masing, Liliana dikejutkan dengan arah Ree dan Frigid sama-sama menuju ke Pangkalan Angkatan Laut yang terletak di pinggir pantai.


“Ree, kenapa kamu bisa ada di sini?” Frigid sendiri tak habis pikir bahwa tempat yang ia pilih ternyata sama dengan Ree magang.


Alasan kenapa Frigid memilih lokasi ini tak lain adalah karena aksesnya dekat dengan tempat Margaretha berada yaitu Akademi Perempuan Litore yang sebenarnya merupakan akademi Ree yang asli.


Ah, bisa-bisanya Frigid tak memperhitungkan itu dalam pilihan yang akan Ree ambil.


“Apa aneh ketika aku magang di sini?” tanya Ree heran.


Di sini, seharusnya Ree yang merasa heran dengan Frigid. Ia memang tahu bahwa keluarga Frigid yang mengelola para prajurit kerajaan, namun jauh pikirannya tak sampai pada pilihan Frigid yang jatuh ke Litore.


“Tunggu dulu!! Dibandingkan itu!! Kenapa harus aku yang berbeda dari kalian!!”


Sebenarnya Liliana tidak jauh berbeda, ia di tempat yang sama namun, ia bagian laboratorium yang mana gedungnya terletak terpisah.

__ADS_1


“Wow! Hari-hari akan berjalan sangat kaku.” ucap Ree tak habis pikir ketika ia harus bertemu Frigid hampir setiap hari dalam tiga bulan.


Ree dan Frigid menatap kepergian Liliana menuju gedung tempat ia magang dengan perasaan bercampur aduk. Ree yang masih kaget, begitu pula dengan Frigid.


Siapa sangka ia kembali bertemu dengan Frigid, padahal Ree berharap dalam kegiatan magangnya ini ia dapat melaluinya tanpa ada orang-orang yang membebani pikirannya.


“Kenapa kamu memilih tempat yang banyak laki-laki seperti ini?” tanya Frigid saat mereka masih berada di depan gedung.


Ree ikut menatap bendera kerajaan yang terpasang di atas puncak menara bersanding dengan lambang angkatan laut.


Apa yang dikatakan Frigid itu benar, tempat seperti ini mayoritas manusia yang di dalamnya adalah laki-laki, meskipun begitu bukanlah hal yang dilarang bagi Ree untuk masuk ke dalamnya.


“Apa kamu pikir aku baru pertama kali datang ke sini?? Frigid, bagaimanapun aku berasal dari kota ini dan tempat ini adalah tempat kami melakukan aktivitas akademi kami. Meski aku memiliki kelemahan, namun bukan berarti aku memiliki rasa takut yang sampai membuatku terlihat bodoh.”


Ree pun memulai langkahnya untuk masuk ke dalam gedung, ia tidak menatap wajah Frigid, namun mengatakan kalimat panjang itu dengan percaya diri sampai Frigid hampir lupa bahwa yang di hadapannya ini adalah Ree.


Seorang wanita yang sering kali ketakutan tiap kali berinteraksi dengan pria.


*


*


*


Kicauan burung camar di sepanjang pelabuhan membuat salah satu suara khas yang wajib ada. Belum lagi aktivitas ramai oleh manusia-manusia yang sibuk dengan berbagai kegiatan yang mereka lakukan.


“Untuk ukuran kota kecil, pelabuhan ini menjual banyak makanan dan cukup ramai.” Ucap Yohanna ketika ia baru pertama kali memijakkan kakinya di kota Leafa, tempat dimana ia akan menghabiskan 3 bulan masa magangnya di salah satu pusat pemerintahan kota itu.


“Tuan putri, saya sudah menghubungi pihak penginapan untuk menyiapkan tempat anda tinggal.” ucap salah satu ksatria yang mendampinginya pergi.


“Aku tidak akan menginap di penginapan milik La Priens.” ujar Yohanna sembari memperbaiki syalnya yang sedikit longgar itu.


“Ta-tapi Tuan Putri, itu merupakan kebijakan dari La Priens terkait program magang ini.”


Yohanna langsung menatap tajam pria paruh baya yang berbicara padanya itu, kali ini bukan ksatrianya yang berbicara melainkan orang utusan tuan tanah di Leafa ikut datang menyambut kedatangannya.


“Aku akan tinggal di mansion kerajaan, jadi antar aku ke sana.” titah Yohanna tak mau tahu.


“Aku sudah menghabiskan beberapa bulan di asrama dan kalian memberikanku tempat yang sempit juga? Aku sudah berbaik hati ikut mendukung program yang ayahanda inginkan itu, setidaknya biarkan aku tinggal di mansion kerajaan di kota ini.”


Bagaimanapun juga Yohanna merupakan seorang putri kerajaan, ia sudah terbiasa tinggal di ruangan yang luas dan hanya untuk dirinya sendiri. Ia tidak membenci ketika harus tinggal di asrama dan melakukan pekerjaan sendirian, namun yang ia harus lakukan di Leafa adalah membuat namanya semakin dikenal dan disegani.


Jika ia tidak memiliki nilai tersebut, ia bukanlah seorang putri, melainkan seorang murid biasa yang datang untuk magang.


Apa yang ia lakukan saat ini tak jauh dari niatnya untuk membongkar kebusukan pemerintahan di kota Leafa agar ia memiliki akses untuk meneliti lebih jauh getah pohon Antiaris toxicaria itu dan menolong Frigid.


*


*


*


Sorenya,


“Apa yang harus kita makan saat ini? Ree apa kamu akan memasak??” tanya Liliana saat ia baru saja pulang dari laboratorium dan Ree kebetulan sudah ada di rumah dinas dan sedang membaca buku di ruang tamu, sementara itu Frigid entah kemana.


“Bagaimana hari pertamamu? Apa kamu diperlakukan dengan baik?” tanya Ree.


Liliana langsung merebahkan dirinya di sofa yang panjang, tasnya ia lempar begitu saja ke lantai dan menatap Ree yang nampaknya menikmati hari pertama magang.


“Mereka menyambutku dengan ramah, bahkan besok aku akan ikut mereka ke lapangan.” Timpal Liliana.


Mendengarnya Ree cukup senang karena nampaknya Liliana cepat akrab dengan orang-orang Litore. Perhatian Liliana teralihkan pada sebuah amplop di atas meja yang mana sedang Ree susun.


“Apa itu? kenapa kamu seperti tukang pos?” tanya Liliana menyinggung kegiatan Ree.


Mendengarnya membuat Ree ingin tertawa.


“Ini adalah surat Henny untuk Profesor Roche dan teman-teman kami di akademi. Aku akan mengantarnya sebentar lagi, apa kamu mau ikut?” tawar Ree.


Liliana langsung bangkit dan duduk, nampaknya Liliana menyukai ide tersebut karena sekaligus berkeliling di Litore.


Sementara itu, nampaknya Frigid yang lebih dulu tiba ke tujuan Ree dan Liliana, yaitu Akademi Perempuan Litore, dimana ia ingin bertanya tentang Margaretha.


“Maaf tuan, kami tidak bisa membiarkan laki-laki masuk ke dalam pagar, karena ini wilayah khusus untuk para murid dan pengajar. Jika ada ingin masuk, anda harus menunjukkan bukti akses masuk atau sudah memiliki janji dengan orang di akademi.”


Akan tetapi nampaknya Frigid tidak bisa masuk dengan mudah begitu saja.

__ADS_1


 


To Be Continued.


__ADS_2