
Jantung Ree terasa sedikit bergetar dan kedua tangannya menegang seketika. Instingnya selalu mengatakan bahwa tidak pernah ada hal yang baik jika ia berhubungan dengan laki-laki.
Namun disisi lain hatinya, Ree juga ingin tahu. Apa yang membuat Marco resah dan dengan jelas menghindarinya.
Mungkin ini kesempatan ia harus bicara.
“Baiklah, hanya sampai jam makan malam saja.”
Akhirnya Ree pun setuju dan mengikuti langkah Marco dari belakang.
Ree sempat memikirkan hal lain ketika melihat punggung Marco. Pria itu memiliki tubuh yang cukup tinggi meski tidak setinggi Viovarand dan sedikit kurus. Namun kondisi fisik bukanlah hal yang dapat dinilai oleh Ree. Satu masalah yang Ree lihat dari Marco hanyalah kepercayaan diri manusia itu.
Meski baru mengenal, Ree juga bisa tahu bahwa Marco dan Viovarand sangat berbeda. Lingkaran pertemanan mereka jauh berbeda dan mencerminkan karakter masing-masing.
“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Ree ketika ia sudah duduk di bangku taman dekat dengan gerbang asrama putra dan putri.
“A-aku ingin minta maaf, kurasa kamu menyadari bahwa seharian ini aku bersikap seolah tidak mengenalmu dan terlihat menghindarimu.” jawab Marco dengan suaranya yang cukup pelan sehingga Ree perlu sedikit fokus dalam hal yang sedang dibicarakan.
“Aku sadar, tetapi itu adalah masalahmu. Aku merasa tidak sopan jika aku langsung bertanya kenapa kamu menghindari tatapanku di kelas tadi. Meski aku juga penasaran kenapa?” Ree perlahan menyeret tatapannya tepat pada wajah pria yang duduk agak jauh darinya itu.
Sekitar dua jengkal jarak keduanya saling mengobrol dan untungnya Ree masih bisa mengatur perasaannya.
“Apa kamu punya saudara?” tanya Marco.
“Aku punya kakak dan adik.” jawab Ree.
“Tetapi mereka sudah berpencar dan mengikuti orang tuaku berlayar.” lanjut Ree.
Kesimpulannya adalah Ree hanya tinggal sendirian di daratan.
“Kamu pasti sudah tahu bahwa aku dan Viovarand merupakan saudara tiri.”
“Memangnya kenapa? Apa kamu merasa tidak nyaman dengan itu?” tanya Ree tanpa menatap Marco dan hanya memainkan rumput yang ada di tangannya.
“Tidak, aku tidak berpikir seperti itu. Bahkan aku tidak mempermasalahkan jika penerus keluarga bukanlah aku.” ucap Marco.
Ree mengangguk seolah mengerti kemana arah tujuan pembicaraan dan garis besar dari masalah Marco.
“Lalu bagaimana dengan dia?”
Maksudnya adalah Viovarand.
“A-aku tidak tahu.” tutur Marco.
“Apa kamu membencinya atau sebaliknya?” tanya Ree lagi.
“Aku tidak pernah membenci Viovarand. Sebelum aku lahir ia sudah lebih dulu ada di kediaman dan menjadi kakak tertua bagiku. Tetapi aku tidak tahu bagaimana perasaannya.”
Menurut Ree, perasaan manusia itu seperti labirin. Kamu bisa saja menilai dari pintu masuknya yang bisa dikatakan bagus atau misterius, namun kamu tidak bisa mengetahui dengan pasti kemana arah labirin itu dan isi di setiap jalurnya. Pikiran manusia itu bercabang dan merepotkan.
“Kamu tidak ingin langsung bertanya padanya?” tanya Ree sembari menatap Marco.
“Bertanya?”
Ree mengangguk.
“Tanya pada Viovarand, apa dia membencimu? Kenapa ia memperlakukanmu demikian, tanyakan padanya seperti itu.” lanjut Ree.
Seketika wajah Marco langsung pucat. Ia membayangkan betapa santainya ia bertanya demikian di depan wajah Viovarand yang sudah siap menerkamnya.
“Jika takut, biasanya para pria melakukannya dengan saling mengayunkan pedang atau tinju.” timpal Ree santai.
Terdengar seperti menantang malaikat maut bagi Marco yang jelas memiliki perbedaan dalam kemampuan dengan Viovarand.
“Sejujurnya sewaktu kelas berburu kemarin aku sempat melihatmu bersama Viovarand di belakang tenda. Jika kamu ingin bertanya bagaimana pandanganku, andai saja aku tidak dihentikan aku sudah menengahi kalian.”
Marco menatap Ree tidak percaya dan sekaligus rasa malu merasuki dirinya ketika terlihat dalam posisi pengecut seperti itu. Ree berdiri dan bersiap untuk kembali ke asrama namun sebelum itu ia sekali lagi menatap Marco yang sudah tertunduk.
“Namun dari apa yang aku dengar, memang terdengar menyakitkan namun tidak ada kata-kata kebencian disana. Tiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyampaikan apa yang mereka rasa atau pikirkan. Aku pergi dulu, jangan melewatkan makan malam Marco.”
Ree tidak tahu apakah ucapannya bisa masuk ke dalam kepala Marco. Setahu Ree, ia sudah berbaik hati untuk mengeluarkan pendapatnya. Entah itu membantu atau tidak, semua tergantung pada Marco itu sendiri.
*
*
*
Lagi-lagi Ree harus bertemu dengan orang-orang yang ia kenal ketika mengambil kelas. Sudah dua hari ia tidak bertemu dengan mereka yang sering berinteraksi dengannya dan pada hari ini di kelas yang berbeda lagi ia harus bertatap muka dengan dua kakak beradik Heittblood di kelas Dasar Keselamatan.
“Ree, apa aku boleh duduk bersamamu?” tanya Marco tanpa menghindari kontak mata dengan Ree lagi.
Kali ini Marco sudah tampak lebih percaya diri dibanding terakhir kali Ree melihatnya. Ree tidak bisa menolaknya karena ia tidak ingin dipandang aneh dan mempersilahkan Marco untuk mengambil kursi kosong di sebelah kanannya.
“Terima kasih.” ucap Marco.
Di lain sisi namun masih di ruang yang sama sepasang mata diam-diam memperhatikan gelagat yang tidak biasa dari orang yang ia kenal. Jelas diingatan laki-laki bernama Viovarand bahwa tempo hari Marco sendiri yang nampak menghindari Ree, kini malah seperti tidak terjadi apa-apa diantara mereka atau malah sebaliknya.
__ADS_1
Ada hal yang Viovarand tidak ketahui antara Ree dan Marco.
“Ree kenapa kamu banyak mengambil kelas di luar ruangan? Apa ini berkaitan dengan bidang keahlian akademi yang kamu ambil?” tanya Marco ketika mereka sedang praktek di lapangan dengan mempelajari dasar-dasar pertolongan pertama.
“Kamu benar. Kelas ini merupakan kelas utamaku.” jawab Ree yang masih mengikat perban pada pasangan prakteknya.
“Ree berasal dari Akademi Puteri Litore, bukan? Wajar saja kelas ini merupakan salah satu kelas utamanya.” timpal pasangan praktek Ree yang kebetulan juga adalah seorang perempuan.
“Nampaknya kamu tau banyak tentang akademiku.” ucap Ree.
“Tidak juga. Hanya saja akademi puteri yang menerapkan semi militer masih sedikit jadi mudah diketahui. Kamu mengenal Maglina? Akademi tempatnya berasal khusus mendidik para ajudan pribadi istana kerajaan.”
Ree sudah tidak heran kenapa keahlian Maglina sangat bagus ketika berburu ataupun menggunakan senjata jika mengetahui latar akademinya seperti apa.
“Sementara akademi Litore akan berfokus pada maritim kerajaan. Ree, apa kamu ingin menjadi seorang pelaut atau bisa saja menjadi salah satu pasukan kerajaan?” tanyanya.
Menanggapinya Ree hanya tersenyum sembari menyelesaikan gulungan perban pada kaki temannya itu.
“Selama itu menyenangkan, kenapa tidak?”
“Kamu benar, jika dibandingkan dengan kami yang berasal dari akademi biasa mungkin hanya berakhir pada kantor administrasi kerajaan atau semacamnya. Kami benar-benar tidak bisa berperan sepenting dari akademi kalian.”
Marco yang juga berada di sebelah mereka masih menyimak pembicaraan Ree dan rekan prakteknya dengan seksama sembari masih menggulung perban di kaki rekannya.
“Kurasa semuanya sama saja, tidak ada peran yang tidak penting. Bahkan sekecil apapun atau hampir tidak terlihat. Semuanya saling membutuhkan, jika kamu ragu atau merasa tidak pantas disandingkan dengan beberapa akademi elit atau diatasmu itu akan menghabiskan waktu. Terpilihnya kamu untuk berada disini menunjukkan kamu punya kemampuan lebih untuk ditunjukkan pada orang-orang.”
Ree kembali tersenyum menatap rekannya yang masih terdiam itu.
“Akademi kami tidak sehebat itu, tapi aku bangga menjadi salah satu bagiannya.”
Selesai kelas di lapangan, semua orang pun membereskan barang-barang yang mereka gunakan selama praktek, termasuk Ree yang masih sibuk menggulung beberapa kain yang tadi sempat digunakan untuk beberapa latihan.
“Perlu bantuan?”
Tawaran seseorang terdengar menyegarkan bagi Ree yang harus mengurus beberapa lembar kain yang masih belum terurus seorang diri. Hingga ia menengadahkan pandangannya dan melihat siapa yang berdiri di depannya lalu perlahan jongkok di hadapannya.
“Jika dilakukan bersama tidak akan memakan waktu yang lama.” timpal Viovarand lalu ikut duduk bersama Ree untuk mengurus beberapa kain.
“Terima kasih.” ucap Ree singkat lalu melanjutkan pekerjaannya dalam hening.
Ketika melihat Viovarand, mau tidak mau Ree kembali mengingat ketika Marco bercerita padanya tempo hari. Namun jika dipikir lagi, untuk apa Ree pusing memikirkannya? Itu masalah Marco dan Viovarand, ia tidak punya hak untuk masuk ke dalam tengah-tengan permasalahan itu. Meskipun ia tahu apa yang menjadi masalahnya.
“Aku melihatmu cukup akrab dengan Marco.”
Ree tidak menyangka akan secepat ini mereka berbicara terlebih Viovarand yang memulai. Setidaknya jarak mereka tidak terlalu dekat dan Ree masih bisa mengontrol ketakutannya.
“Tidak seakrab itu, kami hanya saling menyapa ketika berpas-pasan.” jawab Ree tenang.
Ree tahu bahwa arti tatapan Viovarand bukan sebatas gertakan saja, ada maksud lain di dalamnya. Jika ia tidak mengingat situasi yang cukup ramai seperti ini, mungkin Ree tidak akan ragu untuk langsung lari untuk menghindari dari manusia-manusia bertipe seperti Viovarand.
“Jika begitu akan menyenangkan jika kami bisa berteman baik.” Ree tidak merasa jawabannya merupakan pilihan yang buruk untuk membalas perkataan Viovarand.
“Hup! Nampaknya kita bisa menyelesaikannya dengan cepat. Terima kasih sudah membantu Viovarand.” ucap Ree lalu bangkit berdiri untuk mengantar barang-barang ke ruang penyimpanan.
“Ree.” panggil Viovarand dengan nada yang cukup rendah dan menekan.
“Ada apa?” tanya Ree pada laki-laki yang berdiri di sebelahnya saat ini.
“Bisa kita bicara lagi setelah ini?” tanya Viovarand tanpa menatap lawan bicaranya.
“Bisa.” jawab Ree lalu pergi melangkah lebih dulu sembari menyembunyikan kedua tangannya yang sudah bergetar dan berkeringat dingin itu.
Ree merasa urusan akan menjadi sedikit panjang ketika ia harus masuk ke dalam pusaran masalahnya.
*
*
*
“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Ree.
Ree memenuhi ajakan teman akademinya itu untuk bicara di bawah pohon tempat dimana mereka praktek pada kelas sebelumnya. Jika tadinya ramai dipenuhi murid-murid, kini lokasi ini seperti lapangan kosong dengan Ree dan Viovarand yang ada.
“Aku tidak akan bertele-tele. Jika kamu berpikir untuk memanfaatkan Marco dengan akrab dengannya lebih baik kamu hentikan itu.” ucap Viovarand tanpa ragu sedikitpun dan tanpa mengalihkan pandangannya pada hal lain selain ke arah perempuan di depannya saat ini.
Ree yakin telinganya masih sangat berfungsi dengan baik ketika mendengar perkataan Viovarand barusan. Laki-laki dengan surai marun itu tidak ada keraguan dalam pengucapan. Ia bahkan tidak nampak memikirkan perasaan orang yang mendengarnya.
“Kamu salah paham.” elak Ree yang tentu saja tidak terima dengan tuduhan konyol semacam itu.
“Aku sudah banyak berhadapan dengan orang-orang seprertimu. Kamu memang bisa berteman dengannya, namun tidak dengan apa yang kamu diam-diam harapkan. Aku tahu kalau reputasi keluarga kami cukup baik di mata keluarga kerajaan, jika ingin memanfaatkan Marco untuk masuk ke istana itu akan membuang waktumu.”
Ucapan Viovarand memang tidak nyambung dengan apa yang terjadi dengan Marco dan Ree, namun ada poin penting yang bisa Ree ambil.
“Memangnya kenapa? Apa kamu meragukan kemampuan Marco? Atau kamu bisa melakukan hal lebih darinya?” tanya Ree santai tanpa peduli dengan apa balasan dari ucapannya yang sembarangan ini.
“Apa kamu bilang!?”
__ADS_1
Seperti yang Ree tebak, akan ada hal buruk menjadi balasan ucapannya. Kerah mantelnya langsung diangkat oleh satu tangan Viovarand dengan enteng hingga membuat kaki Ree hampir bergantung.
Ree takut, ia sangat takut. Namun ketakutannya juga seimbang dengan rasa penasarannya terhadap apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Ternyata kamu sama saja dengan mereka! Suka memanfaatkan orang lain untuk menguntungkan diri sendiri, apakah kamu tidak malu?”
Suara Viovarand begitu keras dan kasar di telinga Ree hingga membuat tubuhnya bergetar dan melemas. Ia masih berada di cengkraman Viovarand saat ini. Kemarahan nampak jelas dengan di wajahnya.
“Apa kamu selalu seperti ini ketika Marco memiliki teman?” tanya Ree.
Suaranya terdengar lemas dan bergetar. Ketakutannya nampak jelas, namun itu terlihat biasa di mata Viovarand. Ia sudah sering melihat orang-orang dengan wajah memelas seperti yang Ree lakukan saat ini. Itu terjadi hanya di hadapannya dan ketika mereka ada dibelakang dengan sombongnya membanggakan diri yang memanfaatkan orang lain, Viovarand muak dengan hal itu.
“Mulai besok jauhi Marco dan jangan berpikir untuk memanfaatkannya.” Akhirnya Ree pun dilepaskan dan langsung terduduk di atas tanah karena kakinya sudah tak mampu untuk menopang tubuhnya karena bergetar cukup hebat.
Terlihat sama saja di mata Viovarand karena semua orang yang ia ancam terlihat demikian.
“Ternyata kamu peduli.” ucap Ree setelah ia bisa mengatur napas.
Viovarand yang masih di hadapannya menatap gadis itu heran.
“Apa yang kamu katakan?”
Ree menggeleng dan masih menatap rumput hijau dan ujung sepatu coklat milik Viovarand.
“Tidak, tolong pergi dari hadapanku.”
Bukannya memberi jawaban Ree malah mengusir, sama saja dengan menaikkan emosi Viovarand.
“Apa kamu meremehkanku?!”
Kali ini bukan hanya satu tangan melainkan dua sekaligus menarik kerah mantelnya hingga benar-benar membuat kakinya bergantung.
Rasanya sesak dan tidak nyaman, lehernya terasa sangat sakit dan perih ketika diperlakukan seperti saat induk kucing yang mengangkat anaknya dengan menggunakan gigitan di leher. Namun untuk versi Ree saat ini, benar-benar tidak nyaman baginya.
Di samping rasa sakit pada fisiknya, ia juga harus terus mengontrol perasaannya untuk tidak terlalu panik seperti di ruang kesehatan.
“J-jika sampai sejauh ini, a-aku tidak dapat meragukan t-tentang apa y-yang kamu pikirkan t-tentang M-marco.”
“Viovarand! Lepaskan Ree!”
Ree terlepas begitu saja dan kembali menemui permukaan rerumputan ketika seruan suara yang tidak asing terdengar oleh Viovarand.
Marco benar-benar tidak menyangka akan melihat Ree diperlakukan seperti ini oleh Viovarand. Ia berencana ingin mengajak Ree makan siang bersama setelah kelas usai, namun gadis itu tidak kunjung terlihat membuatnya memutuskan untuk mencari keberadaan Ree. Sesampai di lokasi praktek ia harus dikejutkan dengan gadis yang ia kenal sedang diangkat oleh saudaranya tanpa belas kasihan sedikitpun.
“Ingat betul-betul apa yang kita bicarakan.” ucap Viovarand memutuskan untuk pergi ketika Marco datang menengahi mereka.
“Viovarand! Apa ini caramu memperlakukan seorang gadis?!” protes Marco ketika melihat kondisi Ree sama persis dengan apa yang ia lihat beberapa hari lalu di koridor.
Tubuh gadis itu bergetar cukup hebat dengan keringat dingin mengalir disekujur tubuhnya dan tangannya terus mencengkram dada kirinya.
“Apa?! Itu salahmu karena tidak berguna!” ucap Viovarand tak kalah keras dan langsung menghetikan langkahnya tanpa melihat ke arah belakangnya.
“Jika kamu membenciku, cukup benci saja aku! Jangan libatkan orang-orang disekitarku!”
Marco ingin maju dan berniat memberi pelajaran pada Viovarand namun langkahnya dihentikan ketika telapak tangan Ree yang bergetar meraih ujung lengan bajunya dengan lemah.
“M-marco, dia peduli padamu.” ucap Ree yang memilih untuk menatap rumput.
Ia mengumpulkan banyak keberanian untuk meraih lengan baju Marco. Awalnya ia cukup menikmati kesalahpahaman Viovarand, namun ia tidak ingin menambah situasi lebih buruk lagi.
“Hah!! Berhentilah mengatakan hal yang menjijikan!” protes Viovarand jengah.
“Saat ini kamu bisa bicara dengannya.” ucap Ree pada Marco.
Gadis itu masih memilih untuk menatap bidang kosong dibandingkan wujud nyata manusia di hadapannya.
Marco juga ingin demikian ketika melihat Viovarand juga ada di sini, namun kondisi Ree bukanlah hal bagus untuk terus dibiarkan. Meskipun ia tidak mengerti apa yang sedang Ree derita, setidaknya Marco ingin membantu.
“Viovarand, aku ingin bicara denganmu. Namun setelah aku mengantar Ree ke ruang kesehatan.”
“Biar aku saja yang mengantarnya.”
Tokoh keempat yang hadir di lapangan itu mengisi jeda setelah Marco berbicara. Suara tenang yang tidak tahu apa arti di dalam ucapannya.
Terdengar menolong dan pemberi solusi, juga suara yang seolah mengetahui sesuatu yang tidak diketahui.
“Frigid, kenapa kamu ada disini?” tanya Viovarand heran.
“Aku sedang berpatroli untuk memastikan kondisi akademi aman, namun sepertinya aku menemukan sesuatu yang salah di sudut satu ini. Viovarand, aku akan minta penjelasanmu nanti.” ucap Frigid sembari mendekati Marco dan Ree.
“Jangan khawatir, biar aku saja yang mengantarnya. Nampaknya kamu ada sesuatu yang harus di selesaikan, namun jangan sampai ada kekerasan di akademi. Meskipun nampaknya sudah terjadi demikian.” Frigid menepuk pelan bahu Marco sembari menatap Ree yang masih terduduk lemas di hadapannya ini.
“Ree, jika kamu tidak mampu katakan saja.”
Cepat-cepat Ree langsung menepis tangan Frigid untuk tidak menyentuh dirinya sembari berusaha untuk berdiri.
“Jangan sentuh aku.” ucap Ree sembari mulai berjalan meski ia harus bertatih-tatih karena lututnya masih bergetar dan melewati Viovarand dengan tidak pedulinya.
__ADS_1
To Be Continued.