We And Problems

We And Problems
Chapter 82 : Langkah Berontak Frigid Yang Pertama


__ADS_3

“Masih jauh, Servio?” tanya Liliana saat keduanya mengikuti Henny menuju sebuah tempat.


Liliana dan Servio semula ingin mengunjungi Henny pada hari libur mereka, namun kini mereka diajak Henny pergi ke suatu tempat.


“Diamlah dan ikut saja,” ucap Liliana yang sudah lelah mendengar sungutan pria bersurai panjang tersebut.


“Kamu jangan terkejut ya, karena kamu pasti kenal dia,” ujar Henny sembari membuka gerbang masuk dan menuju pintu utama rumah yang mereka tuju.


“Aku tidak banyak mengenal orang. Ucapanku terdengar menyeramkan bagi saya,” kata Servio, sambil memeluk dirinya sendiri.


Henny kebingungan dengan pemikiran Servio. Dia mencoba mengabaikannya dan mengetuk pintu kayu itu.


“Ah, nyonya, saya sudah bilang akan berkunjung,” ucap Henny saat seorang wanita bersurai panjang coklat bergelombang membuka pintu rumahnya.


Sudah pasti, ini adalah rumah Margaretha.


Servio tentu ingat orang itu.


Cinta pertamanya dulu.


“Nyonya Margaretha, lama kita tidak berjumpa dan rambutmu semakin panjang saja,” kata Servio dengan sulit.


Namun, pertemuan ini bukan untuk reuni antara Margaretha dan Servio.


“Benar, sebelum berada di Litore, saya pernah menjadi pelayan di kediaman Cali merawat putra keduanya, yaitu tuan Frigid,” jelas Margaretha pada para tamunya, setelah dia mengajak mereka masuk dan duduk di ruang tamu rumahnya.


“Tuan Frigid merupakan anak yang ceria meski kondisi kesehatannya berbeda dengan anak-anak lain. Ada banyak masalah yang terjadi, dan akhirnya saya berakhir di La Priens. Tuan Smith akhirnya membantu saya sampai ke sini.”


Ada beberapa detail yang Margaretha tidak dapat ceritakan pada Henny dan teman-temannya. Namun, intinya adalah bahwa Frigid, si anak itu, adalah seseorang yang normal untuk dikenal.


“Frigid, selama di akademi, merupakan orang yang tegas dan membuat semua orang takut padanya,” kata Servio.


“Kamu juga anak yang hebat Servio, saya tahu itu,” kata Margaretha.


“Tidak, saya bukan apa-apa dibandingkan Frigid. Meski orang itu sulit untuk bersahabat karena semua murid sangat takut padanya, ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan Yohan. Ketika akademi menjadi akademi campuran, ia sering bersama Yohanna juga.”


Sejak menjadi akademi campuran, Frigid sering berinteraksi dengan Ree. Banyak yang berubah setelah akademinya menjadi akademi campuran, banyak yang tak pernah disangka.


“Mendengarnya, nampaknya Frigid dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa,” kata Margaretha senang.


Terutama dengan Ree. Mungkin Margaretha tidak tahu apa saja yang telah terjadi di antara mereka. Hubungan mereka unik dan sulit ditebak, tetapi mereka saling ada untuk satu sama lain dalam situasi yang sulit.


Setelah pulang dari rumah Margaretha, Servio terlihat lebih banyak berdiam diri, membiarkan Henny dan Liliana berjalan di depan sambil berbincang santai.

__ADS_1


*


*


*


Sejak lama, dia telah mengawasi Frigid sejak masih muda. Keluarganya juga tahu bahwa Frigid adalah calon selir yang menjadi objek pertukaran urusan politik antara kerajaan. Itulah mengapa Servio diminta mengawasi Frigid, memastikan bahwa Frigid tidak TERganggu oleh siapapun. Semuanya berjalan sangat membosankan bagi Servio, karena menurutnya Frigid tidak memiliki niat untuk merencanakan pergerakan gelombang besar.


Hari-hari itu berlalu begitu saja.


Namun, sejak bertemu dengan Ree, Frigid lebih banyak bergerak dari biasanya.


Biasanya, kebanyakan murid merasa sangat takut padanya, termasuk Alexander, salah satu murid paling cerdas di akademi. Namun, pola pikir beberapa murid perempuan tampaknya berbeda.


Sekarang, Servio melihat bahwa Ree kesal ketika berada dekat Frigid.


Entah karena Frigid sering memergoki Ree dengan kelemahannya atau karena sifat tegas Frigid yang membuat Ree kesal, Servio tidak dapat mengerti.


Maka dari itu, Servio ingin melihat bagaimana perempuan itu bereaksi jika diusik sedikit, sehingga dapat mengetahui kelemahan Ree.


Sedikit membuatnya merasa bersalah karena menyakiti perempuan itu dan kini dia malah menyukainya.


Namun, berbeda dengan Frigid. Cara pria itu berbeda ketika bersama Ree.


Tetapi cara itu adalah cara seorang Frigid menunjukkan perhatiannya.


Servio teringat perkataan Margaretha di rumahnya tadi.


“Mungkin agak aneh ketika saya mengatakannya. Tapi Tuan Frigid adalah orang yang penuh perhatian dan kasih sayang. Tapi, ia sering kesulitan menunjukkannya karena ia tidak tahu caranya. Oleh karena itu, ia akan mencari cara untuk menarik perhatian orang yang ia sayangi.”


Semua tergantung pada kepekaan terhadap tindakan Frigid itu.


Jika dikembangkan untuk orang yang kurang peka, mungkin akan berujung pada kebingungan dan kesal.


*


*


*


Kerbingungan tentang sifat seseorang mungkin pernah ia rasakan, namun ini adalah kali pertama bagi Ree untuk merasa kesal dan bingung secara bersamaan hingga membuatnya merasa bodoh.


Ree menyilangkan tangannya di depan dada, menatap Frigid dengan senyum hambar.

__ADS_1


“Apa pendapatku tentang hidupmu begitu penting? Ada hal yang lebih utama, yaitu kamu harus bertanya pada dirimu sendiri terlebih dahulu. Berhenti bertanya pendapat orang lain tentang hidupmu. Kamu bertanya padaku apakah aku peduli denganmu. Aku tidak bisa melakukannya jika dari dirimu saja tidak ada dorongan untuk peduli. Semua kekuatan itu berasal dari dirimu…” ujar Ree, sambil menunjuk dada kiri Frigid dengan telunjuknya dan menatap mata dingin pria itu.


Ree tidak berharap kata-katanya akan segera membangun motivasi seseorang, tapi Ree hanya ingin menyatakan pendapatnya.


Dia PEDULI.


Sebagai penulis profesional yang mahir dalam bahasa Indonesia, saya mengedit dan memperbaiki teks berikut ini agar lebih mudah dipahami dan tidak terdapat kesalahan tata bahasa dan ejaan:


Ia peduli dengan orang yang merasakan hal yang sama dengan dirinya, dan menjalankan dan mendukung usaha mereka untuk peduli. "Sebenarnya apa yang kamu takuti? Kamu harus menemukan rasa takutmu," kata Ree sambil menjauhkan tangannya dari dada Frigid. "Seperti aku yang sadar bahwa aku takut berinteraksi dengan pria. Anehnya, ketakutan itu nyata...tetapi kini, walaupun sulit, aku sedang berusaha mengatasi itu." Karena sudah saling tahu rahasia, Ree tidak ragu untuk berbagi kelemahan dan usaha yang sedang ia jalani. Frigid seharusnya juga menyadari bahwa ia juga ikut ambil bagian dalam usaha itu. Sekarang, Ree sudah terbiasa dengan kehadiran Frigid. "Aku selalu membenci ayahku dan keluargaku semenjak aku bertemu dengan ratu Agnesia," kata Frigid setelah Ree mendengarkan curhatnya dalam waktu yang lama. Kebencian dan ketakutan membuat Frigid tidak bisa melakukan hal lain selain hidup seperti biasa. Ree tidak kaget mendengar itu karena itu pertama kalinya ia dengar dari Frigid. Namun, Ree tetap tenang dan ingin mendengar kelanjutannya. "Kebencian dan ketakutan membuatku limbung dan tak bisa melawan. Aku pikir hidupku akan berakhir segera...jadi aku tunduk pada keinginan mereka." Frigid merasa hidupnya juga akan segera berakhir tanpa harus melakukan sesuatu. "Tetapi, sebenarnya kamu ingin melawannya, bukan? Bagiku, tidak apa-apa jika kita, sebagai anak-anak, memberontak sedikit, karena beberapa hal tak bisa dimengerti oleh orang dewasa...contonya, rasa sakit yang dirasakan." Ree tidak suka membicarakan kekhawatiran kepada orang tuanya, karena seringkali ia pergi dan sendirian, Ree lebih sering menutupi perasaannya. Bertahan dengan ketakutan selama bertahun-tahun tentu saja menderita tanpa ada keluarga yang tahu. "Aku sangat ingin terlepas dari belenggu itu...tetapi apakah aku bisa? Dengan kedua tangan ini?" Ree melihat tangan kurus Frigid yang tidak pernah memberontak sepanjang hidupnya. "Memutuskan untuk hidup, meskipun sulit, adalah langkah pertama dalam berjuang. Keputusanmu untuk membebaskan dirimu juga ada padamu...aku hanya bisa memberikan saran berdasarkan pikiranku tentang pertanyaanmu tadi. Kamu sendiri yang tahu batas kekuatanmu." Ree tersenyum sambil mengakhiri pembicaraannya hari ini. Ree bersyukur karena Frigid lebih terbuka tentang perasaannya. Selama bertahun-tahun menutup diri dan hidup dengan membenci diri sendiri, Frigid ingin mengakhiri perang pribadi itu dengan membuka diri dan menerima tangan orang yang benar-benar peduli padanya. "Yohan dan Yohanna benar-benar berusaha untukku dan kamu selalu memperbaiki kesalahpahaman antara aku dan Smith...meski aku masih sulit membuka mataku..." "Tidak usah berbicara lagi," kata Ree sambil menarik lengan Frigid untuk pergi ke laboratorium meski sudah sore. Frigid tak menolak atau menahan Ree, sepertinya ia mempercayai Ree. Ree begitu semangat, sepertinya ia ingin melupakan ketakutannya agar tidak sia-sia. Frigid merasa sedikit tenang dengan keberadaan Ree.


Dalam kontraksi dengan perasaan ringan Ree dan Frigid, Smith mengalami kesulitan karena ayahnya mencurigai tindakannya di Litore. Smith tidak mengungkapkan apa yang sedang ia lakukan dan harus berhati-hati dalam berbicara dan bertindak. Ayahnya membatasi dan mengawasi setiap pergerakan Smith di kediaman utama keluarga Cali. "Ayah...pak tua itu keterlaluan..." kata Smith. Ayahnya juga menyuruh orang-orangnya mencari Frigid agar tidak menghancurkan rencana lama dengan Ratu Agnesia. Smith tidak bisa berbuat banyak selain mencoba mempengaruhi adiknya melalui Ree. Meskipun ada kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, setidaknya tindakan kecil dapat mengubah nasib seseorang dari yang sudah diatur oleh orang lain.


"Kakak, apa kamu gila?" tanya Brina, tak menyangka akan tindakan Luceat yang memutuskan untuk membawa seorang wanita rakyat Agnus yang akan diasingkan pulang bersama mereka ke Litore.


Saati itu, keluarga Lumen sudah berada di kereta untuk kembali ke kerajaan Pulchra. Tentu saja keputusan Luceat mengejutkan seluruh anggota keluarga, bahkan kedua orang tua Luceat juga sulit menerima keputusan putra mereka.


Tapi Luceat yang keras kepala tetap mempertahankan keputusannya dan ini menjadi dasar kenapa ia harus membawa Asteria keluar dari Agnus.


"Kakak tidak punya maksud lain, kan?" tanya Brina yang masih belum mengerti, karena Luceat yang duduk di hadapannya di kereta saat itu hanya diam dan tidak menjawab, sementara Asteria juga tampak kebingungan.


"Tuan, saya sudah bilang. Biarkan saya di Agnus… Pulchra tidak cocok untuk orang seperti saya," ucap Asteria, yang masih belum bisa menerima takdirnya akan dibawa ke Pulchra dan dijadikan istri oleh Luceat.


"Apa kamu lupa konsekuensinya jika kamu tetap di sana? Pria itu sudah memberitahumu," kata Luceat kepada Asteria.


Siapa lagi jika bukan Syricie, konsekuensi Asteria tetap tinggal adalah diasingkan. Itulah satu-satunya jalan agar selamat dan tetap hidup di bawah tekanan sistem pemerintahan yang keras.


"Pemimpin kerajaan kalian ambisius. Dia akan melakukan apapun untuk kepentingannya semata, tanpa peduli keadaan rakyatnya yang serba kekurangan. Kamu sendiri sudah merasakan," jelas Luceat sambil menatap Asteria yang duduk di sampingnya.


Brina mendengarkan perkataan kakaknya. Sudah lama dia mendengar isu-isu sistem pemerintahan di Agnus, namun baru kali ini dia melihat bukti nyata dari kecacatan sebuah sistem. Kakaknya membawa pulang seorang wanita bukan karena jatuh cinta secara buta, melainkan karena memiliki niat untuk menyelamatkannya, meski sedikit.


"Tuan…," ucap Asteria yang masih merasa tidak layak menerima perbuatan Luceat.


"Entah bagaimana aku harus membalasmu… Kamu selamatkan ibuku… Lalu sekarang diriku…" Asteria tidak punya apa-apa selain dirinya sendiri dan bingung apa yang harus dia berikan pada Luceat. Memang Luceat berniat untuk menikahinya, tapi dia tidak terlihat seperti pria yang suka mempermainkan wanita, dan Asteria merasakannya.


"Prosesnya mungkin akan sulit, tapi percayalah kamu tidak akan kehilangan apapun di Pulchra," kata Luceat sambil tersenyum tipis.


"Kamu mengerti, Brina?" tanya Luceat pada adiknya yang sejak tadi hanya diam dan mengamati dengan penuh makna.


"Kurang lebih begitulah. Aku percaya kakak pasti bisa melewatinya, dan keluarga kita tentu saja akan melakukan apapun agar tidak ada yang menyakiti kakak," timpal Brina.


Begitulah, Luceat sangat percaya pada keluarganya, orang-orang yang selalu mendukung dan melindunginya, bahkan ketika dia mengambil risiko besar seperti ini. Meskipun Luceat tahu risiko yang dia ambil cukup besar, pilihan ini adalah satu-satunya cara baginya untuk melawan Agnesia atas perbuatan yang tidak adil, dan juga menjadi cara baginya untuk melupakan cinta pertamanya selama bertahun-tahun. Rahasia perasaannya mungkin akan menyakiti Asteria jika dia tahu, tapi Luceat akan menutup rapat-rapat aib masa lalunya dan membiarkan Ree melakukan apa yang ingin dilakukannya tanpa membebani dengan perasaannya lagi.


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2