We And Problems

We And Problems
Chapter 76 : Akar


__ADS_3

Mau itu Ree dan Servio sama-sama menelan ludah mereka sembari memperhatikan Liliana sedang memotong bahan-bahan untuknya makan malam berupa daging dan beberapa sayuran dengan cukup bersemangat.


Atau bisa lebih dibilang sedang menahan rasa penasaran akan apa yang barus saja ia lihat ketka baru saja datang ke rumah.


“Waahh… apa ini? Kenapa aku tidak tahu, apa selama ini kalian menyembunyikannya? Haahh??” tatapan Liliana saat ini lebih mirip iblis yang siap memakan kedua orang di hadapannya. Lalu menancapkan pisaunya tepat pada talenan kayu yang ia gunakan.


“Ahhh!! Tentu saja tidak ada apa-apa Liliana! Itu hanya salah paham.” jelas Ree ikut panik karena seperti dipergoki telah berbuat sesuatu yang aneh saja jika seperti ini.


“Kamu tidak diancam oleh orang aneh ini bukan begitu?” tanya Liliana sembari melirik Servio tajam.


“Apa yang kamu pikirkan? Aku hanya memeluknya saja. Itu bukanlah hal yang perlu dilebih-lebihkan… aku pergi…” ucap Servio malas sembari pergi dari dapur meninggalkan Liliana dan Ree di sana.


Setelah Servio pergi barulah Liliana kembali menatap Ree untuk meminta penjelasan lebih lengkap.


“Liliana… aku baik-baik saja.” ucap Ree.


Akhirnya otot wajah Liliana tidak lagi tegang dan kembali tenang.


“Akhir-akhir ini mungkin aku bisa membiasakan diri karena sering berinteraksi dengan mereka…” ucap Ree sembari berniat untuk membantu Liliana memasak.


“Kamu tidak perlu membantuku, kamu sudah makan bukan?” tanya Liliana ketika Ree melanjuti memotong daging yang sempat Liliana hentikan.


Keberadaan Frigid maupun Servio di sekitar Ree sedikit demi sedikit merubah kebiasaan Ree yang selalu ketakutan. Ree hanya merasa nyaman ketika keduanya menjaga jarak aman dengan Ree setiap kali berinteraksi.


Bukan berarti Ree tidak sadar tentang perasaan Servio karena itu merupakan hal yang telah berlalu dan Ree secara terbuka juga jujur dengan perasaannya, Ree merasa tidak ada masalah untuknya.


Ree hanya ingin masalah penyakit Dandelia dapat mereka selesaikan tanpa harus membuat Ree melakukan sesuatu yang membuatnya susah.


Namun yang merasa janggal saat ini adalah Frigid itu sendiri.


Dia itu seorang pria yang tidak bisa Ree lihat isi hatinya. Terdapat dinding yang sangat kokoh di sekelilingnya dan membuat seorang pun tidak bisa melihat apa yang ada di dalamnya.


Ree tidak berharap bisa meruntuhkan dinding itu. ia hanya ingin pemiliknya dapat membuka pintu masuk ke dalamnya secara suka rela keluar.


Tapi, untuk apa keluar? Saat merasa bahwa tidak ada guna untuk pergi keluar lalu memberitahukan penderitaannya pada orang-orang justru sesuatu yang memalukan bagi Frigid.


Karena berpikir setiap manusia akan tetap mati membuat Frigid merasa bahwa ia tidak perlu keluar dari dinding kokoh yang sudah ia bentuk sejak lama itu. ia tetap bertahan di dalamnya dengan segala rasa sakit dari duri yang membelenggunya.


“Nampaknya air laut akan pasang malam ini.” guman Ree menatap bulan purnama dari jendela kamarnya setelah ia membantu Liliana dan pergi mandi.


Wanita yang sedang mengeringkan rambutnya basahnya dengan handuk itu menatap bulan yang tepat menghadap ke arahnya. Cahaya bulan malam ini sangat terang sehingga menyinari kota Litore malam hari dengan cahaya peraknya. Meski bercahaya dengan terang, tetapi tidak bisa menghangatkan dunia seperti layaknya matahari.


Karena bukan yang menghasilkan rasa hangat itu, bulan hanya memantulkan cahaya matahari. Sementara matahari sudah memiliki panasnya sendiri.


Benar juga, bulan itu hanya mengantarkan cahaya matahari di hari-hari tertentu di setiap bulan. Cahaya yang sebenarnya itu akan tiba saat siang hari datang. Meski hanya memantulkan cahaya yang bukan miliknya, tapi ia sudah memberitahu bahwa akan ada waktu dimana cahaya yang sebenarnya muncul dan lebih berdampak besar pada kehidupan.


Tiba-tiba Ree tertawa sendiri. Ia menertawakan dirinya akibat memikirkan hal yang tidak penting. Merasa udara semakin dingin, Ree menutup jendelanya dan bersiap tidur.


Malam ini banyak terjadi hal yang tidak terduga dan Ree tidak tahu apa yang bisa ia lakukan keesokan harinya. Ia tidak bisa memberikan secara nyata tentang sesuatu yang membahagiakan bagi orang-orang terdekatnya, namun ia hanya ingin memberitahukan bahwa ada yang namanya satu titik dimana mereka dapat menaruh harapan untuk tetap menyambut kehidupan di hari selanjutnya.


Bukankah itu terdengar seperti bulan purnama malam ini?


*


*


*


“Dia mengatakan tidak akan berbicara sedikitpun.” ucap Maglina pada Yohan saat mereka berada di penjara dimana mereka menahan mantan walikota Leafa yang menjadi pemimpin pemberontakan di Leafa belum lama ini.


Karena gerak cepat dari Yohan dan dibantu oleh prajurit kerajaan membuat mereka dengan cepat meringkus mantan walikota yang ingin kabur ke luar negeri dengan menggunakan jalur laut.


Baru-baru ini, belum 24 jam diringkus mantan walikota itu sudah diwawancarai oleh bawahan Yohan dan Maglina sudah melaporkan hasil wawancara yang baru mereka jalankan.


“Tentu saja tidak mudah. Kita belum bisa mengirimkannya ke ibu kota untuk menentukan penalti yang diberikan sebelum tahu siapa-siapa saja yang ada di balik pemberontakan ini.”


Yohan sebenarnya sangat menaruh curiga bahwa terdapat campur tangan dari keluarga berpengaruh di ibukota, maka dari itu ia tidak akan menyelesaikan semuanya sebelum ia tahu siapa dukungan terbesar dari pemberontakan ini dan alasan sebenarnya.

__ADS_1


“Kalau begitu biar aku turun langsung.” ucap Yohan langsung masuk ke dalam wilayah penjara.


“Pangeran! Anda tidak perlu…” sebenarnya Maglina cukup khawatir dan Yohan memahami kekhawatiran Maglina.


“Tenang saja, tangan mereka tidak akan bisa menyentuhku.” timpal Yohan.


Yohan pun tiba di sebuah sel yang dilapisi dengan pagar besi itu. di dalamnya seorang pria yang diduga memimpin pemberontakan dan menyambut kedatangan Yohan di Leafa dengan serangan panah.


“Yang Mulia Pangeran…” panggil pria di dalam sel itu ketika melihat Yohan yang ditemani Maglina dibelakangnya berdiri di hadapan sel.


“…apa ini, sampai-sampai pangeran sendiri mendatangiku dan menangkapku.”


“Aku bukanlah orang yang memiliki kekuasaan sebesar pangeran mahkota, ini merupakan kali pertama aku menginginkan sesuatu. jadi aku harap anda dapat bekerja sama denganku dengan mengatakan yang sejujurnya…”


Keberanian Yohan sampai saat ini memang tidak pernah ia sangka. Langkah kakinya memang selalu terasa berat ketika ingin mengawali sesuatu. Namun ketakutan akan memulai langkah itu hanya membuat perasaan Yohan terasa sangat berat.


“Anda terlalu naif pangeran. Permainan politik tidak hanya untuk mengejar kekuasaan semata. Semua dilakukan memang selalu dengan alasan yang mencapai sesuatu yang besar. Kesalahan saya di masa lalu memang murni saya melakukannya…”


Yohan masih diam menunggu kalimatnya dilanjutkan.


“…tapi… tetap saja… kekayaan itu membutakan mata dan tidak akan puas…”


Miris, memang sifat serakah manusia yang memiliki kekuasaan besar tidak akan pernah habisnya dan tidak jarang Yohan temui di sekelilingnya. Selama ini ia hanya diminta oleh ibunya untuk bersikap bijak dalam memilih pendukung. Tidak semua yang memiliki kekuasaan besar bermain kotor, namun tak sulit juga tuk menemukan orang-orang seperti itu. Yohan hanya diberitahu untuk tetap menjaga diri dari hal seperti itu, dimana saat ia dewasa meskipun ia tidak menaiki puncak tertinggi di istana ia akan tetap harus memiliki pendukung di belakangnya.


“Berhati-hatilah pangeran… karena anda adalah orang yang tinggal di istana, dimana musuh yang terbesar justru ada di dalamnya. Kedua sayap pelindung kerajaan tidak semuanya bisa dipercayai…”


Kedua saya pelindung yang dimaksud adalah keluarga Cali dan keluarga Florence. Dua keluarga besar itu yang menjadi tameng luar-dalam kerajaan dari sejak dulu sampai saat ini tidak berubah.


Yohan menyudahi pembicaraannya dengan menyimpan seluruh beban pembicaraan dalam hatinya. bahkan beban itu membuatnya sulit untuk bernapas dan beberapa kali Yohan menghela napas setelah keluar dari penjara.


“Kedua saya pelindung kerajaan adalah keluarga Cali dan Florence. Secara bersamaan mereka melindungi tahkta raja dari kelompok-kelompok pemberontak di masa lalu. Salah satunya adalah keluarga Frigid.” Yohan ingin tertawa namun hatinya seolah ingin menangis.


“Salah satu kekuatan besar itu mendukung pemberontakan di sini karena ingin menghalangi kegiatan yang dilakukan oleh putri Yohanna.”


Tentu saja menuduh sembarangan itu sangat berbahaya. Kedua keluarga itu sangat berpengaruh dan tidak bisa sembarangan di tuduh. Namun pikiran Yohan seolah langsung tertuju.


Semua ini akan selalu berasal dari akar yang paling kuat, dimana pohon itu tumbuh dan berbuah. Buah yang keluar dan berasal dari pohon itu telah diracuni oleh pohonya sendiri sejak awal.


“Frigid…”


Maglina tidak memiliki kekuatan selain melindungi belakang Yohan, ketika melihat pangeran muda itu hanya menghela napas dan menatap langit malam dengan purnama sebagai hiasannya hanya bisa membuat Maglina diam dan menggenggam erat gagang sarung pedang yang ia bawa kemana-mana itu.


*


*


*


Litore memang sebuah kota pesisir yang indah. Meskipun tengah berada di musim gugur, namun tidak akan menghentikan aktifitas orang-orang di sekitarnya.


Karena tubuh mereka sudah terbiasa menerima angin kencang beserta udara dingin hingga kadang membuat para pendatang tidak ingin keluar dari rumah sama sekali karena hawa dingin itu sampai menusuk ke dalam tulang.


Itulah perbedaan yang paling terlihat diantara pendatang dan penduduk asli.


Dimana Ree hanya melakukan aktifitas dan bergerak seperti biasa.


Sementara Frigid hanya terdiam di tempat memandangi papan nama salah satu tempat pendidikan anak-anak di bawah yayasan angkatan laut.


Hari ini Ree dan Frigid di ajak untuk mengunjungi tempat dimana tempat calon anggota angkatan laut akan di latih dari usia sangat muda. Mereka melakukan kegiatan pelayanan dengan menemani anak-anak berlatih dan sebagainya sebagai orang yang sedang menjalani magang, Ree tidak menyangka akan melakukan ini. Ia hanya pikir mereka berdiam di markas saja tanpa keluar sedikitpun dari pagar.


Namun, bukan itu yang menjadi masalah Frigid. Ia hanya bertanya-tanya, kenapa orang-orang tidak merasakan dingin padahal mereka sedang  berlatih di tepi pantai sewaktu hari masihlah pagi?


Karena hawa dingin membuat bibir, hidung bahkan daun telinga Frigid yang biasanya tampak pucat itu menjadi sangat merah. Terlebih mereka hanya memakai jaket biasa dan itu tentu saja tidak dapat membuat Frigid bertahan dari angin musim gugur.


“Frigid, apa yang kamu lakukan?” ujung-ujungnya salah kapten wanita menegur Frigid yang hanya berdiam di samping tenda makanan sembari menatap para murid sedang latihan dengan datar dan rasa ingin pulang.


“Aaa… kapten!” sebelum Frigid menjawab tiba-tiba dari arah bibir pantai Ree berlari dan menghampiri kapten wanita itu dan Frigid.

__ADS_1


“Ada apa Ree?” tanya sang kapten.


“Ahh… itu… nampaknya mereka menunggu intruksi latihan selanjutnya.” Tunjuk Ree pada kelompok anak-anak yang ia bimbing.


“Benarkah, tunggu sebentar. Ayo Frigid.”


“Oh iya! Kapten, Frigid diminta untuk menjaga makanan makanya ia berdiam di sini.” Ree menatap Frigid untuk meminta kerja sama bahwa ia hanya membual.


“Benarkah?” tanya sang kapten menatap Frigid.


“Iya… saya hanya berdiam diri karena menjaga makan siang dan cemilan mereka di sini.” ucap Frigid sembari mendekati dirinya dengan panci yang sedang dihangatkan oleh kompor.


“Baguslah, karena yang lain nampaknya sedang pergi ke pasar. Ree ayo!”


Ree mengangguk dan langsung mengekor kapten wanita itu untuk kembali ke kelompok anak-anak yang Ree bimbing hari ini.


Padahal Ree tahu bahwa Frigid bukanlah bertugas di bagian dapur. Tapi jelas Ree tahu dari gelagat pria itu, ia tak dapat bekerja sama dengan dinginnya cuaca hari ini.


Terlebih ketika Ree memikirkan penyakit yang Frigid derita, itu membuatnya melangkah begitu saja tanpa ingin memikirkan hal-hal yang menyebalkan.


Karena setahu Ree, pria itu hanya ingin menghabiskan masa-masanya menjadi seorang murid dan lulus tanpa ada hambatan yang tidak berguna. Bagaimanapun, sekecil apapun harapan yang ada sepatutnya harus dihargai.


Keinginan kecil seperti itu, meski bukan urusan Ree untuk membantunya menyelasaikannya, kepala Ree nyatanya tidak berpikir sesederhana itu.


Sikap yang tidak terduga itu cukup membuat Frigid kaget. Tentang apa maksud Ree membohongi kapten mereka dan membiarkan Frigid berdiam di tenda makanan. Mungkin terlalu kentara ia menampakkan ketidakmampuannya menghadapi cuaca dingin di Litore dan Ree menyadari hal itu.


Karena ia tidak sedang berada dalam situasi yang baik dalam berkomunikasi dengan Ree. Frigid bisa tahu jika wanita itu telah memperhatikannya dalam beberapa hal yang orang lain tidak tahu.


Frigid mungkin tidak peduli dengan apa yang orang lain lihat dari dirinya bahkan dirinya sendiri lebih tidak peduli. Tapi terdapat beberapa mata memperhatikannya meski tidak diminta dan tidak disukai. Tatapan itu bukan berarti untuk mengasihani, bukan berarti melihat tentang betapa menyedihkannya seseorang dari mata mereka.


Alasan kenapa Ree masih memasang matanya pada pria yang sedang menghangatkan diri bersama para petugas yang memasak di tenda makanan itu adalah karena ia tahu, saat ini sebenarnya masih banyak yang menaruh perhatian lebih untuk Frigid.


Ree hanya ingin menyampaikan bahwa ada satu hal yang disebut harapan itu pada Frigid.


*


*


*


Kegiatan kunjungan ke yayasan pendidikan militer angkatan laut itu berlangsung seharian seperti halnya melakukan magang. Ree bahkan tidak meyangka mereka akan kembali ketika hari sudah menjelang petang.


Karena semakin sore dan matahari sedikit lagi akan tenggelam membuat Ree harus mengeratkan syal dengan warna coklat itu dan memasang dua lapis jaket sebelum ia kembali ke rumah dinas.


Sementara itu nampaknya ada yang terdiam ditempat penyimpanan barang itu.


Ree menatap punggung pria yang berada di sebelahnya sedang mengobrak-abrik  isi tasnya berulang kali seperti mencari sesuatu.


Karena belum ada berbicara satu sama lain, Ree hanya berani melirik saja namun sejujurnya ia ingin tahu apa yang terjadi.


Mungkin terdengar sepele bagi orang lain, namun benda itu adalah hal penting bagi Frigid. Fakta bahwa ia melupakan syalnya yang ia bawa di dalam tas merupakan fakta yang tidak ingin Frigid hadapi ditengah cuaca dingin seperti ini.


“Setelah beraktifitas hanya dengan menggunakan satu lapis jaket lapangan, kali ini Frigid harus pulang dan melawan angin dingin itu.


Frigid membencinya.


“Wajahmu seperti kesulitan, apa ada yang hilang?”


Benar, Ree sangat tidak bisa membiarkannya. Matanya sudah terlanjur memperhatikan Frigid dan tidak bisa mengacuhkan pria itu begitu saja.


Ia tidak ingin terlibat perdebatan namun ia juga tidak bisa melihat orang seperti kesusahan di sampingnya.


Ree menghampiri Frigid dan berdiri di sampingnya.


“Apa ada yang hilang?” tanya Ree penasaran.


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2