
Servio mendengar kegaduhan itu, ia juga baru terbangun dan melihat Ree bergegas pergi sembari mengambil sesuatu di atas meja tanpa mengenakan satupun jaket di pagi buta yang dingin. Kini pria yang selalu menggerai surai panjang hitamnya itu nampak bolak-balik di halaman rumah dinas menunggu kedatangan wanita yang ia cemaskan.
Udara masih dingin dan sangat gelap, tanpa mengenakan jaket dan hanya mengenakan gaun tidurnya. Ree sanggup kembali ke rumah dinas dengan berjalan perlahan seolah melepas segala kekecewaannya di sepanjang jalan dan bertemu dengan sepasang mata Servio ketika ia masuk ke dalam gerbang.
Hasilnya mungkin nampak sangat jelas saat Ree kembali sendirian dengan tatapan kosong dan nampak pasrah.
Servio menyimpulkan bahwa Frigid benar-benar pergi.
Tiba-tiba Servio merentangkan kedua tangannya.
“Di luar dingin, apa kamu butuh pelukan?” tanya Servio cukup terdengar konyol di telinga Ree.
Anehnya Ree tersenyum tipis pada pria itu dan meraih kedua tangan Servio untuk turun.
“Aku tidak memerlukan apa-apa. Semuanya sudah berakhir.”
Ree bahkan sulit menentukan sebenarnya yang ia tengah rasakan itu seperti apa. Pada intinya Ree tidak bisa menangisi orang seperti itu.
Melihat Ree yang seperti orang putus asa itu membuat Servio melepas sweater rajut yang ia kenakan dan memasangnya pada bahu Ree.
“Setidaknya sebelum pergi, bawalah jaket atau semacamnya.”
Ree tersenyum tipis, saking buru-burunya ia sampai lupa apa yang harus ia perlukan.
*
*
*
Keresahan pagi-pagi itu juga dirasakan oleh Yohan yang berada di istana saat ini. bolak-balik di kamarnya mencemaskan rencana kembalinya Frigid ke Crystallo. Obrolannya dengan Joan tidak menampakkan titik terang seperti yang Yohan harapkan. Satu-satunya harapan Yohan adalah Ree seorang.
Kecemasan itu tidak akan mudah berakhir karena hari-hari akan terus berlanjut hingga hari dimana rombongan mereka harus pergi ke Agnus dalam beberapa minggu lagi.
Tak sadar akan keberadaan Yohanna yang baru saja membuka pintu untuk memanggil Yohan sarapan bersama, benar-benar membuat Yohanna menggelengkan kepalanya.
“Apa kamu tidur tadi malam? aku rasa tidak.” tegur Yohanna heran.
Barulah setelah teguran Yohanna, Yohan berhenti bolak-balik dan melihat kembarannya yang datang.
“Aku tahu bahwa keputusan Kak Joan cukup mencurigakan, tapi sejauh ini rencana kita sudah dijalani semuanya.” lanjut Yohanna.
Yohanna seolah sudah pasrah dan merasa dirinya berada di ujung tembok tanpa ada jalan lain. bagaimanapun juga mereka tidak ingin putar balik.
“Aku tidak ingin Frigid menanggung semuanya. Bagaimanapun juga, aku harus mencari celah dari semua ini. Sebelum hari itu datang, aku benar-benar harus mencari celah.”
Ambisi Yohan tak sebatas seperti ia melindungi sebuah wilayah, sejak awal perjanjian ini terdengar konyol dan tentang menebus sebuah pelanggaran harus membuat seseorang tersiksa. Yohan sejujurnya tidak suka dengan perjanjian itu. Entah itu dari pihak Agnus maupun pihak keluarga Cali.
Yohan tidak tahu, rencana tindakannya ini hanya karena sebatas simpati seorang keluarga atau bagaimana. Hanya saja, ia ingin menghilangkan rasa janggal perasaannya.
*
*
*
“Lantas, sebesar apa pedulimu dengan hidupku? apa kamu sanggup pergi meninggalkan semuanya dan ikut bersamaku bertahan?”
Kalimat itu yang membuat Ree terlihat terpaku dan sulit untuk menjawab di hadapan Frigid. Kalimat itu juga membuat pikiran Frigid saat ini penuh dan sulit untuk ia alihkan.
Saat ini ia sudah berada di salah satu gerbong kelas satu kereta yang akan membawanya kembali ke Crsytallo dari Litore.
Terdengar berlebihan, bukan begitu?
Itu terdengar seolah Frigid mampu membawanya pergi ke Agnus untuk bertahan bersamanya.
__ADS_1
Memang memalukan dan Frigid tidak bisa mengelak bahwa banyak hal terjadi sejak ia bertemu dengan Ree. Sikapnya yang selalu acuh dan tidak peduli selama keinginannya untuk pergi ke akademi biasa dijalankan tanpa hambatan nyatanya banyak hal terjadi.
Frigid masih mempertanyakan kenapa ada orang senekat Ree, sudah jelas ketakutannya namun tetap memberanikan diri dan melakukan hal berbahaya hingga mengorbankan waktu dan tenaga untuk Frigid tanpa menginginkan balasan apapun.
Bukankah malah Frigid yang terlihat seperti orang kurang aja di sini?
“Aku bahkan tidak berterima kasih padanya,”
Seharusnya sebelum pergi Frigid mengucapkan itu, bukannya meluapkan emosinya seperti anak kecil. Seharusnya ia berterima kasih atas segala tenaga dan waktu yang diberikan Ree padanya tanpa pamrih sedikitpun itu.
Frigid bahkan tidak tahu apa yang Ree sukai atau inginkan, hingga ia sulit untuk membalasnya.
*
*
*
Program magang mungkin sudah berakhir, tapi para murid diberi beberapa hari untuk istirahat sebelum kembali ke akademi di Crystallo, meski Liliana dan Servio sudah lebih dulu kembali ke ibu kota. Sementara itu Ree, bersamaan dengan adanya acara pernikahan Luceat di kediaman utama Lumen, membuat Ree tidak langsung bertolak ke Crystallo melainkan pulang ke rumahnya.
Rumahnya sangat ramai saat ini, banyak sekali orang asing yang tidak Ree kenal saling mengobrol dan ada yang baru datang dengan membawa beberapa upeti hadiah pernikahan. Berita Luceat yang menikah tentu saja membuat Ree terkejut, keputusan seperti apa yang membuat Luceat berbuat seperti itu, Ree tidak begitu mengerti. Namun ia juga tidak terusik dengan keputusan itu.
“Haah…” Ree masih belum sampai sepenuhnya ke dalam rumah karena lelah dengan barang bawaannya yang cukup banyak. Bahkan keringatnya cukup banyak keluar dengan deras hingga membuat Ree sendiri terheran-heran kenapa ia berkeringat seperti orang habis berolahraga di tengah musim dingin seperti ini.
Tangannya merogoh saku mantel beludrunya untuk mengambil sapu tangan namun saat ia ingin menyeka keringatnya, sapu tangan itu malah terjatuh tetap di ke samping kakinya.
“Haa…” lagi-lagi Ree menghela napas karena ia merasa capek jika harus membungkuk mengambil sapu tangan berwarna merah itu.
Namun sebelum Ree meraihnya, ada tangan sebuah tangan kekar yang lebih dulu meraihnya tepat sesaat sampai di hadapan Ree.
“Kamu masih menyimpannya dengan baik…”
Suara berat pemilik tangan itu membuat Ree mengangkat wajahnya untuk melihat siapa sosok yang sangat tidak asing ini setelah sekian lama.
Bahkan Ree merasa dirinya tengah bermimpi bertemu dengan Viovarand setelah sekian lama di halaman rumahnya. Ree bahkan mengedipkan matanya berulang kali untuk memastikan yang sebenarnya ada di depannya saat ini.
“Apa kamu benar-benar tidak percaya dengan matamu sendiri?” tanya Viovarand heran sembari menyerahkan sapu tangan merah Ree.
Ree masih terdiam dan tidak percaya meski tangannya bergerak begitu saja meraih sapu tangan merah yang sebenarnya adalah pemberian dari Viovarand. Memang sudah lama dan bahkan mungkin berbulan-bulan lalu ia dan Viovarand saling memberi salam perpisahan di depan gerbang asrama dan pria bersurai panjang kemerahan itu tidak pernah berubah auranya. Masih seperti pria yang benar-benar menyeramkan dan gagah jika baru mengenalnya.
“Aku percaya… tentu saja percaya… hanya saja kenapa?”
Viovarand nampak terkekeh karena ekspresi Ree benar-benar pasrah saja. Wajah wanita itu tidak pernah berubah, ekspresi yang tidak terlalu banyak dan datar, namun tak pelit untuk tersenyum padanya. Hanya saja, hari ini wajah Ree nampak sedikit pucat.
“Semenjak aku memimpin perusahaan keluarga, aku juga sering berbisnis dengan keluarga Lumen, mungkin sejak lama aku menyadarinya setelah lulus dari akademi, namun hari ini terkaan itu menjadi nyata, karena kamu merupakan bagian dari keluarga Lumen. Aku pikir, kita tidak akan pernah bertemu lagi.”
Dibandingkan dulu, Viovarand jauh lebih lembut. Ree tidak akan menyangka bahwa pria yang bersuara lembut saat mengobrolnya dengan dirinya saat ini adalah orang yang pernah menggantungnya dengan mengangkat kerah bajunya di akademi.
Ree juga berpikir seperti itu, ia pikir perpisahan itu akan berakhir tanpa adanya pertemuan lagi. Setidaknya seperti itu, namun harapan itu berbeda ketika berhadapan dengan orang yang berbeda.
“Masuklah, rasanya tidak nyaman bertemu dengan tamu di halaman seperti ini.” ucap Ree mengajak Viovarand untuk masuk ke dalam kediaman utama Lumen.
Viovarand tersenyum dan mengiyakan ajakan Ree, bahkan pria itu dengan santainya meraih koper Ree yang awalnya diletakkan di permukaan tanah begitu saja lalu melenggang masuk ke dalam rumah. Pemilik koper itu tentu saja terheran-heran meski kakinya mau ikut begitu saja dan kepalanya tak sanggup lagi mengeluarkan rentetan pertanyaan.
Tak lama setelah Viovarand dan Ree masuk ke dalam rumah, sebuah mobil juga masuk ke dalam halaman kediaman besar itu, berhenti tepat di depan teras rumahnya. Setelah mengeluarkan penumpang di dalamnya, mobil itu segera keluar. Dari dalamnya muncul Smith dan ibunya, membawa beberapa bingkisan untuk hadiah pernikahan Luceat.
Tentu saja kedatangan keduanya disambut hangat oleh keluarga besar Lumen, terlebih Smith yang dikenal berteman baik dengan Luceat. Nampaknya kehadiran Smith juga terlihat oleh Ree yang baru saja masuk ke dalam rumah dan ingin pergi menuju kamarnya. Sempat bertemu mata dengan putra sulung Cali itu dan Smith merespon interaksi kecil mereka dengan senyum tipis.
*
*
*
“Tuan Smith, bisa kita bicara sebentar.”
__ADS_1
Tepat setelah selesai ia berbenah, Ree merasa diburu waktu dan ingin segera berbicara empat mata dengan Smith. Ia mencuri kesempatan di saat semua orang sedang sibuk mengobrol, Ree mengendap seperti orang yang tidak ingin menarik perhatian, dan berhasil sampai di belakang punggung Smith sembari berbisik pelan pada pria itu untuk mengajaknya ke suatu tempat yang nyaman.
Ree tak jauh mengajak Smith pergi, hanya ke halaman samping rumahnya dimana terdapat gazebo tempat Ree biasa bersantai disenggang waktunya jika ia mendapat libur panjang.
“Nona Ree, apa kamu baik-baik saja?” tanya Smith nampak cemas karena wajah Ree tidak seperti biasanya.
Pucat dan terlihat lesu, namun seolah menolak fakta fisik itu, sorot matanya terlihat masih kuat dan hidup.
“Aku merasa harus minta maaf padamu… tuan Smith, aku tidak berhasil menahannya untuk waktu yang cukup lama…”
Sempat tertahan dalam hati, namun tak mampu dibendung lagi. Ree mengeluarkan betapa rasa tidak nyamannya dan rasa bersalahnya karena gagal menahan Frigid untuk tinggal lebih lama. Ree merasa cukup malu berdiri di hadapan Smith saat ini dan membuatnya terus menatap permukaan tanah, ia tidak sanggup langsung menatap mata Smith. Entah seperti apa raut wajah Smith saat ini, Ree tidak berani menghadapinya.
“Nona Ree, kamu tidak perlu menunduk seperti ini. Keputusan Frigid dia sendiri yang memutuskan, sama sekali tidak ada kaitannya denganmu. Kamu sudah banyak membantunya, justru aku yang harus banyak berterima kasih padamu.”
Ree perlahan mengangkat kepalanya, bola matanya dapat melihat ekspresi tak nyaman dari Smith karena merasa sudah merepotkan Ree. Wajah putra sulung itu nampak tersenyum namun alis matanya nampak berkerut.
“Aku tidak tahu apa yang setimpal untuk membalasmu. Bahkan mungkin barang antik tidak akan cukup.”
Mengingat Ree sangat menyukai perabotan antik, Smith bahkan merasa hal itu tak cukup jika ia memberikan Ree hadiah seperti itu karena sudah meluangkan waktu untuk bersama Frigid dalam masa-masa yang sulit.
Ree menggaruk belakang kepalanya dan mengalihkan padangannya ke sisi dimana terdapat tembok pagar batu karang setinggi dua meter yang mengelilingi kediaman utama Lumen.
“Tetap saja tidak nyaman,”
“Apanya tidak nyaman?”
Smith dan Ree sama-sama terkejut dengan orang ketiga yang tiba-tiba menginterupsi serta masuk ke dalam atmosfer tidak nyaman mereka dengan seenaknya.
Pria itu Viovarand, pria yang melihat bagaimana seorang wanita menunduk hingga 90° kepada seorang pria dan nampak senyuman canggung dari sang pria merespon membuat Viovarand curiga tentang apa yang dilakukan oleh Smith hingga membuat Ree harus menunduk padanya.
“Ree, apa yang membuatmu tidak nyaman?” tanya Viovarand sembari menatap Smith cukup tajam namun tak mampu untuk mengintimidasi seorang Smith yang terlihat sangat santai itu. bahkan saat ini, Viovarand sudah berada di hadapan Ree, menyembunyikan gadis itu dibelakang punggungnya.
Ree tidak tahu akan ada yang melihat mereka , terutama Viovarand.
“Viovarand, aku rasa kamu salah paham, ini bukan seperti yang kamu pikirkan.”
“Tuan Heittblood, bukan begitu?” tanya Smith.
“Hmm, iya begitulah.” jawab Viovarand tidak cukup ramah.
Ree menghela napasnya, sore ini ia hanya berniat untuk berbicara empat mata dengan Smith tanpa diganggu oleh hal lain, namun nampaknya karena situasi rumah yang cukup ramai, membuatnya sulit untuk mendapat suasana seperti yang diharapkan.
“Ahh, bagaimana kalau kita masuk saja?? Sore ini sudah cukup dingin asal kalian tahu angin sore musim gugur cukup dingin di Litore.” tanpa menarik salah satu pria di dekatnya, Ree pergi melenggang seorang diri mendahului Smith dan Viovarand.
Wanita itu bahkan tidak peduli apa Viovarand dan Smith akan beradu tatap sampai berapa lama.
“Dia benar-benar tidak peduli, bagaimana kalau kita masuk saja, tuan Heittblood?” tawaran Smith meminta untuk meredam suasana tegang antara mereka berdua, namun Viovarand nampak tidak bergeming sama sekali.
“Kamu sendiri lihat? Dia bahkan tidak peduli dengan kita berdua.”
Awalnya Viovarand hanya diam, namun akhirnya ia hanya menghela napas pasrah saja.
“Haah… kau benar… dia tidak akan peduli.” ucap Viovarand akhirnya membuang rasa penasarannya.
Smith pun menanggapinya dengan senyuman.
“Dia hanya peduli dengan satu orang untuk saat ini.”
Viovarand menatap Smith sekejap dan tersenyum tipis.
“Nampaknya aku tahu siapa orangnya.”
Tanpa perlu menebak-nebak, Viovarand bisa langsung tahu. Karena hal itu membuatnya mengingat momen dimana ia pernah menyakiti Ree, orang itu tiba dengan tidak kerennya mengambil Ree dari genggamannya.
To Be Continued.
__ADS_1