We And Problems

We And Problems
Chapter 69 : Rasa Damai Yang Bersamaan Dengan Patah Hati


__ADS_3

Langkah kaki Servio begitu pelan ketika ia sudah mendekati pintu kamar Ree yang berada tepat di sebelah kamarnya. Tangannya berani-takut untuk mengetuk daun pintu itu namun ia tidak ingin mengulur lebih lama waktu dan memberanikan diri untuk mengetuknya.


“Ree… aku ingin bicara denganmu.” ucap Servio memanggil pemilik ruangan, berharap ia bisa muncul dan bicara dengannya.


Namun, tak ada satu pun suara dari balik pintu, baik langkah kaki maupun suara dari mulutnya.


Benar-benar senyap.


Sekali lagi, Servio mengetuk dengan menggunakan buku jarinya.


Namun nihil tak ada satupun sambutan baginya.


“Ree… sebentar saja aku ingin bicara denganmu berdua. Tidak bisakah kamu membuka pintu ini?” Servio bahkan berbisik pada daun pintu.


Tapi sama sekali tidak lagi ia diberi kesempatan. Tidak ada sambutan, tidak ada suara, membuat Servio mengerti bahwa kali ini bukan hanya ketakutan Ree semata terhadapnya, melainkan rasa kecewa yang teramat besar hingga sulit baginya untuk memaafkan.


Berulang kali, ketika Ree ingin menyampaikan suaranya pada Servio, meski harus memaksakan diri, tak sedikitpun Servio buka mata dan telinganya. Ia sudah lebih dulu meninggalkan Ree sendirian, hingga saat ini kembali ke titik itu, Ree sudah pergi meninggalkan tempatnya dan tidak lagi menolehkan wajahnya ke hadapan muka Servio.


Itu merupakan keputusan Ree yang sudah merasa kecewa.


Servio menurunkan tangannya dari knop pintu dan mundur, menatap sendu benda mati itu dengan semua rasa bersalahnya. Saat ini rasa penderitaan itu berkali-kali lipat, meski apa yang membuat mereka terikat sebenarnya Servio inginkan, namun hubungan yang menyakitkan seperti ini, bukanlah Servio harapkan.


Pria itu pun pergi menuju kamarnya yang bersebrangan dengan kamar Ree, tak lama baginya untuk mengambil sebuah kertas dan pulpen lalu menulis beberapa kalimat di atas kertas itu tepat di depan kamar Ree.


Tidak ada cara lain yang bisa Servio lakukan saat ini. meskipun ia tidak berharap besar, tapi setidaknya sampai pada tangan orang yang ia tuju. Setelah selesai menulis, Servio pun meluruskan kertas itu dan menyelipkannya di bawah pintu kamar Ree.


[Ree, aku sudah sadar bahwa apa yang aku lakukan padamu adalah kesalahan, aku tidak bisa mengendalikan emosiku di hari yang lalu. Tapi saat ini, aku ingin berbicara dengan baik bersamamu. Aku ingin mendengar apa pendapatmu dan aku minta maaf. Aku tidak akan memaksamu lagi untuk berbicara, karena aku akan menunggu.]


Servio pasrah, ia tidak akan marah jika Ree membuang kertas itu dan masih mendiaminya. Hanya ini yang bisa ia lakukan dan Servio memutuskan akan menunggu wanita itu.


Namun, nampaknya tak lama bagi Servio akan menunggu ketika belum sampai 5 menit kertas itu masuk ke dalam kamar dan saat Servio ingin bangkit berdiri, matanya sudah bertemu dengan kaki Ree yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya karena pemilik ruangan akhirnya membuka pintu.


Ree benar-benar ada dihadapannya, pikir Servio.


“Kita bicara di luar.” ucap Ree singkat.


*


*


*


Ree sendiri tidak tahu bagaimana ia harus mengendalikan perasaannya saat ini, ia pikir Servio tidak akan menyusulnya dan membiarkannya sendiri. Ia sudah sadar saat pria itu datang dan mengetuk pintu kamarnya, ia sudah ada di balik pintu sejak pria itu memanggil namanya.


Namun tangannya tak mau memutar knop pintu dan terdiam di tempat.


Jika ia keluar, memangnya apa yang harus dibicarakan?


Semuanya telah jelas, Ree sudah terlanjur sakit hati.


Ree sendiri tidak tahu apa yang ingin Servio sampaikan padanya, namun hatinya mengatakan untuk tidak lagi berbicara dengan pria itu.


Ia kecewa, namun tak ingin membenci orang. Dilema perasaan yang kian merepotkan seperti itulah membuat Ree tak bisa bergerak sedikitpun.


Hingga saat kakinya menyadari bahwa selembar kertas masuk begitu saja dan bertuliskan kata maaf serta maksud Servio.


Pria satu ini, ingin sejauh mana ia meyakinkan Ree?


Namun, yang membuat Ree membukakan pintu bukan karena kertas itu ataupun perasaan Servio. Ia hanya ingin mengetahui apa yang akan Liliana beritahu padanya setelah memaafkan Servio.


Hingga akhirnya, sejak Ree meninggalkan rumah dinas dan mendiami Servio. Ia sampai di sebuah taman kota yang cukup besar. Terdapat danau di tengah taman itu dan beberapa sampan.


“Kita bicara di situ.” Tunjuk Ree pada sebuah sampan kayu yang terletak di pinggir danau.


Tidak ingin kebingungan terlebih dahulu, Servio memilih menuruti saja apa kata Ree saat ini. Meski sampai sekarang ia masih tak menyangka akhirnya Ree mau bertemu dengannya.


Keduanya pun naik ke sampan kayu itu dengan Servio yang terus mengayuh, di sekeliling danau hanya diterangi oleh lampu taman dan membuat tengah danau sedikit terang karena kapasitas lampu yang tak terlalu bersinar.

__ADS_1


Belum ada yang berbicara dan Ree yang duduk di hadapan Servio hanya sibuk menatap pemandangan yang ada sembari mendengar suara dayung yang bertemu dengan air danau yang tenang.


“Aku sudah mendengarnya dari Henny, kenapa kamu bisa berada di sini.” ucap Ree akhirnya membuka suara namun masih tidak ingin bertemu pandang dengan Servio.


“Umm.” Servio berhenti mendayung ketika mereka sudah sampai di titik dimana Ree inginkan.


Tepat berada di tengah danau.


“Jadi apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Ree.


Meski Ree sudah tahu dari Henny, setidaknya Ree ingin Servio menjelaskan secara langsung alasan kedatangannya.


“Karena aku ingin meminta maaf padamu, aku sadar bahwa aku sudah mengecewakanmu.” Ucap Servio.


Wajahnya terlihat resah, ia terlalu khawatir tentang Ree yang tidak akan mau menatapnya lagi.


Tapi, kali ini Ree memberanikan diri. Ia menoleh dan memusatkan perhatiannya pada pria dihadapannya saat ini.


“Aku pikir tindakanku tidak akan menyakiti siapapun, meskipun aku tahu bahwa kamu memiliki suatu kekurangan… sikap dingin itu, aku tidak memiliki pilihan lain dan hanya menyakiti dirimu, pilihan saat itu benar-benar sulit, saat keluarga kita seolah memiliki perjanjian yang harus dijalankan.”


Ree juga tahu, ada beberapa persyaratan. Pertunangan yang ada di antara mereka hanya sebagai penguat alasan kenapa mereka harus melakukan sesuatu.


“Tapi ternyata semuanya tak berjalan dengan lancar… aku tidak ingin kehilangan ibuku, tapi aku malah menyakitimu.” Servio bahkan tak tahu wajah seperti apa yang harus ia keluarkan saat ini.


Pertunangan ini terjadi karena ingin mencari obat Dandelia, sebagai kekuatan dasar atas perbuatan. Ree tidak membenci Dandelia, sama sekali tidak. Meski ia berakhir dengan Servio dengan cara yang tidak menyenangkan.


“Selama ini kamu pasti ingin berdiskusi bahwa masih banyak cara lain…”


Itu benar, Ree tidak ingin berpatokan pada satu cara. Baginya tidak ada cara yang satu-satunya, selalu ada solusi lain.


“Kamu tahu sendiri tentang itu. Aku memiliki kelemahan dan ketakutan yang tak biasa, mungkin aku bisa memahamimu yang awalnya ingin membantuku, tapi dengan cara seperti ini bukanlah jalan yang ingin aku lalui, itu menambah ketakutanku dan sulit untuk aku kendalikan, setidaknya aku ingin memberitahukan ketakutanku itu padamu.”


Akhirnya Ree menjelaskan kenapa ia tidak mau bertunangan dengan Servio dengan cara seperti ini. mungkin maksud hati Servio mereka bisa dekat dan Ree bisa terbiasa, namun ada paksaan di sana, Ree belum siap sama sekali dengan permainan seperti ini membuatnya semakin takut.


Servio benar-benar tidak tahu bahwa seperti itu anggapan Ree terhadap caranya, setelah ia menyakiti wanita itu, Servio tidak tahu bahwa sebenarnya Ree juga mempertimbangkannya.


“Terlebih aku tidak ingin kamu menjalin hubungan denganku secara terpaksa seperti ini, aku bukanlah orang seperti itu… meski pertunangan ini hanyalah bisnis di antara kedua keluarga, aku juga harus punya suara di dalamnya, namun seperti yang kamu tahu, situasi tidak sebaik itu…” ucap Ree sembari terkekeh menutupi rasa kecewanya.


“Ree… Sejak awal, sikap dingin dan kata-kataku terkait kelemahanmu itu bukanlah yang sebenarnya ingin aku lakukan padamu…” ucap Servio pelan namun Ree masih bisa mendengarnya dengan jelas.


Servio pun mengangkat wajahnya dan menampakkan senyum yang terlihat sangat menyedihkan hingga membuat Ree terkejut.


“Aku jatuh cinta padamu, bahkan sejak mengenalmu aku sudah menyukaimu dan caraku salah untuk mendapatkanmu.”


Ia mengaku.


Perasaan yang menjadi dasar atas segala perbuatan dingin dan menyakitkan itu akhirnya terungkap tepat di depan orangnya malam ini. Servio tidak bisa lagi melihat Ree tersakiti dan bahkan ia siap jika Ree membencinya.


“!!”


“Karena itu… aku… Ree!!”


“Ah?” Ree merasa pernyataan cinta ini tidak seperti Luceat menyatakan perasaannya pada Ree bertahun-tahun yang lalu. Namun Ree tidak bisa berpikir jernih saat ini ketika Servio mengatakan perasaanya yang sebenarnya. Kepala Ree langsung kosong dan ia bingung ingin berpegangan pada apa saat ini hingga tangannya terpeleset dan ia jatuh ke belakang.


Servio tidak jadi melanjutkan kata-katanya saat melihat Ree sudah kehilangan keseimbangan dan langsung terjatuh ke dalam kolam dengan tidak estetik sama sekali. Tanpa pikir panjang baginya langsung melepas dayung dan menceburkan dirinya ke dalam danau.


Suasana air danau cukup gelap, namun Servio bisa tahu keberadaan Ree dari cincin tunangan yang memantulkan cahaya lampu. Tanpa menunggu lama Servio menarik jemari Ree, melepas cincin itu dari jari manisnya dan meraih tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.


Ia mencintai wanita ini, namun Servio tidak ingin wanita yang ia cintai tersakiti dan menderita.


*


*


*


Ree masih terdiam saat dimana Servio menyelamatkannya dan membawanya kembali ke tepi danau. Bajunya dan milik Servio sama-sama basah kuyup, jantung Ree terasa sudah tidak ada lagi di tempatnya karena pikirannya terasa tidak ada di kepala lagi.

__ADS_1


“Ree! Kamu tidak apa-apa? Tidak ada yang terluka, iya kan?” tanya Servio memberanikan diri menyentuh kedua tangan Ree dan melihat wanita itu untuk memastikan tidak ada luka sedikitpun.


“Aku… baik-baik saja…” ucap Ree yang akhirnya mengangkat pandangannya menatap pria yang sudah berantakan sekali di depannya saat ini karena ikut basah kuyup.


Ree merasa benar-benar konyol mengingat respon yang berlebihan seperti itu ketika mendapat pernyataan cinta setelah sekian lama.


“Tapi masalah perasaanmu Servio… aku tidak tahu sama sekali.” ucap Ree masih merasa kepalanya tidak bisa berpikir jernih.


Servio dengan cepat menggeleng dan tersenyum.


“Aku tidak apa-apa… jangan memikirkan itu. aku tidak ingin kamu menderita lagi… karena aku mencintaimu, aku memutuskan untuk membatalkan pertunangan kita.”


“Begitu… apa?!” tanya Ree langsung sadar apa yang Servio katakan padanya.


Ree masih menatap Servio bingung.


Barulah Ree sadar bahwa cincin di jari manisnya tidak lagi ada.


“Gawat… meski kamu membatalkan pertunangannya, aku menghilangkan cincinnya!” ucap Ree panik.


Namun, bukannya ikut panik Servio malah tertawa. Tawanya terdengar cukup keras dan ringan.


“Hahahaa… kamu benar-benar tidak sadar rupanya. Aku sudah melepasnya saat kita jatuh di danau. Lihat, ia ada.” Servio menunjuk sepasang cincin pada Ree yang sudah ada di genggaman pria itu.


“Karena kamu adalah orang yang aku cintai, aku menghargai keputusanmu… aku tidak akan menahanmu lagi.” ucap Servio.


Meski harus mengorbankan perasaannya, Servio merasa lebih baik saat melihat wajah Ree kembali seperti saat dimana ia selalu bersama dengan wanita itu.


Ree benar-benar tidak menyangka akan seperti ini harinya. Ia tidak tahu Servio mau membatalkan pertunangannya.


“Servio… terima kasih!!” ucap Ree sembari tersenyum lega karena akhirnya rasa belenggu yang ada di hatinya lepas begitu saja.


Servio nampak senang ketika senyum Ree kembali di hadapannya, namun sedikit rasa perih itu tetap ada di dalam hatinya. Ia sudah jelas ditolak, namun ini merupakan keputusan yang tepat baginya.


“Ahaha… akhirnya kamu tersenyum seperti itu setelah sekian lama!!” meski Servio mengatakannya dengan tawa, entah mengapa air matanya meleleh begitu saja tepat di depan Ree.


Tentu saja Ree kaget dengan ekspresi wajah yang tidak pernah ia sangka akan dikeluarkan Servio.


“Ini memalukan…” Servio langsung dengan cepat menghapus air matanya dan memalingkan wajahnya dari Ree.


“Dasar bodoh! Kamu menyukai orang yang salah sepertiku.” ucap Ree langsung mengelus pucuk kepala Servio karena tidak enak hati telah menolak perasaan orang lain.


Ree merasa lebih buruk saat ini.


“Bolehkah aku memelukmu untuk kali ini saja?” tanya Servio pelan.


Tangan Ree yang mengelus pucuk kepalanya terhenti, Ree mungkin merasa takut atau cemas, namun orang yang tersakiti seperti ini tidak mungkin Ree abaikan. Karena itu ia mengangguk memperbolehkan Servio untuk meraih tubuhnya dan memeluknya erat-erat hingga membuat Ree sendiri kaget dengan betapa eratnya Servio memeluknya. Seolah tak ingin melepasnya setelah ini.


Tapi, apa yang bisa Ree perbuat? Ia hanya bisa menepuk pelan punggung tegap pria itu untuk menghiburnya.


*


*


*


“Baiklah, apa ada yang bisa memberi penjelasan terkait betapa kacaunya kalian saat ini?” Liliana bertanya pada dua tersangka dengan menepuk-nepuk gagang sapu di tangannya saat ini mempertanyakan keadaan sepasang wanita yang basah kunyup datang ke rumah.


Liliana dan Frigid berada di ruang tamu ketika Servio dan Ree datang membuka pintu dan menampakkan betapa kacaunya kedua orang itu.


Frigid tidak bisa memberi pembelaan karena ia tahu Ree mengajak Servio untuk berbicara di luar, ia hanya tahu itu dan tidak tahu apa yang terjadi pada keduanya.


“Terutama kamu Servio… aku harap kamu tidak lagi mengacaukan Ree.” Liliana menunjuk tersangka utama dengan gagang sapu untuk meminta penjelasan dari Servio.


Namun dengan cepat Ree menahan gagang sapu itu, menyingkirkannya dari hadapan wajah Servio sembari tersenyum.


“Liliana… aku dan Servio sudah berdamai!!”

__ADS_1


 


To Be Continued.


__ADS_2