We And Problems

We And Problems
Chapter 10 : Keputusan Viovarand


__ADS_3

Ree tidak tahu bahwa Frigid adalah orang yang gigih dan pantang menyerah, meski Ree tidak mengerti kenapa Frigid kukuh mengajak Ree untuk bergabung dengan senat.


“Aku tidak mungkin menawarkannya jika tidak memiliki maksud, intinya kamu nampak berpotensi untuk bergabung.” ucap Frigid tenang.


“Sejujurnya dalam beberapa tahun ini, dua bersaudara Heittblood tidak pernah seakur sekarang. Bahkan keduanya pernah terlibat perkelahian yang cukup hebat.” ucap Frigid sembari berjalan mendekati Ree dan tentu saja Ree akan melangkah mundur untuk tetap menjaga jarak.


“Tidak bisakah kamu berbicara tanpa mendekat?” tanya Ree cemas.


“Lalu aku tidak ada hubungannya dengan dua saudara itu.” lanjut Ree.


“Tidak, berkatmu mereka bisa akur.”


Seperti yang Ree minta, Frigid menghentikan langkahnya dan tetap menjaga jarak dengan Ree.


“Jika kamu tidak terlibat, mungkin mereka akan tetap perang dingin entah sampai kapan.” ucap Frigid.


“Perang dingin? mereka hanya salah paham satu sama lain. Aku bahkan belum bertemu dengan keduanya setelah hari itu.”


Ree ingat betul bahwa setelah makan siang bersama Viovarand beberapa hari yang lalu, ia belum bertemu dengan salah satu dari mereka di kelas ataupun di koridor.


“Itu karena Viovarand langsung mengikuti pelajaran menjadi penerus keluarga dan lulus dengan cepat dari akademi. Tepat setelah makan siang bersamamu.” jelas Frigid.


“Benarkah?! Secepat itu bisa lulus tanpa menunggu yang lain?” tanya Ree kaget. Ia tidak tahu bagaimana Marco dan Viovarand bisa akur seperti yang Frigid katakan dan kini Ree malah mendengar bahwa Viovarand telah mengambil keputusan yang cukup besar.


Ia bahkan harus menghabiskan setidaknya setengah tahun untuk lulus dari akademi.


“Untuk murid sepintar dan setangkas dirinya lulus lebih dulu bukan masalah. Itu juga berkatmu.” jelas Frigid.


“Tidak, aku tidak terlibat apa-apa dengan mereka.”


Ree tidak merasa bahwa ada peran dirinya pada keputuran Viovarand. Ia hanya memberi saran serta pandangannya ketika Marco menjelaskan masalah dengan Viovarand.


“Tetapi pasti ada yang kamu lakukan pada Marco sehingga dia bisa mengambil langkah.” ucap Frigid yang masih belum menyerah.


Ree kembali mengingat apa yang telah ia katakan pada Marco.


“Aku hanya menyemangatinya.” jawab Ree ringkas. Gadis ini bahkan ingat-lupa dengan apa yang telah ia katakan pada Marco.


“Tetapi tetap saja aku membutuhkanmu mengisi senat.”


“Kamu tetap tidak menyerah ya, meski sudah dialihkan pembicaraannya.” ujar Ree heran.


“Karena tujuanku berbicara denganmu hanya satu.”


Ree jadi bingung membedakan antara gigih dan keras kepala. Manusia di depannya saat ini benar-benar nampak kukuh meski sebagian besar perkataannya terdengar tanpa emosi.


“Jika kamu ingin tahu, Alexander Northway juga bagian dari senat. Ia adalah ketua divisi Keamanan.”


Seolah seperti magnet, topik pembicaraan yang di bawa Frigid membuat Ree tertarik untuk mendengarnya lebih lanjut. Mendengar nama Alexander di sebut, membuat Ree mengingat wajah kesulitan Liliana ketika menghadapi pria itu. Juga bagaimana pria itu berubah di depan Ree.


“Aku tidak akan memberi detailnya pada orang luar. Karena itu privasinya, namun aku tidak melarang jika kamu mendapat informasi dari matamu sendiri.”


Ree langsung mengatup mulutnya ketika Frigid mengucapkan kode ‘jika kamu ingin tahu lebih lanjut, maka bergabung dan lihat sendiri’ cukup membuat Ree kesal.


“Aku bukan bertanya untuk diriku sendiri, karena aku juga baru mengenalnya. Ini karena temanku.”


“Sudah ku katakan, aku tidak akan membicarakan privasi orang lain.”


Kali ini Frigid yang gantian untuk menjual mahal.

__ADS_1


“Kamu menyebalkan.” timpal Ree terus terang.


“Terima kasih.” balas Frigid.


“Baiklah, tetapi aku tidak ingin terlalu banyak kerjaan.”


Ree tidak tahu keputusannya saat ini benar atau salah untuk hidupnya ke depan. Namun ia benar-benar tidak pandai dalam bernegoisasi dengan orang sekeras kepala Frigid. Pria ini ternyata memiliki banyak kartu untuk membujuk Ree, meski Ree tidak tahu apa yang ada di dalam dirinya yang dibutuhkan oleh Frigid. Karena keputusannya untuk bergabung dengan senat tidak lain adalah untuk membantu Liliana menghadapi Alexander. Ia harus tahu kenapa Liliana bisa dikucilkan dan diganggu oleh beberapa murid hanya karena Alexander ingin berteman dengannya.


*


*


*


Ree menghela napasnya karena ia lelah telah mengikuti arahan untuk pelatihan para calon anggota senat dalam beberapa hari ke depan. Arahan itu tepat setelah kelas selesai hingga membuat Ree harus kembali ke asrama ketika langit sudah jingga dan sebentar lagi akan gelap karena pegunungan akan menutupi matahari.


“Hei.”


Langkah Ree terhenti ketika ia percaya bahwa ada orang yang memanggilnya meski ia tidak tahu siapa.


Ree terkejut ketika melihat siapa yang memanggilnya karena baru pertama kalinya.


“Namamu Ree bukan?” tanya Alexander yang memanggil Ree sebelum gadis itu ingin keluar dari kawasan akademi menuju asrama.


Ree melihat ke sekeliling dan tidak ada satupun orang selain ia dan Alexander di jalan pulang itu.


“Ada apa?” tanya Ree bingung, itu karena ia ingat bagaimana Alexander mengabaikan ucapan terima kasihnya di perpustakaan dan tatapan pria itu di kelas.


“Itu, bagaimana mengatakannya ya.” Alexander tiba-tiba berubah menjadi salah tingkah ketika ia sudah berhadapan dengan Ree dan tak lama pria yang memiliki bola mata hazel itu menarik napasnya panjang.


“Apa kamu adalah teman dekat Liliana?” tanyanya setelah beberapa detik diam dan kebingungan.


“Apa?! Ia mengikuti kelas Berburu?! Bukankah itu berbahaya!”


Dibanding kelas Berburu, Ree lebih merasa adanya bahaya pada Alexander. Itu terdengar seperti seorang maniak.


“Aku tidak bisa melarang siapapun untuk masuk ke dalam kelas berburu, lagi pula Liliana hebat.” ucap Ree.


“Ree?”


Kali ini siapa lagi yang memanggilnya? Ree memutar kepalanya untuk melihat siapa yang menegurnya.


“Viovarand?” tanya Ree.


“Barang-barang itu?” tanya Ree sembari menunjuk koper yang dibawa oleh Viovarand dan beberapa pelayannya di belakang.


“Kalian bisa pergi duluan.” ucap Viovarand memberi intruksi kepada para pelayannya untuk pergi duluan.


“Ree, aku pergi dulu.” pamit Alexander dan meninggalkan Ree berdua dengan Viovarand.


Ree yang masih bingung dengan situasi menjadi linglung dan mengiyakan saja hingga ia sadar bahwa ia berdua bersama Viovarand di tengah jalan batu bata selebar dua meter itu.


“Terima kasih Ree, berkatmu aku bisa mengatakan yang sebenarnya pada Marco. Begitu juga dengan dia.” ucap Viovarand setelah mengajak Ree untuk duduk di salah satu bangku taman yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.


Jika Ree bisa memberitahu, hal yang sedang ia alami saat ini bukanlah hal yang menyenangkan. Sedari tadi ia diam dan meremas tangannya yang sudah berkeringat karena bertemu Viovarand membuatnya ingat kejadian yang tidak mengenakkan meski semuanya sudah selesai.


“Aku tidak berbuat apa-apa. Juga, aku tidak menyangka jika kamu akan lulus secepat ini.” ucap Ree memberanikan dirinya untuk menatap lawan bicara yang cukup ia takuti itu.


“Banyak yang terjadi dan ini merupakan keputusan ayah meski banyak pro dan kontra. Namun jika bukan karena dukungan Marco, mungkin aku tidak bisa.”

__ADS_1


Ree pikir hal itu bagus, Marco sudah bisa mengutarakan apa yang ia pikirkan dengan jujur dan berdampak bagus.


“Itu berarti kamu punya kemampuan yang diakui, Marco juga mengagumimu dan mendukungmu. Maka ia tidak masalah, ia di sini pun ingin melakukan apa yang mampu ia lakukan untuk dirinya sendiri tanpa ingin membebani siapapun.” ucap Ree.


Meski sulit, kadang kejujuran untuk mengatakan apa yang dipikirkan itu adalah hal penting. Marco sudah melewatinya begitu juga dengan Viovarand. Belenggu yang ada di dalam Viovarand itu sudah dipangkas habis hingga meringangkan langkahnya untuk mengambil keputusan.


“Ini.” ucap Viovarand sambil meletakkan sebuah sapu tangan berwarna merah di atas punggung tangan Ree.


“Kenapa?” tanya Ree bingung.


“Kamu nampak berkeringat hebat, kupikir itu bisa membantu.”


Ree ingin tertawa konyol saat ini, penyebabnya ada di depannya sekaligus yang menolong.


“Te-terima kasih.” ucap Ree sambil menyeka keringat yang ada di dahi dan telapak tangannya.


“Aku akan mencucinya dan menitip pada Marco.” timpal Ree.


“Tidak perlu, simpan saja. Juga, apa kamu mengenal Alexander?” tanya Viovarand seolah banting setir bahan pembicaraannya ke arah lain.


“Aku baru bertemu dengannya hari ini di kelas.” jawab Ree.


“Jangan dekat-dekat dengannya, dari dulu aku tidak suka dengannya.”


Ree membulatkan matanya menatap lawan bicara tak percaya dengan apa yang baru saja di dengar oleh telinganya.


“Aku tidak tahu alasannya, tetapi kami baru mengenal satu sama lain hari ini.” ucap Ree.


Viovarand langsung terdiam dan seolah baru tersadar bahwa ia mengucapkan sesuatu yang aneh.


“Ma-maaf! Aku tidak bermaksud lain, aku hanya memberitahu bahwa aku tidak suka dengannya dan masalah jangan dekat dengannya itu karena kamu akan kesulitan menjalani hari-hari disini karena para penggemar garis kerasnya. Jika bisa dikatakan, Alexander itu seperti sesuatu yang hanya boleh dilihat namun tidak untuk disentuh atau didekati.” jelas Viovarand.


“Itu terdengar seperti hukum alamnya dan sedikit  mengerikan.” komentar Ree.


Viovarand hanya tersenyum menanggapi ucapan Ree. Pria itu seolah sudah banyak berubah semenjak kejadian dengan Marco atau mungkinkah itu adalah wataknya yang sebenarnya.


“Ah, aku merasa jika di kafetaria kemarin aku kurang melakukannya dengan benar.”


Tiba-tiba Viovarand menurunkan tubuhnya dari bangku dan berlutut di depan Ree sembari meraih tangan gadis pemilik surai coklat gelap itu.


Semuanya terjadi begitu cepat, tahu-tahu Viovarand sudah berada di depan lututnya dan membuat benak Ree terkejut diperlakukan seperti ini.


“Aku ingin minta maaf karena perbuatanku yang menyakitimu, aku bahkan mengancammu dan berpikiran buruk tentangmu. Aku menyadari bahwa itu kesalahan terbesarku hingga membuat Marco marah dan dirimu sakit.” ucap Viovarand sembari mengecup punggung tangan Ree.


Jangan tanya bagaimana keadaan Ree, ia sudah merinding dan ingin segera melompat kabur dari hadapan Viovarand.


“Be-benarkah?? Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, tolong bangunlah. Aku harus segera kembali ke asrama untuk makan malam.” ucap Ree sembari membantu Viovarand untuk kembali berdiri.


“Benar juga! Maafkan aku. Baiklah, aku pergi dulu. Sampai jumpa Ree, semoga kita bertemu lagi.”


Ree hanya melambaikan tangannya pelan sembari tersenyum tipis sembari menahan batinnya yang sudah ketakutan setengah mati hingga membuat keringat membasahi punggungnya dan mungkin mengenai pakaiannya. Bahkan Ree merasa punggungnya sangat dingin karena angin sore yang berhembus.


Sekejap setelap punggung Viovarand menghilang dari pandangannya, Ree langsung terduduk di bangku dan menghela napas cukup panjang sembari menatap tangannya yang dikecup oleh Viovarand belum lama itu. Berkat pria itu, kedua tangan Ree bergetar hebat dan berkeringat dingin. ia pun langsung mengelap kering kedua tangannya dengan sapu tangan yang diberikan Viovarand padanya.


Ree memang sudah beranggap bahwa Viovarand bukan orang jahat, namun tetap saja karena kelainan yang Ree alami membuat semuanya berantakan.


“Ini aroma parfum Viovarand.” guman Ree ketika ia mengendus sapu tangan tersebut karena tercium wangi segar dari jeruk dan mint.


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2