We And Problems

We And Problems
Chapter 16 : Masalah dimana-mana


__ADS_3

Hening cukup lama ketika Ree meminta Servio untuk melompat sepuluh kali tanpa alasan yang dijelaskan.


“Tunggu, kenapa aku harus mengikuti perkataanmu?” tanya Servio heran.


Ree menoleh pada Frigid dan Alexander yang juga tidak dapat memahami maksud perkataan gadis itu. Tiba-tiba Ree maju mendekati Servio dan langsung berlutut di depan kakinya sembari menyingsing cukup tinggi ujung celana kaki kiri pria itu dan memperlihatkan kejanggalan yang Ree rasakan.


Mungkin Ree tidak memahami lebih dalam tentang luka atau cedera, namun ia bisa tahu dari cara berdiri Servio yang sedikit aneh. Kaki kiri pria itu sejak tadi seolah digantung dan tidak memijak tanah dengan nyaman. Jika Ree hanya menilai dari penglihatannya saja maka sama saja asal tebak. Maka Ree ingin melihat bagaimana Servio melompat. Sejujurnya Ree buruk dalam menginterogasi seseorang dan malah membuat orang itu melakukan hal yang konyol.


“Kamu tidak bisa membawa rusa ini ke perkemahan, biar Frigid dan Alexander yang menggantikan kalian membawanya. Ayo kita kembali.” ucap Ree sembari kembali bangkit berdiri dan mulai memimpin jalan untuk teman-temannya.


Seperti yang sudah diintruksikan, Frigid dan Alexander menggantikan adik kelas mereka membawa hewan buruan sementara Servio dibantu oleh rekannya untuk berjalan dan hanya diam menatap Ree yang sudah berjalan di depan sembari membuka jalan.


*


*


*


“Nghh,” Ree merentangkan kedua tangannya ketika keluar dari tenda wanita untuk bersiap makan malam. Tubuhnya terasa begitu lelah dan ingin istirahat secepatnya, setiap minggu jika harus melakukan kegiatan seperti ini mungkin lama-lama Ree akan benar-benar mencapai batasnya.


Ia beranggapan seperti itu karena ada saja hal yang terjadi tanpa bisa ditebak sebelumnya. Hari ini sudah cukup baginya untuk menahan diri dan tetap tenang, di lain sisi ia ingin menjauh namun ada saja keadaan dimana ia tidak bisa melihat orang lain kesakitan atau berada di dalam masalah.


Sejujurnya Ree yang berada di dalam masalah itu sendiri.


“Kira-kira apa makan malam kalian?” tanya Maglina pada Ree ketika mereka hampir mendekati tenda makan.


“Kami banyak menangkap ikan sungai siang tadi, aku rasa cukup untuk malam ini.” jawab Ree ketika mengingat mereka cukup bekerja keras untuk hari ini.


“Ree, kamu tidak diganggu oleh mereka? Jika iya, katakan saja padaku.”


Nyatanya kekhawatiran Liliana sejak hari dimana Ree memiliki sedikit masalah dengan Servio tidak kunjung reda, sebaliknya rasa cemas itu semakin bertambah dengan mengetahui anggota kelompok Ree.


Sejujurnya Ree tidak nyaman dengan keberadaan Servio dan ia telah mendiami Alexander beberapa hari ini. Ree juga tidak ingin membuat Liliana cemas, karena hal ini masih bisa ia tangani dengan dirinya sendiri.


Makan malam itu dilewati dengan kesunyian satu sama lain. Pada dasarnya Ree memang tidak peduli dengan komunikasi di kelompoknya selama tidak ada kesalahan pahaman antar satu sama lain, mungkin yang membuatnya sedikit heran adalah diamnya Servio yang tidak menggodanya dalam hal-hal kecil. Ree bersyukur akan hal itu.


*


*


*


Seperti biasa keesokan harinya ketika kelas Berburu sudah usai, maka para murid akan kembali ke akademi dan istirahat sebentar sebelum melanjutkan pelajaran. Lagi-lagi kedatangan rombongan kelas Berburu itu menjadi hal yang menarik perhatian seorang pangeran yaitu Yohan. Kali ini kedatangan pria itu sedikit mengejutkan Ree karena jelas disadari bahwa pria bersurai blonde itu menatapnya lebih dari tiga detik. Itu sejarah waktu yang cukup lama bagi Ree untuk menatap seseorang.


“Apa kamu ada yang ingin dibicarakan?” tanya Ree ragu karena ia tidak bisa sepercaya diri itu untuk mengakui bahwa ia sedang ditatap.


Mendengar pertanyaan Ree, membuat Yohan tersentak dan menjadi bingung seketika. Awalnya ia hanya heran dengan keberadaan Ree di kelas Berburu dan mendapat hewan buruan, juga ketika bertemu dengan gadis itu di kandang kuda beberapa hari yang lalu.


“Ree, ayo pulang ke asrama.”


Yohan tidak sempat mengucapkan satu patah kata dari mulutnya karena Liliana menyalip lebih dulu untuk menarik lawan bicaranya pergi dari hadapannya.


“Apa kamu ingin bicara dengan Ree?”


Yohan menoleh, menatap Frigid yang sudah bersiap untuk kembali ke asrama dan wajah pria itu terlihat sangat kelelahan mengingat banyaknya aktifitas luar ruangan yang menguras tenaga.


“Ah, tidak begitu ingin. Kamu ingin kembali ke asrama? Aku ikut.” ujar Yohan sembari mengikuti langkah Frigid.


Sementara itu di sisi lain, ketika semua orang sudah kembali ke kesibukannya masing-masing, Alexander masih menyelusuri lorong gedung B mengikuti langkah Millesimun yang menuntunnya menuju sebuah ruangan pribadi.


“Saya hanya bisa mengantarmu sampai di sini.” ucap Millesimun lalu pergi meninggalkan Alexander yang masih berdiri di depan pintu besar yang masih tertutup rapat itu.


Setelah mengucapkan terima kasih pada Millesimun, tangan Alexander perlahan naik dan memegang gagang pintu lalu memutar knop dari tembaga itu sehingga memperlihatkan sebuah ruangan dengan isi beberapa lemari buku, sebuah meja dan beberapa kursi yang salah satunya sudah diisi oleh seorang pria paruh baya.

__ADS_1


“Bagaimana kabarmu Alex?”


Pertanyaan itu seolah penuh rindu, namun terdengar tanpa arti ketika tiba di telinga Alexander. Kedua matanya terlihat tidak nyaman ketika melihat sosok pria paruh baya yang nampaknya sudah menunggu lama kehadirannya di ruangan itu.


“Aku baik-baik saja ayah.” jawab Alexander singkat.


Alexander masih berdiri di depan pintu ketika pria yang ia panggil ayah itu mendekatinya sehingga bayangan tubuh pria itu menimpa Alexander. Kedua mata Alexander hanya melihat ke ujung sepatu lapangannya yang sedikit berlumpur karena baru kembali dari perkemahan.


‘Plak!’


Tanpa kata, tanpa ancang-ancang bahkan tanpa alasan yang terlebih dahulu dijelaskan tiba-tiba saja pipi kanan Alexander sudah merasa sangat perih akibat telapak tangan ayahnya yang melayang begitu saja ke wajahnya beberapa detik lalu. Pandangan Alexander sempat kabur namun berhasil ia bertahan agar tidak jatuh.


“Apa kamu tahu kesalahanmu kali ini?” tanya kepala keluarga Northway itu pada Alexander.


“Aku belum memberi laporan pada ayah tentang putra keluarga Cali.” jawab Alexander.


Nampaknya jawaban itu benar hingga membuat sang ayah mundur beberapa langkah. Sementara Alexander langsung memeriksa ujung bibirnya yang sedikit perih dan ternyata sedikit terluka di sana. Tidak ingin terlalu menggubrisnya, Alexander memilih mengikuti langkah ayahnya yang kembali ke tempatnya semula sebelum kedatangan Alexander.


“Nampaknya kamu sibuk sekali akhir-akhir ini. Apa kamu lupa tugasmu dikirim ke akademi ini?”


Alexander mengangguk.


“Aku akan mengingatnya ayah. Sejauh ini tidak ada hal aneh, semenjak ia menyetujui sistem campuran akademi ia hanya fokus pada kepentingan program. Tidak ada gelagatnya menunjukkan bahwa ia akan mengacau rencana ayah dan tuan Cali.” ucap Alexander mantap.


Ayahnya nampak mengangguk dan mengerti, namun tetap saja tidak bisa lengah begitu saja.


“Kamu tahu jika kamu kehilangan dia dari pandanganmu, kamu yang akan menggantikan dia.”


Alexander sempat mematung di tempat setelah ayahnya menyelesaikan kalimat terakhirnya sebelum pergi dari ruangan itu. Kalimat itu terdengar seperti ancaman, namun wajah Alexander jelas saja memperlihatkan betapa jijiknya ia dengan kata ‘menggantikan’ itu.


*


*


*


“Ree, aku sudah tiba di depan kelasku.” ucap Ghea sembari berhenti di depan pintu kelasnya.


Ree dengan mata sayunya menatap papan nama kelas dan mengangguk sembari melanjutkan perjalanannya yang terbilang sangat pelan itu.


‘Duk!’


“Maaf,”


“Tunggu Ree.”


Ree awalnya hanya menatap lantai dan tidak sengaja menabrak orang di depannya, ia tidak ingin memiliki banyak masalah namun murid yang ia tabrak menahan dirinya untuk tidak pergi dulu dengan menghalangi jalan Ree dengan tubuhnya yang tegap itu.


“Ada apa Frigid?”


Dari suaranya Ree memang sudah bisa menebak, nada suara yang datar dan tidak bergairah itu tidak ada pemilik lain selain Frigid. Belum lagi mata yang sering Ree katakan seperti ikan mati itu, terlihat penuh misteri.


Satu-satunya yang bisa menyesuaikan hanya senyumannya. Meskipun Ree tidak sepenuhnya percaya bahwa Frigid bisa benar-benar tersenyum tanpa maksud tertentu.


“Profesor tidak bisa datang hari ini, jadi kelasnya dibatalkan.”


Ree masih dapat memproses pesan yang disampaikan Frigid. Ini berarti menguntungkan baginya karena ia ingin kembali ke asrama dan tidur.


“Lalu, aku ingin bicara denganmu.”


Sebelum Ree mengatakan akan pergi, perkataan Frigid satu langkah lebih cepat dari tindakan Ree.


Memang tidak mengherankan bagi Ree jika pria itu sering kali mengatakan atau melakukan hal yang membuat Ree mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


Seperti saat ini, dimana Ree sedang menatap heran papan nama yang tertera di atas daun pintu sebuah ruangan yang mana menjadi tempat Frigid ingin bicara dengannya. Ia tidak mengerti, kenapa dari semua tempat harus di ruang kesehatan.


“Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Ree.


Frigid memutar tubuhnya, menatap lurus pada gadis yang baru saja menutup kembali pintu ruangan dan maju beberapa langkah mendekati Frigid.


“Aku akan jujur saja padamu,” ucap Frigid.


“Selama belum terlambat, kamu bisa keluar dari akademi ini dan kembali ke akademi lamamu.” lanjut Frigid tanpa ingin berbasa-basi.


Ree sempat tertegun, tiba-tiba diajak berbicara dan topik pembicaraannya sangat tidak terduga seperti ini. Arah pembicaraan ini tidak lain adalah kecurigaan Frigid terhadap apa yang dimiliki Ree.


“Aku tidak mungkin berhenti begitu saja jika tanpa alasan yang jelas.”


“Tanpa alasan yang jelas? Bukankah itu sudah nyata terlihat? Nona Lumen, akan sangat tidak sopan membicarakan kekurangan seseorang.”


Ucapan barusan sedikit tajam bagi Ree hingga membuat percikan rasa perih dalam hatinya ketika mendengar.


“Akan sangat aneh jika salah satu murid rekomendasi mengundurkan diri tanpa alasan yang konkrit. Aku tidak berniat untuk berhenti, maaf.”


Sejak awal Ree terpilih, ia sudah berulang kali memikirkan risiko yang akan ia hadapi ketika masuk ke Akademi La Priens. Ia tahu kosekuensinya menghadapi para murid laki-laki dengan keterbatasannya. Meski harus menahan rasa mual maupun jijik, sulit bernapas, hingga debaran jantung yang tidak menentu akibat panik dan ketakutan, Ree selalu ingin melampaui keterbatasan dirinya di sini karena dari awal ia sudah membulatkan pilihannya.


Lalu hari ini ia diminta keluar? Semudah itu? Ree ingin tertawa.


“Aku tidak tahu kenapa kamu memintaku keluar, apa aku memiliki masalah ketika masuk akademi ini? Aku rasa aku tidak memilikinya.” Ree menentangnya. Tentu saja jelas begitu, ia tidak ingin semua rasa kesakitannya tidak menghasilkan apa yang ia inginkan.


“Sejujurnya kamu mengganggu, mungkin tidak untuk saat ini. Namun di hari kedepannya tidak ada yang tahu. Keterbatasanmu ketika menghadapi lawan jenismu sangat berbeda, itu akan menghambat tujuan akademi yang ingin menjadi tempat pendidikan campuran.” jelas Frigid.


Ree tidak habis pikir tentang bagaimana pria itu menyampaikan argumen yang terdengar menyakitkan dengan wajah santainya. Itu membuat Ree ingin mengumpat namun tetap ia tahan demi kebaikan bersama.


“Aku di sini bertanggung jawab dalam proses penetapan status akademi, aku tidak bisa membiarkan hal-hal yang menghambat perpindahan status akademi begitu saja, karena dapat berakibat fatal.” lanjut Frigid.


Ree mengangguk saja, mencoba memahami perkataan Frigid. Sungguh menyebalkan ketika tahu bahwa Frigid merupakan orang yang cukup penting dalam transisi status Akademi La Priens. Namun bukan berarti ia ingin menerima begitu saja.


“Jika pikiranmu begitu, meski La Priens sudah menjadi akademi campuran kelak, tetap saja akan kalah dari akademi campuran biasa.” ucap Ree tanpa ragu.


“Aku harap kamu mengerti dengan perkataanmu barusan.” timpal Frigid tidak terima.


Tentu saja Frigid tidak bisa menerima jika La Priens dibandingkan dengan akademi campuran biasa di kerajaan, karena dari kualitas La Priens sudah jelas lebih unggul dalam segi apapun.


Menanggapi ucapan Frigid justru membuat Ree tersenyum miris.


“Aku tidak akan menjelaskannya karena aku pikir seorang murid asli La Priens pasti bisa menemukan jawabannya sendiri, juga aku tidak berniat berhenti di tengah jalan.” ujar Ree dan tidak ingin menunggu tanggapan dari Frigid, gadis itu langsung memutar tubuhnya dan keluar dari ruang kesehatan.


Satu tahun, hanya satu tahun saja. Ree tidak meminta lebih dan tidak ingin menetap lebih lama lagi di La Priens. Kelemahannya saat ini mungkin sudah diketahui oleh orang lain selain dirinya, namun bukan berarti dapat menghentikan langkah untuk berhenti. Ree tidak berharap Frigid dapat mengerti dirinya, namun setidaknya cukup diam dan tidak memberikan Ree masalah sudah lebih dari cukup. Sisanya Ree bisa menanganinya.


Frigid masih di ruang kesehatan, memutar tubuhnya dan langsung merebahkan dirinya pada ranjang untuk melepas penat sebentar. Kelas Berburu cukup menghabiskan tenaganya, tugas-tugas senat dan lainnya juga banyak memakan dirinya secara perlahan. Setidaknya ia masih bisa melihat secara jernih langit-langit ruangan dan sosok yang datang menghampirinya, yaitu Alexander.


“Nampaknya kamu dipukul lagi.”


Frigid hanya melirik sedikit pada Alexander namun seolah sudah mengetahui apa yang terjadi dengan pria itu.


“Aku lupa memberi laporan padanya minggu lalu,” ucap Alexander sembari mencari kotak obat di sebuah lemari yang ada di ruangan itu.


“Apa kamu sendirian? Tidak ada dokter di sini.” tanya Alexander.


“Seperti yang kamu lihat. Lagi pula tidak ada hal penting yang harus kamu laporkan. Aku tidak melakukan hal aneh.” Frigid bangkit duduk di ranjang dan melihat Alexander sedang mengobati sudut bibirnya yang berdarah itu.


“Aku berniat untuk tidak melakukannya, namun tetap saja dituntut. Lalu, apa kamu melihat Ree?” tanya Alexander tanpa melihat ke arah Frigid yang masih duduk di pinggir ranjang. Sejujurnya Alexander sempat melihat Ree keluar dari ruang kesehatan dan malah bertemu dengan Frigid, jelas saja mereka berdua ada sesuatu.


“Aku akan mengembalikan gadis itu ke akademi lamanya.”


 

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2