We And Problems

We And Problems
Chapter 5 : Heittblood bersaudara


__ADS_3

Malam ini semua makan malam benar-benar dimasak dari hasil buruan menjadi bermacam-macam makanan yang menggugah selera bagi mereka yang kelelahan setelah menjalani kelas yang berat itu.


“Apa kamu sudah memanggil Ree?” tanya Liliana ketika melihat Maglina datang sendiri.


“Dia mengatakan akan menyusul sebentar lagi.” jawab Maglina lalu duduk di dekat kelompoknya.


Liliana hanya terdiam setelahnya lalu melanjutkan kegiatannya untuk makan.


“Nampaknya Viovarand dan Marco juga terlambat.” ucap salah satu anggota kelompok dua ketika masih melihat tiga kursi kosong di meja mereka.


Menanggapinya sebagai ketua kelompok, Frigid mau tak mau harus bergerak. Ia setidaknya harus tahu alasan tiga orang itu datang terlambat dan tidak makan malam.


*


*


*


Ree masih berdiam di sisi tenda yang tidak jauh dari Viovarand dan Marco berada. Niat hati ia ingin mengajak dua orang itu untuk pergi bersama ke tenda makan, namun situasinya tidak bisa ia tinggalkan begitu saja dan tidak bisa ia tiba-tiba ikut menengahi. Ree merasa terpaku di tempat dan telinganya tidak dapat ia hentikan untuk menguping.


Ia sadar ini kelakuan buruk, namun Marco nampak kerepotan menangani teguran Viovarand.


“Lebih baik kamu berhenti saja dari kelas ini dan cari kelas lain yang sesuai dengan kemampuanmu.” ucap Viovarand.


Itu terdengar sangat menyakitkan ketika apa yang ingin dilakukan diri sendiri malah terlihat tidak cocok di mata orang lain.


Baru saja Ree ingin menengahi, mulutnya tiba-tiba langsung disumpal oleh sebuah telapak tangan dan tubuhnya langsung ditarik oleh seseorang yang sama.


“Hmmp!”


Serentak dengan suara Ree, kedua laki-laki yang sedang mengobrol itu langsung memusatkan perhatian pada sisi tenda dan membuat Viovarand langsung memeriksanya. Namun tidak ada siapapun disana.


“Haa, lebih baik kamu pikirkan lagi dan jangan mempermalukan nama keluarga.” ucap Viovarand lalu pergi meninggalkan Marco yang masih menunduk merenungi perkataan Viovarand yang merupakan kakak kandungnya itu.


Sementara itu Ree terdiam menatap punggung pelaku yang membuatnya senam jantung karena panik. Beberapa saat yang lalu ketika ia ingin maju menengahi Viovarand dan Marco, tiba-tiba saja Frigid datang menghentikannya dan malah menyeret Ree menjauhi sisi tenda itu.


Tanpa bicara sedikitpun, ia melepas Ree dan menganggap tidak ada apa-apa. Mungkin hal tadi bukanlah situasi yang harus di tengahi. Namun, Marco terlihat tidak nyaman dan gelisah. Ree memilih untuk tidak terlalu memikirkannya dan masuk ke tenda makan untuk mengisi energi.


*


*


*


Esoknya setelah kelas berburu selesai, akhirnya Ree bisa kembali ke lingkungan akademi yang nampak lebih tenang dan damai di banding hutan belantara. Tidak lupa dengan hewan buruan yang dibawa untuk dijadikan macam-macam produk atau di jual untuk keuntungan kelompok.


Tidak jarang kelas berburu menjadi pusat perhatian karena penampilan mereka dirasa sangat menawan dan jantan.


“Wah, nampaknya Frigid berhasil menambah koleksinya kali ini.” ucap Yohanna tiba-tiba muncul di sisi Yohan yang melihat kedatangan rombongan anggota kelas berburu.


Yohan juga melihat apa yang didapatkan oleh kelompok Frigid dan berjalan menghampirinya.


“Frigid.” Panggil Yohan membuat seluruh anggota kelompok kompak menatap kedatangan laki-laki bersurai pirang dengan kembarannya yang mengikuti dari belakang.


Termasuk Ree yang juga sedang menunggu kereta yang akan mengangkut hasil buruan mereka untuk dibawa pergi dari akademi. Masalah siapa yang membelinya ia tidak peduli karena asal ia bisa mendapat uang dan nilai lebih sudah lebih dari apa yang ia harapkan.


“Apa ini akan langsung dibawa ke kediaman Cali?” tanya Yohanna.


“Itu benar.” jawab Frigid.


“Haah, tebakanku benar. Tuan Cali, kamu benar-benar berhasil mempekerjakan kami untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan. Ini bukan sekali atau dua kali saja kamu menangkap buaya untuk dijadikan peliharaanmu di rumah.” timpal Viovarand dari belakang.


“Lagi pula aku akan membayarnya.” ucap Frigid dengan polos.


“Apa itu benar?” bisik Ree pada Marco dan pria itu hanya mengangguk membenarkan pernyataan Viovarand dan Frigid.


“Setidaknya kita mendapat nilai yang bagus karena ini.” ucap Ree sembari menatap hewan buruan mereka yang sudah diangkut ke kereta.


“Iya, kamu benar.” sambut Marco lalu nampak di sudut mata Ree jika pria itu terlihat murung.


Apa karena ucapan Viovarand semalam membuatnya kepikiran? Ree mungkin tidak suka berinteraksi dengan laki-laki, namun ia harus memaksakan diri setiap hari saat ini. Marco jelas tidak baik-baik saja, namun Ree merasa tidak memiliki hak untuk menanyai itu.


“Marco.” panggil Ree membuat pria itu kembali mengangkat kepalanya dan menatap Ree seperti seekor kelinci karena parasnya yang imut.


Sampai saat ini ia tidak terbiasa berinteraksi dengan laki-laki dan benci melakukannya karena ia tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Di luar dari itu, Ree ingin mencoba sesuatu.


Ree tersenyum.


“Sampai jumpa di kelas berburu minggu depan.” ucap Ree lalu pergi kembali ke asrama untuk berbenah dan mempersiapkan diri pada kelas selanjutnya.


Marco menatap tidak percaya pada punggung yang sudah menjauh dan berjalan bersama Liliana serta Maglina. Jujur saja, ucapan Viovarand semalam sangat menekan mentalnya dan membuatnya kembali memikirkan apa ia harus bertahan atau pergi.


Mendengar ucapan satu-satunya anggota perempuan di kelompoknya membuat Viovarand mendelik tajam padanya dengan pikiran yang sulit untuk di tebak. Sementara Frigid hanya menatap sebentar lalu kembali teralihkan Yohan yang mengajaknya bicara.


*


*


*


Ree benar-benar tidak menyangka kelas berburu akan menguras banyak tenaganya sehingga nampak seperti mayat hidup di mata Ghea.


“Ree, apa kamu masih bernyawa?” tanya Ghea.


Ree menggeleng mencoba menyegarkan pikirannya.


“Aku baik-baik saja, hanya saja sedikit lelah. Habis ini aku harus pergi ke kelas wajib.” jawab Ree sembari menghabiskan makanannya.


“Lalu bagaimana kelasmu?” tanya Ree pada teman sekamarnya itu.


“Kupikir sama saja dengan akademi yang lama. Hanya saja aku dikelilingi dengan lawan jenis, mereka lebih liar dari yang kubayangkan.” jawab Ghea seadanya.


Ree hanya memiringkan kepalanya seolah mengerti tetapi cukup bingung karena ‘liar’ yang dimaksud Ghea itu dalam hal apa?


“Lalu bagaimana denganmu Ree?”


Ree mencoba mengingat-ingat apa yang telah ia lakukan di hari pertama.


“Cukup menyenangkan, terlebih mereka mudah di ajak kerja sama meski kami memiliki macam-macam cerita.” jawab Ree.


“Nampaknya kamu menikmati kelas berburu pertamamu di La Priens nona Lumen.”


Ree dan Ghea kompak menatap seorang laki-laki yang tiba-tiba ikut bergabung dalam obrolan dua gadis itu.


“Ah! Viovarand! Marco!”


“Apa kamu mengenalnya?” tanya Ghea.


Ree mengangguk.

__ADS_1


“Boleh kami bergabung?” tanya Viovarand sementara Marco terlihat begitu gelisah.


“Tentu saja.” Ucap Ree.


Viovarand pun mengambil kursi di samping Ghea sementara Marco di sisi Ree.


“Mereka adalah teman sekelasku di kelas berburu.”


“Viovarand Heittblood.”


“M-marco Heittblood.”


Ree tiba-tiba menatap kedua laki-laki itu secara bergantian.


“Kalian bersaudara?” tanya Ree sedikit kaget.


Viovarand tersenyum lebar.


“Kami tidak mirip bukan?”


Ree memang tidak melihat sedikitpun kemiripan dari Viovarand dan Marco. Mereka sangat berbeda, bahkan penampilan pun tidak mirip.


“Kami bersaudara namun berbeda ibu.” sambut Marco pelan.


“Iya, aku mengerti.” sambut Ghea lalu menyeret tatapannya lurus pada Viovarand yang duduk di sampingnya.


“Apanya?” tanya Viovarand bingung.


Ghea masih menatap Viovarand dengan sorot mata hampa itu.


“Jangan menekan diri melebihi kemampuanmu. Ancaman tidak selalu datang dari hal yang terlihat.”


“Hah!?” sambut Viovarand dengan nada yang cukup tinggi karena merasa dongkol dengan ucapan Ghea.


“Aa!! Maafkan dia! Ghea memang sering berbicara hal yang aneh.” ucap Ree sembari memalingkan wajah Ghea untuk tidak menatap Viovarand. Tiba-tiba Ghea tersentak dan menatap Ree kebingungan.


“Maaf, apa aku mengatakan sesuatu?” tanya Ghea.


Kini giliran Viovarand dan Marco yang bingung.


“Lihat? Sudah kukatakan bukan? Tidak, kamu tidak mengatakan apa-apa.”


“Begitukah?”


Ree langsung mengemas nampan makanannya dan menarik Ghea untuk pergi.


“Kami pergi dulu karena ada kelas, sampai jumpa.”


Ree pun menyeret Ghea yang nampak seperti orang kebingungan pergi dari hadapan dua bersaudara Heittblood itu sebelum suasana menjadi lebih keruh.


“Aku juga pergi.” ucap Viovarand lalu bangkit berdiri meninggalkan Marco sendirian.


*


*


*


Apakah salah jika ingin melakukan hal yang diinginkan meskipun risiko yang didapatkan cukup tinggi?


Nampak Marco sedang mencuci wajahnya di wastafel toilet dan menatap bayangan wajahnya yang sangat pucat itu dari cermin. Ia memang tidak seperti Viovarand, memiliki postur tubuh tegap dan nampak kuat. Tubuhnya memang cukup tinggi namun ia tidak memiliki banyak energi seperti saudara tirinya itu.


Lain halnya dengan Viovarand yang merupakan anak dari istri kedua ayahnya yang memiliki tubuh sehat hingga menjadi kebanggaan keluarga dan diisukan menjadi penerus kepala keluarga.


Marco tidak peduli dengan warisan atau hal itu, namun dalam lubuk hatinya ia sangat merasa terngganggu ketika diremehkan dan dilarang melakukan hal yang ia inginkan.


Ia ikut kelas yang cukup berat dan memerlukan tenaga fisik cukup banyak bukan untuk mengalahkan Viovarand ataupun orang lain. Ia hanya ingin melihat bahwa ia bisa melakukan hal baru.


Marco mengeringkan wajahnya dengan sapu tangannya lalu memakaikan kaca matanya. Berkat ucapan Viovarand semalam, hatinya kini sedang sakit. Terlebih lekat diingatannya, malah murid baru yang bersedia menolongnya.


*


*


*


“Dua saudara itu seperti kamu.” timpal Ghea ketika ia dan Ree berjalan bersama di lorong menuju kelas.


Kali ini apa lagi kata-kata aneh yang akan keluar dari mulut Ghea.


“Kenapa kamu bisa mengatakan hal demikian?” tanya Ree heran.


“Dua dari mereka seperti bulan dan matahari.”


Ree memutar bola matanya malas.


“Bulan dan mataharimu tidak pernah habis ya.” celetuk Ree.


Tiba-tiba Ghea berhenti melangkah tepat di depan pintu kelas Ilmu sihir.


“Begitulah kehidupan, selalu ada dua sisi yang berbeda. Sampai jumpa Ree.” ucap Ghea lalu masuk ke dalam kelasnya meninggalkan Ree.


“Dia selalu mengucapkan salam perpisahan dengan diselingi teka-teki aneh.” timpal Ree lalu pergi melanjutkan perjalanannya menuju kelas.


*


*


*


Sesampai di kelas, Ree langsung mengambil kursi yang kosong di deret kedua dari depan. Dari penglihatannya sejauh ini ia tidak melihat orang-orang yang ia kenal di kelas berburu atau mungkin ia yang tidak terlalu memperhatikannya.


“Nampaknya kita akan lebih sering bertemu di luar dugaanku.”


Baru saja Ree beranggapan tidak ada yang ia kenal. Tiba-tiba dari arah belakang wajah tak asing muncul.


Ree tersenyum sebagai formalitas.


“Halo sekali lagi Viovarand.”


Pria yang memiliki surai kemerahan itu tersenyum lebar dan langsung mengambil posisi duduk di samping kanan Ree yang kebetulan sedang kosong.


“Apa Marco tidak bersamamu?” tanya Ree basa-basi.


“Marco? Ia akan tiba sebentar lagi. Lihat? Baru saja ku katakan.”


Ree mengikuti arah yang ditunjuk Viovarand dengan kedatangan seorang laki-laki dengan wajah imut dan kulit pucat itu tidak lupa dengan kaca mata bulat yang bertengger di hidung Marco.


“Vio!”

__ADS_1


“Ah! Temanku memanggil, sampai jumpa Ree.” ucap Viovarand berpindah tempat duduk ke belakang dan meninggalkan Ree sendirian.


Selepas dari kepergian Viovarand, niat hati Ree ingin menyapa Marco namun jelas sekali bahwa pria itu menghindari tatapan Ree.


Ree sedikit bingung dengan respon Marco, namun kembali ia pikirkan dari awal Marco memang orang yang pemalu. Merasa masa bodoh Ree mengalihkan pandangannya ke kiri dan menemukan seseorang yang juga ia kenal namun tidak ia sadari sejak kapan manusia itu duduk di kursi sebelah kirinya.


“Selamat siang.” sapa Frigid tanpa dosa.


Karena fokus ke Viovarand dan Marco membuat Ree sama sekali tidak sadar bahwa sudah ada orang yang duduk dengan santai di sampingnya, terlebih orang itu adalah Frigid.


“Kamu ikut di kelas bahasa asing juga rupanya.” timpal Ree berbasa-basi.


“Karena itu penting.”


Iya, Ree juga menganggap kelas ini penting. Makadari itu ia mengambil kelas ini.


Kelas berlangsung selama dua jam dan setelah ini Ree rasa jadwalnya sudah selesai dan ingin beristirahat di asrama saja.


“Marco! Apa kamu langsung pulang? Bagaimana kalau kita pergi bermain!”


Dari sekian banyaknya suara yang telinga Ree dengar, ia harus mendengar dari sumber yang paling mencolok. Nampaknya rombongan teman-teman Viovarand itu langsung menghampiri Marco.


“Bagaimana Vio? Apa kamu keberatan?”


Viovarand jelas menatap Marco dengan tatapan datarnya dan tidak tertarik.


“Lakukan saja apa mau kalian, jangan salahkan aku jika ia merepotkan kalian.” timpal Viovarand lalu pergi lebih dulu meninggalkan kelas.


Namun di pihak Marco, ia merasa tidak nyaman dengan ajakan tersebut. Ia jarang beriteraksi dengan lingkaran pertemanan Viovarand karena ia tahu, laki-laki itu berteman dengan siapa saja entah itu berandalan atau anak yang teladan. Seperti saat ini, ia sudah tahu mereka hanya akan memanfaatkannya untuk menjadi ‘pelayan’ karena ia nampak paling lemah,


Ia juga tahu, bahwa Viovarand hanya akan diam menanggapinya.


Melihatnya Ree menjadi ingat bagaimana situasi akademi lamanya. Tidak jarang ia melihat hal seperti ini pada sebuah kelompok.


Ada yang secara tidak sengaja menjadi tertindas dan ada yang sadar betul dan membiarkan dirinya tertindas juga diremehkan.


“Ree, apa kamu tidak pergi?” tanya Frigid membuyarkan lamunan Ree.


Frigid menyadari apa yang menjadi objek perhatian Ree saat ini.


“Bukankah bagus jika mereka mengajak Marco bermain bersama?” tanya Frigid dengan senyumnya yang Ree rasa sangat hambar itu.


“Ternyata kamu sangat perhatian ya.” ucap Ree lalu pamit pergi keluar kelas.


Meski begitu sekali lagi Ree mengingatkan pada dirinya sendiri bahwa apapun yang dihadapi oleh Marco maupun Viovarand bukan urusannya.


Frigid hanya terdiam melihat punggung Ree yang pergi menghilang lalu menghampiri kelompok yang sedang mengepung Marco.


“Apa yang kalian lakukan? Jika seseorang tidak menjawab ajakan lebih dari sepuluh detik, bukankah hal itu menandakan mereka tidak ingin pergi?” tanya Frigid langsung membungkam semua orang dan mengejutkan Marco.


“Frigid, aku tahu kamu adalah ketua senat yang terhormat. Namun bukankah hal ini biasa dan kamu tidak mengurusnya bukan?”


Frigid menatap Marco untuk meminta penjelasan hingga membuat orang yang ditatap bergidik ngeri seolah mengerti dengan arti tatapan kosong milik Frigid.


“B-bukan begitu, maksudku aku ingin ikut. Namun ada hal yang harus kukerjakan.” jelas Marco setelah sekian lama ia membungkam mulutnya untuk tidak bicara.


“Heh! Yang benar saja, apa kamu takut pada Frigid?”


Dengan cepat Marco menggeleng.


“Tinggalkan saja dia, lagipula Vio tidak akan senang jika ia bergabung.”


Iya Marco juga mengerti. Ia memutuskan untuk meninggalkan kelas lebih dulu dari pada berhadapan dengan teman-teman kakak tirinya itu.


“Aku harap kalian dapat menjaga sikap dengan baik, karena sekarang akademi kita bukan seperti dulu.” ucap Frigid lalu pergi.


“Cih! Dasar, anjing kerajaan.”


*


*


*


Untuk hari ini Ree menarik dalam napasnya menatap langit yang begitu cerah hingga sinar matahari tidak tanggung-tanggung menyinari seluruh kawasan akademi. Lalu ia menundukkan kepalanya menatap sepatu hitamnya sembari mengingat apa saja yang sedang dilakukan teman-temannya di Litore. Ree pikir, ia sedang rindu rumah.


Ree melihat kedua tangannya sedang bergetar dan berkeringat dingin menandakan tubuhnya sedang bereaksi karena hal tidak biasa atau pada hal yang ia sangat hindari itu. Beribu kali Ree mensugestikan otaknya bahwa semua hal ini adalah terapi untuknya, namun rasanya percuma ketika berhadapan langsung.


Ia tidak bisa lama-lama di akademi, rasanya jantungnya ingin meledak dan terasa sesak. Ree harus kembali ke asrama dan mengistirahatkan perasaannya. Langkah yang ia buat cukup terburu-buru karena jika terlalu lama dan bertele-tele Ree khawatir ia menjadi panik dan membuat semua orang akan menatapnya aneh.


“Ugh!”


Ree langsung merutuki dirinya karena sempat-sempatnya ia harus bertabrakan dengan seseorang di persimpangan koridor hingga membuat buku-buku yang dibawa orang itu menjadi jatuh.


Ternyata orang yang membawa buku itu adalah Marco, semakin parah Ree menyumpahi dirinya karena ceroboh seperti ini.


“Maaf Marco, biar aku memantumu menyusunnya.” ucap Ree langsung duduk dengan niat hati mengambil buku yang jatuh.


“Tidak apa-apa Ree, aku juga tidak melihatmu lewat.” ucap Marco ikut duduk.


Ree berhasil menyusun tiga buku tebal itu namun tangannya nampak bergetar dan tidak mampu memberikannya pada tangan Marco hingga membuat pria itu merasa ada yang salah dengan kondisi gadis di depannya.


“Ree, kamu baik-baik saja?” tanya Marco.


“Aku baik-baik saja, ambillah bukumu. Aku harus pergi.”


Di mata Marco keadaan Ree tidak baik-baik saja. Gadis itu memang mampu berdiri namun kedua tangannya bergetar cukup hebat.


“Ree, kamu harus ke ruang kesehatan.”


“Tidak, aku baik-baik saja.”


“Di mataku, kamu tidak terlihat demikian Ree. Biarkan aku membantumu.”


Tubuh Ree bergetar cukup hebat ketika Marco berusaha menyentuh pundaknya membuat Marco lebih khawatir dan takut.


“Ree, aku akan menggendongmu.”


“Tidak. Jangan sentuh aku.” Ree langsung menepis tangan Marco untuk menyentuhnya lagi. Ia tidak bisa membuat jantungnya berdegup gelisah seperti ini, kini kakinya juga ikut bergetar hingga membuatnya sulit untuk berdiri.


Marco mengepal tangannya kuat, sejak seharian ini ia sadar betul bahwa ia memang menghindari Ree karena malu. Terlebih Viovarand nampak sengaja mendekati Ree dengan maksud tertentu yang tidak diketahui oleh Marco.


Marco tahu, Ree pasti mengetahui kesengajaan itu dan menjadi seperti ini.


“Aku memang buruk, tetapi biarkan aku menolongmu!”


Tanpa basa-basi Marco langsung melepas bukunya dan mengangkat Ree di depannya.


Sementara Ree sudah dapat memastikan bahwa terdapat kesalahpahaman diantara mereka.

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2