We And Problems

We And Problems
Chapter 70 : Surat Dari Litore


__ADS_3

“Liliana… aku dan Servio sudah berdamai!!”


Liliana seolah tak percaya, ia langsung menjatuhkan gagang sapu yang ia genggam dan langsung menghampiri Servio dengan rasa penasaran juga diselingi kecurigaan yang teramat besar.


“Kali ini ancaman apa lagi yang kamu berikan pada Ree?” tanya Liliana masih tak percaya.


Ree tahu kekhawatiran Liliana lebih dari orang-orang biasa terhadapnya, Ree tidak ingin salah paham semakin berlanjut dan membuat suasana keruh, maka Ree memutuskan untuk menengahi Liliana dan Servio.


“Liliana, aku sudah mengatakan bahwa kami berdamai. Tidakkah itu cukup bagimu?” tanya Ree heran dan menjauhi Liliana dari Servio.


“Kamu benar Ree, mungkin kamu sudah mengatakan damai, aku hanya khawatir saja…” ucap Liliana cukup masuk akal.


“Liliana, aku rasa kamu terlalu berlebihan.” Sambut Frigid berani menyuarakan pendapatnya.


“Frigid… apa yang kamu ketahui?” tanya Liliana heran.


“Aku tidak ingin menginterupsi masalah yang ada pada kalian. Liliana, di luar rasa cemasmu pada Ree, setidaknya kamu harus percaya pada keputusan Ree. Karena itu, Ree mungkin memberi kesempatan untuk Servio agar mereka bisa berdamai seperti dulu.” Jawaban Frigid cukup logis, dimana Frigid tidak akan menginterupsi permasalahan yang ada, karena ia tidak begitu memahami masalah antar keluarga Servio dan Ree. Tapi ketika Ree memutuskan berdamai setelah berbicara dengan Servio itu berarti Ree tidak ingin hubungannya dan Servio kembali buruk.


“Liliana, aku baik-baik saja… aku sudah tahu situasi saat ini. Tapi, aku ingin lebih jelasnya Servio mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.” Ree tidak merasa ketakutan yang sebelumnya menjalar di hatinya lagi. Saat semua orang sudah jujur dengan perasaan masing-masing, membuat Ree bisa melihat dengan jelas perasaan orang itu dan situasi yang ada.


Servio tertegun, ia sejak tadi terdiam menatap Ree yang menjelaskan keadaan yang sebenarnya terjadi. Servio masih saja kaget dan tidak menyangka akan ada maaf dari Ree untuknya. Ini terasa seperti mimpi.


Situasi mungkin tidak berubah, tapi hubungan antar individu di sini sudah diperbaiki dan bisa menjadi motivasi baru untuk bertindak dengan rencana yang lebih matang.


“Luceat sudah mendapat hasil ekspedisinya sejauh ini sampai dimana mereka menemukan bahan baku obat ibuku. Namun yang menjadi masalah adalah tumbuhan itu tumbuh di wilayah Agnus, karena Luceat saat ini berada di perbatasan.” jelas Servio menjabarkan surat yang Luceat kirim.


Ree terdiam sejenak. Ternyata rombongan yang Luceat pimpin sudah sampai lokasi dan hambatan yang mereka temukan tidak semudah itu.


“Karena itu…” Servio menatap Frigid.


“Aku berniat bernegoisasi dengan Frigid yang memiliki hubungan dengan kerajaan Agnus.”


Ree langsung menatap Frigid tak percaya.


“Itu juga yang ingin aku beritahukan padamu Ree. Terkait sumber obat Frigid dari mana ia berasal. Tak lain adalah kerajaan Agnus…” sambut Liliana.


Ree sudah mendengar cerita dari Margaretha terkait hidup Frigid, namun ia tetap saja terkejut tiap kali mendengar hal itu.


“Sudah aku katakan, tidak akan mudah berurusan dengan kerajaan Agnus. Harga yang harus dibayar sangatlah mahal.” ucap Frigid yang tidak akan pernah setuju apapun rencana Servio yang ingin berhubungan dengan ratu Agnesia.


“Meski begitu, itu mungkin urusan Frigid. Kita nampaknya bisa mengambil jalur lain selain memanfaatkan orang menyebalkan ini. bagaimanapun juga Servio, aku masih bertanggung jawab atas apa yang terjadi dan itu juga membawa nama keluargaku. Masalah obat ibumu, pasti ada jalan yang bisa kita lalui. Aku akan menghubungi orang tuaku terlebih dahulu.”


Ree sebenarnya tidak ingin mengatakan kata-kata harapan seperti itu karena keyakinan pada dirinya saja masih samar. Tapi, inilah yang bisa Ree lakukan. Ia tidak bisa membuat Servio mengambil langkah nekat untuk mengikuti jejak Frigid. Terlebih pria itu tidak akan mau dicampuri urusannya.


Ya, Ree sama sekali tidak berminat ikut campur dengan hidup Frigid untuk saat ini.


Karena itulah, Ree berniat menghubungi orang tuanya dan bertanya tentang apa yang bisa keluarganya itu lakukan selain berlayar.


*


*


*


Sementara itu, di lembaga Kementerian Pendidikan yang terletak di Crystallo.


Nampaknya laki-laki dewasa ini tergesa-gesa menyelusuri koridor gedung dimana ia bekerja itu. Bahkan ia tak sempat memakai jasnya dan tidak peduli suhu dingin musim gugur di Crystallo cukup dingin.


Smith tidak peduli akan hal lain.


Pekerjaannya cukup memusingkan dan kadang membuatnya lelah. Ia sudah lama tidak kembali ke kediaman untuk sekedar minum teh bersama ibunya. Namun apa yang ada di tangannya ini merupakan suatu penyemangat dan motivasi baru baginya.


Meskipun ia masih tidak percaya akan mendapatkan surat semacam ini dari Ree.


[Tuan Smith, mungkin kedatangan surat saya sangat tidak terduga. Karena kita sebelumnya sangat tidak akrab satu sama lain. tapi saya menuliskan surat ini karena saya sudah mendengar apa yang sebenarnya terjadi pada adik anda, Frigid.]


[Saya bertemu dengan nyonya Margaretha hari ini dan saya berpikir langsung menuliskan surat untuk anda karena dengan sedikit terburu-buru.]

__ADS_1


[Nyonya Margaretha juga banyak bercerita tentang kebaikan anda dan saya tidak menyangkanya dan hanya mengira anda sebagai pelanggan orang tua saya. Karena itu, tuan Smith… Margaretha mengatakan anda adalah orang yang bisa saya mintai tolong. Datangnya surat ini adalah keinginan saya meminta tolong, saya menutup mulut saya di hadapan Frigid dan hanya akan memberitahukannya pada anda terkait apa yang sudah saya ketahui.]


Smith merasa sangat lucu dan ingin tertawa. Tulisan Ree benar-benar polos dan berterus terang tentang apa yang dipikirkan wanita itu. meski Smith sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan Margaretha dan malah bercerita tentang hal yang cukup dalam.


Nampaknya Smith kurang menakutkan di mata Margaretha, pikir Smith geli.


[Jangan menyalahkan nyonya Margaretha, karena beliau merasa mempercayai saya yang tidak tahu apa-apa ini. Untuk itulah tuan Smith, saya berharap kita bisa bertemu membahas apa yang ada cari selama ini. Setidaknya kita bisa berdiskusi dengan terbuka. Salam, Ree Iuane Lumen.]


“Apa pameran akademi juga akan diadakan di Litore?” Smith tiba-tiba muncul ke ruangan tempat para rekan kerjanya yang mengurus perihal kegiatan pameran akademi untuk para calon murid yang ingin menempuh pendidikan di berbagai akademi di kerajaan.


“Tentu saja Litore masuk ke dalam daftar utama.”


Smith tersenyum mendengarnya, karena itu tidak akan lama lagi ia akan bertemu Ree seperti yang wanita itu inginkan.


*


*


*


Nampaknya perasaan senang itu juga dirasakan oleh salah satu pangeran Pulchra saat ini ketika di tangannya sudah ada dokumen-dokumen bukti terkait untuk menggulir pemerintahan Leafa yang korup itu.


Dengan ini, Yohan selangkah lebih dekat dengan menguasai kota dimana saudara kembarnya sedang menjalankan tugas yang sudah di emban padanya.


“Tunggu sebentar Yohanna, aku akan pergi ke sana secepatnya.” ucap Yohan bersemangat dan dalam waktu dekat ini ia akan pergi ke Leafa untuk menyelesaikan semuanya.


Yohan sama sekali tidak pernah merasa bersemangat seperti ini sebelumnya saat ia ingin melakukan sesuatu untuk seseorang.


Terutama untuk teman yang ia anggap sangat berharga itu.


Namun, seperti yang diketahui. Mau sadar ataupun tidak, telinga dan mata di istana itu ada dimana-mana, baik pada makhluk hidup maupun benda mati.


Kesenangan orang lain tidak selalu menjadi perasaan yang sama dengan orang lainnya. Apa yang membuat Yohan senang itu nampaknya tidak bagi Alexander yang sudah berada di sebuah sisi dinding istana. Dalam diam ia mengamati dan sudah bisa menyimpulkan apa yang Yohan perbuat saat ini.


Tak ada pilihan baginya untuk bergerak.


*


*


*


“Apa kamu akan makan malam di rumah dinas?” tanya Liliana ketika ia akhirnya bisa pulang bersama Ree setelah sekian lama. Karena tempat mereka berbeda jam kerja, membuat Liliana sering kali pulang terlambat.


“Aku tidak berminat untuk memasak kali ini.” ucap Ree langsung mengarahkan matanya pada sebuah restoran yang dan beberapa pedagang kaki lima yang menyuguhkan pemandangan yang menggiurkan untuk dimakan.


“Tanpa kamu jawab, matamu juga sudah berbentuk ikan bakar di kios itu.”


Bahkan langkah kaki Ree tidak lagi lurus dan ingin berbelok ke kios makanan yang menjual berbagai hidangan laut.


“Aku akan langsung pulang.” Ucap Frigid nampak tak berminat, tapi terlambat karena Liliana sudah lebih dulu meraih kerah belakang baju pria itu.


Jujur saja tenaga Liliana sangat kuat hingga Frigid benar-benar dibuat tertahan akibatnya.


“Kamu ingin pergi begitu saja? Ayo kita cari makan sama-sama.”


Itu tidak terdengar seperti ajakan, melainkan paksakan di telinga Frigid.


“Itu benar. Ayo kita makan diluar untuk hari ini.” kali ini bukan Ree, karena wanita itu sudah lebih dulu singgah dan membeli cumi bakar di kios makanan yang tak jauh dari mereka.


Liliana dan Frigid kompak menatap pria yang juga baru saja kembali dari tempat magangnya. Tidak perlu ditanyakan, siapa pemilik surai hitam panjang dan tiba-tiba saja muncul itu jika bukan Servio.


Karena tak sengaja melihat Ree di sekitar kota membuat Servio tidak mengambil jalan pulang dan langsung berjalan ke arah wanita itu sesuai dengan instingnya saja.


“Apa ini, kenapa kamu di sini?” Nampaknya Liliana yang masih tidak bisa menerima keberadaan Servio yang tiba-tiba muncul begitu saja, terlebih tempat mereka magang itu cukup jauh.


Servio menyeringai.

__ADS_1


“Apa ini takdir? Nampaknya seperti itu.” ucap Servio santai dan langsung menyusul Ree yang masih menunggu pesanannya.


“Jika sudah ada Servio, nampaknya aku bisa pulang.” Ucap Frigid yang masih kukuh ingin kembali.


Mana mungkin Liliana lepas begitu saja.


“Tetap saja ia tidak bisa dipercayai. Mungkin kamu sama buruknya dengan Servio, tapi aku tidak bisa membiarkan kalian berdua.” ucap Liliana lalu menyusul Ree karena ia sendiri sudah merasa lapar.


“Bagaimana, aku bisa mengajakmu berkeliling ketika libur nanti.” Ree menawarkan jalan-jalan seharian menyelusuri kuliner Litore pada Liliana.


“Tentu saja aku akan senang. Nampaknya menyenangkan.” Liliana menyambut baik ajakan Ree karena ia belum sempat jalan-jalan berdua dengan Ree.


Ree pun menatap Servio yang berjalan di sampingnya.


“Ah, aku ingat. Ada yang mau aku sampaikan padamu Servio.”


Servio dengan senang hati memusatkan seluruh perhatiannya pada Ree.


“Terkait obat ibumu, aku sudah mendengarnya bahwa tanaman langka itu berada di perbatasan dan di wilayah Agnus dimana membelinya secara legal saja sangat sulit bagi pedagang luar.”


Padangan hangat Servio berubah menjadi sangat serius menanggapi ucapan Ree terkait ibunya.


“Karena itulah, aku ingin bicara langsung pada mereka.” Ucap Servio masih memikirkan opsi pertamanya.


“Aku tidak berpikir itu pilihan yang bagus.” sambut Frigid yang berdiri di samping Liliana.


Frigid menatap keramaian kota yang cukup sesak meski sore sudah berganti menjadi malam.


“Setahuku di pasar lokal tanaman yang kalian maksud itu dijual dengan keadaan segar dan kering. Namun hanya digunakan warga lokal sebagai obat tradisional.” Pengetahuan Frigid tentang Agnus tidak lagi diragukan karena ia mempersiapkan hidupnya selama ini untuk tinggal di kerajaan itu.


“Seperti yang diketahui, bahwa Agnus merupakan kerajaan yang berfokus pada sumber daya alamnya sementara sumber daya manusianya sangat rendah. Dapat disimpulkan mereka tidak memiliki banyak manusia yang mampu mengelola alam mereka itu. selain itu, kerajaan Agnus juga dikenal keras dalam memperjual belikan hasil alamnya.”


Berbeda dengan Pulchra yang merupakan kerajaan seimbang. Mungkin tak selengkap kekayaan alam Agnus, namun di Pulchra wilayahnya merata memiliki akademi yang bagus dan rakyat di sini sangat suka belajar lalu menemukan sesuatu yang baru. Tenaga manusia di Pulchra tidak lagi diragukan bersamaan dengan teknologi yang mampu mereka produksi sendiri membuat kerajaan tempat Ree tinggal ini cukup seimbang baik dalam keadaan alam dan manusia di dalamnya.


“Bagaimanapun juga, Servio dan Frigid tidak berkaitan satu sama lain dalam masalah mereka. Frigid berbeda dan begitu juga dengan Servio. Frigid hanya memberi saran karena ia sudah lebih dulu mengenal seperti apa kerajaan Agnus dan orang-orang di dalamnya…”


Masukan itu sangat penting, Liliana sangat mengapresiasikan cara Frigid memberi peringatan agar mereka tidak mengambil langkah yang salah dan malah merugikan diri.


“Aku setuju dengan ucapan Liliana, tapi jika memang itu satu-satunya jalan, bahkan tanpa mengaitkan Frigid, aku merasa kita bisa melakukan sesuatu terkait itu… aku akan kembali mencari lebih dalam lagi tentang perdagangan antara Agnus dan Pulchra.” Ree tidak ingin melihat wajah Servio terlihat tidak bersemangat. Ia tahu bahwa Servio sangat menyayangi ibunya dan tentu saja Frigid tidak ingin mengorbankan orang lain di atas masalah miliknya.


Ree sudah tahu dari Margaretha bagaimana hidup Frigid, ia tidak ingin membebani pria itu lebih dari memberi masukkan.


Terlebih Frigid tidak meminta untuk diselamatkan, membuat Ree berpikir ia hanya akan fokus untuk membantu Servio.


“Ree… jangan memaksakan dirimu sendiri, aku juga bisa membantumu…” ucap Liliana yang tidak ingin Ree terlibat sesuatu yang berbahaya di luar dugaan.


Mendengar kekhawatiran Liliana justru membuat Ree merasa lega.


“Aku hanya mencari tahu dan mempelajarinya, bukan berarti aku menyusup masuk ke sana… itu tidak akan berbahaya sama sekali.”


Frigid pun memikirkan hal sama, selama Ree tidak berkaitan dengan apa yang ada pada dirinya, Frigid rasa wanita itu akan tetap pada garis yang aman dan tidak melewatinya. Karena seperti yagn sudah Frigid ketahui, masih banyak mata yang mengamati pergerakannya sampai saat ini. itulah yang membuat Ree sangat berhati-hati.


Besertaan dengan diskusi ringan di jalanan malam Litore itu, bersamaan dengan situasi yang sangat mencekam bagi Yohanna dan Brina saat berada di Leafa saat ini.


“Apa mereka akan menyergap gedung pemerintahan?” tanya Brina cemas ketika melihat dari lantai dua kafe tempat ia dan Yohanna biasanya menghabiskan waktu.


“Isu pemberontakan dan pelengserang pemerintahan memang begitu cepat beredar. Tunggu dulu, itu bukan lagi isu, melainkan memang perintah yang sudah di keluarkan.” Jawab Yohanna.


“Tapi, tenang saja… nyonya Wizzle berada di tempat yang aman bersama prajurit kerajaan… kita harus menunggu kedatangan Yohan sembari mengamati terlebih dahulu.”


Situasi Leafa memang agak panas saat ini. keadatangan petugas kerajaan dengan membawa berbagai bukti korupsi dan penggelapan dana dari walikota Leafa membuat Brina dan Yohanna menunda sebentar tentang penelitiannya terkait obat Frigid. Ini adalah langkah besar untuk berbagai perubahan ke depannya.


Karena itulah, tak ada yang bisa Brina dan Yohanna lakukan selain mengamati saat ini.


 


 

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2