
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Dari kejauhan Delia memicingkan matanya untuk memastikan penglihatannya.
Ia menatap sinis kepada Alea yang sedari tadi mencocokkan pakaian ketubuh Ivander. Ia mengikuti kemana mereka pergi. Delia begitu kesal, matanya berkilat marah dan senyum dibibirnya terangkat setengah. Matanya menyipit, Ia membuang napasnya dengan kasar.
Delia memang tidak menyukai Alea, ia selalu menunjukkan sikap tidak sukanya kepada Alea yang dari dulu tidak berubah. Selalu hanya menempel kepada Ivander.
Kemana mana hanya tergantung kepada Ivander. Delia Mengepalkan tangannya, ia nampak begitu geram melihat sikap Alea yang selalu bermanja-manja. Sama dengan Ivannia, ia begitu muak melihat sikap dua wanita yang selalu membuatnya kesal. Selama ia menjalin hubungan dengan Ivander dua wanita itu taunya hanya menyusahkan saja.
Delia mendekati Ivander yang sibuk dengan ponselnya. Sementara Alea sibuk memilih baju dan mencocokkan ketubuhnya.
" Ivander....! " Panggil Delia berdiri tepat dibelakang Ivander dan Alea.
Ivander dan alea menoleh ke arah sumber suara. Ivander melihat sosok Delia Smith berdiri dibelakangnya.
" Delia? " tanya Ivander mengernyitkan keningnya.
" Apa kabar Ivander? " Tanya Delia.
" Baik..! " jawab Ivander tersenyum tipis.
Delia tersenyum semanis mungkin dihadapan Ivander namun tidak dengan Alea, ia sama sekali tidak menyapa Alea.
Alea tersenyum kecut dan mendengus kasar, ia kembali memilih pakaian dan menunjukkan kepada Ivander. Ia sengaja membuat Delia kesal.
" Bagaimana dengan yang ini? baju ini pasti cantik jika digunakan Ivannia." Alea sengaja menekan kata katanya agar Delia mendengar. Alea menunjuk salah satu dress dengan model off shoulder,
" Aku yakin Ivannia pasti menyukai ini bahannya terbuat katun dan pasti nyaman digunakan Ivannia." Lanjut Alea kembali.
" Pilih beberapa pakaian buat Ivannia. " Kata Ivander.
" Apa kabar Delia? " Tanya Ivander mendekati Delia.
" Seperti biasa, aku akan selalu sehat buat kamu Ivander. " Kata Delia melepaskan senyumannya. Ivander hanya tersenyum singkat. Sementara Alea yang mendengarnya hanya tersenyum kecut, ia bergumam sendiri dan mengatai Delia dengan sebutan wanita rubah didalam hatinya.
" Kamu datang sendiri Delia ? " tanya Ivander.
" Aku bersama mommy. "
" Dimana auntie ? " tanya Ivander mencari cari sosok wanita yang dikenalnya.
" Mommy ada dibawah. " jawab Delia menatap Ivander dengan lekat .
Tiba tiba ponsel Ivander berbunyi, " Aku tinggal sebentar ya. " kata Ivander meninggalkan Alea dan Delia.
Ketika Ivander tidak ada, Delia langsung mencengkram tangan Alea dengan kasar. Ia menarik paksa membuat Alea sedikit terkejut, ia nampak kesal dengan tindakan Delia.
" Lepaskan tanganku ! " geram Alea menarik paksa tangannya.
" Apa yang kau lakukan? " sambung Alea menatap tajam kepada Delia.
__ADS_1
" Harusnya aku yang bertanya, kenapa dari dulu kamu tidak berubah selalu menempel kepada ivander. " Seringai Delia dengan tatapan tidak suka kepada Alea.
Alea menautkan kedua alisnya, ia melipat kedua tangannya dengan posisi bersedekap.
" Apa urusanmu? " Kata Alea tersenyum kecut, Ia seakan mengejek tindakan Delia.
" Jauhi Ivander jangan coba coba menyusahkannya." Kata Delia dengan nada dingin.
Mendengar itu Alea tertawa nyaring, kata kata itu sangat menggelitik hatinya dan membuatnya ingin muntah, Ia mulai jengah melihat sikap Delia. Dari dulu memang selalu seperti ini. Bersikap memiliki Ivander seutuhnya. Sampai sampai Ivannia habis dimakinya karena mereka dekat.
" Hei... kamu gak ada hak mau memisahkan aku dengan Ivander karena dia sepupuku. Sementara kau? Kau harusnya sadar dengan posisimu. Kamu siapa, pacar Ivander bukan datang datang membuat keributan. " sinis Alea dengan suara nyaring dan diiringi tawa hambar.
" Saya pacarnya..."
" What??? pacar??? " kata Alea terbelalak dan sepersekian detik Alea kembali tertawa, Ia menatap Delia dengan sinis.
" Dua tahun menghilang dan sekarang datang mengaku pacar, jangan mimpi kamu. Ivander bukan tipe orang yang kembali kepada wanita yang sama yang telah mengkhianatinya."
" Saya tidak pernah mengkhianatinya. " teriak Delia, membuat semua orang memperhatikan mereka.
" Terserah kamu mau bilang apa, yang jelas Ivander tidak akan pernah kembali pada wanita brengsek seperti kamu." tegas Alea mengerucutkan bibirnya.
" Apa????? " Geram Delia dengan menatap Alea dengan tajam.
" Apa kurang jelas? WANITA BRENGSEK. " ulang Alea dengan nada sinis dan penuh kemenangan.
PLAKKKKKK
Dengan kekuatan penuh Delia mengayunkan tangannya untuk menampar pipi Alea dengan begitu keras, membuat Alea sampai terhuyung mundur dan hampir kehilangan keseimbangan.
Ia memegang pipinya, rasa panas bekas tamparan yang menjalar dipipinya menyisakan rasa sakit yang teramat sangat, telinganya sampai berdengung dan pandangannya yang berkunang- kunang membuat Alea begitu marah dan mengangkat tangannya untuk membalas menampar Delia.
" Jangan coba coba menamparku. " sinis Delia dengan nada dingin.
Alea begitu marah ketika tangannya ditepis begitu kasar sampai membuat tubuhnya hampir terjatuh. Ia menatap tajam kepada Delia.
Mereka berdua menjadi tontonan semua orang, berkerumunan ingin melihat pertunjukan gratis. Semua menjadi heboh ketika keduanya kembali adu mulut.
Ivander dengan cepat melangkah ketika mendengar dua orang wanita sedang bertengkar, samar samar Ivander mendengar dari kerumunan orang mengatakan jika kedua perempuan itu meributkan seorang lelaki.
" Berani kamu menampar aku ? ! " Desis Alea dengan nada geram, matanya sudah menunjukan kemarahan yang siap meledak kapanpun.
" Ada apa ini? " tanya Ivander masuk ditengah kerumunan orang. Semua mata langsung tertuju kepada sosok Ivander.
" Tanya wanita brengsek ini Ivander. " kata Alea dengan nada dingin nampak dengan jelas kemarahannya. Ia masih memegang pipinya yang terasa panas. Orang orang langsung berbisik dan mengatakan jika Ivander lah lelaki yang diributkan dan ada juga mengatakan jika salah satu wanita itu menjadi perusak hubungan.
Delia tidak menjawab, ia hanya diam dan menatap sinis ke Alea.
" Apa yang terjadi Delia? " tanya Ivander menatap Delia.
" Sekarang kita pulang! " Kata Alea menarik paksa tangan Ivander.
" Tidak, jelaskan dulu ini kenapa? "
" Nanti aku jelaskan." Ucap Alea langsung melangkahkan meninggalkan kerumunan orang-orang yang membuatnya tidak nyaman.
" Maaf, Aku harus pergi Delia. " kata Ivander pamit undur diri.
" Buat apa kau minta izin Ivander. Sekarang kita pergi ! " Gerutuk Alea melengos menarik tangan Ivander agar menjauh dari Wanita rubah itu.
__ADS_1
Setelah melakukan pembayaran, Alea melangkah panjang menuju pintu keluar. Napasnya masih terdengar naik turun menahan segala emosinya.
" Apa kamu sudah menemukan pakaian yang kamu cari sayang? " Kata Celin mendekati putrinya. Delia masih diam terpaku ditempatnya.
" Ada apa sayang, kamu kenapa? " kata Celin mendekati putrinya yang sedang menangis.
" Aku bertemu Ivander mom. "
" Dimana dia? " Kata Celin mengedarkan pandangannya.
" Dia sudah pergi mom. " Kata Delia menatap Mommynya dengan sendu.
" Jadi apa yang salah? " tanya celin mengernyitkan keningnya.
" Aku masih berharap Ivander menerimaku mom." kata Delia dengan nada sedih.
" Kamu kan sudah jelaskan semua, kita kasih waktu buat ivander sayang. Mom yakin Ivander akan menerimamu sayang, percaya dengan mommy." kata Celin menenangkan putrinya.
" Benarkah mom? "
" Ya, mommy akan cari cara agar Ivander mau menerimamu lagi sayang, kita tunggu saja."
Delia langsung tersenyum dan memeluk Mommynya.
" Terima kasih, mommy yang terbaik." kata Delia.
" Sekarang kita pulang ya..." kata Celin memeluk pundak Delia dari belakang. Mereka melangkah meninggalkan mall.
Sementara Ivander sudah melajukan mobilnya meninggalkan mall. Hening menyeruak diantara mereka, tidak ada yang bersuara. Keduanya hanya fokus menatap jalan. Sesekali Ivander menoleh kearah Alea.
" Kamu belum mau menjelaskan kejadian tadi Alea? " Kata Ivander akhirnya memecahkan keheningan mereka. Ia melihat jelas bekas tamparan dipipi kanan Alea.
" Apakah kamu menerimanya kembali Ivander? " kata Alea dengan nada sangat dingin, ia sama sekali tidak melihat Ivander.
" Apa Delia mengatakan itu ? "
" Ya, dia mengatakan kalau kalian menjalin hubungan kembali, dia menyuruhku untuk menjauhimu, Siapa dia ? " keluh Alea dengan suara nyaring dan diiringi tawa hambar.
Kembali napasnya naik turun, menahan segala emosi yang membuncah didalam dadanya.
" Dia mengatakan itu? " Ivander mengernyitkan keningnya, ia sedikit terkejut dengan perkataan Alea.
" Apa kamu pikir aku mengarang cerita Ivander? Dia wanita tidak pernah berubah selalu mengatakan kalau kau itu miliknya. Kita ini siapa Ivander? kita ini saudara sepupu. Dia benar-benar tidak waras. Ck.. memisahkan kita? Ohhhh tidak! dia wanita gila ! " omel Alea dengan nada geram, ia bahkan menggelengkan kepalanya mengingat perkataan Delia. Alea berusaha menenangkan dirinya karena ia begitu marah.
Sementara Ivander hanya diam tidak memberikan komentar. Perasaannya menjadi campur Aduk. Sesungguhnya ia masih meragukan Delia. Ivander kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia menghembuskan napasnya lewat mulut. Mereka kembali diam dengan pikirannya. Hening tidak ada yang bersuara.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
__ADS_1
π BERIKAN BINTANGMU