WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Keputusan Yang Berat


__ADS_3

๐Ÿ’Œ Whisper of love ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


Ivander sedang duduk di ruang perpustakaan, ia menatap laptopnya dengan serius dan sibuk memeriksa beberapa tugas dari dosen pembimbingnya. Dosen menugaskan mereka membuat makalah yang membahas materi yang dipelajari beberapa hari yang lalu.


Tugas makalah ini menuntut Ivander melakukan riset dan membuat karya ilmiah menggunakan berbagai referensi pustaka, Ivander bisa mencari baik itu dari buku, jurnal ilmiah maupun sumber lainnya yang bisa membantunya menyelesaikan tugas dengan cepat. Menulis makalah juga melatih daya analisis bagi Ivander sendiri. Dosen akan kembali menugaskan mereka untuk melakukan presentasi di depan kelas. Hal ini sangat di sukai lelaki tinggi dan berhidung mancung itu. Bagi Ivander ini salah satu untuk mendidik dan melatih agar berani untuk bisa mengeluarkan pendapat, ide dan gagasannya atas suatu masalah. Selain itu juga untuk berlatih menguasai sesi tanya-jawab.


Hari ini tugas membuat makalah dari dosen pembimbingnya harus Ia selesaikan. Karena besok adalah penyerahan tugas. Tangannya begitu cepat menari nari diatas tombol keyboard. Ia menghentikan tangannya, Ivander mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mendengus kesal, dosen pembimbingnya sepertinya sengaja menambah tugasnya setiap hari. Sudah dua jam ia duduk di perpustakaan. Tatapannya tidak lepas dari laptopnya. Ia tetap fokus dan terlihat sangat serius. Sampai ia tidak sadar jika dari tadi Joevanka sedang memperhatikannya.


Ya, Joevanka sekarang kuliah satu universitas dengan Ivander. Ia baru tiga bulan menjadi mahasiswa baru disini. Sementara Ivander menjadi kakak tingkatnya.


Joevanka sampai saat ini hanya bisa bicara seadanya saja pada Ivander. Karena sikap Ivander yang selalu diam membuatnya tidak berani untuk memulai berbicara. Joevanka hanya bisa mengikuti Ivander kemanapun ia pergi. Karena perintah aunty Anastasia ia tidak boleh pergi sama siapapun kecuali sama Ivander dan Samuel. Joevanka hanya melihat ivander dalam diam, sejujurnya ia menyukai pada Ivander. Ia tidak tahu sejak kapan, setiap mata mereka bertemu Joevanka merasakan debaran debaran yang tercipta dari detak jantungnya. Membuat joevanka sampai sulit bernapas. Setiap saat ia hanya memikirkan Ivander saja.


Tiba tiba Samuel muncul membuyar kan lamunannya dan ia melihat Samuel mengambil duduk tepat didepannya. Samuel melemparkan senyum termanisnya buat Joevanka.


" Hai, cantik! " Sapa Samuel sudah duduk dihadapan Joevanka.


Gadis berparas cantik dan lembut itu hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Ia menganggukkan kepalanya.


" Nungguin Ivander ya? " tanya Samuel menatap lekat lekat kepada Joevanka, ia mengembangkan senyumnya. Ia menoleh kearah melihat Ivander yang sibuk menatap laptopnya.


" Ya kak! " jawabnya singkat.


" Dari tadi kamu nungguin Ivander disini? " Tanya Samuel membelalakkan matanya.


Joevanka mengangguk pelan.


" Astaga cantik, kamu membuang waktumu dengan pria itu. Bagaimana kalau kita ke kantin saja. "


Joevanka kembali menggelengkan kepalanya, Ia kembali membaca buku yang ada didepannya.


" Dari pada kamu nungguin si kutu buku itu,kita tidak tahu kapan dia selesai. Kita bisa makan sesuatu di kantin. Saya rasa itu ide bagus, bagaimana? " Usul Samuel mencondongkan tubuhnya agar mendekat kepada Joevanka walau mereka dihalangi sebuah meja.

__ADS_1


" Tidak kak, saya menunggu disini saja." pinta Joevanka dengan nada lembut.


" Tunggu disini ya cantik ! Aku akan menemui lelaki itu, mungkin dengan saya minta izin dari Ivander kamu mungkin mau ke kantin bersamaku. " ucap Samuel mengerlingkan salah satu matanya kepada Joevanka.


Samuel bangun dari duduknya dan melangkah mendekati Ivander yang sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Ia berdiri dan memperhatikan wajah Ivander yang nampak tegang. Ivander hanya menjawab ya saja. Namun ekspresinya jelas jelas begitu serius. Sampai Samuel yang berdiri didepannya saja tidak Ivander perdulikan lagi. Panggilan telepon sudah terputus.


" Eheemmmm! "


Samuel mencoba berdehem untuk mengalihkan keseriusan tampang dari Ivander. Namun yang dilihatnya justru Ivander tanpa ekspresi dan ia terlihat terburu buru menyimpan Laptopnya. Samuel mengernyitkan keningnya.


" Dude, ada apa denganmu? " tanya Samuel nampak bingung. Tak ada jawaban, Setelah memasukkan semua barang barangnya. Ivander berjalan cepat meninggalkan perpustakaan. Joevanka sampai bangkit dan ikut menyusul langkah kedua lelaki itu yang nampak terburu buru.


Ivander berjalan menuju parkiran mobil, Samuel begitu panik dan mengikutinya.


" Ivander! tunggu ! " Samuel mencoba menghentikan langkah ivander. Ia langsung mencegat tangan Ivander yang sudah membuka mobil.


Joevanka sudah berdiri dibelakang kedua pria itu. Semua mata tidak memperdulikan Ivander dan Samuel, yang mereka lihat hanya Joevanka saja, Kecantikan dan kepolosan yang dimiliki Joevanka mampu membuat mereka berdecak kagum terutama pria yang sama sekali tidak berkedip. Namun Joevanka hanya melihat mereka tanpa ekspresi. Ia diam melihat Ivander dan Samuel yang terlihat bicara serius.



" Dude! kamu mau mau kemana? apa ada sesuatu terjadi? " tanya Samuel memicingkan matanya melihat Ivander. Ia sekilas menatap Joevanka lalu melihat Samuel.


" Dude, kamu tidak menjawab pertanyaanku. Apa yang terjadi? "


" Nanti, aku ceritakan. Tolong antar Joevanka, aku mohon! " kata Ivander memohon. Ia langsung masuk kedalam mobilnya. Nampak Ivander terburu buru menutup pintu mobilnya. Ivander memutar mobilnya dengan cepat. Pedal gasnya diinjaknya sampai menghasilkan decitan ban yang menggesek aspal kampus. Sehingga semua mata yang tadinya melihat Joevanka beralih melihat mobil berwarna merah itu melaju meninggalkan kampus. Samuel menggeleng pelan.


" Jangan bilang kamu ingin menemui Delia, Ivander, Awas kamu! " Batin Samuel berbicara dalam hati. Ia kemudian melangkah menghampiri Joevanka yang diam terpaku menatap kepergian Ivander.


Ivander menancap gas mobilnya, berlari mengejar waktu. Ekspresi wajahnya tiba tiba berubah menegang. Ivander menghembuskan napasnya secara cepat. Jantungnya berdebar kencang dan ia nampak bingung.


Ivander langsung memarkir mobilnya ketika ia sudah sampai diparkiran rumah sakit.


Ia berlari cepat menuju loby rumah sakit dan mencari tahu informasi mengenai pasien bernama Delia. Napasnya terengah-engah saat ia berlari menuju kamar ruang inap Delia.


Pintu lift belum terbuka, ia tidak sabaran langsung menuju tangga darurat. Ia melangkah panjang menaiki setiap tangga. Akhirnya ia sampai didepan ruangan Delia. Ivander menghembuskan napasnya lewat mulut. Mencoba menstabilkan napasnya dan juga menenangkan diri.


Ivander mendorong pintu, dan ia mengedarkan pandangannya. Tidak ada seorangpun disana kecuali Delia yang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit.


Ivander kembali menarik napasnya, jantungnya terpukul kencang dan tangannya dingin. Ivander mengerutkan keningnya sambil melangkah pelan mendekati ranjang dimana Delia sedang tertidur.

__ADS_1


Tiba tiba Delia membuka matanya dan melihat Ivander sudah berdiri didepannya.


" Sedang apa kau disini? " Tanya Delia membuang mukanya, nada suaranya terdengar dingin.


" Untuk melihatmu Delia ! " Kata Ivander dengan nada datar, ia langsung mengambil kursi dan duduk disamping Delia.


" Aku tidak ingin melihat wajahmu. Sekarang, lebih baik kamu pergi! " usir Delia dengan wajah kaku dan tidak mau melihat wajah Ivander.


" Jika kamu tidak ingin melihatku, Baiklah aku akan pergi. " ucap Ivander bangun dari duduknya. Ia melangkah ingin meninggalkan ruangan Delia.


Namun tiba tiba terdengar suara tangisan Delia pecah didalam ruangan rumah sakit. Membuat langkah Ivander berhenti dan ia diam terpaku ditempatnya. Delia menangis tersedu-sedu sambil menatap punggung Ivander.


" Jangan pergi...! " ucap Delia, ia sudah duduk dan menyandarkan punggungnya kesandaran ranjang rumah sakit. Ia menekuk kedua kakinya dan menatap Ivander dengan tatapan nanar.


Ivander tetap berdiri dengan posisi membelakangi Delia. Ia memejamkan matanya, Ivander dapat mendengar jelas tangisan dari Delia. Ia masih bingung, tadi mommy Delia menghubunginya dan mengatakan jika Delia sedang sakit. Ia diminta agar tidak membuat Delia menangis, karena penyakit yang diderita Delia bisa diakibatkan karena Delia stres. Ivander menarik napasnya dalam dalam.


Ketika ia memberi jawaban kepada Delia masalah perihal hubungan mereka. Ivander hanya bisa menerima hubungan mereka sebatas sahabat saja. Semenjak itu Delia sering sakit dan tidak pernah masuk ke kampus lagi. Ivander mendengar jika Delia sering menangis dan tidak mau mau makan. Delia benar benar tidak terima hubungan mereka berakhir begitu saja.


Kini mommy Delia meminta agar Ivander memikirkan kembali hubungan mereka demi kesehatan Delia. Wanita paruh baya itu menangis dan memohon kepada Ivander.


Sungguh ini keputusan yang sangat berat bagi Ivander.


Ivander sesungguhnya tidak ingin mengulangi kesalahan sebelumnya. Karena sekarang tidak ada perasaan cinta lagi, rasa cinta Ivander sudah mulai padam dan hilang bahkan tanpa bekas.ย Sesungguhnya kini perasaannya kepada Delia hanya sebatas antara persahabatan saja, tidak lain dari itu.


.


.


BERSAMBUNG


.


.


๐Ÿ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU๐Ÿ’Œ


๐Ÿ’Œ BERIKAN VOTEMU ๐Ÿ’Œ


๐Ÿ’Œ BERIKAN BINTANGMU

__ADS_1


__ADS_2