
💌 Whisper of love 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Kedatangan Ivander disambut hangat oleh Gavin dan bersama tim khusus yang mengikuti rapat untuk memecahkan permasalahan yang muncul sebelum mereka menemui klien.
Ivander menggerakkan tim tim khusus untuk menangani hal ini.
Mereka diminta mengadakan pertemuan di dalam kamar ekslusif di hotel. Ivander ingin sekaligus mengadakan pertemuan dengan klien di hotel itu. Ia tidak ingin melakukan pekerjaan dua kali.
Ivander duduk dengan tubuh condong ke depan memangku siku di atas meja. Ia meminta Gavin untuk menjelaskan permasalahan yang sering terjadi di Australia.
" Bagaimana anda menangani krisis seperti ini, jika manajemen operasional tidak mengatur strategi yang tepat. Bahkan menurut saya tiap tahun, hanya ini yang saya temukan titik permasalahan di sini? saya ingin dengar langsung, bagaimana bisa hal ini terjadi. Silakan! " Ivander memberi waktu kepada tim yang menangani bagian perencanaan koordinasi.
Ivander meraih pulpennya dan mengetuknya di atas meja.
" Menurut saya, sepertinya ini terjadi di bagian pemasaran saja pak."
" Ya, jelaskan secara mendetail. "
Hening menyeruak terjadi di dalam ruangan, tidak ada yang berani mengangkat wajahnya ketika direktur utama sudah mengetuk pulpennya sedikit keras. Itu salah satu tanda, Ivander sudah nampak marah.
" Tidak ada yang menjawab? " Ivander menaikkan alisnya lebih tinggi.
" Saya rasa kita harus mendata ulang bagian yang berhubungan dengan problem yang pertama yang dihadapi manajemen operasional tentang strategi dalam produksi pak, bagaimana kondisi pasar yang akan kita tuju dan kita tinjau langsung ke sana. selanjutnya bagaimana proses pembuatan desain yang baik agar diterima oleh masyarakat."
" Kenapa anda tidak melaksanakannya, jika memang kalian menemukan titik permasalahannya di situ. " Ivander meletakkan pulpennya dengan kasar.
" Maaf pak, kami kurang teliti. " jawab Gavin.
" Oke, kali ini kalian saya maafkan. Jangan sampai hal ini terulang kembali, silahkan di catat pak Gavin. "
" Baik pak. " Jawab Gavin.
" Sebelum kalian terjun langsung melihat kondisi pasar yang akan kita tuju, baik itu proses pembuatan desainnya, kalian harus mengubah input perusahaan menjadi output yang optimal. Dengan begitu kita bisa mengecek bagian pemasarannya secara langsung. Bagaimana klien akan puas, jika dasarnya saja kalian tidak bisa menyelesaikannya. Saya meminta anda untuk teliti, persaingan pasar cukup besar. Jangan sampai omzet kita turun. Mengerti? "
" Siap pak, kami mohon maaf , hal ini tidak akan terulang kembali."
Ivander membuang napasnya. Ia kembali menatap tablet digital nya dengan wajah mengerut serius. " Saya minta laporan pertanggungjawaban sekarang, untuk kita tunjukkan kepada klien. " Kata Ivander, ketika memeriksa kembali tabletnya.
" Dimana? " Bisik Gavin meminta kepada salah satu tim nya.
" Maaf pak saya lupa membawanya. " Bisik Edward nampak gugup dan wajahnya sudah terlihat pucat.
" Apa? " Gavin terkejut dan menekan perkataannya.
" Bagaimana kau bisa lupa? " Bisik Gavin, wajahnya terlihat tegang, rahangnya sudah mengeras.
" Dimana laporan yang saya minta? " Tanya Ivander kembali.
" Maaf pak laporannya tinggal. " ucap mereka
" BAGAIMANA INI, HANYA MEMBAWA LAPORAN SAJA BISA LUPA??? " Ivander sudah sangat marah.
Mereka panik, gugup dan saling berpandangan. Ruangan tiba tiba berubah menjadi horor. Tak ada yang berani mengangkat wajahnya. ketika Ivander menggebrak meja dengan kasar.
" Saya tunggu, sekarang! " Ivander berkata dengan hardiknya.
__ADS_1
" Baik pak..." Gavin menghubungi seseorang dengan cepat. Tak butuh lama, Ia langsung mematikan ponselnya.
" Mohon maaf pak, laporan yang bapak minta akan datang dalam waktu dua puluh menit. Dia akan usahakan secepatnya menuju ke sini." Kata Gavin dengan suara terendahnya.
Tidak ada jawaban, Ivander masih tetap fokus memeriksa beberapa laporan. Hening dan hening, mereka hanya bisa diam dalam pikirannya masing masing. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara apalagi untuk berbicara. Mereka seakan menyaksikan tampang Ivander yang terlihat mengerut serius menatap tablet digitalnya.
SEPULUH MENIT BERLALU.
Ivander menyandarkan tubuhnya di kursi, setelah selesai memeriksa beberapa laporan. Ia menghembuskan napasnya.
TIGA PULUH MENIT BERLALU.
Ivander menarik ujung lengan jasnya, melihat jam yang ada di tangannya. Tiga puluh menit menunggu, waktu yang dijadwalkan Gavin sudah lewat dari yang di katakan. Melihat ekspresi direktur utama berubah, Gavin nampak gelisah. Ia menghubungi seseorang namun tidak di angkat.
EMPAT PULUH MENIT BERLALU.
Ivander membuang napasnya dengan kasar, Seorang Ivander di buat menunggu? Ivander berusaha bersikap tenang. Ini sudah tiga kali ia melirik jam di tangannya.
Gavin sudah bangkit, dan membungkukkan badannya, " Maaf pak sepertinya jalan macet ,dia sudah di jalan menuju ke hotel."
" Apa masih bisa aku bersabar tuan Gavin? Tiga puluh menit lagi, klien kita akan datang. Bagaimana ini? " Ivander mulai tidak sabaran. Terdengar jelas jika Ivander marah.
" Saya ingin memeriksa ulang laporan itu, sebelum memperlihatkan kepada klien. Apa kalian menganggap ini lelucon? " Kata Ivander marah.
" Saya minta maaf pak..." Hanya itu yang sanggup keluar dari mulut Gavin.
⭐⭐⭐⭐⭐
Satu jam sebelumnya.
" Selamat pagi pak...! "
Ia menyapa security yang berjaga di pos dan memberikan dua coffee yang ia beli dari cafe seberang di depan kantor.
" Sama sama pak.." gadis itu dengan semangat melambaikan tangannya dan berjalan menuju pintu masuk.
Dia adalah gadis periang dan di kenal sangat ramah. Ia bukan typical yang suka memilih-milih teman, bisa berteman dengan siapa saja termaksud dua security yang ada di pos tadi. Hehehehe Ia tersenyum.
Kecantikannya tidak berubah, bahkan semua mengaguminya. Apalagi jika ia tersenyum menarik bibir manis nya untuk membuat semua orang disekitarnya merasa kagum.
Karena dia memiliki aura positif, sehingga semua orang merasa nyaman berada di dekatnya. Bukan muji diri ya, hahahaha Ia tertawa. Ia kembali melemparkan senyumnya ketika ia bertemu karyawan di koridor. Dia bahkan mampu menghidupkan suasana. Ia bisa membuat bad mood seseorang bisa kembali seperti semula. Ckckck itu pendapat orang yang menilai dirinya.
Ia masih tetap berjalan di koridor dengan tubuh tegap seperti karyawan sudah dilatih untuk bertempur menghadapi permasalahan yang ada di kantor.
Ia mendapat pelatihan khusus selama di London dan sekarang di tempat kan di Australia. Huftt ia menghembuskan napasnya. Permasalahan di perusahaan ini tidak ada habisnya. Itu yang menuntut nya harus tetap energik.
Tap tap tap
Ia memasuki ruangan kantor khusus untuk tim mereka, menyapa semua karyawan yang bekerja satu tim dengannya. Hari ini ia tidak mengikuti rapat di hotel xx karena ada hal penting yang diurusnya sebelum menemui klien. Ia mempersiapkan sesuatu yang akan di bawa ke hotel.
Setelah memberikan coffee kepada teman kantornya, ia kembali duduk memeriksa pekerjaannya di laptop.
Dddrrrttt dddrrrttt dddrrrttt
Suara ponselnya bergetar di atas meja. Ia mengerutkan keningnya ketika Pak Gavin mengubungi nya. " Pak Gavin ? " batinnya berbicara. Dengan cepat ia menggeser panggilan tanda terima.
" Ya pak? "
" Tolong bawa semua laporan yang kita kerjakan kemarin. Saya tunggu sekarang! "
" Apa yang terjadi pak? "
Belum lagi pertanyaannya dijawab, pak Gavin langsung memutuskan panggilan sepihak.
__ADS_1
" Astagaa pak..." Ia hanya bisa menatap ponselnya, lalu menghembuskan napasnya dengan kasar sampai rambutnya tertiup. Tanpa menunggu lama, ia langsung membawa laporan yang dikerjakannya bersama pak Gavin.
" Kita berangkat...! "
Ia menancap gas mobilnya, berlari mengejar waktu. Waktunya begitu mepet sekali.
Direktur utama akan bertemu dengan klien setelah melakukan rapat di hotel, dan tiba tiba ia mendapat telepon harus membawa laporan. Semoga saja ia sampai tepat waktu.
Sesampai di hotel, Ia memarkir mobilnya dengan asal. Ia bahkan berlari sambil mendekap laporan di dadanya. Dengan hembusan napas. Tab tab tab ia masih berlari, langkahnya sampai bergema didalam loby hotel. Rambutnya melambai ke belakang. Ia melirik jam yang ada di tangannya. Matanya membulat sempurna.
" What????? aku terlambat???? "
Ia langsung berlari menuju lift tidak perduli jika gayanya saat ini sangat berantakan. Tujuannya hanya satu, bagaimana caranya ia cepat sampai ke kamar hotel.
" Kenapa lama sekali, cepatlah... cepatlah! " Ia menepuk kakinya gelisah. Sesekali ia melirik jam yang ada ditangannya.
" Astaga aku terlambat lima belas menit ? " Dia terbelalak tidak percaya. Apalagi ia tahu jika direktur tidak suka menunggu. Ia semakin gelisah dan membuang napasnya berulang kali.
" Tangga darurat? " Ia berlari menuju tangga darurat. Dengan napas naik turun. Ia tak sanggup menaiki tangga. Langkahnya semakin lambat. Ia menunduk mengatur napasnya yang tersengal. Huftt....!!!
" Oh my God..! " Ia melihat keatas, berusaha mengatur napasnya. " Adakah pintu ajaib? " Ia membuang napasnya berulang kali. Ia duduk membuka sepatu yang menghalangi langkahnya. Ia menentengnya dengan mendekap laporan yang dibawanya tadi.
Ia masih berusaha menaiki tangga demi tangga agar sampai ke pintu ajaib.
" Aku sampai..." Ia tersenyum. " Itu kamarnya. " Gadis itu berjalan dengan bertumpu pada dinding. Napasnya hampir habis.
" Sedikit lagi... Semangat!!!! " ia menyemangati dirinya, berjalan menuju kamar yang ada di ujung koridor hotel.
SATU
DUA
TIGA
BRAKKKK...
Joevanka membuka pintu dengan paksa. Ia membungkuk dan memegang lutut nya untuk mencoba menstabilkan napasnya yang naik turun begitu cepat. Mereka tertegun, melihat salah satu karyawan tidak sopan membuka pintu. Apalagi saat ini direktur terlihat tegang dan matanya melotot sempurna.
Dengan keringat yang membasahi keningnya, ia bahkan masih menenteng sepatu heelsnya dan laporan yang ia dekap begitu erat agar tidak terjatuh. Ia melakukan ritualnya menghembuskan napasnya. Ia memakai sepatu nya kembali. Mengembalikan posisi tubuhnya agar tegap. Ia merapikan rambutnya yang berantakan. Ia tersenyum menundukkan kepalanya seraya memberi hormat.
" Maafkan atas keterlambatan saya pak! " Ia berusaha menahan tubuhnya lebih lama dan kembali dengan posisi tegap. Ia melemparkan senyumnya kepada Direktur utama Donisius.
" Maaf di jalan macet pak, saya minta maaf atas keterlambatan saya. Ini saya sudah membawa laporan yang anda minta. " Ia menunjukkan sesuatu di tangannya.
"JOEVANKA....? " Ivander terjengkit bangkit dan hampir menjatuhkan kursi yang ia duduki. Ia terkejut dan sangat terkejut.
" Anda mengenal saya pak? " Joevanka terbelalak dan menatap direktur utama dengan kedipan cepat. Ia menunjuk ke dirinya sendiri.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
💌 BERIKAN BINTANGMU💌
__ADS_1