
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Delia kembali histeris, amarahnya kembali menguasai ketika Ivander mengalihkan panggilannya. Sudah berpuluh kali Delia menghubungi lelaki itu. Namun, yang ia dapat lelaki itu mengalihkan semua panggilannya.
Delia membanting ponselnya cukup keras untuk meluapkan emosi jiwanya, hingga membuat ponselnya retak tidak berbentuk.
Terlihat Delia menghembuskan napasnya secara cepat. Delia merasa frustasi ia tidak terima di perlakukan Ivander seperti ini.
Sejak tadi malam, Delia tidak bisa menghubungi lelaki yang sangat ia cintai itu sampai sekarang juga begitu. Ivander benar benar menghindari panggilannya. Membuat Delia bingung dengan sikap Ivander. Mata Delia kembali basah oleh air mata, sementara napasnya tersengal menahan emosi. Barang yang ada diatas nakas Delia buang tanpa tersisa. Kamarnya berubah menjadi berantakan. Delia mencengkram rambutnya dengan frustasi.
" Aaaarrrrrgggghh " Teriak Delia meluapkan kemarahannya.
Celin langsung berlari ketika mendengar suara benda keras dari atas kamar terdengar sampai ke dalam kamarnya. Ia berlari menaiki tangga menuju ke kamar Delia. Ia langsung membuka kenop pintu dan terbelalak melihat keadaan kamar sudah tidak tahu bagaimana bentuknya lagi.
" Delia, kamu kenapa sayang? " Celin kaget melangkah masuk dan mendapati Delia menangis.
Ketika mommynya datang isakan Delia semakin terdengar, ia kembali menangis. Delia terduduk lemas di sisi ranjang tempat tidurnya sambil menundukkan kepala. Delia menutup mata dengan kedua tangannya, ia tidak menjawab pertanyaan mommynya. Yang ada, Delia menangis tersedu-sedu. Isakannya terdengar begitu kuat hingga membuat Cellin begitu terkejut dan memeluk putrinya.
" Apa yang terjadi? " Kata Celin menepuk pundak Delia dengan lembut. Tidak ada jawaban yang terdengar hanya suara sesenggukan dari Delia saja.
Perasaan Delia saat ini campur aduk, ada rasa marah, kesal dan takut. Bagaimana pun Delia tidak ingin jika Ivander berubah dan tidak mencintainya. Itu bagai mimpi buruk buat Delia.
" Ada apa sayang? kenapa kau menangis? " ulang Celin mengusap kepala Delia dengan lembut.
" Ivander mom...." isak Delia disela sela tangisannya.
" Ada apa dengan Ivander ? " Celin nampak bingung, Ia melepaskan pelukannya. Ia sampai mengangkat setengah alisnya. Celin benar benar tidak mengerti ucapan putrinya. Sejauh ini, semenjak hubungan mereka kembali lagi, yang ia lihat Ivander bersikap baik kepada Delia.
" Ivander dari tadi mengalihkan panggilanku mom. " kata Delia memeluk ibunya dan kembali tersedu sedu.
" Bukannya, kemarin kalian baru bertemu sayang? Ivander bahkan mengantarmu sampai ke rumah dan minta izin pulang sama mommy ! Jadi menurut mommy gak ada yang salah sayang! " sahut Celin tersenyum kepada kepada Delia.
" Ya mom, tapi hari ini beda, Ivander bersikap aneh mom. " isak Delia kembali menangis.
__ADS_1
" Aneh apanya ? " Celin mengerutkan keningnya menatap putrinya lekat lekat. Delia memang memiliki sifat yang sama jika mencintai lelaki. Terlalu posesif terhadap lelaki dan sangat susah melepaskan. Jadi benar kata pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Celin tersenyum samar dan membelai rambut Delia dengan lembut.
" Dia mengalihkan panggilanku, dia bahkan mematikan ponselnya mom! " Kata Delia kesal dan di akhir kalimatnya Delia berteriak dan menekan setiap perkataannya.
" Itu hanya perasaanmu saja sayang! " Celin berusaha memberikan pengertian kepada anaknya.
" Aku takut mom, Ivander akan meninggalkanku. Aku tidak mau mom ! " Delia menggeleng pelan, air matanya kembali tergelincir begitu saja.
" Tidak akan terjadi apa apa sayang, Ivander hanya mencintamu, yakin dengan mommy ! " Kata celin berusaha untuk membujuk anaknya agar tidak menangis lagi.
" Apa mommy yakin? sejauh ini kita sudah melakukan semua ini mom, kita membuat alasan jika aku kembali sakit lagi. Apakah Ivander sudah tahu mom ? " Delia mengusap air matanya dan terlihat jelas kekhawatiran tergambar di wajahnya.
" Tidak mungkin Ivander tahu saya, semua orang orang yang mama pegang ini adalah kepercayaan mommy. "
" Apa mommy yakin ? "
" Yakin sayang, percaya dengan mommy, sejauh ini mommy sudah melakukan yang terbaik, pihak rumah sakit sudah mama bayar cukup tinggi juga, jadi tidak ada yang berani buka suara, apalagi Ivander tidak akan berpikir sejauh itu sayang ! " ucap celin meyakinkan Delia, ia merapikan rambut Delia yang berantakan. Membelai rambut putrinya dengan sayang. Apapun ia lakukan untuk Delia.
" Aku ingin kerumah Ivander mom ! " Kata Delia bangkit dari duduknya. " Aku tidak mau berdiam seperti ini mom, aku ingin bertanya langsung kenapa ivander menghindari panggilanku. Bukan Delia namanya, duduk manis terlihat seperti orang bodoh." ucap Delia langsung bersiap siap ingin menemui Ivander.
" Pergilah, jika itu yang membuatmu senang. " Kata Celin dengan suara terendahnya. Percuma menghalangi Delia, itu justru boomerang baginya, yang ada Delia akan marah marah kepadanya dan berujung mengurung diri di kamar.
Delia memang tidak pernah cerita bagaimana keluarga Ivander, karena ke kasih anaknya itu memang tidak pernah terang terangan menceritakan tentang keluarganya. Ivander dari anak siapa, dari keluarga mana? Celin tidak tahu. Tapi yang dia lihat dari penampilan Ivander yang sering memakai pakaian bermerek. Bahkan jam yang ivander gunakan, celin bisa tahu harganya. Jangan ditanya soal mobil, Celin sampai terbelalak, mobil mewah yang di gunakan calon menantunya itu harganya wow sangat fantastis. Jelas, dia adalah anak dari kalangan keluarga terkaya. Ivander adalah calon memantu impian.
ββββββ
Sementara Ivander, membuang kasar ponselnya. Ia masih duduk di kemudi mobilnya dan pandangannya menatap lurus kedepan. Tidak tahu apa yang dipikirkannya. Apa karena kecewa kepada Joevanka yang tidak jujur atau melihat video yang di kirim Brian. Salinan CCTV langsung dikirim Brian melalui ponselnya. Ivander memang tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena tidak ada suara dari video itu, tapi yang terlihat jelas dari video itu Delia ingin merampas tas joevanka dan terjadilah saling tarik-menarik membuat Delia terjatuh. Delia langsung membalas dan mendorong tubuh Joevanka sampai terjatuh.
" Apa yang mereka ributkan? " gumam Ivander mengerutkan keningnya.
Ivander kembali menarik napasnya dalam dalam. Ia menarik rem tangan dan menginjak pedal gas meninggalkan parkiran cafe, ia sengaja duduk di sana untuk menjernihkan pikirannya.
Ivander membawa mobilnya menuju arah rumah sakit di mana Joevanka di rawat.
Tidak butuh lama, ivander sudah memarkir mobilnya dan melangkah memasuki loby. Tiba tiba seorang perawat memanggilnya.
" Tuan...! "
Ivander menoleh dan melihat perawat yang selalu mengecek keadaan Joevanka sedang menghampirinya.
" Anda ingin melihat pasien nona Joevanka ya tuan? " tanya Perawat kepada Ivander.
__ADS_1
" Ya, benar ! " jawab Ivander, merubah wajahnya dengan mengernyitkan keningnya.
" Pasien yang bernama Joevanka sudah pulang tuan." kata perawat,sedikit memberikan senyum manisnya kepada Ivander.
" Apa, pulang? " Ivander terkejut " Pulang sama siapa suster? " Sambung Ivander kemudian.
" Pulang bersama temannya tuan. Ini tasnya tertinggal di IGD. " Perawat menyerahkan tas milik Joevanka kepada Ivander. Tapi Ivander tidak mendengar, ia asyik dengan pikirannya sendiri.
" Teman? " Gumam ivander mengangkat setengah alisnya. " Apa Ivannia datang? " ucap ivander dalam hati. Ivander terlihat berpikir.
" Tasnya tuan! " perawat mengulangi perkataannya.
" Oh, terima kasih! " Ia mengambil tas milik Joevanka, ia langsung meninggalkan perawat yang terlihat senyum senyum sendiri karena mengangumi ketampanan ivander.
Ivander menyimpan tas Joevanka dibelakang, memasang seat belt, dan menjalankan kembali mobilnya membelah jalan kota xx. Ia langsung menghubungi Ivannia, agar tidak terjadi sesuatu yang membayakan dirinya, peraturan tetap harus dijalankan. Karena pengendara dilarang menggunakan ponsel ketika sedang mengemudi. Untuk menghindari itu, Ivander menghubungkan earphone agar terpasang ke telinganya.
Ivander mengerutkan keningnya, Panggilannya tidak diangkat. Ivander tetap membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Sebelum pintu pagar terbuka otomatis, dari arah belakang terdengar klakson panjang dan sengaja di ulang ulang dan ditekan sedikit dalam, membuat Ivander terkejut dan melihat dari kaca spion. Ivander mengerutkan keningnya, mobil itu sangat ia kenali, siapa lagi kalau bukan Delia.
" Tiiinnnnnnn...Tiiiiinnnnnn! "
Klakson mobilnya sengaja terus Delia bunyikan berulang ulang agar ivander menyadari bahwa yang di dalam mobil ini adalah dirinya. Delia sengaja menekan klakson dengan kekuatan penuh, ekspresi wajahnya terlihat marah, Ia bahkan mengeraskan rahangnya. Semua pengguna jalan lain mendengar dan menoleh ke arah mobil yang terparkir lumayan jauh dari kediaman Ivander. Delia bertambah kesal karena Ivander tidak keluar dari dalam mobilnya.
Delia langsung menancap gas mobilnya untuk mendekati mobil Ivander. Tidak sampai 5 detik, mobil berwarna merah miliknya ia rem mendadak, hingga menghasilkan decitan ban yang menggesek aspal.
Dengan terburu buru Delia sudah keluar dan membanting pintu mobilnya cukup keras.
Ivander hanya bisa menarik oksigen sebanyak banyaknya dari mulut dan hidungnya, ia mengumpulkannya di paru-paru lalu menghempaskan napasnya sekaligus. Ia langsung keluar dari mobil dan melihat Delia dengan kilatan marah yang memancar di bola matanya.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
__ADS_1
π BERIKAN BINTANGMU