WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Memastikan perasaan ini


__ADS_3

💌 Whisper of love 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


" Bukankah ini buku Joevanka? " gumam Ivander berbicara dalam hati. Ia kembali mengulang dan membaca beberapa kali coretan coretan itu. Ivander mengernyitkan keningnya sambil berucap.


" Tapi kata kata ini untuk siapa? " Kata Ivander mengusap bibirnya. Ia sedikit berpikir. " Apakah untuk Samuel? tidak...tidak...saya rasa bukan Samuel, dia bukan tipe orang yang mau menyakiti. " Ivander menggeleng pelan,Ia masih tidak yakin dengan ucapannya.


" Apakah Vanka menyukai seseorang? dan lelaki itu menyakitinya, siapa dia? " Ivander meletakkan telunjuk diatas bibir dan jempol di dagu, ia nampak berpikir keras. " Aku harus mencari tahu sendiri, jika sampai dia menyakiti hati Joevanka, jangan harap dia selamat di tanganku! " kata Ivander bergumam pada dirinya sendiri.


Tiba tiba terdengar alarm pagar utama terbuka otomatis ketika salah satu security menekan remote. Perlahan-lahan gerbang utama terbuka sampai penuh dan kemudian gerbang berhenti bergerak. Mobil Samuel terlihat memasuki pekarangan rumah.


Suara mobil Samuel telah berhenti tepat di pekarangan rumah.


Ivander memicingkan matanya. Ia dapat melihat jelas dari atas balkon kamarnya. Tampak Samuel berlari membukakan pintu untuk Joevanka.


" Cih.." Ivander tersenyum miring. " Sejak kapan Samuel melakukan hal hal kecil seperti itu? " erang Ivander masih memperhatikan mereka dari atas.


Ivander mengubah posisinya bersedekap, ia hanya fokus memperhatikan Joevanka saja. Sesuatu menyelinap di hati Ivander, menyadari kedekatan mereka, membuat hatinya seperti diremas tanpa ampun. Menciptakan keluhan-keluhan dari mulutnya sendiri dan tidak menyadari ia mengumpat Samuel yang dirasanya terlalu berlebihan. Ivander mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras.


" Apa mereka ada hubungan? Kenapa Samuel terlihat bahagia. Apa yang terjadi di antara mereka? " pertanyaan pertanyaan bodoh itu terus menari nari dalam pikirannya.


" Mimpi yang indah Joe! " Kata Samuel tersenyum, wajahnya muncul kembali ketika menurunkan kaca mobil.


" Hati hati ya! " Kata Joevanka tersenyum singkat. Samuel hanya mengangguk pelan. Joevanka tak lepas dari senyumnya sembari melambaikan tangannya.


Ivander tidak terima, wajahnya berkerut menunjukkan rasa tidak suka, terlihat jelas dalam hatinya tidak rela.


Joevanka menengadah ke atas, memandang langit malam, ada taburan bintang nan indah yang menghiasi malam gelap. Tapi keindahan bintang, tidak bisa mengobati hatinya.


Semburat kesedihan terpancar jelas di wajahnya. Suasana saat ini gelap dan sepi mencekam. Hanya ada tubuh Joevanka saja yang diam sendiri dipeluk oleh gelapnya malam. Joevanka kembali mengingat ketika ia ingin minta izin kepada uncle Aaron, agar ia bisa tinggal di apartemen Mommynya dulu. Namun Aunty Anastasia tidak mengizinkan, beliau menolak keras, Joevanka tidak bisa pindah sebelum menyelesaikan kuliahnya. Joevanka hanya membuang napasnya dengan berat. Sepertinya ia harus memikirkan cara lain untuk memberikan pengertian kepada beliau. Ia berjalan sambil memeluk buku yang dia cari bersama Samuel tadi.


Ivander segera beranjak, meninggalkan kamarnya untuk menemui Joevanka. Ivander menunjukkan gestur tubuh kepada Berneta, agar ia sendiri yang membuka pintu untuk Joevanka. dengan sopan wanita itu langsung berlalu pergi ke kamarnya. Daddy dan mommy memutuskan langsung beristirahat ketika jam makan malam sudah selesai. Sementara Ivannia, sudah di kamar menyelesaikan tugas sekolahnya.


Ivander membuka pintu, bersamaan itu joevanka muncul mengangkat kepalanya dan melihat Ivander sudah berdiri di hadapannya. Pandangan mereka bertemu, Joevanka terdiam mematung di posisinya. Menyadari padangan Ivander begitu menguncinya.


Joevanka semakin gugup, kembali jantungnya seperti genderang, berdebar begitu keras. Ivander melepas tatapan seriusnya, ia mengangkat setengah alisnya.


" Sepertinya kau menikmati harimu yang begitu indah bersama Samuel. Mencari buku saja sampai berjam jam. "


" Maaf Ivander, aku baru menemukan bukunya di toko xx. " Jawab Joevanka.


" Masuklah..." Ivander mengulurkan tangannya kedepan mempersilahkan Joevanka masuk.


Tak ada pembicaraan lagi, Joevanka berjalan menuju dapur, untuk mengambil minuman yang bisa menyegarkan tenggorokannya.


" Apa Samuel tidak memberikanmu minum? "


kata Ivander tiba tiba muncul.


Joevanka terkejut ketika menyadari Ivander sedang berdiri dibelakangnya.


" Uhuk uhuk uhuk...." Joevanka tersedak saat minum, ia terlalu gugup, tatapan ivander kali ini membuatnya salah tingkah.


" Kamu tidak apa apa Vanka? " kata Ivander mencoba mendekat. Namun ia langsung melangkah mundur dan menunjukkan gestur tubuhnya mengatakan dia baik baik saja.


" Apakah ini milikmu ? " Ivander mengangkat buku yang ada di tangannya dan memperlihatkan gambar sampul yang ia pegang kepada Joevanka.


Joevanka terbelalak, itu adalah buku yang ia baca tadi malam dan ada coretan coretan kecil di sana.


Dengan cepat Joevanka langsung merampas buku itu dari tangan Ivander, namun sayang Ivander sudah lebih dulu mencium gerak geriknya sehingga dengan cepat Ivander mengangkat tangannya lebih tinggi, agar Joevanka tidak bisa meraih buku yang ada di tangannya.


" Kembalikan buku itu Ivander..." kata Joevanka menunjukkan ekspresi gugupnya, jelas ia takut jika Ivander membacanya.

__ADS_1


" Apa yang kau takutkan? " tanya Ivander menaikkan alisnya dan menatap Joevanka dengan tersenyum singkat.


" Aku mohon kembalikan buku itu? " pinta Joevanka memohon.


" Tidak, aku tidak akan kembalikan jika kau tidak mengatakan sesuatu tentang isi buku ini, apa.....? " Ivander sengaja menggantungkan kalimatnya, ia tersenyum smrik dan melengkungkan alisnya.


" Kembalikan....! " Joevanka mencoba meraih buku itu dari tangan ivander, sampai membuatnya sedikit melompat, namun Ivander tidak mudah menyerah, ia mengangkat tangannya lebih tinggi.


Menyadari kedekatan mereka dan melihat wajah Joevanka tepat berdiri di depannya. Membuat Ivander gugup. Sentuhan Joevanka yang menarik bajunya, wajahnya yang terkena pantulan cahaya lampu membuat Ivander menelan salivanya. Bibirnya terlihat basah berwarna merah muda dan wangi tubuhnya begitu memikat, napasnya yang memburu berhembus aroma mint menerpa wajah Ivander.


Lelaki berhidung mancung ini semakin terkejut, wajah Joevanka sudah sangat dekat dengan wajahnya.


Ivander menyadari Joevanka begitu cantik.


Joevanka Mark



Mereka saling berpandangan, Joevanka semakin menyadari kedekatan mereka. Ia reflek mundur kebelakang dan menjauh dari Ivander. Ia terlihat gugup, jantungnya berdetak dan terpompa lebih kencang. Joevanka menunduk tidak berani mengangkat wajahnya, badannya seketika terasa kaku tak dapat bergerak.


Hening menyeruak di antara mereka, tidak ada yang bersuara.


Keduanya terdiam, dengan cepat Joevanka mengambil buku yang ada di tangan Ivander kala ia lengah.


" Aku harap kau jangan mengambil barang yang bukan milikmu...! " Kata Joevanka dengan nada dingin, ia langsung meninggalkan Ivander yang diam mematung tak bergeming.


Debaran yang tadinya lemah kini terasa semakin kencang, Ivander hampir tidak bisa bernapas, ia tersenyum samar. Ia menyentuh dadanya.


" Apa yang terjadi denganku? Sudah lama aku tidak merasakan seperti ini. " kata Ivander bingung dengan dirinya. " Ada apa detak jantungku? Apakah aku mempunyai penyakit serius?" Kata Ivander terlihat gugup, ia kembali melakukan ritualnya, menghembuskan napasnya lewat mulut, mencoba menstabilkan napasnya dan juga menenangkan dirinya.


Sementara Aaron kembali masuk kedalam kamarnya kala ia ingin ke dapur mengambil wine. Langkahnya berhenti, melihat Joevanka menarik tangan dan juga baju Ivander, yang ingin mengambil buku dari tangan anaknya. Ia hanya tersenyum dan kembali masuk ke kamar dan menutup pintu dengan pelan.


⭐⭐⭐⭐⭐


" Ivander aku ingin bicara? " kata Samuel, mengikuti langkah Ivander, setelah jam pelajaran mereka selesai.


" Dude, tolong bantu aku. "


Ivander menghentikan langkahnya, ia melengkungkan alisnya dan menatap Samuel lekat lekat.


" Bantu apa ? " tanya Ivander dengan nada datar tanpa ekspresi.


" Tolong bantu aku dude untuk mendapatkan cinta Joevanka. " kata Samuel memohon.


" Apa? " Ivander sedikit terkejut dan bola matanya agak membesar, ia hanya melemparkan senyum tipis dengan rasa canggung, alisnya mengkerut.


" Aku begitu mencintainya dude, bahkan sangat. Sampai aku tidak bisa bernapas. " keluh Samuel. " Terlalu sakit memendam rasa ini." Samuel menyentuh bagian dadanya.


" Aku tidak bisa! " jawab Ivander dengan wajah dingin.


" Kenapa dude ? " Ivander mengernyitkan keningnya sedikit terkejut.


" Kau harus usaha sendiri, jadilah lelaki gentleman. Aku tidak bisa! " Kata Ivander sedikit ketus. " Sekarang lebih baik kita fokus untuk latihan dulu, oke! " ujar Ivander melangkah meninggalkan Samuel.


Lelaki bertubuh tinggi itu hanya bisa menatap punggung Ivander. Ia sendiri bingung dengan sikap Ivander. Biasanya Ivander selalu membantunya dalam urusan mendapatkan cinta. Kenapa Ivander terlihat berbeda.


Samuel mendengus kasar, Ia yakin Ivander bersikap seperti ini karena terlalu memikirkan Delia. Samuel membuang napasnya dengan berat.


" Dude, tunggu! " panggil Samuel melangkah panjang menyusul Ivander.


Sementara Ivander air mukanya sudah berubah. Ia tidak tahu kenapa bersikap seperti ini. Ia mengepalkan tangannya untuk menepis kegalauan hati. Ia merasa benar benar tidak nyaman.


Ia melihat Joevanka sudah duduk untuk melihat mereka latihan hari ini.


" Ivander...! " Joevanka sudah bangun dari duduknya dan menyapa Ivander, namun Ivander tetap berjalan dan melewati Joevanka. Ia berpaling dan tidak melihat kepada Joevanka.


Ivander sengaja mengabaikan Joevanka. Jika benar goresan pena itu buat Samuel. Bisa jadi cinta mereka saling terbalaskan. " Bagaimana dengan aku? " kata kata itu tiba tiba tercetus dalam hati Ivander.


Joevanka kembali duduk dan meremas tangannya, ia menggigit bibir bawahnya terdiam mematung di posisinya. Menyadari Ivander telah mengabaikannya.

__ADS_1


" Joe....! kau sudah datang? " Samuel melemparkan senyumnya kepada Joevanka.


" Astaga dia cantik sekali. " Batin Samuel berbisik dalam hatinya.


" Samuel! " Joevanka tersenyum tipis.


" Sudah lama? " tanya Samuel.


" Gak kok, aku baru saja sampai. " sahut Joevanka.


Dari jauh Ivander sudah memasang wajah tidak suka, karena melihat kedekatan mereka.


Tiba tiba ponselnya Joevanka berdering.


" Sebentar ya! " bisik Joevanka kepada Samuel. Ia langsung keluar dan mengangkat ponselnya.


Sementara didalam ruangan.


Latihan rutin diadakan untuk mengasah kembali kemampuan baik secara tim agar pertunjukan mereka bisa di nikmati semua orang. Acara ini ulang tahun universitas ini diadakan setiap tahun. Ivander dan grup bandnya hanya mempersembahkan tiga buah lagu saja. Aktivitas yang biasa Ivander lakukan antara lain latihan teknik pernafasan, latihan tehnik suara, latihan pembawaan lagu, latihan pelafalan kata, semua mereka lakukan agar tidak mengecewakan penonton yang antusias ingin menyaksikan mereka.


Semua sudah Ivander lakukan, dari tatanan musik juga sudah siapkan. Band ivander tidak pernah diragukan lagi.


" Ivander! "


Ivander menoleh ke arah sumber suara yang tidak asing ditelinganya.


Ivander menghentikan latihannya. Menatap Delia tidak suka. " Kalian bisa lanjutkan latihannya, aku keluar sebentar ! " Kata Ivander.


" Ada apa Delia? "


" Kita perlu bicara Ivander. Ini sudah beberapa minggu, tapi kau tidak pernah ngabarin aku. " ucap Delia nampak frustasi.


" Ikut aku! " Kata Ivander.


Mereka sudah berada diluar jauh dari tempat latihan.


" Bukan kah kau sendiri yang menghilang Delia? "


" Ya..aku salah, aku minta maaf Ivander, sungguh aku minta maaf ! " Kata Delia menangis. " Aku terlalu mementingkan diri sendiri dan selalu ingin menang sendiri. Aku terlalu mengatur kehidupanmu. Aku minta maaf Ivander. Sungguh! " Delia sudah menjatuhkan air matanya. Namun Ivander tidak menunjukkan rasa simpatik.


Mendengar Isak tangis yang begitu jelas, Joevanka menghentikan pembicaraannya lewat handphone-nya. Joevanka menoleh dan mencari suara tangisan.



" Delia...? " gumam Joevanka melihat Delia sedang menangis dan terlihat ivander berdiri tanpa ekspresi belum menyadari keberadaannya.


Bersamaan itu tatapan mereka bertemu dan Sepersekian detik Ivander langsung memberanikan diri memeluk Delia yang sedang menangis. Ia sengaja melakukan untuk memastikan perasaannya kepada Delia. Apakah masih ada cinta? atau dia mulai mencintai Joevanka.


Sementara tubuh Joevanka membeku, ia langsung membuang mukanya. Tubuhnya seakan kaku dan tidak berani mengangkat wajahnya. Seluruh tubuhnya terasa panas dan gemetar. Ia meremas ponselnya dengan kuat.


Hatinya begitu sakit seperti tengah di cengkram oleh sebuah tangan yang besar dan hampir membuatnya ingin menangis.


.


.


BERSAMBUNG


.


.


.


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌


💌 BERIKAN VOTEMU 💌


💌 BERIKAN BINTANGMU 💌

__ADS_1


__ADS_2