WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Curahan hati Joevanka


__ADS_3

💌 Whisper of love 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Joevanka mendengus kesal dan terus menggelengkan kepalanya. Saat Ia mengingat Jasmine mencium Ivander. Ia tersenyum miring.


" Dasar lelaki tidak tahu malu.." Batin Joevanka menatap Ivander yang terus berbicara dengan Barreto si penanggung jawab atas proyek Donisius.


Awalnya ia tidak ingin menyentuh anggur. Ia masih mengingat pesan dokter terakhir kali kepadanya. Tidak apa apa untuk kali ini saja. Joevanka membuang napasnya. ia mulai menghabiskan satu gelas anggur sekaligus. Matanya terus mengunci Ivander. Joevanka menggembungkan pipinya. Ketika minuman di depannya telah habis.


" Segerrrr....." Joevanka mengangkat gelasnya yang kosong.


" Joe kamu haus ya? " Gavin terbelalak.


" Anggurnya enak Gavin. " Bisik Joevanka.


" Anggur justru tidak bisa diteguk sekaligus, minumnya dikit dikit dan gelasnya harus diputar putar dulu. Kau benar malu-maluin saja. Kau harus belajar minum wine dengan benar. Kau benar-benar tidak pintar sama sekali, seorang sekretaris harus bisa semua, walau itu dalam hal seperti ini. " sungut Gavin.


" Jadi harus bagaimana? coba tunjukkan bagaimana cara minum yang baik." ujar Joevanka.


" Jika kau minum seperti itu, kau akan cepat mabuk. Pertama pegang pada batang gelas yang berisi wine lalu memutar-mutar gelasnya hanya sepuluh detik saja, agar aroma wine lebih keluar. Kau harus menghirup aroma wine terlebih dahulu, lalu teguk dengan berlahan. Jika kau melakukan seperti tadi. Kau bisa cepat mabuk. " Jelas Gavin.


Joevanka mencoba seperti yang dijelaskan Gavin.


" Astaga, anggur ini rasanya enak sekali Gavin. Baru kali ini aku menikmati anggur seenak ini, ditambah menu yang aku pesan sangat cocok dipadukan dengan anggur ini."


" Sesuailah harganya mahal, kau mau tau harganya berapa? " bisik Gavin.


" Berapa ? "


" 68 juta, ini masih yang paling murah. Ada yang ratusan juta sampai miliaran juga. "


Joevanka hampir saja menyembur minuman yang ada di mulutnya." Kau serius? " Mata Joevanka membulat sempurna dan mulutnya terbuka. " Oh my God, berarti aku harus habiskan ini Gavin. " Joevanka kembali menyesap wine yang ada ditangannya secara berlahan.


" Jangan terlalu banyak minumannya. Nanti kamu mabuk Joe. " Gavin kembali memberi nasehat.


" Tidak Gavin, aku wanita kuat tidak akan mabuk. Tenang saja.. " Joevanka terkekeh melihat Gavin menggeleng. Lagi lagi Joevanka terus menuang minumannya.


" Oke Joe, sudah cukup! " Gavin mengambil botol wine yang tinggal setengah. Ia terus mengingatkan Joevanka.


" Aku tidak akan mabuk Gavin. Lihat saja aku baik baik saja. Minuman ini sangat mahal dan sayang kalau tidak kita habiskan. " Joevanka cekukan di ujung kalimatnya. Nada suaranya sudah mulai terdengar mendayu.


Gavin kembali mengambil botol. " Cukup Joe, nanti kamu sakit. Penyakitmu akan bertambah serius, kamu ingat kata dokter terakhir kali. Hindari alkohol untuk menghindari pemicu penyakitmu kambuh lagi." kata Gavin setengah berbisik. Ia takut pak direktur mendengarnya.


" Siapa bilang aku sakit, cukup hatiku yang sakit Gavin..." Joevanka menepuk dadanya dan sedikit menekan kalimatnya. Ia menghembuskan napasnya mulai kesal dengan Gavin yang melarangnya minum.

__ADS_1


" Kau harus tetap jaga kesehatan. "


Ivander tengah memeriksa email yang masuk melalui tablet digitalnya, mulai tidak fokus. Ivander mengangkat wajahnya dan ikut mendengar perdebatan Joevanka dengan Gavin. Pandangannya tidak mau lepas menatap joevanka.


Sekarang hanya yang tertinggal pak direktur, Joevanka, Gavin dan Halbret saja. Mereka masih tetap berbicara santai. Joevanka hanya bisa diam dan menatap gelasnya yang sudah kosong. Joevanka kembali mengisi gelasnya dengan penuh dan tidak perduli dengan ocehan Gavin.


" Astaga Joe, kau mau mati ya? Berhentilah, cukup ! " Gavin berusaha menjauhkan minuman itu dari hadapan Joevanka.


" Aku tidak akan mabuk Gavin. Aku sudah bilang, aku ini wanita kuat. " Kata Joevanka menepuk dadanya. Ia melemparkan senyumnya kepada Gavin. Mengambil kembali minumannya. Pandangannya mulai sayu. Joevanka mulai merasakan pusing di kepalanya. Ia menggeleng cepat. Menyadarkan pandangannya.


" Oh my God, isi botol ini sedikit lagi Joe. " Gavin terbelalak heran melihat sikap Joevanka. Ia tidak biasanya seperti ini.


Joevanka tersenyum miring, ia menatap gelasnya lalu membuang napasnya dengan lesu. Joevanka kembali meneguk anggur yang ada dihadapannya. Malam ini Joevanka ingin bercerita. Ia ingin melepaskan rasa kesalnya.


" Kau tahu kenapa aku menyukaimu Gavin? " Kata Joevanka mencubit pipi Gavin dengan kedua tangannya. Ia berharap agar Gavin berhenti menasehatinya.


" Sudah hentikan Joe, ada bapak direktur disini. Tidak enak dengan beliau. " Kata Gavin, ia sekilas melirik pak direktur yang sedang memperhatikan Joevanka.


Ivander mengangkat kedua alisnya dengan posisi tangan bersedekap. tatapannya masih tetap fokus dengan Joevanka. " Kau menyukai Gavin? " Batin Ivander dalam hati. Ia nampak gusar.


" Karena kau bukan lelaki brengsek Gavin. Kau Lelaki yang memperlakukan aku layaknya seorang wanita. " Kata joevanka tersenyum smrik. Ia kemudian tertawa lagi.


" Maaf pak direktur, sepertinya joevanka sudah mabuk. " Lirih Gavin dengan suara terendahnya.


" Siapa bilang aku mabuk Gavin? Apa kau mau ikut ikutan dengan mereka? " kata Joevanka dengan pandangan sayu.


" Apa maksudmu Joe? Bicaramu semakin meracau tidak jelas. Lebih baik kita pulang! " Gavin menekan setiap perkataan. Terus berbisik kepada Joevanka agar menghentikan aksi konyolnya.


" Kau tidak tahu, lelaki brengsek itu selalu merendahkan aku Gavin. Aku sudah bilang hanya kamu lelaki yang berbeda, memperlakukan aku layak seorang wanita yang terhormat. Kamu tau itu? " Joevanka kembali meracau asal. Ia Kembali menuang anggur kedalam gelasnya.


Sementara Ivander hanya bisa diam tanpa ekspresi. Terus mencermati setiap perkataan Joevanka. Jantungnya bergemuruh berdetak kencang seperti genderang. Ada rasa takut dan cemas jika Joevanka memang mencintai Gavin.


Joevanka kembali mengerucutkan dahinya. Menggeleng sambil menepuk pipinya. " Aku tidak boleh mabuk...Kau tidak lemah Joe.." Tubuh Joevanka sedikit oleng. Ia menjatuhkan kepalanya di meja.


Tiba tiba panggilan dari ponsel Ivander berbunyi. Ia segera beranjak meninggalkan ruangan kelas VIP.


Joevanka tersenyum sinis, ia mengangkat kembali kepalanya, menatap lelaki itu dengan pandangan sayu. Joevanka hanya bisa membuang napasnya.


" Dasar lelaki brengsek.." sinis Joevanka berbicara pada dirinya sendiri.


Joevanka mulai merasakan pusing di kepalanya. Ia menjatuhkan kembali kepalanya di meja.


" Joevanka ternyata asyik juga jika mabuk..."


Halbret tersenyum melihat tingkah Joevanka yang sangat lucu.


Tak menunggu lama, Ivander kembali masuk dan melihat Joevanka sudah tertidur, kepalanya ia letakkan di atas meja.


" Maaf pak, Joevanka sepertinya mabuk sekali. " Gavin bangkit ketika melihat pak direktur masuk.


" Soal sekretaris Joevanka, biar aku yang mengurusnya. Kalian bisa langsung pulang ke hotel. " ucap Ivander matanya tidak lepas menatap joevanka.

__ADS_1


" Apa tidak masalah pak? " Ucap Gavin merasa tidak enak.


" Tidak masalah, Joevanka adalah sekretarisku. "


" Baik pak kalau begitu kami permisi dulu. " Halbret dan Gavin serentak membungkukkan badannya untuk memberi hormat. Mereka berjalan keluar dari ruangan VIP sebuah restoran ternama di kota itu.


SEMENTARA DI RUANGAN VIP


" Vanka ? Joevanka? " Panggil Ivander lembut sambil menyentuh belakang pundaknya. Ia memilih duduk di sebelah Joevanka.


Joevanka mengangkat setengah kepalanya dan menunduk kembali. Ia merasakan kepalanya begitu sakit. " Apakah si brengsek itu sudah pergi Gavin? " Joevanka berbicara setengah mendayu dengan posisi duduk. Namun kepalanya masih tertunduk dan mata terpejam. Joevanka saat ini berusaha menahan segala perasaan yang menyesakkan dadanya. Perasaannya saat ini sangat berantakan, ia menekan rasa pahit yang terus bergejolak.


Ivander mengernyit bingung. " Joevanka, kau baik baik saja. " Kata Ivander dengan suara terendahnya.


Hiks...Hiks...Hiks... Terdengar sayup sayup suara isak tangis dari Joevanka. Isak tangisnya semakin terdengar menyayat hati. Tubuh Ivander membeku melihat Joevanka. ekspresi wajah Ivander tiba tiba berubah.


" Dia brengsek Gavin, sangat brengsek...setelah dia melukai hatiku. Dia datang kembali dan mengatakan kalau dia mencintaiku. Dia bahkan melakukan semua itu, agar aku tetap berada di sisinya. Karena dia sangat mencintaku. Hahahaha Apakah aku harus percaya Gavin? apa yang harus aku lakukan, dia mencintaku Gavin. Dia mengaku akan terus mengejarku walau aku sampai ke ujung dunia sekalipun katanya. " Joevanka terus berbicara, sampai ia tidak menyadari Joevanka tertawa sambil menangis.


Ivander masih diam di posisinya, tubuhnya terasa kaku dan tidak bisa bergerak. Napasnya berhembus tidak stabil, wajahnya sudah terlihat pucat.


" Haaaaahhh " Joevanka berusaha menghentikan tangis yang mengandung sejuta makna.


" Aku berusaha keras untuk menghentikan perasaan ini, berusaha pergi sejauh yang aku mau Gavin, agar bayangan wajah dari si brengsek itu hilang dari pikiranku. Agar aku benar benar bisa melupakannya. Tapi, tapi... bagaimana aku bisa melakukannya, kalau perasaan ini tidak bisa memusnahkan dia dari hatiku..." Joevanka menepuk dadanya begitu keras. Air matanya mengalir begitu deras di pipinya. Ia mengeluarkan suara lirih. Wajahnya mengerut, ia berusaha bernapas meski sesenggukan.


" Dia selalu menahanku dan selalu mengatakan mencintaiku. Apa yang harus aku lakukan Gavin. Aku berusaha menahan segala perasaanku ini. Jika dia seperti ini bagaimana aku bisa melepaskannya? " Bibir Joevanka gemetar, napasnya keluar tidak stabil.


" Aku terlalu mencintainya bahkan sampai sekarang napas ini berhembus hanya untuknya Gavin, aku tidak sanggup lagi. aku benar benar tidak sanggup lagi menahan semua ini. Ia tidak tahu bahwa ingatanku kembali Gavin. Dia bahkan akan bersabar menungguku, dia bahkan tidak ingin memaksaku untuk secepatnya mengingatnya. Aaahhhhh.... " Air bening terus mengalir ke dagunya. Joevanka kembali menangisi Lelaki yang sangat dicintainya. Ia benar benar tidak tahan lagi dengan segala gejolak yang muncul di dadanya wajahnya mengerucut bahkan mengerut. Suaranya lirih dan meraung.


" Aku sangat mencintainya, mencintainya..."


Ivander yang sedari tadi mendengar isi hati Joevanka hanya bisa menarik napasnya yang begitu sesak. Matanya berair menahan isak tangis, hidungnya merah. Ivander mendongak keatas. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak keluar. Sekarang ia tahu perasaan Joevanka. Mereka saling memendam perasaan ini. Kini Ivander tidak akan melepaskan Joevanka lagi.


Joevanka jatuh menyamping, kepangkuan Ivander. " Bawa aku jauh darinya Gavin. " ucapnya meracau pelan. " Aku tidak ingin terluka lagi. " Lirih Joevanka, air matanya berhasil jatuh kepangkuan Ivander.


Ivander tersentak, ia mengangkat tangan dan menatap ke pangkuannya. Tangisan Joevanka lama lama hilang walau masih terdengar suara sesenggukan. Joevanka tertidur dipangkuannya, napasnya terdengar teratur dan berhembus lembut.


" Kau tidak akan terluka lagi Vanka. Aku akan memberikan hatiku untukmu. Aku bahkan tidak akan melepaskanmu. Kamu mengerti? " Air mata Ivander akhirnya terjatuh. Ia menyelipkan rambut Joevanka yang menutupi wajahnya.


" Aku juga sangat mencintaimu Vanka..."


.


.


BERSAMBUNG


.


.


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌

__ADS_1


💌 BERIKAN VOTEMU 💌


💌 BERIKAN BINTANGMU💌


__ADS_2