WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

💌 Whisper of love 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Ivander berjalan menggandeng tangan Joevanka, memasuki rumah sakit ternama di kota xx. Joevanka kembali melakukan pemeriksaan untuk mengetahui bagaimana hasil perkembangan dari pengobatan terakhirnya setelah ia menjalani terapi pengobatannya selama satu bulan.


Ditemani Ivander, Joevanka melakukan pemeriksaan tekanan darah dan pemeriksaan yang lainnya.


"Apa kabar ibu Joevanka, apa masih sering mual dan muntah?" Tanya perawat tersenyum hangat.


Joevanka menggeleng sambil tersenyum. "Tidak lagi suster." jawab Joevanka.


"Kemajuan yang baik ibu Joevanka. Semoga saja hasilnya kali ini benar-benar baik semua ya bu." Kata perawat tersenyum dan sudah selesai mencatat tekanan darahnya dan bangkit mempersilakan mereka masuk ruangan dokter.


"Oke, silakan masuk, dokter sudah ada ." Kata perawat menunjuk jalan.


" Terima kasih." Kata Joevanka bangun dari duduknya yang di ikuti Ivander. mereka mengikuti perawat menuju ruang dokter dan membuka pintu untuk mereka.


Hari ini Joevanka sudah terlihat santai, tidak seperti awal ia datang kesini. Kini ia sudah tenang karena ada Ivander disampingnya. Udara dingin di ruangan itu terasa pas. Wangi jeruk dari pengharum ruangan menambah kesegaran ruangan dokter. Ruangan pemeriksaan dengan pencahayaan yang cukup terang membuat Joevanka tersenyum ketika dokter menyambut kedatangannya.


Seorang pria berkaca mata lengkap dengan jas putihnya bangun dan dari duduknya menyambut kedatangan Joevanka.


" Selamat siang ibu Joevanka. Apa kabar?" Dokter menyambut kedatangan pasiennya.


"Selamat siang dokter. kabar saya baik dokter." Kata Joevanka ramah. "Perkenalan dok, dia calon suami saya."


"Anda calon suaminya? wah senang bertemu dengan anda Tuan." Dokter mark memberikan jabatan tangan kepada Ivander. Mereka saling tersenyum.


"Saya ingin tahu bagaimana hasil pemeriksaannya." kata Ivander.


"Itu memang lebih bagus.." Sahut dokter tersenyum dan memeriksa secarik kertas yang ada di hadapannya. "Silakan duduk!"


"Terima kasih dokter." kata mereka serentak.


Joevanka dan Ivander mengambil duduk tepat di hadapan dokter. Sementara Perawat berdiri tidak jauh dari dokter.


Dokter langsung kembali memberikan beberapa pertanyaan kepada Joevanka.


"Bagaimana perasaan anda sekarang ibu joevanka, apakah ada perubahan setelah anda melakukan terapi obat-obatan dari yang saya berikan?" tanya dokter dengan posisi tangan lurus ke depan di atas meja.


"Saya tidak pernah mengalami muntah lagi dok,"


"Bagus ibu Joevanka, berarti pengobatannya berjalan dengan baik. Tapi untuk memastikan gumpalan darah itu masih ada atau tidak, kita perlu melakukan MRI. Bagaimana ibu Joevanka? apa anda bersedia?" Tanya dokter kepada pasiennya.


"Tidak masalah dokter, demi kesehatan calon istri saya." Kata Ivander terus menggenggam lembut dan mengusap-usap tangan Joevanka dengan jempolnya untuk memberi kekuatan.


" Saya bersedia dok." Ucap Joevanka dengan pasti.


"Oke ibu Joevanka, kalau begitu kita bisa mulai ya." Dokter memberikan kode kepada perawat yang berdiri di sampingnya.


" Sebelum kita mulai, disini saya perlu jelaskan bagaimana cara kerja MRI ibu Joevanka." Dokter Mark tersenyum, Ia melipat tangannya di atas meja.


"Anda akan berbaring dalam mesin dengan medan magnet akan mengubah posisi molekul air dalam tubuh. Gelombang radio kemudian menghasilkan sinyal yang dideteksi dan ditampilkan dalam bentuk gambar.


MRI akan menghasilkan gambar tiga dimensi yang dapat dilihat dari berbagai sisi. Dengan ini, proses diagnosis bisa lebih mendetail. Dan memantau proses pengobatan, kita bisa melihat apakah darah itu masih membeku atau tidak. "

__ADS_1


Ivander dan Joevanka hanya mengangguk tanda mereka mengerti maksud dari dokter.


" Sekarang ikut saya ibu Joevanka." kata Dokter mengajak Joevanka menuju ruang bagian khusus untuk melakukan pemeriksaan MRI.


Joevanka diberikan baju ganti untuk dikenakan selama pemeriksaan.


"Ibu Joevanka sebelum melakukan pemeriksaan, bisa melepaskan perhiasan, jam tangan, atau apapun yang bersifat logam ya. Anda tidak boleh memakai apapun yang bersifat logam selama pelaksanaan MRI."


"Oke," Kata Joevanka membuka jam tangan dan cincin berlian yang diberikan Ivander kepadanya.


"Saya berikan ini ke suami ibu."


"Suami?" Batin Joevanka tersenyum dalam hati ia bahagia mendengar kata itu. "Berikan saja kepada lelaki yang ikut dengan saya."


Setelah itu, Joevanka diminta untuk berbaring dengan tenang. Dokter Mark masih berdiri di samping Joevanka yang sedang berbaring dengan posisi supinasi, dengan kedua lengan dan tangan diletakkan pada sisi tubuh. Joevanka di minta dengan sikap diam pada waktu pemeriksaan sedang berjalan. Sementara Ivander berada diluar ruangan. Melihat cara kerja MRI melalui kaca.


Joevanka terlihat tenang dan mulai memejamkan matanya untuk mendapat hasil yang baik. Pada waktu pemeriksaan berlangsung, pasien dapat diminta untuk menahan napas sebentar.


"Tidak perlu takut ibu Joevanka, kau dapat diistirahatkan beberapa kali diantara scanning satu dengan selanjutnya. setiap pemindaian berlangsung sekitar 30 detik hingga 3 menit, sedangkan, keseluruhan prosedur dapat berlangsung selama hampir satu jam saja. itu hampir sama EEG."


Joevanka hanya mengangguk, ia mengepalkan tangannya dalam hati Joevanka terus mengucap doa. Semoga hasilnya lebih baik lagi.


SATU JAM BERLALU.


Ivander menarik Joevanka masuk ke dalam pelukannya. "Bagaimana perasaanmu sayang? apa sakit? Bagian mana yang sakit?" Ivander melepaskan pelukannya dan memeriksa tubuh Joevanka.


"Aku tidak apa-apa sayang, aku hanya merasa penat dan sedikit pusing." Keluh Joevanka.


"Tadi dokter sudah menjelaskan sayang, memang hal itu akan terjadi. Itu disebabkan oleh kuatnya medan magnet serta gelombang radio yang dipancarkan oleh alat tersebut."


"Tidak masalah, demi untuk sehat apapun aku jalani."


Ivander mengangguk dan tersenyum lembut. "Sekarang kita menemui dokter lagi."


"Oke, ibu Joevanka. Anda sudah selesai melakukan MRI dan berjalan dengan baik. Selanjutnya petugas kami akan memproses hasil gambar tersebut sampai berhasil dicetak dan hasil tersebut akan dibaca oleh dokter spesialis radiologi terlebih dahulu. Setelah hasil dibaca oleh spesialis radiologi maka hasil pemeriksaan MRI baru dapat saya evaluasi. Dan waktu yang diperlukan biasanya 1 sampai 2 minggu sampai hasil bisa diberikan pada anda."


"Oh, hasilnya tidak langsung keluar ya dokter?" tanya Joevanka.


"berbeda ketika kita melakukan EEG, hasilnya langsung keluar. Tapi dengan MRI anda di minta bersabar menunggu hasilnya. Pihak dari kami akan menghubungi anda. Tapi yang saya lihat ibu Joevanka jauh sudah terlihat lebih sehat. Saya bisa merasakan gumpalan itu pun sudah hilang dari ibu tidak muntah dan sakit kepala luar biasa. Agar anda puas,kita akan menunggu."


" Amin semoga saja ya dokter. saya juga berharap seperti itu." kata Joevanka.


"Baik dokter terima kasih."


"Kami permisi dokter." Ivander lebih dulu bangun dan menjabat tangan dokter Mark. Di susul Joevanka. Mereka pergi meninggalkan ruangan dokter dengan saling melemparkan senyum. Ivander memasukkan jari-jarinya ke sela jari-jari tangan Joevanka dan sesekali ia menciumnya dengan posesif.


⭐⭐⭐⭐⭐


Anastasia khusus menggunakan perancang Alexander McQueen untuk pernikahan Ivander dan Joevanka.


Ivander dan Joevanka di temani Anastasia pergi untuk mencoba koleksi hasil dari rancangan dari desainer yang di kenal di seluruh mancanegara ini.


"Hei, Anastasia akhirnya kamu datang juga." Sapa Alexander memeluk tubuh Anastasia dan melepaskan pelukannya, memegang kedua lengan Anastasia. "Kamu tambah cantik saja. Apakah Aaron menghujani mu kasih sayang setiap hari, kamu awet muda sekali Tasia."


Anastasia terkekeh. "Apakah terlihat seperti itu Alex? kau terlalu memuji ku."


"Kalian pasangan yang sangat aku kagumi Anastasia." Kata Alex dengan nada serius. "Jadi aku berharap anak-anak mu bisa mengikuti jejak kalian. Karena kalian pasangan paling romantis." ucap Alex sambil mengerlingkan salah satu matanya.


"Hahahaha." Anastasia tertawa renyah.


Ivander memeluk Joevanka dari samping dan mencium puncak kepala Joevanka berulang kali. Ivander mendekat ke telinga Joevanka dan berbisik. "Kau dengar itu sayang? Aku berharap kita bisa mengikuti jejak mommy dan daddy."

__ADS_1


"Tentu saja, aku juga berharap hidup bahagia denganmu dan memiliki anak yang banyak."


"Oke, setelah menikah kita akan buat anak yang banyak. Kau mau berapa, kita akan buat setiap hari." Ucap Ivander terkekeh.


Joevanka tersenyum dan hanya bisa mencubit perut Ivander dengan lembut. "Kau pikir bisa buat anak setiap hari dan lahirnya juga bisa setiap hari?" keluh Joevanka tersenyum merasa lucu sendiri dengan ucapannya.


"Kau mempunyai menantu yang cantik Tasia. Mendekat lah kita akan coba beberapa gaun untukmu." Kata Alexander menjentikkan tangannya kepada Joevanka.


Anastasia mendekat. "Sekarang kau bisa memilih yang mana gaun yang kamu suka sayang." Kata Anastasia


Alexander dengan di bantu oleh staf-staf kepercayaannya berjalan menuju ruang ganti. Sementara Anastasia dan Ivander menunggu di ruangan sambil berbicara.


"Bentuk tubuhmu bagus sekali sayang. Aku yakin gaun ini indah dan pas ke tubuhmu." Kata Alexander sambil menarik tali korset gaun di belakang punggung Joevanka.


Pipi Joevanka merona merah. Dari dulu badan Joevanka memang paling susah gemuk. Padahal ia makan sesukanya. Ivander setiap datang membawakan makanan enak dan bahkan terkadang ia di ajak makan tengah malam. Tapi itu sama sekali tidak berpengaruh pada tubuh Joevanka.


Gaun putih kini terpasang sempurna di tubuh Joevanka. Gaun ini benar-benar indah dan pas di tubuh Joevanka. Sangat cantik. Tidak ada yang perlu di rubah. Sempurna.


Penutup gorden di sibakkan. Lampu sorot langsung menyala dan menyorot ke arah Joevanka dan gaun putihnya. Menampilkan Joevanka yang terlihat seperti bidadari.


Ivander terkesima. Matanya berkedip cepat dengan mulut terbuka sedikit. Ia terpesona melihat kecantikan Joevanka saat ini.


"Astaga sayang, kamu cantik sekali." Kata Anastasia mendekat ke arah Joevanka dan terus melihat penampilan Joevanka dari atas sampai ke bawah.


Joevanka tersipu malu, wajah kembali merona. Ia sedikit menunduk dan menjepit bibirnya. "Terima kasih aunty,"


"Jangan panggil aunty lagi sayang. Panggil mommy,ehmm..." Pinta Anastasia tersenyum lembut.


Sementara Ivander masih diam terpaku ditempatnya. Ia masih ingin menikmati kecantikan calon istrinya itu. "Tuhan, bidadari yang kau kirimkan ini benar-benar sempurna. Begitu indah dan cantik. Kenapa aku begitu mengagumi mu sayang. Kau benar-benar tercipta untukku bahkan setiap hembusan napasku." Batin Ivander terus berbicara. Matanya tidak mau lepas menatap joevanka. Seakan ingin memiliki secepatnya dan membuatnya bahagia.


Melihat reaksi Ivander, semua tertawa termaksud itu Alexander. "Lihat! calon suamimu saja sangat mengagumi kecantikan mu Joe. Aku yakin dia sudah tidak sabar ingin memiliki mu." Ujar Alexander tertawa.


"Bagaimana sayang, apa gaunnya cantik." kata joevanka berusaha menyadarkan Ivander.


Ivander hanya mengangguk cepat dan tersenyum. Sementara yang lain kembali tertawa. Seorang direktur yang di kenal dengan pemimpin yang tegas dan selalu yang terbaik berubah menjadi lelaki yang gugup karena melihat Joevanka.


"Semuanya sempurna sayang." Akhirnya Ivander menjawab.


"Oke, gaunnya kita gunakan ini ya. Saya akan menyimpannya dengan baik sampai hari H." Kata Alexander semangat.


Hari itu selesai, Alexander sudah mencacat dan menyimpan design finalnya. Ivander dan Joevanka sudah kembali pulang.


Sementara Anastasia di jemput Aaron karena akan mengikuti acara panti asuhan Vincentius putra.


Sementara diperjalanan.


Ivander terus menggenggam tangan Joevanka seakan tidak mau melepaskannya.


" Kau, sangat cantik sayang. Aku yakin malam ini tidak bisa tidur memikirkan bidadari ku."


Joevanka kembali tersipu malu, Ivander mendekatkan wajahnya. Ia menarik dagu Joevanka agar ikut berpaling dan berusaha menggapai bibir ranum itu. Joevanka mengerti apa yang di inginkan Ivander. Ia mendekatkan wajahnya dan Ivander berhasil mlumat singkat bibir Joevanka. Debaran-debaran itu tercipta kembali. Hal terkecil seperti ini mampu membuat jantung Joevanka berdebar kencang, seperti aliran listrik yang semakin menyetrum dengan kedutan kedutan yang menjalar ke tubuhnya. Joevanka kembali tersenyum. Sejujurnya ia tidak menduga akan masuk ke dalam keluarga Donisius. Sekarang ia memiliki keluarga yang baik dan sangat perhatian kepadanya di tambah Ivander sangat mencintainya. Hal yang sangat ia syukuri. Setelah menikah nanti, Joevanka mengajak Ivander berkunjung ke London untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya.


.


BERSAMBUNG


.


.


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌

__ADS_1


💌 BERIKAN VOTEMU 💌


💌 BERIKAN BINTANGMU💌


__ADS_2