
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Anastasia mengerutkan keningnya, ia menatap Aaron penuh selidik. Kenapa kali ini suaminya pergi tidak mengajak nya ikut, tiket pesawat hanya dibeli satu .
" Sayang, apa kau mau pergi tanpa aku? " Tanya Anastasia menatap suaminya lekat lekat. Ia memasang wajah curiga.
" Ehm...." Aaron hanya menjawab dengan gumaman saja.
Wajah Anastasia semakin mengerut serius, " Bukankah kau akan pergi ke London? " tanya Anastasia.
" Ia benar sayang, Aku akan ke London siang ini. " jawab Aaron masih dengan ekspresi tidak terbaca.
" Jadi kenapa kau tak mengajak aku? " Anastasia sudah memasang wajah kesalnya. Ia dongkol jawaban suaminya tidak memuaskannya. " Aku ingin mengajak Joevanka pulang! " ucap Anastasia.
" Untuk kali ini, kau tidak boleh ikut. " kata Aaron dengan tegas.
Ia berjalan mendekati cermin untuk melihat penampilannya kembali.
Anastasia membuang napasnya dengan kasar, ia tidak mengerti dengan sikap Aaron saat ini. Membuatnya bertambah curiga. Ia mengikuti langkah suaminya.
" Aku ingin kamu jujur sayang, kenapa aku tidak bisa ikut? " Tanya Anastasia kembali. Ia mengerucutkan wajahnya.
" Ada hal yang ingin aku selesaikan terlebih dahulu sayang dan aku tidak ingin membuatmu lelah. " jawab Aaron dengan lugas.
" Apa itu? Bukankah aku setiap hari ikut denganmu? dan baru ini kau mengatakan aku lelah. " tanya Anastasia menurunkan sedikit wajahnya untuk melihat wajah suaminya yang mencurigakan.
Aaron diam sesaat, Ia memang tidak bisa berbohong, apalagi istrinya tidak ikut bersamanya, tentu saja mengundang kecurigaannya. Tapi apa alasannya? tidak mungkin ia mengatakan jika Melisa menjual Joevanka. Selama ini perbuatan Melisa ia tutup dengan baik. Aaron tidak ingin istrinya menjadi sedih karena memikirkan hal Melisa.
" Sayang, kenapa diam? Apa kau selingkuh dariku? " tanya Anastasia, ia menaikkan alisnya.
Mendengar itu, Aaron tertawa. Ekspresi wajah istrinya justru membuatnya gemas. Anastasia baru kali ini mencurigainya. Tentu membuatnya merasa terhibur.
" Apa ada yang lucu? " Anastasia kesal, ia membuang wajahnya dengan posisi bersedekap.
" Kamu boleh ikut, tapi dengan satu syarat. " akhirnya Aaron mengalah.
" Kenapa harus pakai syarat? " dengus Anastasia dengan mengeluh.
" Ini demi kebaikan. Aku mohon dengarkan aku sayang. " Kata Aaron.
Wajah Anastasia mengerut, " Apa yang terjadi? " Ia memulai curiga.
" Nanti di London kau akan tahu sendiri. "
" Tidak, aku ingin sekarang, aku tidak mau pergi membawa rasa penasaranku, sekarang katakan! " Kata Anastasia memaksa suaminya.
" Ini semua soal Joevanka. " Kata Aaron dengan suara terendahnya.
" Apa, Joevanka? Apa yang terjadi pada Joevanka? " Kata Anastasia, wajahnya terlihat cemas. " Jawab aku sayang! " ucap Anastasia mendesak Aaron untuk bicara.
Aaron kembali membuang napasnya, ia sudah menduga jika ini yang akan terjadi. Istrinya pasti akan marah jika mengetahui fakta ini.
__ADS_1
" Melisa, ingin menjual Joevanka sayang. " Kata Aaron dan berhasil membuat Anastasia terkejut. Tubuhnya menegang, ekspresi wajahnya sudah berubah.
" Apa? Melisa? Melisa ingin menjual joevanka? " Anastasia meninggikan suaranya.
" Tapi semuanya sudah ku tangani, Kau tidak perlu mencemaskannya. Aku hanya tinggal mengurus sisanya. " ucap Aaron.
" Jelaskan semuanya? " Anastasia sudah menekan setiap perkataannya.
Anastasia nampak frustasi, saat ini ia belum mengerti apa yang dikatakan suaminya saat ini.
" Apa maksud semua ini sayang? Aku tidak mengerti, kenapa Melisa melakukan itu? Ceritakan semua ! " Mata Anastasia sudah berkaca-kaca.
" Ini bermula, semenjak kita tahu Melisa menjual perkebunan strawberry Lionel. Aku meminta seseorang untuk mengikuti Melisa. Selama kau kembali kesini, Melisa mengabaikan Joevanka sayang. Dokter yang menangani Joevanka menghubungiku dan mengatakan jika tagihan rumah sakit tidak pernah dibayar Melisa. Tentu saja aku terkejut, Karena setiap tiap bulan, aku tidak pernah lupa mengirimnya kepada Melisa.
Dan dokter mengatakan, Melisa tidak sanggup lagi membayar pengobatan Joevanka dan menyuruh dokter untuk melepaskan alat bantu pernapasannya." Jelas Aaron.
Mendengar itu, Anastasia terkejut dan membuat tubuhnya hampir terjatuh. " Kamu tidak apa apa? " kata Aaron cemas.
" Sayang..." Aaron dengan cepat menangkap tubuh istrinya.
" Jadi apa karena itu Joevanka pulang sayang? apa Melisa memintanya pulang? "
" Tidak, soal pulang memang Joevanka yang memintanya. Seperti yang di katakan Joevanka dia benar benar merindukan mendiang orang tuanya. "
" Apa yang membuat Melisa ingin menjualnya? " kata Anastasia.
" Tidak sayang, itu semua hanya perangkap buat Melisa saja. Ternyata dia tertarik ketika anak buahku menawarkan itu. "
" Melisa tidak berubah, setelah apa dia tidak puas setelah menghabiskan harta Lionel? " kata Anastasia geram.
Anastasia hanya menggeleng, Anastasia seakan masih mencerna semuanya. Masih mencoba mengerti. Masih mencoba memahami. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Ia berusaha menahan emosinya dengan menggigit bibir bawahnya. Mendengar perkataan suaminya tentu seperti tamparan buatnya. Saat ini yang dipikirkannya, bagaimana cara untuk menghabisi Melisa.
" Sekarang kita berangkat! " Titah Anastasia kepada suaminya.
βββββ
Pesawat yang ditumpangi Aaron dan Anastasia mendarat mulus di bandara xx.
Walau tadi ada sedikit kendala karena pengaruh cuaca, pilot dapat mengatasinya dan penerbangan mereka mendarat dengan selamat.
Aaron dan Anastasia langsung keluar dari pintu kedatangan. Mereka langsung di sambut dua anak buah yang diutusnya untuk mengikuti joevanka.
Mr Orlando juga datang untuk menyambut kedatangannya.
" Selamat Pagi Mr Donisius.." Mereka berjalan sambil berbincang bincang yang diikuti Anastasia.
" Apa semuanya berjalan dengan baik? " tanya Aaron.
" Ya tentu saja, kerjasamanya berjalan dengan baik. Mr Gavin pintar dalam bernegosiasi. Ia bisa dihandalkan. " Kata Orlando dengan senyum lebarnya.
" Senang bisa kerjasama dengan anda lagi Mr Orlando. Saya berharap perusahaan anak cabang bisa berkembang lebih baik lagi. " kata Aaron penuh harap.
" Sepertinya saya yakin Mr Gavin bisa mengatasi permasalahan jika anak perusahaan mengalami krisis. Ia seperti berpengalaman, tidak salah anda memilih menjadi kandidat terbaik."
" Semoga saja Mr Orlando. " Kata Aaron berjalan dan mereka memasuki mobil menuju ke hotel.
Di sisi lain
__ADS_1
Melisa sudah menunggu tamu yang akan membawa Joevanka pergi bersamanya.
Melisa tersenyum ketika melihat Joevanka keluar dari kamar.
Setelah mengancamnya, Joevanka dengan rela menuruti keinginannya.
" Duduklah...! " Melisa menunjuk sofa dengan gerakan kepalanya.
Tidak menunggu lama, tamu yang di tunggunya akhirnya datang.
" Selamat Malam nyonya Melisa, " Sapa seorang pria tua ber kepala plontos dengan perut buncitnya dan tidak lupa cerutu disematkan di ujung bibirnya.
Joevanka tersenyum miris, ketika melihat sosok lelaki tua itu. Ia hanya bisa memejamkan matanya dan menghembuskan nafas, yang ia lakukan saat ini hanya pasrah. Ya.. pasrah bahwa ini adalah jalan hidupnya.
" Selamat malam Tuan...! Silakan duduk! "
" Wah, cantik sekali dia, siapa namamu cantik? " tanya pria tua itu tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Joevanka tuan! " jawab Melisa.
" Nama yang indah sayang, malam ini akan menjadi malam yang indah buat kita. Kau akan bahagia.." Kata pria itu mengeluarkan dua koper berisikan uang.
Wajah Melisa langsung berbinar. Ia tersenyum ketika pria itu membuka isi koper. Melisa tertawa nyaring.
Joevanka sendiri mencengkeram bajunya. Ia menundukkan kepalanya. Saat ini hatinya begitu hancur, hancur sampai berkeping-keping dan tidak bisa utuh lagi.
" Sekarang ambil dan bawa dia bersamamu tuan. " Kata Melisa dengan cepat memeluk koper.
" Tunggu nyonya! " pria berkepala plontos, menghalangi Melisa untuk mengambil koper itu. " Anda harus bertemu seseorang dulu, baru mengambil duit ini. "
" Siapa? " kata Melisa dengan wajah mengerut dalam. Ia nampak bingung.
" Sebentar nyonya! " Pria itu nampak menghubungi seseorang.
" Anda bisa masuk tuan! " Katanya mematikan ponselnya . Dan tidak menunggu lama, pria itu membungkukkan badannya seraya memberi hormat.
" Selamat malam tuan! " Kata pria itu dengan sopan. Bersamaan itu Melisa dan Joevanka terkejut.
Mata Joevanka sudah berkaca-kaca, napasnya terlihat naik turun. Bibir Joevanka bergetar, napasnya keluar tidak stabil. Perasannya tidak bisa ia gambarkan saat ini.
" Inikah keajaiban Tuhan? apakah aku sedang bermimpi? " Joevanka berhasil menjatuhkan air matanya. Tatapannya nanar melihat sosok yang sangat ia kenal.
Satu kata Tuhan memiliki kuasa yang kuat untuk mengubah hidup kita. Kita boleh mencobanya. Kita tanamkan dasar bahwa di setiap langkah kita, Tuhan menyertakan keajaiban-keajaiban yang hebat.
Di saat Joevanka sudah putus asa, merasa sedih, sangat frustasi, merasa kecewa dan sampai semangat hidupnya hilang, atau apapun perasaannya. Keajaiban itu bekerja padanya dan sangat nyata.
Kini Joevanka percaya pada sebuah keajaiban. Bagaimana sebuah keajaiban memberikan balasan lebih dari rasa percaya yang ia syukuri.
.
BERSAMBUNG
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
__ADS_1
π BERIKAN BINTANGMU