WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Merindukanmu.


__ADS_3

πŸ’Œ Whisper of love πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Joevanka menyibukkan diri dengan pekerjaan yang tertunda. Ia tidak ingin pulang ke rumah seperti kata pak direktur. Dia tetap menunggu sampai Ivander pulang meninjau lokasi proyek. Tidak masalah jika ia harus menunggu sampai malam sekali pun. Ia masih bergelut dengan semua yang bisa dikejarnya. Sampai ia harus menghabiskan waktu di dalam ruangan pak direktur.


Joevanka melakukan penyusunan rencana program dan kegiatan sesuai dengan bidang tugasnya. Dengan perumusan kebijakan, pedoman, standarisasi, koordinasi, pembinaan dan pengembangan administrasi umum dan kepegawaian. Keuangan serta evaluasi dan pelaporan. Semua ia lakukan untuk menghabiskan waktu di kantor. Setidaknya ia menunggu kepulangan Ivander.


Ia kembali melakukan tugasnya setelah jam istirahat selesai. Ia kembali melakukan analisa grafik, merekap data dan akhirnya ia selesai mengerjakannya. Joevanka menatap jam yang ada di tangannya. Huftt Joevanka menghembuskan napasnya sekaligus. Ia merenggangkan otot-ototnya. Tidak terasa, semua ia kerjakan dengan cepat.


" Ivander belum pulang juga?" Wajah joevanka mengerut. Ia menghembuskan napas panjang. Masih jelas dengan ingatannya, Ivander menciumnya di tempat ini. Mereka masih saling menggoda. Kecupan-kecupan sayang dari satu dengan yang lain bahkan masih terasa hangat di ruangan ini. Bagaimana Ivander bisa semarah itu dan tidak ingin melihatnya. Rasa egonya begitu besar dan mengalahkan kobaran cintanya yang luar biasa.


"Heeeek" Joevanka Ia membuang napas nya yang tertahan karena hatinya begitu sakit. Ia mendongak dan berusaha agar tidak menangis.


"Jangan menangis Vanka, jangan sedih. Dia akan kembali dan memelukmu." Ia mengepalkan tangannya "Semangat" Joevanka mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


TIBA-TIBA


Suara ponselnya berbunyi, ia sangat terkejut dan berlari dengan cepat menuju mejanya. Tatapannya sendu, ternyata panggilan itu bukan dari Ivander melainkan dari Gavin. Ia tersenyum tipis menggeser tanda terima dari ponselnya.


"Halo Gavin..."


"Hei Joe? Apa kabar, sudah lama tidak memberi kabarmu, sudah sombong sekarang ya?" tanya Gavin dari seberang.


"Ah, Maaf Gavin akhir-akhir ini aku sibuk. Kabar ku baik." Kata Joevanka mengeluarkan desahan seperti tersenyum.


"Jangan terlalu lelah Joe, kau harus jaga kesehatan. Apa penyakitmu masih sering kambuh? Bagaimanapun pemeriksaan terakhirmu?" Tanya Gavin.


Joevanka kembali tersenyum, Gavin masih sama dan tidak berubah. Ia selalu memberikan perhatiannya.


"Dari hasilnya dokter hanya menemukan darah yang membeku di dalam otak ku Gavin. Itulah yang membuat aku sering muntah dan sakit kepala yang luar biasa." ujar Joevanka.


"Apa itu membahayakan Joe?" Tanya Gavin.


"Tidak terlalu membahayakan, dokter sudah menjelaskan gumpalan darah ini hanya bekuan Vena terbentuk di pembuluh darah, dan berkembang perlahan dalam jangka waktu yang lama. Karena pengobatan ku yang dulu akibat kecelakaan tidak di tuntaskan dengan baik dan aku sempat menghentikan untuk melakukan terapi obat-obatan dan beruntung gejala itu masih ringan Gavin."


"Apa pak direktur sudah tahu?"


Mendengarnya nama itu, Joevanka tersenyum sendu. Ia menarik napasnya dalam-dalam.


"Pak direktur tidak tahu..."


"Kenapa?" tanya Gavin.


"Karena menurut ku tidak membahayakan, aku belum memberitahukannya."


"Jangan sampai pak direktur tahu sendiri Joe, itu akan menyakiti perasaannya. Nanti beliau menganggap mu tidak jujur dan kau seolah tidak mempercayainya."


Joevanka tertegun dengan ucapan Gavin. "Kenapa aku tidak bisa terbuka mengenai penyakit ku kepada Ivander?" Batin Joevanka memejamkan matanya, hatinya seperti terkoyak jika kenyataannya Ivander tahu sendiri, pasti hal buruk akan terjadi lagi. Ivander tidak suka kebohongan.


"Joe?" panggil Gavin.


"Iya, aku masih disini Gavin."


"Apa pengobatannya kata dokter?" Tanya Gavin kembali.


"Kita akan melihat perkembangannya satu bulan ini Gavin. Tapi..." Joevanka menggantung kalimatnya.


"Tapi apa Joe?" Suara Gavin terdengar cemas.


"Jika darah itu masih membeku, aku harus melakukan operasi seperti kraniotomi. Tapi kita doakan semoga saja aku tidak melakukan operasi itu." kata Joevanka dengan suara terendahnya.

__ADS_1


"Itu sama halnya seperti di katakan dokter disini Joe, kau harus mengkonsumsi makanan yang bergizi dan perbanyak makan buah dan terutama jangan banyak pikiran. Kau mengerti itu Joe?" Gavin kembali mengingatkan Joevanka, ketika mereka terakhir bertemu dokter di Australia.


"Ehmm, aku tahu Gavin. Aku pasti sehat demi pak direktur dan juga kau. Aku mendapat kekuatan hidup berkat kau Gavin."


" Kau selalu memujiku."


"Kenyataan, bagaimana wanita yang kau taksir itu?"


"Aku masih berusaha mendapatkan hatinya."


" Sepertinya kau harus lebih gigih lagi Gavin. Semoga kau berhasil menaklukkan hatinya."


"Doakan saja. Kau masih di kantor? Bukankah ini jam pulang?"


"Pak direktur sedang keluar, sepertinya aku harus menunggunya baru pulang."


"Jangan lupa, jaga kesehatan ya. Ini aku mau tidur Joe, kau tahu disini sudah pukul berapa?" Tanya Gavin.


"Hahahaha benar-benar di sana sudah tengah malam, oke jaga kesehatan juga ya Gavin. Jika ada kabar baik, jangan lupa hubungi aku ya."


"Beres, kau orang pertama yang akan tahu kabar itu."


Mendengar itu Joevanka terkekeh." Oke Gavin selamat malam!"


"Selamat sore buatmu Joe."


TIT


Panggilan terputus. Joevanka tersenyum, hatinya sedikit tenang setelah Gavin menghubunginya.


Joevanka melangkah keluar menuju ruangan OB untuk mengambil Carry caddy dan mendorong sebuah kotak yang digunakan untuk menyimpan berbagai peralatan untuk pembersih. Hari ini ia akan melakukan tugas bersih-bersih di ruangan pak direktur.


Joevanka berdiri di tengah ruangan, Ia menarik kemeja panjang yang berdasar lembut itu dan melipatnya dengan rapi sampai siku lengan. Joevanka menggulung rambutnya dengan asal. Namun tetap tidak mengurangi kecantikannya.


"Sekarang kita mulai dari mana ya?" Joevanka mengetuk dagunya dengan jari telunjuknya.


Joevanka mulai membersihkan karpet lembut yang ada di ruangan pak direktur.


Ia lalu membersihkan laptop, kursi, meja beserta perlengkapan kantor yang ada di ruangan pak direktur. Ia melakukannya dengan semangat dan tidak ada rasa lelah.


Setelahnya, Joevanka lanjut melakukan pekerjaan membersihkan lantai. Ia menggunakan perangkat vacum cleaner.


Terakhir Joevanka mengambil pengharum ruangan tipe spray yang instan. Joevanka menyemprotkan ke udara, aromanya pun menyebar dengan cepat sehingga ia bisa mencium aroma kesegaran yang membuatnya merasakan relaksasi. Joevanka memejamkan matanya. Ia sangat puas dengan hasil kerjanya. Kerja kantor beres dan membersihkan ruangan juga selesai. Ia tersenyum bangga dan mengucapkan,


"Selesai...!" Joevanka kembali berdiri di tengah ruangan dan tersenyum. Ia mengedarkan pandangannya.


"Hujan?" Joevanka berlari menuju kaca dan melihat hujan turun dengan deras. Tiba-tiba ia teringat Ivander.


Joevanka menarik napasnya, sesak yang menghimpit dadanya tidak bisa ia tutupi. Ia kembali melihat jam yang ada di tangannya.


Jam menunjukkan pukul lima sore.


"Astaga, waktu tidak terasa. Kenapa dia belum pulang ya?"


Dengan pandangan sayu. Joevanka mengambil ponselnya dari atas meja. Ia mematikan musik yang terus bernyanyi dari Handphone-nya. Joevanka mengambil ponsel untuk menghubungi pria kesayangannya itu.


Masuk tapi tidak di angkat. Joevanka mengernyit, ia kembali menghubungi.


Tut...tut..tut.. tersambung namun tiba-tiba TIT. Ivander mematikan panggilan Joevanka.


"Dimatikan?" Wajah joevanka mengerut. Ia membuang napasnya dengan kasar. Ia masih tidak percaya dan kembali menatap ponselnya. Dengan tarikan napas yang panjang. Joevanka kembali menghubungi Ivander.


" NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF ATAU BERADA DI LUAR JANGKAUAN. COBALAH BEBERAPA SAAT LAGI."


Ia menarik napasnya, pandangan Joevanka sayu saat menurunkan ponselnya. Ia masih belum mengerti dan terus mencoba mengerti. Ivander mematikan ponselnya.


Tubuhnya terduduk lesu di kursi sofa. Dengan mulut yang terbuka ia kembali menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia memandang handphonenya kembali, masih belum percaya. Tapi Joevanka lebih memilih berpikir positif. Mungkin saja Ivander masih meninjau lokasi dan tidak ingin di ganggu.

__ADS_1


"Begitu kan sayang? Kau memang sibuk kan? " Joevanka berusaha menenangkan hatinya.


Ia melakukan panggilan kepada Halbret. Panggilan tersambung, terdengar suara Halbret yang heboh dari seberang.


"Hallo sekretaris Joe? ada apa?"


"Apa pak direktur masih meninjau lokasi proyek? Aku menghubungi beliau, tapi tidak di angkat." Kata Joevanka dengan pandangan sayu.


"Maaf sekertaris Joe, pak direktur saat ini perjalanan bisnis selama tiga hari ke kota xx. Beliau langsung pergi bersama ibu Jasmine. Maaf karena tidak mengabarimu. Apa kau masih di kantor? " Tanya Halbret.


DEG DEG DEG


Jantung Joevanka langsung terpukul kencang. Ia menelan salivanya dengan sangat susah seperti ada duri besar mengganjal di tenggorokannya. "Ivander bersama Jasmine?" Entah mengapa, tiba-tiba rasa cemburu menguasainya.


"Sekretaris Joe, apa kau masih di sana?"


Joevanka tersadar, " Ya pak Halbret." ucapnya dengan napas ikut tertahan di dada.


" Kau bisa pulang, maaf tidak memberitahu mu,ini benar-benar mendadak sekali. Pak direktur tidak membawa baju ganti. Kemungkinan beliau akan beli di sana." Jelas Halbret, agar Joevanka tidak salah paham.


"Baiklah pak Halbret, terima kasih atas informasinya." Kata Joevanka dengan suara bergetar.


TIT!


Joevanka mematikan ponselnya dengan sepihak. Ia tidak ingin Halbret mendengar suaranya yang bergetar karena menahan tangisannya. Joevanka menarik cepat napasnya. Perasaannya campur aduk. Apakah dia harus sedih atau bagaimana. Hanya air matanya yang terus terjatuh membahasi pipinya, seakan jawaban dari perasaannya saat ini.


⭐⭐⭐⭐⭐


Joevanka mengetikkan password yang berupa angka-angka untuk membuka pintu apartemennya. Kunci yang berbasis digital yang menggunakan password sebagai akses masuknya. Ia masuk dengan kepala menunduk. Dengan tarikan napas panjang, Joevanka kembali berjalan memasuki kamarnya dengan langkah lunglai. Ia mendekati kasur dan duduk dengan menyandarkan punggungnya kesandaran kasur. Tasnya ia lembar dengan asal di atas nakas. Bahkan ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan sekarang. Dalam sekejap menguasai dentum-dentum sesak yang tak berperi. Bahkan untuk menelan salivanya saja ia tidak sanggup. Joevanka menunduk dengan tatapan kosong. Ia menekuk kakinya dengan memeluk lututnya


Joevanka kembali mengambil ponselnya yang ada di sampingnya. Ia membuka galeri dan melihat foto ketika bersama Ivander makan mie ramen. Joevanka tersenyum kecil, namun matanya berair. Rangsangan air mata tidak bisa ditolaknya. Ia memperbesar gambar dirinya dengan Ivander. Lalu ia mulai berbicara seolah Ivander ada di hadapannya.


"Apa yang harus aku lakukan sayang, apa hatimu sesakit itu?" tanpa disadarinya napasnya mulai sesenggukan . "Apakah aku harus menyusul mu ke sana? hati ini benar-benar sakit. Aku memang salah sayang, tapi jangan siksa aku seperti ini. Aku tidak bisa, sungguh aku tidak sanggup." Ucap Joevanka suara yang gemetar dan lirih menahan tangis.


"Apa yang harus aku lakukan agar kemarahan mu reda sayang, kau bahkan tidak ingin mengangkat teleponku. Aku merindukanmu...Aku merindukan senyummu, aku bahkan merindukan sentuhanmu." kata Joevanka dengan suara tangisan yang pecah di dalam kamar. Ia memeluk ponselnya, seakan menyatakan kerinduannya melalui foto Ivander yang ada di galeri. Ahhhhh Joevanka berusaha untuk bernapas meski sesenggukan.


Semenjak kejadian itu, rasanya seperti jauh. Ivander tidak seperti pria yang hangat yang selalu menunjukkan cintanya. Joevanka mengeluarkan suara lirih wajahnya mengerut serius.


Tubuhnya ia jatuhkan miring, ia memeluk bantal guling.Tanpa menyadari ia tertidur. Mungkin karena tidurnya hanya tiga jam membuat Joevanka lelah.


Tit!


Tiba-tiba terdengar pintu apartemen terbuka. Bunyi langkah kaki terdengar memasuki ruangan dan langkah kaki itu semakin terdengar mendekati kamar. Pintu kamar dibiarkan pemilik nya terbuka. Ia mendorong daun pintu agar terbuka lebih lebar. Dia menarik napasnya dalam-dalam dan melihat sosok wanita tertidur lelap. Ia sepertinya habis menangis. Ia tersenyum dan mendekati kasur dan duduk di tepi. Membelai wanita itu dengan sayang.


Dalam tidur yang menyentuh lelap, Joevanka seperti bermimpi, ia berharap ini bukanlah mimpi. Ia merasakan pipinya dibelai lembut.


Ia merasakannya dan ini benar-benar nyata. Joevanka mengerjap dan.....


.


.


BERSAMBUNG


❣️ Siapa itu ya? πŸ™„ Joe terlalu berhalusinasi karena merindukan Ivander kali ya. Sumpah part ini aku nangis lihat joevanka 😭 Kamu begitu gak?


❣️ Rencana aku mau buat kisah Gavin. Ada yang setuju gak ya? πŸ˜‚ Kalau gak ada balasan gak buat sih 🀣 ih author jahat ya πŸ€ͺ


.


.


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMUπŸ’Œ

__ADS_1


__ADS_2