
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
" Astaga...apa yang kulakukan! " ucap Ivander mengusap wajahnya dengan kasar.
ketika menyadari apa yang di katakan Ivander kepada Joevanka.
Ivander mendengus kasar, ia mondar mandir didalam kamarnya.
" Apa yang harus aku lakukan? seharusnya aku tidak menyakiti perasaannya. " Ivander menarik napas, mencoba kembali berpijak pada tingkat kesadaran yang nyata. Ia harus menemui Joevanka.
Ivander akhirnya memilih keluar dari kamarnya, Ia harus minta maaf. Tidak ada kenyamanan ketika kita menyakiti seseorang, apalagi dia adalah Joevanka yang baru kehilangan orang tuanya. Ia tidak ingin menambah luka wanita itu. Namun kenyataan ia telah melakukannya. Kini yang ada hanya merasa menyesal. Jalan keluar dari perasaan ini adalah menemui joevanka dan meminta maaf. Seharusnya ia tidak melampiaskan kekesalannya, kata kata itu tidak seharusnya buat Joevanka.
Untuk saat ini Ivander tidak ingin menemui Delia. Mereka harus sama sama introspeksi diri. Dengan Intropeksi diri Ivander akan bisa memutuskan bagaimana selanjutnya hubungan mereka. Jika Delia masih berusaha mengatur kehidupannya, selalu ingin menang sendiri. Ivander tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Karena Ivander sendiri mulai jenuh dengan hubungan ini, mereka terus menerus bertengkar karena hal hal kecil, Delia terlalu mengatur kehidupannya. Bahkan Ivander sendiri mulai merasa cinta ini tidak berkembang.
Ivander mengedarkan pandangannya mencari Joevanka, Namun ia tidak melihatnya di dapur.
Ivander memutuskan untuk menemui Joevanka ke kamarnya.
" Ivander! " panggil Alea tersenyum kecut melihat punggung ivander yang berjalan mendekati kamar joevanka. Alea menunjukkan ekspresi wajah permusuhan, ia melangkah mendekat ivander.
Ivander memandang kebelakang dan melihat Alea menatapnya dengan sinis.
" Kemana saja kau Ivander, baru muncul setelah Joevanka keluar dari rumah sakit? " tanya Alea mengangkat setengah alisnya.
" Aku ada urusan ! " jawab ivander singkat.
" Cih...Kau pergi menemui Delia, dan meninggalkan joe dirumah sakit sendiri, hanya untuk mengurusi wanita siluman itu? " ucap Alea dengan senyum menyeringai.
" Sudahlah Alea, aku tidak ingin berdebat masalah itu. Aku kesini ingin menemui Joevanka! " Kata Ivander berjalan ingin meninggalkan Alea. Namun Langkahnya berhenti ketika Alea menghadangnya.
" Tunggu, tunggu...! " Alea berdiri di hadapan ivander. " Dia lagi istirahat, sekarang aku ingin bicara, ikut aku !" Alea menarik tangan Ivander agar menjauh dari kamar Joevanka.
Ivander hanya pasrah, ia mengikuti langkah Alea. Mereka berhenti tepat di pinggir kolam renang.
" Aku sudah ingatkan kau ivander, jangan berhubungan dengan Delia! Namun kenyataannya aku dengar dari Samuel kau menerima Delia kembali. Kamu bodoh atau gimana sih..?! " Desis Alea menatap Ivander dengan dengan memasang wajah tidak suka.
" Aku tidak ingin membahas itu Alea! " tegas Ivander.
" Kau harus tahu bagaimana Delia dulu dan sampai sekarang tidak akan pernah berubah."
Alea dapat mendengar jelas jika ivander mengeluarkan suara decak tanda ia tidak menyukai perkataannya. Tapi Alea masa bodoh.
" Aku ingin tahu kenapa kau menerima wanita rubah itu ? " ucap Alea dengan sikap menyilang tangannya dengan posisi bersedekap.
" Aku terpaksa Alea! " kata Ivander dengan ekspresi wajah datar.
" Terpaksa? buat apa kamu terpaksa Ivander? Apa kau di paksa wanita sialan itu? " Alea memasang wajah tidak percaya.
" Aku terpaksa melakukannya karena Delia sakit..."
" Jadi kau percaya? "
" Ehmm..." gumam Ivander.
__ADS_1
" Apa kau masih mencintainya? jawab dengan jujur! " desis Alea.
" Aku tidak tahu Alea. "
Alea memutar bola matanya, ia berdecak kesal. " Astaga Ivander, kenapa sekarang kau menjadi kategori lelaki terbodoh di dunia ini ? di mana instingmu? itu hanya sandiwara, aku yakin dia itu gak ada sakit Ivander, kau tahu gak kenapa dia tiba tiba menghilang dan tidak ada kabar? "
" Delia ke Singapura, karena menjalani pengobatan karena dia sakit, Alea! "
" Oh my God...kau benar benar sudah gila ya? " Alea berusaha bersabar. " Aku tanya, apakah kau masih mencintainya kau jawab tidak tahu. Sumpah, aku bingung dengan kau ivander." Kata Alea frustasi dengan sikap Ivander. " Apa kau kasihan dengan dia? Ingat, Delia gak ada sakit Ivander. " kata Alea berapi api, agar Ivander tersadar dengan sikap bodohnya.
" Kau ingat Lucia? " tanya Alea.
" Lucia satu sekolah kita dulu, yang dekat dengan kau Ivander." Alea menjelaskan kepada Ivander.
" Luciana...? " kata Ivander mengingat nama itu.
" Ya, ya ,ya... Luciana! Kau tau kenapa Lucia mengalami cedera gegar otak? Itu semua karena Delia..."
Ivander tersentak, ia masih berusaha mencerna perkataan Alea.
" Saat itu Delia tiba tiba hilang tanpa jejak kan? bagai ditelan bumi dan kau sendiri Sampai frustasi mencari Delia, kau tau karena apa? " Ucap Alea menaruh tangannya di pinggang. " Karena keluarga dari Lucia melaporkan Delia ke polisi dan daddy Delia mengancam Jika tidak mencabut laporan itu, hubungan kerjasama perusahaan akan putus dan saat itu keluarga Lucia akhirnya mencabut laporan itu ." Ujar Alea mengutarakan isi hatinya. agar Ivander tahu sikap jahat Delia.
Sementara Ivander diam dengan ekspresi wajah yang tidak bisa dijelaskan. Ia nampak bingung tidak bisa berbicara apa apa.
" Ivander, apa kau mendengarkan aku? " Tanya Alea.
" Aku tidak tahu siapa yang harus aku percaya Alea...! " jawab ivander dengan suara terendahnya. Mendengar itu Alea terkejut.
" Maksudmu apa ivander? apa aku terlihat sedang berbohong ? " sungut Alea tampak kesal, membuat emosi Alea tersulut. " Ayo, jawab aku! " tengking Alea meninggikan suaranya.
" Bukan seperti itu maksudku? " Sahut Ivander menyadari kemarahan Alea.
Ketika menyadari kepergian Alea, Ivander mengusap wajahnya dengan kasar. Hari ini Tiga orang wanita ia sakiti sekaligus.
βββββ
π Beberapa Minggu Kemudian π
Ivander berlari keluar dari perpustakaan ketika mengetahui jam pelajaran Joevanka sudah selesai. Ia berlari menggunakan sepatu sneakers nike dunk low sembari memegang buku yang ia cari di perpustakaan dengan tas sandang yang ia bawa.
Ia berlari cepat agar bisa menemukan Joevanka. sejak kejadian itu Joevanka berusaha menghindarinya. Ia selalu di jemput Samuel dan pulang di antar Samuel. Tentu membuat Ivander tidak nyaman karena Mommynya mencurigainya telah berbuat salah kepada Joevanka. Di samping itu Ivander tidak menyukai kedekatan mereka.
Ivander terlihat tersenyum, ketika melihat Joevanka sudah berdiri di parkiran menunggunya.
" Vanka...! " Ivander berlari kecil menemui gadis berhati lembut itu. Ia langsung menampilkan sedikit senyuman menatap langsung ke mata Joevanka, Ivander tersenyum tipis dengan kepala yang dimiringkan ke bawah agar melihat wajah Joevanka yang sedang menunduk.
Wajah Joevanka bersemu merah, ketika melihat ivander tersenyum, ia berusaha menghindari tatapan Ivander. Ia tidak ingin terlalu dalam mencintai lelaki itu. Karena ini terlalu menyakitkan.
" Mommy berpesan, agar kita pulang bersama Vanka ! " kata Ivander untuk memulai pembicaraan mereka.
" Maaf ivander! Aku tidak bisa. " Tolak Joevanka.
" Kenapa? " Ivander mengerutkan keningnya.
" Aku ingin mencari buku untuk materi kuliah besok. " Sahut Joevanka.
" Aku bisa antar! Kemana kau ingin mencari? " kata Ivander cepat.
" Maaf Ivander aku tidak..." Joevanka menggantungkan kata katanya karena terdengar klakson mobil berbunyi tepat di depan mereka, tidak lain adalah Samuel. Lelaki bertubuh tinggi itu keluar dari mobilnya dan melemparkan senyumnya kepada Ivander.
" Hai dude, maaf kemarin aku tidak bisa ikut latihan, Sementara ulang tahun kampus kita akan diadakan minggu depan. Aku janji besok pasti bisa, Joevanka sudah berjanji akan melihat pertunjukan kita besok ! bukan begitu Joe? " kata Samuel dengan wajah sumringah. Ia begitu senang ketika wanita yang dicintainya akan melihatnya latihan.
__ADS_1
Joevanka hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
" Tidak masalah Samuel, masih ada waktu besok! " Kata Ivander memaksakan diri untuk tersenyum. Walau ia tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini.
" Sekarang kita bisa pergi Joe? " Tanya Samuel terlihat jelas ekspresi wajahnya sangat bahagia. Joevanka hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum simpul.
" Aku pergi Ivander! " Kata Joevanka, Samuel dengan cepat membukakan pintu untuk Joevanka. Samuel berlari kecil mengitari mobil dan langsung duduk di kemudi mobil.
Terdengar bunyi klakson mobil berlalu pergi meninggalkan Ivander yang berdiri tanpa ekspresi. Ia menatap mobil itu sampai benar benar keluar dari pagar utama kampus.
Perasaaan Ivander saat ini kacau balau, ia tidak tahu kenapa ia begitu marah jika melihat kebersamaan Samuel dan Joevanka.
Ivander menghembuskan napas berat. Ia berusaha menepis kegalauan hati.
Akhirnya ia memutuskan meninggalkan kampus dan membawa mobilnya membelah keheningan sore.
Empat jam berlalu
Ivander nampak begitu gelisah kala melirik jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 20.40 wib. Joevanka belum juga kembali, semenjak ia pergi bersama Samuel.
Perasaan galau,gusar, gundah dan gelisah itulah yang di rasakan Ivander saat ini. Ia masih setia berdiri di balkon dan menatap pagar utama. Belum juga ada tanda tanda kedatangan mereka. Ivander kembali duduk dan menyibukkan diri membolak-balikkan buku yang dia bawa dari atas meja tadi. Sesekali matanya menatap pagar utama masih tertutup. Belum ada tanda tanda akan terbuka otomatis.
" Kemana mereka? " kata Ivander mendengus kasar.
Tiba tiba ia fokus menatap coretan coretan yang ditulis asal di dalam buku yang ia pegang, Ivander membaca kata demi kata.
" Aku tak peduli dengan cahaya yang perlahan pergi, namun aku hanya takut jika esok menjadi sepi."
Ivander membalikkan lembaran lembaran kertas.
" Kita sering lupa bagaimana untuk bahagia karena kita sendiri lebih seneng berteman dengan luka dan kecewa."
" Selamat pagi buat orang yang aku sayang dan orang yang membenciku, semoga hari ini hari yang lebih baik daripada hari kemarin buat aku dan kamu."
" Percayalah ketika perasaan ku memudar.. Rasa ingin memilikimu pun akan memudar.. Semua perhatianku, keegosianku pun akan memudarβ¦"
" Pagi menyapaku, aku bersyukur meski hanya melihatmu dalam mimpi, karena ketika terbangun, bayanganmu akan kembali sirna."
" Salah nggak, aku mencintaimu? Karena perasaan itu ada sejak pertama kali aku melihatmu."
Tulisan itu seperti di coret asal namun masih bisa di baca. Ditulis di setiap lembar kertas, goresan itu kadang ia tulis diatas dan dibawah lembaran buku.
" Bukankah ini buku Joevanka? " gumam Ivander berbicara dalam hati. Ia kembali membaca dan mengulang beberapa kali coretan coretan itu. Ivander mengernyitkan keningnya sambil berucap.
" Tapi kata kata ini untuk siapa? "
.
.
BERSAMBUNG
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMU π
__ADS_1