
💌 Whisper of love 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Pagi hari di sambut cuaca cerah, menawarkan keindahan matahari terbit dari puncak bukit, pemandangan yang sangat indah. Suasana pagi yang dingin membuat sebagian dari mereka masih tertidur dan meringkuk di dalam tenda. Tapi tidak dengan Joevanka, ia memilih menyiapkan makanan untuk mereka makan pagi ini. Ia di bantu Lona dan Vivian, sementara Delia masih bertahan di dalam tenda.
Mereka asyik berbincang, sembari menyiapkan makanan. Joevanka dengan cepat memainkan spatula. Ia bisa pintar masak berkat mommynya. Ah... merindukan mommy lagi.
" Joe, masakanmu kemarin enak banget lho, kamu belajar masak dari mana sih? " tanya Lona menatap joevanka yang sedang memainkan spatula, Lona sendiri sedang menyeduh teh.
" Benar Joe, rasanya itu beda sekali. " Vivian merespon ucapan Lona dengan antusias. " Kau tahu, Aku saja hanya bisa masak mie instan Joe.. " ucap Vivian terkekeh, ia membantu Joevanka menyiapkan sarapan yang praktis untuk mereka santap pagi ini. Karena siang ini mereka akan mulai melakukan kegiatan pendakian.
" Bersyukurlah, kau bisa masak mie instan, aku rasa Delia masak air saja, gak bisa kali ya..." Kata Lona dengan nada mengejek. Sementara Joevanka hanya bisa menggeleng pelan, ia tersenyum tipis.
" Aku belajar dari mommy ku Lona.." ucap Joevanka dengan nada lembut. ia mengangkat wajahnya menatap Lona. Namun sesaat joevanka terdiam, Ia melihat Delia sudah berdiri di belakang Lona.
Vivian menutup mulutnya, menyikut lengan Lona agar menyadari Delia ada di belakangnya.
Lona tidak perduli, ia justru senang bisa di hadapkan dengan Delia sekarang. Setelah kejadian Delia datang melabraknya ke kost-an dan mempermalukannya tiada ampun. Delia bahkan sempat menarik rambutnya, justru ia yang di lapor karena menyerang Delia. Kali ini Lona memang ingin mengundang Delia datang sendiri ke hadapannya.
" Begini ya kelakuan kalian, selalu membicarakan aku? " Sengit Delia menatap tajam kepada ketiga wanita itu. Delia berdiri dengan posisi tangan bersedekap.
" Kamu merasa? " Kata Lona bangkit dari duduknya. Ia menatap remeh kepada Delia, ia melipat tangannya dengan bersedekap seperti yang di lakukan Delia.
" Merasa? jelas-jelas kau menyebut namaku brengsek...! " Delia meninggikan suaranya, ia melangkah maju dan mendorong tubuh Lona, sampai membuat Lona terhuyung ke belakang.
Joevanka tidak mau diam, ia bangkit dan menjadi penengah antara mereka. Dia tidak ingin terjadi hal keributan yang membuat Ivander marah.
" Sudah Delia, jangan membesarkan masalah. " Kata joevanka.
" Cih, setelah kau bersenang senang dengan kekasihku, berani kau menunjukkan dirimu di hadapanku...." Kata Delia nampak menahan emosinya, tatapan permusuhan ia kibarkan dari pancaran matanya.
" Astaga Delia, kamu ini apa apaan sih? itu jelas hanya permainan saja. Sudahlah jangan seperti anak kecil. " kata Vivian membela Joevanka.
Lona berdecak, " Wajar saja dia marah, Ivander kan gak pernah menganggapnya ada, hanya sebagai bayangan saja, bisa di katakan kau hanya hantu Casper bagi Ivander... " Lona menekan kata kata hantu Casper, di sertai dengan gelak tawa. Membuat emosi Delia tersulut, hingga Delia sampai mengeluarkan tanduk iblisnya.
" Ini mulut memang harus di cuci pake racun ya.." Kata Delia dengan nada geram, ia mengambil sabun cair untuk mencuci mulut Lona.
" Sudah Delia, apa yang kau lakukan? hentikan! " kata Joevanka tegas, dengan cepat Ia mengambil sabun cair dari tangan Delia.
Delia mengalihkan pandangannya, ia menatap Joevanka dengan tajam. Delia tidak suka di halangi. Namun kemarahannya semakin memuncak yang menghalanginya adalah Joevanka, wanita yang sangat di bencinya.
" Kau...! " Delia mengambil wadah air dan menyiramnya ke tubuh Joevanka. " Jangan ikut campur, atau tanganmu ku patah kan! " sengit Delia menatap tajam, Ia tidak perduli dengan tubuh Joevanka yang sudah basah.
" Apa yang kau lakukan Delia! " kata Joevanka mengeraskan rahangnya, terlihat jelas kilatan kemarahan terpancar dari wajah Joevanka.
Joevanka begitu kaget ketika air gunung membasahi tubuhnya di tambah udara dingin. Membuat Joevanka untuk segera melakukan perlawanan.
__ADS_1
" Apa karena aku selalu diam, kau selalu menindas ku Delia, ehmmm...." Joevanka mengangkat dagunya, seakan menunjukkan kemarahannya, ia melangkah maju, membuat Delia mundur kebelakang. Tangan kanannya memegang spatula untuk mengancam Delia.
" Aku tidak takut, kenapa? " Delia membalas dan maju untuk mendorong tubuh Joevanka hingga tubuhnya terdorong ke meja.
PRANG...TANG...TING...TUNG...
Semua yang ada di atas meja lipat terjatuh begitu saja. Tak terkecuali air teh yang di buat Lona tumpah dan mengenai tangan Joevanka.
AAAAHHHHHH
Rintih joevanka mengeluh kesakitan. Dengan cepat ia bangkit dan menjambak rambut Delia dengan waktu yang lama. Kepala keduanya saling beradu, tak menyisakan jarak di antara tubuh mereka.
Joevanka yang terlihat feminim selalu dirasa hanya gadis pendiam, namun saat ini ia terlihat berbeda, entah mengapa ia menunjukkan taringnya untuk melakukan perlawanan. Sampai Lona dan Vivian begitu kaget betapa ganasnya Joevanka.
" Astaga.... hentikan Delia!!!! Joe sudah cukup!!! " Vivian berusaha memisahkan Delia dan Joevanka.
Namun yang terjadi Delia bertambah marah, tangan yang konsisten saling menarik rambut lawan, kaki keduanya terlihat menendang-nendang udara untuk menyakiti lawan sekalian membuat jarak.
Memang tak ada salto atau jurus-jurus silat bernama binatang-binatang garang yang dipertontonkan, tapi jika ada yang bertanya apakah perkelahian itu membuat sakit? Jawabannya, tentu saja iya! karena Delia mengeluarkan erangan erangan kesakitan. Joevanka bahkan semakin kuat untuk menghindar ketika Delia menendang perutnya.
Pertarungan jarak dekat itu sama mematikannya dengan pertarungan tangan Delia dan Joevanka kalau tidak segera dipisahkan.
" Cukup Delia..." Vivian dan Lona ikut serta memisahkan tubuh mereka.
" Astagaaa...oh my God hentikan, jika ketua kembali, dia akan marah...! cukup !! " Vivian nampak histeris.
Terdengar vivian dan Lona berteriak agar menghentikan pertengkaran itu dan mengundang yang lain untuk keluar tenda.
" Tolong hentikan mereka! " kata Vivian begitu panik.
" Apa yang kalian lakukan? " teriak Ivander meletakkan air yang dia bawa tadi.
Mendapati sekitarnya sudah berantakan. Ivander memancarkan kemarahan, ia menatap ke dua wanita itu dengan tajam.
Mendengar panggilan dari suara yang tidak asing, sontak mereka terkejut.
Dengan napas yang memburu karena masih emosi, mereka berbalik dan melihat Ivander sudah berdiri di belakang mereka.
Joevanka mengedarkan pandangannya, ia menggigit bibir bawahnya, menyadari perkelahiannya dengan Delia menjadi tontonan orang, di tambah Ivander menatapnya dengan tajam membuat Joevanka membenamkan wajahnya semakin dalam.
Wajah mereka nampak berantakan, kulit kepala salah satu di antara mereka luka, muka keduanya lecet-lecet karena terkena cakaran kuku.
Dengan cepat Samuel mendekati Joevanka dengan raut wajah cemas.
" Joe, apa yang terjadi? " Samuel sendiri begitu terkejut, yang ia tahu joevanka tidak pernah terlibat hal seperti ini.
Samuel mendekat dan memeriksa luka Joevanka, ada bekas cakaran kucing garong tergores di wajahnya dan tangannya juga begitu.
" Nanti kita obati Joe, lukamu banyak." Kata Samuel memberikan perhatiannya.
Ekspresi Ivander berubah, emosinya saat ini sudah seperti lahar panas yang siap ia muntahkan di hadapan mereka. Ia menghembuskan nafas dengan cepat.
" Delia yang memulai ini semua Ivander? " Lona akhirnya berbicara, ketika ia menyadari lelaki itu nampak begitu marah.
__ADS_1
Ivander tidak menjawab, ia hanya diam tanpa ekspresi yang jelas.
" Bagian mana yang sakit Joe, ? katakan, jangan takut...! " kata Samuel dengan nada cemas, ia memeriksa luka Joevanka dengan lembut.
Delia meringis kesakitan di depan Ivander, namun lelaki itu tidak meresponnya membuat Delia nampak marah dan menatap sinis kepada Joevanka.
" Sekarang bubar, kalian persiapkan untuk kegiatan kita selanjutnya. Vivian dan Lona siapkan kembali sarapan untuk di makan, sekarang ! " Kata Ivander dengan nada tegas.
" Kalian berdua, sekarang ikut aku ! " ucapnya dengan nada ketus.
Ivander melangkah meninggalkan tempat itu, yang di ikuti Delia dan Joevanka. Delia berdecak kesal, ia mendahului Joevanka yang berjalan di bantu Samuel.
Sementara mahasiswa lain, membersihkan kekacauan yang baru saja terjadi. Ada yang menyayangkan hal ini, ada juga yang menikmati perkelahian ini, karena baju Delia terlihat sobek dan menunjukkan belahan dadanya. Membuat lelaki mata keranjang sayang untuk melewatkan tontonan gratis itu.
" Astaga, baru ini kegiatan mahasiswa pecinta alam mengalami seperti ini. Ini benar benar sejarah yang memalukan. " Ucap Carles menggelengkan kepalanya. Ia melangkah meninggalkan tempat itu.
⭐⭐⭐⭐⭐
Samuel begitu kesal, ketika Ivander selalu memojokkan Joevanka.
" Dude, aku gak mengerti denganmu, aku yakin Joevanka melakukan itu karena ada sebabnya..."
Ivander diam tanpa ekspresi, ia menatap lurus dan tidak mengalihkan pandangannya.
" Kau memakinya dude! "
" Mereka wajar mendapatkan itu Samuel, sama adil mereka berdua dapat hukuman."
" Tapi kesalahan itu semua kau limpahkan kepada Joevanka, dude...."
" Apa karena Joevanka wanita yang kau cintai, kau selalu membelanya samuel? " kata Ivander dengan nada dingin.
" Ya benar dude, karena dia wanitaku, aku berusaha untuk melindunginya.."
" Cih..." Ivander jengah, Ia hanya melirik Samuel dengan ekor matanya.
" Apa yang membuatmu semarah itu dude? "
" Aku kesal karena Joevanka tidak memberikan penjelasan dengan baik, dia hanya diam, itu yang membuat aku kesal. " Ucap Ivander dengan nada datar.
" Itu bukan jawaban dude, yang jelas aku kecewa...Aku tahu siapa joevanka. Dua tahun aku bisa mengenal nya dengan baik, aku bisa menilai sendiri, Joevanka seperti gadis apa. Tapi Delia...ah sudahlah...! " Samuel tidak melanjutkan kata katanya, ia melangkah pergi meninggalkan Ivander yang terdiam terpaku di tempatnya.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
__ADS_1
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
💌 BERIKAN BINTANGMU💌