WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Pak direktur semaunya.


__ADS_3

πŸ’Œ Whisper of love πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Joevanka menghentakkan kakinya, berjalan meninggalkan Gavin yang menunggunya di luar pintu kamar hotel.


" Joe..... tunggu! "


Ia tetap berjalan, Joevanka tidak menghiraukan panggilan dari Gavin.


" Joe, apa semua berjalan dengan baik? " Tanya Gavin ketika Joevanka sudah sejajar berjalan dengannya. " Bagaimana hasilnya, apa kamu menolaknya? " Tanya Gavin menoleh ke arah Joevanka.


" Menurutmu bagaimana pak Gavin? " Joevanka balik bertanya, ia memutar bola matanya, saat ini Ia sudah begitu frustasi. Joevanka bertolak pinggang.


" Siapa tahu juga, kan? "


" Apa menurutmu aku bisa membantah direktur sialan itu? "


" Astaga joe, jaga mulutmu, nanti direktur mendengarnya..."


" Dia memaksa kan kehendak dan semaunya. Dia tidak bertanya apakah aku bersedia apa tidak? Dia seenaknya Gavin, aku tidak suka..." Joevanka mendengus kesal, ia bahkan menggembungkan pipinya dan menghembuskan napasnya berulang kali. Joevanka menyapu rambutnya, sementara tangan yang lain memegang pinggang.


" Jadi kamu marah, Joe? " Gavin tersenyum singkat, menyadari Joevanka sedang marah. Mereka berdiri di depan lift menunggu sampai pintu lift terbuka.


" Marah, tentu aku marah Gavin. Dia memanfaatkan keadaan, dengan menggunakan kekuasaannya. Jangan harap aku bersedia, dia terlalu seenaknya...Mmmmpppp "


Gavin tiba tiba membekap mulut Joevanka sebelum selesai melanjutkan Kalimatnya.


Joevanka meronta, berusaha melepaskan tangan Gavin dari mulutnya.


" Astaga Joe, ada bapak direktur...." bisik Gavin, ia spontan melepaskan tangannya dari mulut Joevanka.


Joevanka terdiam termangu. Tubuhnya membeku, kepalanya berputar sedikit dan melirik kebelakang dengan ekor matanya.


" Bisakah aku pingsan Gavin? " Bisik Joevanka. Ia menekan setiap Kalimatnya. Tangannya ia remas begitu kuat.


" Jika kau pingsan jangan harap aku membantumu Joe, Aku akan membiarkanmu disini. " Gavin menjawab perkataan Joevanka, namun pandangannya tetap lurus, seakan mereka tidak menyadari keberadaan pak direktur di belakang.


Ivander menaikkan sisi bibir kanannya naik ke atas. Ia mendengar semua umpatan dari Joevanka. Namun ia seolah tidak tahu, Ivander tetap dengan ekspresi tak terbaca. Ia berdiri tepat di belakang mereka, menunggu lift terbuka di posisinya, sambil memasukkan tangan ke dalam kantong celananya. Halbret berdiri tidak jauh dari belakang Ivander.


" Maafkan aku Gavin sepertinya aku harus ke toilet..." Joevanka melangkah meninggalkan Gavin, ia sengaja melakukannya untuk menghindari pak direktur.


Pandangannya tetap lurus. Berjalan dengan langkah tergesa-gesa menuju toilet.


" Astaga, kenapa kamu tambah bodoh Joevanka. " Joevanka merutuki dirinya, ia mengetuk keningnya berapa kali.


" Apa dia mendengarnya? Tidak, tidak, pak direktur pasti tidak mendengarnya. " Joevanka mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mondar-mandir dengan posisi bertolak pinggang.


Joevanka membiarkan air berjalan begitu saja.


Joevanka kembali menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskan-nya. Ia menatap dirinya cermin dan mencoba mengembalikan seluruh kesadarannya. Joevanka mulai berbicara sendiri.


" Joe..., Jangan berani mengatai pak direktur lagi ya? "


" Sekarang jaga sikapmu, terima kenyataan, apapun yang terjadi, inilah kehidupanmu.. "


" Dan satu lagi joe, jangan banyak membantah dan jangan membuat kesalahan lagi, mengerti..." Joevanka menunjuk dirinya ke cermin.


Huftt... Joevanka membuang napas lesu,


Joevanka menundukkan kepalanya.


" Apakah aku bisa menjalaninya? "


" Semangat JOEVANKA kamu bisa melakukan yang terbaik, kamu bisa menjalani hidup yang berat sebelumnya."


" KAMU BISA !!!!! "


Setelah memberikan semangat pada diri sendiri, ia kembali merapikan rambutnya. Joevanka mengamati dirinya di depan cermin, memeriksa penampilannya.


" Oke, sudah rapi.."


Joevanka keluar dari toilet melangkah tegap seperti seorang sekretaris profesional.


" Cih.. sekretaris profesional.." Joevanka terkekeh sendiri. Ia tersenyum menundukkan kepalanya.


Namun tiba tiba langkahnya terhenti, melihat sosok lelaki yang di kenalnya. Sepersekian detik Joevanka membelalakkan matanya, ia sangat terkejut. Ketika melihat pak direktur sedang menyandarkan salah satu bahunya dengan kedua tangan bersedekap.


" Pak direktur? " Joevanka menelan salivanya, Pak direktur bahkan tersenyum kepadanya. Tidak tahu apa arti senyumannya itu. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan,


" Aku harus lari kemana lagi? " Gumam Joevanka membatin.

__ADS_1


Joevanka mengerutkan keningnya, sambil melangkah pelan. Ia tersenyum samar. Pak direktur sudah mengembalikan posisinya berdiri.


" Bapak mencari toilet? toilet pria ada di sebelah kanan pak. Ini toilet wanita . " kata Joevanka memaksa wajahnya untuk tetap tersenyum. Tersenyummmm seramah mungkin.


Ivander menaikkan alisnya dan tersenyum singkat.


" Aku menunggumu... "


DEG


Seketika jantungnya berdetak cepat. Reflek Joevanka tertawa, kali ini ia tertawa lepas.


" Bapak bisa saja ya bercanda, bapak datang ke toilet wanita hanya untuk menemui aku? Hahahaha Selera humor bapak bisa juga.. " Joevanka kembali tertawa sambil menutup mulutnya.


" Apa kamu pikir aku sedang bercanda Joevanka? " Ivander mendekat dan Ia menghimpit tubuh Joevanka di dinding.


DEG...


Jantung Joevanka kembali terpukul kencang, ia tidak nyaman dengan kedekatan ini.


" Apa yang anda lakukan pak? "


Ivander tersenyum tanda kemenangan, ketika ia melihat Joevanka gugup dan wajahnya bersemu merah. Tangan Ivander bersandar di dinding. Seakan mengunci Joevanka, Ivander semakin mendekat kearahnya secara berlahan.


Deg deg deg Joevanka semakin gemetar.


Ia menutup matanya dengan sangat erat, hingga garis garis hidung dan pinggir matanya nampak. Ia menahan napasnya, keringat dingin mulai membasahi dahinya.


Ivander terkekeh, Ia menarik tubuhnya dari intimidasi yang membuat Joevanka tersiksa.


" Sekarang ikut denganku..! " ucap Ivander melangkah meninggalkan Joevanka yang diam di tempatnya, ia tersenyum sambil mengusap bibirnya dengan jarinya.


" Aku semakin mencintaimu Joevanka, saat ini aku masih berusaha agar kau bisa membuka hatimu. Mungkin kau tidak bisa mengingatku. Tidak apa apa, bagiku itu tidak masalah vanka. Itu bahkan lebih muda untukku membuatmu jatuh cinta kembali. "


Joevanka membuang napasnya sekaligus.Ia membungkuk dan memegang lutut nya untuk mencoba menstabilkan napasnya yang naik turun begitu cepat.


" Debaran ini...Aku pernah merasakan debaran ini...! Apa yang terjadi padaku? " Kata Joevanka berusaha mengatur napasnya, detak jantungnya masih terpukul begitu kencang.


" Siapa dia? "


Joevanka memicingkan matanya menatap lelaki itu. Ia hanya bisa melihat punggung tegapnya yang berjalan semakin menjauh darinya.


⭐⭐⭐⭐⭐


Joevanka tertunduk lesu ketika sudah tiba di parkiran Melbourne Airport. Gavin tersenyum menyentuh tangan Joevanka.


" Aku tidak tahu Gavin, hatiku seperti berat meninggalkan tempat ini. "


" Berat meninggalkan tempat ini, atau memang berat meninggalkan aku? " Gavin terkekeh, walau hatinya juga begitu sedih.


Joevanka menutup wajahnya dengan kedua tangannya, kali ini ia benar benar menangis.


Gavin menarik napasnya dalam dalam, ia membiarkannya Joevanka menangis.


Gavin menatap ke samping lalu mengusap punggung Joevanka dengan lembut.


" Kita masih bisa bertemu Joe, semoga saja aku dapat pindah tugas juga, seperti kau. " Kata Gavin menenangkan Joevanka.


Joevanka semakin menangis. Ia memutar tubuhnya menghadap Gavin dan memeluk Gavin dengan erat. Menangis cara terbaik untuk meluapkan kesedihannya.


Hampir lima tahun ia mengenal Gavin. Selalu memberikan perhatian kepadanya, saat ia sakit Gavin dengan cepat membawanya menemui dokter. Hari hari mereka hanya bisa tertawa dan bertengkar.


Joevanka membiarkan air mata nya jatuh sesukanya.


" Menangislah...biarkan dia mengalir karena air mata tak berarti sedih, air mata tak berarti duka, air mata ini adalah lambang bahagianya hati kita. Biarkan dia menemani kita di hari ini. Karena dia memang hadir untuk sebuah perpisahan bukan untuk selamanya Joe..." Gavin mengucapkan kalimatnya dengan baik. Ia mengusap punggung Joevanka dengan lembut.


Joevanka mengangguk cepat dan memejamkan matanya dengan erat.


" Jangan sakit lagi..."


Ia mengangguk lagi dan air matanya semakin deras membasahi pipinya.


" Jika kau sakit, minta pertolongan dari siapa pun. Aku tidak ingin hal terakhir, ketika kau sakit, kau membuat menangisi mu semalaman Joe, apa kau masih ingat? "


Joevanka mengangguk cepat sambil memejamkan matanya.


" Joe, kau sudah ku anggap adikku. Ketika aku mengatakan perasanku. Kau mengatakan jika aku lebih nyaman sebagai kakakmu. Jadi dengarkan apa yang telah ku sampaikan, tetap jaga kesehatan. Obat yang telah diberikan dokter masih ada kan? "


" Masih Gavin. "


" Jika kau panas lagi, cepat makan obat itu ya? Rajin konsultasi sama dokter Joe.. "


Joevanka hanya sanggup mengangguk. Air matanya kembali menganak sungai.


" Kenapa kau tidak menahanku Gavin? "


Joevanka semakin menangis, tubuh Joevanka semakin bergetar menahan tangisannya.

__ADS_1


" Aku tidak bisa Joe, apalagi direktur sendiri yang memintamu, berarti dia suka dengan cara kerjamu. "


Joevanka menggeleng, " Bagaimana dia bisa lihat cara kerjaku Gavin, dia baru melihatku pada saat itu. Seandainya kau tidak memintaku mengantar laporan itu, aku tidak akan pergi Gavin. " protes Joevanka sambil menyeka air matanya.


Gavin tersenyum, ia mencubit lembut pipi Joevanka. " Sudah waktunya kita turun, jangan biarkan direktur menunggu, beliau tidak suka Joe. "


" Biarkan saja Gavin, aku masih tidak suka melihat pak direktur. Dia terlalu memaksakan kehendaknya." Kata Joevanka menyandarkan punggungnya kembali kesandaran kursinya.


" Tidak baik membicarakan bapak direktur Joe, kau tidak ingat bagaimana dia menatapku ketika di depan lift. Dia sudah siap menelanku hidup hidup. "


" Coba saja dia menelanmu Gavin, aku balik menelannya hidup hidup. "


Gavin tertawa, " Baiklah, aku antar sampai gerbang keberangkatan, ya? " Gavin sudah lebih dulu keluar dan. membukakan pintu untuk Joevanka.


Joevanka tersenyum, " Terima kasih. " Ucap Joevanka keluar, dengan cepat Gavin menutup kembali pintu mobilnya. Ia mengeluarkan dua koper milik Joevanka.


Kedatangan mereka langsung di sambut Ivander.


" Selamat sore pak! "


" Selamat sore pak Gavin. "


Halbret langsung mengambil alih dua koper yang di bawa Gavin.


" Sekarang kita masuk nona Joevanka? " Ivander mencairkan suasana.


Ia tidak menjawab, pandangannya hanya tertuju pada Gavin.


" Aku pergi Gavin. "


" Jangan lupa, segera hubungi aku jika sudah tiba di sana." Gavin mengingatkan.


Joevanka mengangguk.


" Jangan lupa, makan yang teratur ya? Biasakan makan makanan yang sehat. "


" Iya, Gavin. "


Ivander mengernyitkan keningnya, menatap Joevanka dan Gavin secara bergantian.


" Kau juga jangan lupa makan dengan baik Gavin, kurangi ngemil ya? "


" Siap, ibu negara! " Gavin menghormat dan terkekeh.


Ivander hanya bisa diam membeku ditempatnya, Menatap Joevanka dan Gavin.


" Sedekat apa hubungan mereka? " Ivander berbisik dalam batinnya.


Gavin menarik Joevanka ke dalam pelukannya, setelah beberapa detik Gavin melepaskan pelukannya dan memegang lengan Joevanka dan mengusapnya dengan lembut.


" Pergilah.. " kata Gavin tersenyum tipis kepada Joevanka.


Gavin menghadap Ivander. " Selamat sampai tujuan pak. " Ia membungkukkan badannya seraya memberi hormat.


" Terima kasih pak Gavin. " Mereka masuk dan mengantri di pemeriksaan pintu keberangkatan.


Gavin hanya bisa menatap punggung joevanka dan bayangan direktur sampai mereka menghilang dari pandangannya. Gavin menghembuskan napasnya lewat mulut mencoba menstabilkan perasannya. Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya.


" Aku berharap kau tetap sehat Joevanka. " Gavin melangkah meninggalkan airport.


Halbret yang melakukan antri check-in untuk memasukkan koper ke dalam bagasi.


Ivander dan Joevanka melangkah masuk menuju pesawat. Mereka duduk di kelas bisnis.


Hening menyeruak di antara mereka, Ivander diam menatap lurus ke depan. Pikirannya masih mengingat kejadian tadi.


" Ada hubungan apa mereka? "


" Kenapa Joevanka begitu sangat sedih? "


Joevanka memilih memenjamkan matanya Ketika ia sudah berada dengan posisi duduk di kelas bisnis. Ia memasang Safety Belt. Ivander sendiri larut dalam pikirannya. Ia hanya bisa melirik Joevanka yang terpejam di sampingnya.


.


.


BERSAMBUNG


.


.


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMUπŸ’Œ

__ADS_1


__ADS_2