
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Joevanka nampak gelisah dan menggigit jari tangannya. Ia terus melihat ke arah pintu, berharap ivander kembali. Kini jantung Joevanka terpicu resah. Joevanka terus memegang dadanya dan mencoba mengatur kembali pernapasannya. Alisnya terus melengkung ke tengah. Hatinya terus gundah, Joevanka terus mencoba menepis perasaan aneh yang terus muncul sejak kepergian Ivander. Ia menopang dagunya, melihat ke arah pintu. Joevanka masih berharap Ivander kembali.
SEPULUH MENIT BERLALU
Joevanka melepaskan napas yang tertahan, lewat hembusan panjang dari mulut terbuka. Ia masih belum tenang. Pikirannya masih kepada Ivander.
"Apakah dia marah?" Desahnya pelan.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Joevanka kembali mengingat bagaimana Ivander menghajar Alex. Ivander begitu marah. Wajahnya mengerucut ke bawah.
Huftt... Joevanka terus membuang napasnya. Tapi tidak sedikit pun membantu menenangkan kerisauan hatinya.
Joevanka menggeleng. Ia harus menyusul Ivander dan meminta maaf. Ia tidak mungkin hanya berdiam diri di kamar ini.
"Oke, sekarang kau keluar Vanka. Cari Ivander dan harus minta maaf." Tapi langkahnya berhenti pada saat berada di depan pintu.
"Bagaimana jika Ivander bertambah marah,apa aku harus kirim pesan aja ya?"
Joevanka mengurungkan niatnya dan kembali berjalan mengambil ponselnya dan duduk di tepi ranjang tempat tidur. Joevanka mulai mengetik sesuatu lalu menghapusnya lagi. Mencoba mengetik kembali namun ia kembali menghapus lagi. Joevanka mulai ragu. Ia membuang ponselnya dengan asal dan menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang.
Ia mulai tidak tenang. "Setidaknya aku harus mencoba." Joevanka meraih ponselnya dan kembali mengetik pesan WhatsApp untuk Ivander.
"Maafkan aku untuk hari ini sayang, aku tidak berniat untuk membuatmu marah. Aku hanya membantu ibu Berneta saja. Aku harap kau tidak marah ya. Kembalilah dan temani aku malam ini."
Joevanka bernapas lega, begitu pesan terkirim. Joevanka meremas dan memeluk ponselnya di dada. Joevanka hanya tinggal menunggu balasan.
Tak beberapa lama, Joevanka kembali memeriksa ponselnya. Ia menahan napas, memeriksa pesan WhatsApp apa Ivander sudah membacanya apa tidak.
Wajah joevanka mengerut dalam. Pesan sudah centang biru tapi Ivander tidak membalas pesannya. Ia membuang desahan kesal hingga mulutnya terbuka.
"Tidak masalah sayang jika kau tidak membalasnya. Aku tidak apa-apa." Kata Joevanka menenangkan dirinya dan bersikap tenang. Ia akhirnya memilih tidur.
Gelisah, Joevanka terus gelisah. Ia berusaha memejamkan matanya, namun tidak bisa. Yang dia lakukan hanyalah membolak-balik kan badannya ke kiri dan ke kanan. Ia terus memeriksa ponselnya. Sama sekali tidak ada balasan. Sudah tiga jam ia melakukan itu. Joevanka duduk lagi, tak berapa lama ia menjatuhkan tubuhnya lagi.
"Aaarggghh" Joevanka mengacak rambutnya sendiri.
" Apa acaranya belum selesai?" Joevanka mengambil ponselnya untuk melihat jam. "Astaga ini sudah pukul dua dini hari?"
Joevanka masih melakukan aktivitas gelisah di tempat tidur. Memeluk bantal guling dan melepaskannya lagi. Hingga akhirnya ia tertidur. Joevanka benar-benar terlelap dan tidak tahu pukul berapa ia bisa tertidur. Berharap esok pagi Ivander tersenyum memeluknya dan mengucapkan selamat pagi untuknya.
βββββ
Joevanka menelusuri sprei lembut, mencari-cari sosok lelaki yang membuatnya tidak bisa tidur tadi malam. Joevanka mengerjap dan reflek terduduk. Vanka mengedarkan pandangannya, mendapati Ivander tidak ada di dalam kamar. Pandangan Joevanka berubah sayu.
DEG DEG
Joevanka menyentuh dadanya, menarik napasnya dan tertahan.Perasaannya tidak tenang. Ia keluar dari kamar setelah membersihkan tubuhnya. Joevanka sudah rapi dengan pakaian kantornya.
Joevanka melangkah dengan menunduk. "Apa dia pulang ke apartemen ya?" Dengan tarikan napas panjang. Joevanka kembali melangkah, mendapati keadaan rumah sudah rapi dan bersih. Seperti tidak ada acara pesta. Joevanka masuk ke dalam kamarnya yang pernah ia tempati. Kosong tidak ada siapa-siapa. Joevanka menunduk lesu. Ia turun di sambut Berneta. Sementara yang lain masih tertidur.
"Kamu baik-baik saja non, tadi malam saya begitu takut sekali."
"Dimana Ivander bu?" Bukannya menjawab , Joevanka to the point bertanya.
"Oh..tuan Ivander ikut ke kantor polisi dan beliau menghubungi saya agar tidak menunggu, berarti beliau kembali ke apartemennya." Jawab Berneta.
__ADS_1
Benar dugaannya, Ivander kembali ke apartemen dan tidak pulang. Joevanka mencoba menarik napas lebih banyak. Menelan salivanya berulang-ulang. Dengan mulut terbuka ia berusaha mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Sebenarnya ia ingin menangis. Tapi dia tidak ingin ibu Berneta melihatnya seperti ini. Joevanka tau jika semua ini adalah kesalahannya.
"Bu...Kalau begitu aku langsung ke kantor saja. Sampaikan kepada Aunty dan Uncle, jika mereka mencariku, bilang saja aku sudah pergi."
"Apa nona tidak sarapan dulu."
"Tidak bu, ini sudah pukul sembilan, aku sudah sangat terlambat. Aku pergi bu..." Kata Joevanka dengan senyuman sendu. Ia melangkah menuju halaman parkiran kediaman Donisius.
Di dalam mobil ia masih terdiam di sana. membiarkan mobil menyala. Tapi Joevanka belum menginjak pedal gas. Di sana Joevanka membenamkan wajahnya di setir mobil. Memukul keningnya berulang kali.
"Apa kau semarah itu sayang?"
"Maafkan aku, maafkan aku..." Hanya itu yang sanggup keluar dari mulutnya.
Joevanka menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman Donisius. Bayangan Ivander yang menghajar Alex seakan menghantuinya. Tatapan marahnya begitu jelas pada saat itu dan malam itu juga Joevanka seperti tidak mengenal Ivander. Itu yang membuat Joevanka terasa hampa.
Joevanka menginjak pedal gas lebih dalam lagi. Memacu mobilnya begitu cepat agar ia tiba di kantor Donisius. Baru beberapa jam tidak bertemu dengannya, sudah membuatnya begitu tersiksa. Cintanya begitu dalam pada pria kesayangannya itu.
DI KANTOR DONISIUS
Joevanka memarkir mobilnya dengan asal. Ia turun dengan terburu-buru.
BRAKKKK!
Pintu mobil dibantingnya dengan cepat. Lalu berjalan dengan penasaran dan jantung yang terus memicu dengan kencang. Ia sangat penasaran apakah Ivander sudah tiba di kantor apa tidak. Ia masih ingat lamaran manis dan kejutan kejutan yang diberikan Ivander kepadanya. Tidak mungkin cinta Ivander hilang sekejap kan. Joevanka yakin, dia hanya marah sesaat.
Ketika berada di dalam di lift, ia bermonolog untuk mengatur kata kata yang tepat untuk mengucapkan kata minta maaf. Berulang-ulang menghembuskan napas lewat pipi yang menggembung. Joevanka menjepit bibirnya untuk menenangkan perasaannya.
TING! Pintu lift terbuka.
Melihat kedatangan Joevanka, Halbret dengan cepat menundukkan kepalanya untuk memberi hormat. Halbret harus biasa melakukan itu. Secara Joevanka adalah calon istri direktur utama perusahaan Donisius.
"Selamat pagi sekertaris Joe." Sapa Halbret dengan senyum bahagia.
"Apa bapak direktur ada?" Joevanka langsung menanyakan keberadaan Ivander.
"Terima kasih pak Halbret,saya masuk dulu."
" Silakan sekretaris Joe."
Tidak menunggu lama, Joevanka melangkah mendekati ruangan pak direktur.
CEKLEK!
Joevanka membuka pintu dan mendorong daun pintu masuk ke dalam. "Kenapa aku gugup, astaga..." Joevanka menarik napasnya dalam-dalam.
Ivander terlihat sibuk dan tidak melihat ke arah Joevanka.
Joevanka semakin menjepit bibirnya ke dalam dan mendesah kecil. Ia berjalan pelan mendekati Ivander.
"Ss-sayang?" Panggil Joevanka gugup. Rasa percaya dirinya hilang begitu saja. Ivander masih bertahan dan tangannya terus bergerak menandatangani beberapa dokumen yang ada diatas meja.
"Sayang lihat aku!" Suara Joevanka sedikit bergetar dan ia mencengkram tangannya begitu kuat.
Ivander mendesah dan meletakkan pena yang ada di tangannya. Menatap Joevanka dengan ekspresi wajah tidak terbaca.
" Katakanlah..."
DEG
Jantung Joevanka terpukul begitu keras. Mendengar itu mata Joevanka berkaca-kaca. Ia tidak mengerti kenapa Ivander berubah sedingin ini. Joevanka berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh. Ia membuka mulutnya, menarik napasnya yang tertahan karena rasa sesak.
"Soal tadi malam, aku minta maaf sayang, aku sama sekali tidak ada niat untuk membuatmu marah. Aku hanya membantu ibu Berneta saja, tidak ada maksud lain..."
"Kau tau kenapa aku begitu marah sayang?" Kata Ivander bangkit dari duduknya dan duduk di sisi meja dengan tangan bersedekap. Pembawaannya sangat tenang. Tidak seperti marah. Ia tersenyum kepada Joevanka. Tatapan itu justru membuat jantung Joevanka seakan terhenti.
"Kau tidak mengerti aku...." Kata Ivander dingin. "Aku menyuruhmu masuk, karena aku tidak ingin Alex melihatmu. Sementara kau tahu Alex datang bersama Ferdinand. Aku merasa kecewa kau tidak mendengarkan aku, kau tidak tahu ketakutan ku pada malam itu."
__ADS_1
"Tapi aa-aku...."
"Biarkan aku selesai bicara." kata Ivander menatap Joevanka dengan lekat. Ia berusaha tersenyum, walau hatinya terluka melihat Joevanka menangis. Namun hatinya begitu sakit ketika ia melihat hasil CCTV. Joevanka hampir dilecehkan dan semua itu karena Joevanka sendiri. Jika Joevanka mendengar perkataannya dan langsung masuk ke kamar, mungkin hal itu tidak akan terjadi. Ia bahkan mengotori tangannya di acara bahagia orangtuanya.
"Kau tau my Bunny, semalam itu acara bahagia daddy dan mommy, sangat disayangkan kau datang membantu Berneta hanya untuk melayani Alex dan pria hidung belang lainnya. Aku memeriksa semua hasil CCTV dan mendengar pembicaraan mereka. Alex memang sengaja melakukan itu karena dia membenciku."
Joevanka menggeleng, semua itu tidak seperti yang dikatakan Ivander. Ia memang tulus membantu ibu Berneta.
"Jika saja Berneta tidak datang dan mengatakan jika kau di ganggu Alex si brengsek itu, aku tidak tau apa yang akan terjadi denganmu. Kau tau aku begitu mencintaimu sayang, aku bisa menahan rasa sakit dulu tapi hal ini berbeda. " Ivander menahan emosinya.
"Kau hampir saja dilecehkan karena kau tidak mendengarkan ku." Ivander mengusap wajahnya dengan kasar. Berusaha tenang.
"Aku memang terlalu gila, terlalu mencintaimu. Aku tidak akan membiarkan lelaki lain hanya untuk melihatmu, bahkan sampai menyentuhmu. Jadi aku mohon, kau bisa mengerti itu vanka."
Joevanka berjalan pelan dengan air mata yang meleleh ke pipinya. Ia berusaha untuk tidak menangis, namun ia tidak bisa. Dengan lembut ia memegang tangan Ivander. "Maka dari itu maafkan aku sayang. Aku salah, jadi aku mohon maafkan aku. Kau juga tau aku sangat mencintaimu kan. Ehmmmm..." Lirih Joevanka dengan air mata yang terus membanjiri pipinya.
"Istirahatlah di rumah, untuk beberapa hari ini jangan ke kantor dulu." Kata Ivander dengan segera membalikkan badannya dan keluar dari kantor.
Joevanka masih shock dan dengan mulut terbuka, sontak langsung mengejar Ivander. "Ss-sayang..." Teriak Joevanka menghentikan Ivander.
Halbret tertegun. Ia masih berusaha mencerna dengan apa yang terjadi. Ia menepuk pipinya, menyadarkan dirinya siapa tahu juga ia sedang bermimpi. Baru beberapa hari yang lalu ia menyaksikan kemesraan pasangan ini. Namun tiba-tiba mereka perang dingin. Satu pertanyaan dibenaknya "Apa yang terjadi?"
Ivander sudah hilang ditelan lift. Joevanka masih menepuk pintu lift berulang kali, berharap Ivander keluar dari sana. Beruntung saja kantor direktur terpisah dengan karyawannya. Jadi yang menyaksikan perang dingin itu hanyalah Halbret.
Joevanka masih belum bisa mengerti, Ia begitu sedih sampai Ivander tidak ingin dirinya datang ke kantor. Joevanka tahu saat ini Ivander tidak ingin melihatnya. Dia masih sangat kecewa.
Hatinya begitu sedih dan jantungnya masih berdetak dengan sangat kencang. Tangannya memutih pucat dan gemetar. Pandangan Joevanka berubah kosong. Ia masih memukul pintu lift yang masih tertutup. Matanya berair penuh air mata.
Halbret berlari dan mendekati Joevanka. Sekarang ia sudah sadar bahwa hubungan pak direktur dan sekretaris Joe sedang tidak baik-baik.
"Sekretaris Joe..." Kata Halbret memegang lengan Joevanka dan menuntun nya untuk duduk di kursinya.
"Apa yang terjadi?"
Joevanka menggeleng. "Ini salahku Pak Halbret, aku yang salah." Kata Joevanka berusaha tenang dan tidak ingin Halbret tahu permasalahan dirinya dengan Ivander.
"Kau baik-baik saja?"
"Ehm..."
Ponsel Halbret tiba-tiba berdering. Dengan cepat Halbret mengangkatnya.
"Sekarang turun!" titah Ivander. Belum juga Halbret menjawab. Tiba tiba ponsel sudah di matikan sepihak oleh pak direktur.
"Maafkan aku sekretaris Joe, aku harus turun menemui pak direktur."
Joevanka menarik napasnya yang begitu sesak lalu ia mengangguk. " Aku tidak apa-apa, pergilah! " Kata Joevanka berusaha tersenyum walau hatinya begitu sakit.
"Aku tinggal ya..." Kata Halbret menepuk lengan Joevanka dengan lembut.
Di dalam kantor Ivander, Joevanka terdiam di sana dan menangis. "Ss-sayang, sayangku Ivander.." Joevanka melafalkan nama itu begitu lirih sambil menangis. Bibirnya gemetar, sangat takut, takut kehilangan Ivander.
.
.
BERSAMBUNG
β£οΈ Jangan marah dengan babang Ivander ya π Jika tahu sifat Ivander dari awal episode, pasti kalian akan mengerti mengapa dia marah.
β£οΈ Mampir dong ke novel ku RETALIATION. pasti lebih seru lagi π€ malam ini akan up. Dibaca ya π
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
__ADS_1
π BERIKAN VOTEMU π