
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Aaron melihat tablet dengan dahi mengerut serius. Ia memeriksa ulang pekerjaannya di ruang kerjanya. Ia kembali beralih membaca dokumen dokumen yang ada di atas meja. Setelah di rasanya beres, ia menyimpan file penting itu di laptopnya. Cukup untuk hari ini, Aaron akhirnya menutup laptopnya.
Aaron meregangkan otot-otot nya, hari ini pekerjaan membuatnya mengabaikan yang sesuatu yang penting. Hari ini ia menunggu panggilan seseorang.
Dddrrrttt dddrrrttt
Suara ponselnya berdering di atas meja, dengan cepat Aaron mengangkatnya.
" Bagaimana? " tanya Aaron cepat.
" Seperti yang anda katakan tuan, Ia tertarik dengan tawaran yang kami buat. "
Aaron tertawa, lalu ia tersenyum sinis sampai mengangkat sisi bibir kanannya naik keatas.
" Apa yang membuatnya tertarik begitu cepat ? "
" Tawaran harga tinggi tuan..."
" Bagus...Besok siang, aku akan berangkat. Kita lihat apakah dia bisa berkutik ketika aku sampai di sana? terima kasih atas kerja keras kalian. " Aaron langsung mematikan ponselnya dengan sepihak.
Aaron tersenyum samar, mengingat apa yang dilakukan Melisa. Setelah Lionel meninggal, ia sangat berubah, Melisa bertindak dengan cepat untuk memiliki segala aset berharga milik Lionel dan Isabel. Perkebunan buah-buahan. Di sekitar kota London terutama di Surrey dan Buckinghamshire. Lionel memiliki ladang tanaman strawberry. Selain strawberry ada banyak buah berry yang lain seperti raspberry dan gooseberry di sana. Melisa dengan cepat berkuasa penuh dan menikmatinya tanpa sisa hingga ia sempat mengabaikan Joevanka .
Lionel dan Isabel, memiliki impian jika di hari tua mereka bisa tinggal di sana dan mengurus sendiri perkebunan itu. Namun Tuhan berkehendak lain. Di saat Joevanka berjuang antara hidup dan mati, Melisa langsung mengambil kendali, untuk menjual perkebunan itu. Tidak hanya itu rumah hasil usaha kerja keras Lionel ikut terjual dengan alasan untuk biaya pengobatan Joevanka. Namun kenyataannya mereka hanya mengabaikan Joevanka. Semenjak istrinya kembali dari London. Melisa tidak pernah lagi melihat keadaan Joevanka. Bisa di katakan, pihak keluarga membiarkan Joevanka seorang diri di rumah sakit.
Dokter yang menangani Joevanka menghubungi Aaron dan mengatakan jika tagihan rumah sakit tidak pernah dibayar keluarga pasien. Membuat Aaron terkejut, sementara Aaron tiap bulan mengirim biaya pengobatan joevanka. Fakta mengejutkan yang di dapat Aaron, dokter mengatakan jika pihak keluarga mengiklaskan Joevanka karena kendala biaya. Dan mereka bahkan setuju, jika alat bantuan pernapasan itu di lepas.
Aaron tidak mau diam ia langsung mentransfer semua biaya pengobatan Joevanka dan meminta langsung beberapa dokter untuk menangani Joevanka. Itu salah satu cara Aaron untuk membalas kebaikan Lionel dan Isabel, sebisa mungkin ia akan menyelamatkan Joevanka. Dan hingga akhirnya Joevanka sadar dari koma, itu membuatnya Aaron sangat bersyukur.
Dan Kepulangan Joevanka membuat Aaron sangat terkejut, namun jika sudah menyangkut Lionel dan Isabel, Aaron tidak bisa menghalangi dan itu cara Aaron untuk melihat apakah Melisa sudah berubah apa tidak? Walau tidak sepenuhnya Aaron akan percaya hal itu. Ia tetap mengirimkan anak buahnya untuk melihat pergerakan Melisa selanjutnya.
Aaron menarik napasnya dalam dalam, fakta berikutnya kembali mengejutkan Aaron. Sekarang Joevanka pergi karena Ivander. Dua hari yang lalu, ia mengetahui kebenaran bahwa mereka saling mencintai. Anaknya sendiri datang menemuinya dan meminta Aaron untuk membawa Joevanka kembali. Aaron tetap bersikap tenang, Aaron akan membiarkan Ivander menyelesaikan sendiri masalahnya, Ia akan menanyakan langsung kepada Joevanka dan berharap Joevanka bersedia pulang bersamanya. Jika memang ia tidak ingin pulang lagi, Aaron tidak bisa berbuat apa apa.
__ADS_1
TOK TOK TOK
" Masuk...! " kata Aaron dari dalam.
Ivander membuka pintu dan melihat daddynya sudah bangkit menyambut kedatangannya.
" Duduklah! ada yang ingin kau tanyakan my son? " Kata Aaron.
" Kenapa Joevanka tidak bisa di hubungi dad? " Awal kata yang di ucapkannya kepada Aaron. Pertanyaan yang sama setiap mereka bertemu.
" Daddy juga tidak tahu my son..Biar kan Joevanka menenangkan diri dulu. Bukankah Joevanka meminta hanya satu bulan saja di sana? Biarkan dia.. " Kata Aaron menjelaskan.
" Tapi Berneta mengatakan, dia tidak akan pulang lagi dad. " kata Ivander dengan suara terendahnya.
" Daddy juga pernah merasakan hal yang sama sepertimu my son. Cukup kita kasih waktu buat Joevanka untuk menenangkan dirinya. Setelah itu, mommy akan mengajaknya kembali ke sini. Tapi jika Joevanka tidak mau pulang. Kita tidak mungkin memaksanya. Mungkin London tempat terbaik untuknya."
" Setidaknya aku ingin minta maaf dad ! aku benar benar menyadari kesalahanku dan bahkan sudah melukai perasaannya. " jelas Ivander.
" Nanti kita bicarakan lagi, daddy mau pergi. " kata Aaron bangkit.
" Kalau tidak, izinkan aku ke London dad..." kata Ivander.
" My son...! Dengar kan daddy, Joevanka saat ini hanya butuh waktu, Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita. Di samping itu, dia baru tiga minggu di sana dan kau tidak bisa meninggalkan praktik magangmu, my son. " ucap Aaron.
" Daddy mengerti apa yang kau rasakan, masih banyak waktu dan jangan terlalu menyesali nya..Sekarang pikiran kan kuliahmu dan Joevanka di sana juga hanya untuk menenangkan dirinya. "
" Tapi dad? " Suara Ivander seperti tercekat di leher. Ia menunduk lemah.
" Besok daddy ke London, daddy akan tanyakan Joevanka langsung apakah ia bersedia pulang dengan daddy atau tidak. Daddy akan menyampaikan rasa bersalahmu kepadanya. Jangan terlalu mencemaskan itu lagi. "
" Tapi dad? " Ivander sepertinya masih bertahan agar daddynya memberikan jawaban yang memuaskan hatinya.
" Besok kita bicarakan lagi my son. " Kata Aaron mengulangi kalimatnya. Ia langsung meninggalkan Ivander yang terdiam terpaku di tempatnya.
Ivander hanya bisa menarik cepat napasnya dalam dalam. Joevanka memang tidak ingin menerima panggilannya. Segala pesan WhatsApp nya terbaca namun tidak di balas, di hubungi masuk tapi tidak di angkat. Ivander terlihat putus asa.
Jika bukan karena ia saat ini mengikuti Magang Praktik Kerja Bisnis di perusahaan. Ia akan ke London menemui Joevanka, namun situasi membuatnya tidak bisa, dan beberapa bulan ke depan ia di sibukkan mempersiapkan skripsi. Saat ini ia hanya bisa pasrah dan menunggu.
ββββββ
Di sisi lain Joevanka hanya bisa menangis. Ia menunduk lemah. Ia berulang kali mencerna dan memahami apa yang dikatakan auntie Melisa kepadanya. Namun semakin ia mencari tahu sesak itu semakin menghimpit dadanya.
__ADS_1
Joevanka menarik napasnya dalam dalam sambil memegang dadanya. Mulutnya terbuka dan mendesah. Joevanka menangis dalam diam tapi tidak mengeluarkan suara. Hanya napasnya terus berhembus dan masuk lewat mulut yang terbuka.
Ia menggeleng berulang kali, Hatinya begitu sakit.
Fakta bahwa Auntie tidak pernah memperdulikannya ketika ia koma dan tidak pernah melihat keadaannya ketika ia sakit. Yang perduli kepadanya hanyalah aunty Anastasia dan Uncle Aaron .
Sesak itu datang lagi, Ivander pantas saja mengatakan itu. Semenjak aunty sibuk mengurusnya, Ivannia dan Ivander bahkan tidak mendapat perhatian dari aunty Anastasia.
" Siapa yang harus aku salahkan di sini? Apakah aku harus menyalahkan diriku, kenapa aku harus dilahirkan seperti ini? Bahkan keluarga sendiri tidak menginginkan Vanka hidup. " lirih Joevanka menangis sesenggukan.
Joevanka sudah berjanji tidak ingin menangis lagi. Tapi kebenaran ini sangat menyakitinya dan mengejutkannya. Ia bahkan merasa hidupnya tiada arti. Hatinya seperti terkoyak dengan luka yang semakin terbuka lebar.
Joevanka mengingat perkataan ibu Berneta.
"Jika ada masalah berat dan kau tidak mau ceritakan pada teman atau saudaramu di sana. curhatlah pada Tuhan dalam doa. Jangan sekali pun nona putus asa dalam menghadapi setiap kehidupan ini. Prinsip kita sekarang adalah bagaimana orang bisa, kita pun pasti bisa. Tetap semangat ya non."
Air matanya mengalir deras ke pipinya, Joevanka mengeluarkan suara lirih. Joevanka menunduk dengan tatapan kosong. kata kata yang di ucapkan Ivander tidak seberapa dari apa yang dikatakan auntie Melisa kepadanya. Dan apa yang di katakan Ivander benar, ia memang manusia tidak tahu diri. Setelah apa yang dilakukan uncle Aaron, seharusnya ia bersyukur dan bisa menerima perkataan Ivander. Apakah sekarang ia menyesali kepulangannya?
Mata Joevanka kembali berkaca kaca, dan air matanya tergelincir begitu saja membasahi pipinya.
Auntie kini menjualnya untuk mendapatkan uang, Ia tega melakukannya.
Bahu Joevanka semakin bergetar, ia terus menunduk memejamkan matanya. Tatapannya lemah dan sayu.
" Dad, mom, bawa aku bersama kalian, sungguh aku tidak kuat. Aku berharap untuk menghilang saja dari dunia ini. Dunia ini terlihat begitu gelap dan menakutkan, aku hanya bisa menangis dalam sedih. Apakah aku akan merasa lebih baik, jika aku menghilang daddy ?" isak Joevanka meraungkan nama daddy dan mommynya. Ia semakin menangis tersedu-sedu, perasannya benar benar hampa dan betapa rapuhnya Joevanka saat ini.
Ketika ia merasa beban hidup sangat berat dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, mungkin menangis adalah salah satu cara yang bisa membuat hati Joevanka sedikit lega. Joevanka merebahkan tubuhnya, ia di berada di kamar gudang. Joevanka berharap besok ada keajaiban untuknya.
Mata berubah sayu dan tidak menunggu lama ia terpejam, mengajak nya tertidur untuk melupakan kesedihannya untuk sesaat.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
__ADS_1
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMU