WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Kebahagiaan ini milik kita.


__ADS_3

💌 Whisper of love 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Ivander masih merangkul pinggang Joevanka dan tangan Joevanka masih menyentuh bahu Ivander.


Ivander belum masih ingin melepaskan pelukannya. Tubuh mereka masih berpaut sangat erat. Ia ingin menyalurkan rasa rindu yang membuncah di dalam dada.


Mereka kini saling memandang sayu dan kening mereka saling menempel. Napasnya menggebu-gebu keluar dengan cepat melalui mulut. Mereka sama sama menikmati debaran debaran yang tercipta dari detak jantung mereka yang berdetak seirama.


" Saya rasa kita bisa lanjutkan kembali, tapi tidak disini..." ucap Ivander berbisik, napasnya berhembus hangat menerpa wajah Joevanka.


" Heuh? " Seketika sekujur tubuhnya merinding. Mendengar kata kata itu berhasil membuat jantungnya terpompa kencang. Merasakan sesuatu dari dalam tubuhnya, karena rasa gugup yang teramat sangat. Joevanka membuang napas pelan dengan desahan. Wajahnya bersemu merah. Ivander tersenyum menangkup wajah Joevanka dan menatapnya dengan sayang.


" Sekarang kau milikku.." Ucap Ivander tersenyum, menatap mata Joevanka kembali. Desah napas Joevanka membuat Ivander tersenyum. Ia mengusap pipi Joevanka dengan lembut. Joevanka terpejam menikmati sentuhan jemari Ivander.


" Kita bisa pergi sayang? " kata Ivander hanya bisa tersenyum menatap Joevanka. Mereka saling menatap. Menikmati kegugupan Joevanka yang semakin membuatnya gemas.


" Ss-sayang....? " Joevanka bernapas gugup. Kata kata yang baru dilontarkan Ivander berhasil membuat jantungnya ingin berhenti.


Joevanka mengangguk cepat sambil tersenyum. Ia melepaskan diri dari pelukan lelaki yang membuatnya hampir tidak bisa bernapas. Jantungnya terus bergemuruh berdetak begitu kencang.


Ivander meraih tangan Joevanka, memasukkan jari jarinya ke sela-sela jari Joevanka. Ia tersenyum bahagia. Ivander membawa Joevanka meninggalkan tempat itu. Ia berjalan mengikuti langkah Ivander. Tangan mereka terpaut erat dan tidak ingin lepas. Mereka berjalan terus menyusuri koridor hotel. Jantung Joevanka tidak pernah berhenti memburu, terpompa lebih kencang. Ia bertambah gugup ketika Ivander terus mencium tangannya dan tetap berjalan dengan senyum yang terus tersungging di bibirnya. Ia seakan menyatakan kepada semua orang bahwa Joevanka adalah miliknya.


SEMENTARA DI DEPAN KAMAR EKSKLUSIF TEMPAT IVANDER.


Halbret terus mondar mandir dan Gavin hanya bisa memandang lelaki itu dengan menyenderkan tubuhnya di dinding dekat pintu kamar direktur.


" Kau juga tidak tahu dimana sekretaris Joe? " Ucap Halbret menatap Gavin tidak percaya.


" Tadi pak direktur memintanya untuk menemui Joevanka dan sekarang kita sudah disini, mereka tidak ada pak Halbret. "


" Jadi kemana mereka? " Halbret terus berpikir.


" Aku juga tidak tahu pak. " sahut Gavin mengangkat kedua bahunya.


" Apa menurutmu sekretaris Joe buat masalah? "


" Menurut anda? " Gavin balik bertanya.


" Kita sama sama tidak bisa memecahkan masalah ini. Kemana sekretaris Joe dan pak direktur kita tidak tahu. Sementara waktu sudah mepet untuk segera kembali, bagaimana ini? " Geram Halbret sedikit frustasi.


" Apa bapak sudah menghubungi pak direktur? "


" Aku sudah menghubungi beliau berulang kali. Namun tidak diangkat, sebaiknya kita menunggu saja. Tidak mungkin pak direktur diculik kan? " bisik Halbret tersenyum simpul.


Mereka larut dalam pikirannya. Gavin sedikit gelisah, matanya memicing menatap Halbret.


" Pak Halbret? " Panggil Gavin. " Bapak tahu kenapa sekretaris Joe dipilih menjadi sekretaris pak direktur ? Sampai saat ini saya sendiri masih tidak mengerti, beliau datang sendiri menjemput Joevanka dari Australia. Karena yang saya lihat pak direktur pertama melihat Joevanka berbeda sekali. Saya sudah mengenal beliau lima tahun. Pak direktur tidak pernah memberikan hatinya kepada karyawan wanita apalagi itu karyawan biasa. "

__ADS_1


" Kamu mau tahu jawabannya pak Gavin? "


" Tentu saja pak, saya ingin tahu. " Gavin mengangguk mantap.


" Hmmm " Halbret menunjukkan gestur berpikir. " Karena pak direktur mencintai sekertaris Joe. "


" Apa? Bapak serius? " Gavin terbelalak dan tidak percaya. Ia menelan salivanya berulang kali.


Dan tiba tiba mata Halbret memicing mengarah ke sosok lelaki yang ia kenali. Begitu juga dengan Gavin, ia begitu tersentak ketika melihat sosok pak direktur di ujung koridor berjalan sambil tersenyum merekah memegang tangan Joevanka. Pak direktur dengan Joevanka semakin mendekat berjalan kearah mereka. sementara Joevanka menunduk tidak berani mengangkat wajahnya.


Halbret dengan Gavin langsung membungkukkan badannya dan tersenyum ketika pak direktur berhenti dihadapan mereka.


Gavin sedikit berdehem agar Joevanka menyadari bahwa dirinya ada. Benar saja ia mengangkat wajahnya. Gavin dengan cepat meminta penjelasan dari Joevanka. Ia hanya memberikan gestur dengan mengepalkan tangan di samping telinganya dengan ibu jari dan kelingking yang dibuka. Dan berbicara tanpa bersuara, mengatakan nanti aku hubungi. Gavin mengangguk paham.


" Apa ada hal penting Halbret? " Kata Ivander masih memegang tangan Joevanka dengan erat. Menautkan jari jarinya ke sela-sela jari Joevanka. Ivander seakan takut Joevanka kabur.


" Saatnya kita kembali pak. " Kata Halbret sedikit menunduk, namun matanya terus memandang ke arah tangan pak direktur begitu juga dengan Gavin. Mereka sangat, sangat penasaran apa yang terjadi antara pak direktur dengan sekretarisnya.


" Maaf, saya hampir melupakan itu. Kalian bisa pulang lebih dulu, masih ada yang harus aku bahas dengan sekretaris Joe. Bukan begitu sekretaris Joe? " Kata Ivander melepaskan senyumannya kepada Joevanka.


" Ehmm..Apa pak? " Joevanka sedikit terkejut dengan mengangkat kedua alisnya lebih tinggi. " Ah..Betul pak. " Jawabnya setengah menunduk karena tatapan Ivander siap menghujam jantungnya. Debaran debaran itu tercipta lagi. Mampu melumpuhkannya.


" Dan saya akan kembali bersama sekretaris Joe. " Ujar Ivander dengan tatapan berbinar. Tangannya masih mengunci ditangan Joevanka.


" Baik pak. " Jawab Halbret dengan cepat, lalu menundukkan kepalanya ketika pak direktur berjalan memasuki kamar hotelnya.


BRUKK


Pintu langsung tertutup. Bersamaan itu mata mereka menatap pintu dengan mulut terbuka. Halbret tersenyum menatap Gavin.


Gavin hanya tertegun, seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. " Apakah lelaki yang selalu ada di hati Joevanka adalah pak direktur? Apakah sebelumnya mereka sudah saling mengenal? Joevanka hilang ingatan dan tidak mengenal pak direktur? Sekarang, pak direktur membuat Joevanka berada didekatnya agar Joevanka kembali mengingatnya? Begitukah? "


" Apa yang kau pikirkan Pak Gavin? apa kau harus menunggu mereka di depan pintu ini? "


" Heuh...? " Gavin tersentak dari lamunannya.


" Pak direktur mengizinkan kita pulang. Sekarang apa yang kau tunggu."


" Baiklah sekarang kita pulang." Kata Gavin akhirnya. Ia mengedipkan matanya dengan cepat untuk mengalihkan pikirannya dari Joevanka.


⭐⭐⭐⭐⭐


Ivander tersenyum dan membuka kembali tangannya untuk memeluk Joevanka. Joevanka bernapas gugup. Ivander mendekap Joevanka dengan tubuhnya dan mendorong tubuh Joevanka hingga punggungnya menyentuh dinding. Joevanka memilih menunduk, ia membuang napasnya lewat mulut, mendesah begitu panjang, sungguh menegangkan.


Ivander tersenyum, sekarang Joevanka adalah dunianya. Wanita yang sangat, sangat ia cintai. Ia menatap Joevanka begitu dalam. Matanya mengarah ke bibir Joevanka yang sedikit basah. Saat ini mereka sangat dekat. Ivander mengambil tangan Joevanka dan meletakkan tangannya kebagian dadanya.


DEG DEG DEG Joevanka bahkan bisa merasakan debaran dari jantung Ivander yang berdetak kencang. Ia memejamkan matanya, seakan ikut merasakan detak yang seirama dari debaran jantungnya juga.


Joevanka menelan salivanya kembali, ketika Ivander mulai mengejar bibirnya. Mengecupnya dengan singkat dan berulang kali. Napas Joevanka semakin terlihat naik turun, ia seakan semakin sulit bernapas. Getaran getaran hebat ia rasakan dari dalam dan menggetarkan seluruh tubuhnya.


Ivander dengan sikap gentleman mengalungkan tangan Joevanka lehernya.


Ivander memiringkan wajahnya dan kembali mengejar bibir Joevanka. Ivander mulai MLumat bibir Joevanka dengan durasi yang begitu lama. Mata Joevanka memejam seakan menikmati ciuman itu. Ivander menuntun Joevanka agar sedikit membuka mulutnya. Seperti mengerti yang diinginkannya. Ivander menarik semua bibirnya. Ciuman itu semakin dalam dan mereka benar benar terbuai dan merasakan desahan desahan kecil. Tanpa sadar Joevanka meremas rambut Ivander. Jantungnya semakin terpukul kencang. Tubuhnya bergetar hebat seperti ada sengatan listrik yang menyetrum seluruh tubuhnya.


Ivander melepaskan tautannya dan memundurkan tubuhnya, napas keduanya saling memburu. Kaki Joevanka seakan tidak bertulang. Dengan cepat Ivander memeluknya dan tersenyum melihat reaksi dari Joevanka.

__ADS_1


Ia membiarkan wanita pujaannya mengambil oksigen sebanyak banyaknya. Ia mengeratkan pelukannya dan membelai rambut Joevanka dengan lembut.


" Aku begitu bahagia Vanka..Sangat bahagia.." Ivander kembali memandang wajah Joevanka dengan hangat.


Tak ada sahutan, Joevanka hanya tersenyum dan tetap terpejam seakan tidak ingin lepas dari dekapan Ivander.


" Vanka...Apa kau merasakan hal yang sama? " Tanya Ivander mengulas senyum.


" Ehmmm...." Joevanka menjawab dengan gumaman. Ia berusaha menenangkan detak jantungnya.


Ivander akhirnya menuntut Joevanka duduk di sofa. Memeluk Joevanka dengan sebelah tangannya. Agar Joevanka bisa nyaman menyandarkan punggungnya di dada Ivander dan Ivander memeluknya dari belakang.


" Aku hanya ingin bersamamu Vanka, Kebahagiaan ku hanya ada dirimu. Aku ingin selalu seperti ini. " Kata Ivander mengeratkan pelukannya. " Dan Aku ingin melepaskan rindu dan sakit ini. "


Joevanka hanya tersenyum tipis, melapisi tangan Ivander yang sedang memeluknya. Ia tersenyum khayal masih merasakan sisa sisa kenikmatan tadi.


" Ternyata merindu itu sangat sakit Vanka. " Kata Ivander dengan perasaan terluka. Joevanka mengerutkan keningnya.


" Sakit? Apakah begitu sakit? " kata Joevanka dengan suara terendahnya. Ia mulai bisa mengatur napasnya yang memburu begitu cepat.


Ivander tersenyum sendu dan matanya berkaca-kaca memandang Joevanka.


" Sangat Vanka... Hati ini begitu sakit, ketika mengetahui fakta bahwa kau mencintaiku dan sangat sakit ketika kau tidak bisa mengingatku." Ivander menarik napasnya, hatinya begitu sakit kala itu.


" Maafkan aku... " Hanya itu yang sanggup ia keluarkan ketika suara Ivander sedikit bergetar seperti menahan hatinya yang begitu sakit.


" Daddy dan mommy, aku pikir mereka memang merencanakan untuk membiarkanmu tidak kembali. Aku sangat marah pada saat itu. Ternyata mommy memang tidak ingin kau terluka karena kau sudah cukup menderita Vanka dan daddy memberikan alasan kau tidak ingin kembali lagi. Sementara aku....? " Ivander menarik napas terbata dari mulutnya.


" Aku hampa Vanka, hatiku begitu terluka sampai tidak sanggup untuk melakukan apa apa, untuk bernapas saja aku selalu mengingatmu. Sakit, begitu sakit. Waktuku hanya kuhabiskan untuk bekerja, bekerja dan bekerja sampai aku lupa untuk makan dan lupa untuk tersenyum."


Ivander sesaat terdiam, napasnya tertahan oleh tangisan. Dadanya begitu sesak. Joevanka menyadari, ia berbalik memandang Ivander dan memegang pipi lelaki yang dicintainya itu.


" Maafkan aku. Aku tidak menduga kau melaluinya dengan begitu sakit Ivander, sementara aku menghilangkan ingatanku dan melupakanmu dan aku melupakan begitu sakitnya menahan cinta ini. " ucap Joevanka dengan air bening yang mengkristal penuh jatuh ke pipinya.


Ivander menarik napasnya dengan terbata bata, " Rasanya begitu sakit Vanka, sekarang cinta kita akhirnya bersatu. Aku sangat bersyukur. " Ivander memandang Joevanka yang sudah ikut menangis. Ia kembali mengecup kening Joevanka dengan sayang.


" Sekarang aku adalah milikmu, cintaku menemukan tempat berlindung didalammu, dan sebagian dari dirimu juga bagian dari diriku." Kata Joevanka menenangkan Ivander dan tatapan mereka kembali bertemu dan saling menempelkan kening mereka.


Joevanka sendiri merasakan kepedihan yang dialami Ivander, Ia memeluk Ivander masuk kedalam dekapannya. Ivander membalasnya dengan memeluk erat tubuh Joevanka. Sekarang mereka sudah bersama. Perasaan bahagia bersama orang tercinta ini memang susah diungkapkan, namun bisa dirasakan.


Joevanka selalu merasa cintanya selalu sama dengan hari pertama ia jatuh cinta pada Ivander.


.


.


BERSAMBUNG


.


.


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌


💌 BERIKAN VOTEMU 💌

__ADS_1


💌 BERIKAN BINTANGMU💌


__ADS_2