WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Ivander tersenyum miris.


__ADS_3

πŸ’Œ Whisper of love πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Ivander saat ini, dilibatkan secara langsung melakukan penelitian di perusahaan besar di kota xx. Ia di percaya untuk memecahkan permasalahan manajemen operasional di perusahaan tersebut. Ivander langsung mengatur strategi di bagian perencanaan, koordinasi, dan pengawasan segala kegiatan operasional perusahaan.


Ivander ditugaskan untuk mengubah input perusahaan menjadi output yang optimal. Ivander mencatat hal penting, Ia melihat problem yang pertama yang dihadapi manajemen operasional tentang strategi dalam produksi, bagaimana kondisi pasar yang akan dituju, proses pembuatan desain merupakan masalah serius yang harus di pecahkan Ivander saat ini. Jika yang dilakukan Ivander berhasil perusahaan akan memenangkan persaingan pasar yang cukup besar dan ia mendapatkan peluang besar untuk bekerja di perusahaan itu.


Ivander mengencangkan otot ototnya, ia menyisihkan lengan kemeja panjangnya untuk melihat jam, sekarang sudah pukul 18. 30 wib. Sejak tadi siang Samuel pergi dan sampai sekarang belum kembali.


" Kemana dia? " Ivander mengedarkan pandangannya. Ia mendekati salah satu karyawan yang sedang lembur, Ivander ingin menanyakannya langsung.


" Permisi bu, apa Samuel sudah kembali ya? "


" Samuel ? Yang satu tim dengan kamu ya ? "


Ivander menganggukkan kepalanya, " Ya Samuel, tadi siang bukannya dia permisi dengan ibu? " tanya Ivander.


" Oh, ya, ya...katanya dia mau bertemu temannya, ada urusan mendadak dan sudah menghubungiku, bahwa ia tidak bisa kembali ke kantor lagi."


" Oh begitu ya? " kata Ivander, ia mengalihkan pandangannya. " kemana dia, sampai tidak kembali ke kantor lagi ? di hubungi tidak di angkat. " Lirih Ivander.


Ivander membuang napas panjang. Ia bangkit dan berjalan menuju dapur yang ada di kantor. Ivander menyeduh teh hangat sebelum ia pulang, untuk menghilangkan rasa lelahnya.


Ivander tersenyum samar, ketika Ia mengingat kejadian pagi tadi, ketika Ia melakukan peninjauan, kondisi pasar untuk proses pembuatan desain produksi. Ivander melihat Joevanka nampak bahagia berjalan dengan Lona dan Vivian. Mereka memasuki sebuah mall hanya untuk mengambil foto dan mencari tempat lain untuk selfi. Ivander hanya bisa menggeleng dan melihat mereka dalam diam.


" Benar-benar kurang kerjaan. " Kata Ivander melangkah membawa teh buatannya.


Ivander kembali ke meja nya. Panggilan masuk ke handphone-nya berdering namun sebelum ia mengangkatnya, panggilan itu sudah mati. Ia mengambil dan ingin melihat siapa yang menghubunginya. Wajahnya berkerut, ia melihat berapa panggilan tidak terjawab.


" Bukankah ini nomor pemilik club ? "


Panggilan itu kembali lagi, Ivander dengan cepat mengangkat ponselnya.


" Astaga dude, dari mana saja kau? " terdengar suara Alex dari seberang, lelaki itu terdengar membuang napas lega, Ivander mengangkat teleponnya.


" Ada apa Alex? "


" Samuel..."


Wajah Ivander kembali mengerut, yang ada dibenaknya Samuel membuat masalah dan sekarang terlibat perkelahian.


" Ada apa dengan Samuel? " Kata Ivander dengan cepat.


" Astaga dude, Samuel mabuk. Cepat bawa dia dari sini, Samuel hampir saja membuatku bangkrut. " keluh Alex.


" Mabuk? Samuel mabuk? "


" Secepatnya kau kemari ya...! " titah Alex mematikan ponselnya dengan sepihak.


Tit ...Tit ..Tit..


Panggilan terputus, setelah Ivander minta izin pulang kepada manager personal. Ivander langsung berlari ke luar ruangan dengan sekuat tenaga menyusuri koridor kantor. karena kecepatan berlarinya, suara langkah sepatunya sampai terdengar memenuhi ruangan. Beruntung kantor sudah sepi. Jika tidak Ivander mendapat masalah karena Ia tidak menjaga etika di dalam kantor. Dengan cepat Ivander sudah tiba di mobil dan menancap gas mobilnya berlari mengejar waktu. Ia melirik jam tangannya, pukul tujuh malam ? wajah Ivander mengerut.


" Apa yang terjadi padamu samuel ? Kenapa jam segini kau sudah mabuk? " kata Ivander dengan nada cemas.


⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


Begitu sampai di depan club, Ivander mematikan mesin mobilnya, dengan cepat ia keluar dan berlari memasuki club. Benar saja Samuel sudah terlihat berantakan. Ia berdiri dan berbicara semaunya dengan Alex. Namun badannya masih bisa seimbang dan tidak terjatuh.


" Ivander..." Alex melambaikan tangannya, dengan langkah cepat Ivander menghampiri Samuel dan Alex.


" Apa yang terjadi? " Awal kata yang diucapkan Ivander ketika melihat Samuel mabuk pada jam segini.


" Aku tidak tahu dude, tapi dia menyebut nama Joevanka terus, siapa dia? "


" Joevanka? " ulang Ivander dengan wajah berkerut bahkan alisnya naik setengah.


" Sepertinya, Samuel putus cinta dude. Sekarang bawa dia dan bayar tagihannya. " Kata Alex mendengus kesal. Samuel marah karena Alex menghentikan minumnya.


" Samuel, kita pulang! " kata Ivander setelah melakukan pembayaran. Ia melihat Samuel duduk kembali di sofa.


Melihat Ivander di hadapannya. " Kau datang dude? Astaga teman baikku, kau tau Alex? Ivander teman terbaikku...Kau tidak bisa mengalahkan kebaikannya. Mengerti? " Kata Samuel mengigau mabuk dan mengangkat tangannya menunjuk Alex.


" Kamu mabuk Samuel, kita pulang! " Ivander masih berusaha bersikap sabar. Menghadapi orang mabuk tidak semudah yang ia bayangkan.


" Pulang ? Kenapa aku pulang? aku masih mau minum, Kasih aku minum..." Kata Samuel masih meracau.


" Kau sudah mabuk... biar ku bantu! "


" Jangan sentuh aku..! " Kata Samuel bangkit berdiri, Ia menepis tangan Ivander dan tangannya mulai menunjuk ke arah Ivander. Samuel terlihat masih oleng, tapi masih bisa melihat jelas Ivander berdiri di hadapannya.


" Apa yang terjadi Samuel, apa kau ada masalah ? Memecahkan masalah tidak harus mabuk, biar aku bantu, kita pulang! "


Samuel menghalangi tangan Ivander, ia tersenyum smrik.


" Ya aku ada masalah, masalah hati..." Samuel menepuk dadanya dengan kuat. Agar Ivander tahu bahwa saat ini dia sedang patah hati.


" Masalah hati ? " Wajah Ivander berubah. " Apa yang terjadi? " tanya Ivander.


Samuel tersenyum sinis, Ia masih terlihat oleng dan tatapannya saat ini siap mengoyak jantung Ivander.


" Apa aku tidak tampan dude, kenapa joevanka sedikit pun tidak mencintaiku...? " wajah Samuel kembali mengerucut ke bawah. kemudian ia tertawa, namun wajahnya menunjukkan kesedihan.


" Joevanka bahkan tidak pernah mencintaiku, dia hanya mencintai lelaki lain. Apa kau tahu siapa dia dude? apa kau tahu siapa lelaki itu, lelaki cinta pertamanya? Apa Joevanka pernah cerita? " Kata Samuel dengan tertawa hambar.


Ivander tertegun, wajahnya bahkan berubah terlihat serius. " Bukannya selama ini, kalian menjalin hubungan? " kata Ivander, pertanyaan bodoh yang ia tanyakan kepada orang mabuk. Tapi rasa penasarannya membuatnya ingin tahu apa yang terjadi.


Samuel menggeleng pelan, ia menarik napasnya dan berusaha mengendalikan rasa pusing dan kantuknya, sekaligus menghentikan tangisnya. Samuel benar benar hancur saat ini. Ia tidak bisa membuang Joevanka dari pikirannya. Yang ada hanya Joevanka... Joevanka...!


" Joevanka tidak pernah menerimaku dude, disaat aku mengatakan cintaku, ia bahkan tidak menjawabnya. Aku hanya memberikannya waktu. Waktu untuk berpikir, waktu agar dia bisa membuka hatinya.Tapi di saat dia akan pergi, Joevanka bahkan memberikanku kejutan. Kejutan yang membuat hatiku sakit. Sebelum ia pergi, ia mengatakan tidak bisa menerima hatiku, dia hanya menganggapku sebagai teman saja dan aku tidak menginginkan hal itu dude.." Kata Samuel terlihat frustasi, ia menyentuh dadanya yang begitu sakit dan terluka, hanya Joevanka yang bisa menyembuhkannya.


Samuel mengacungkan tangannya ke udara. " Ambilkan aku minum, aku mau minum lagi, aku ingin membuang rasa sedihku, membuang Joevanka dari pikiranku. Bisakah aku hilang ingatan dude...Aku rasa dengan hilang ingatan hatiku akan membaik? " Kata Samuel dengan nada sedih, hari ini Samuel ingin mabuk dan bisa melupakan kesedihannya.


Sementara Ivander hanya diam, ia mencoba mencerna, dan mencoba mengerti apa yang dikatakan Samuel, walau ia tahu jika orang mabuk bisa berkata jujur. Namun saat ini yang ada dalam pikirannya . Joevanka pergi? bukannya tadi pagi ia masih ada? tidak mungkin Joevanka pergi. Hanya kata-kata itu yang ada dalam pikirannya.


" Pergi? Apa maksudmu pergi, Samuel ? " Kata Ivander menghilangkan rasa tertegunnya.


" Cih..." Samuel tersenyum kecut, Samuel masih bisa mengendalikan rasa mabuknya. Walau sakit di bagian kepalanya serasa berdenyut.


" Joevanka pergi SELAMANYA...." ucap Samuel menekan kata kata selamanya, agar Ivander mengerti dengan jelas apa yang dikatakannya.


Ivander dengan cepat mencengkeram kerah baju Samuel." Apa maksudmu samuel? pergi selamanya apa? " kata Ivander dengan nada geram.


" Bahkan aku mengatakan pergi selamanya kau marah? " Gumam Samuel dengan suara lirih tapi tidak terdengar oleh Ivander. Ia tersenyum smrik, menatap Ivander dengan menaikkan alisnya lebih tinggi.


" Kenapa, kau terkejut? " Kata Samuel menaikkan sisi bibirnya naik ke atas.


Kini Samuel benar-benar menyakinkan jika Ivander mencintai Joevanka. Di tambah bukti kuat, Samuel pernah melihat ponsel Ivander menyimpan foto Joevanka dan album itu ia buat dengan nama MY LOVE.


" Joevanka pergi selamanya Ivander, dia kembali ke London. Dan tidak pernah kembali lagi. " Kata Samuel memancing emosi Ivander.

__ADS_1


Ivander tidak semudah itu percaya, ia bangkit dan menarik tangan Samuel.


" Sekarang kita pulang, hubungi supirmu untuk membawa mobilmu, sekarang ! " tegas Ivander, Ia nampak gusar dan ingin cepat kembali kerumah. Bagaimana bisa ia mempercayai kata kata orang mabuk.


⭐⭐⭐⭐⭐


Setelah mengantar Samuel pulang, Ivander kembali menancap mobilnya agar tiba di rumah dengan cepat. Ia bahkan menyalip beberapa mobil yang menghalangi jalannya.


Pagar terbuka otomatis dan ia memarkir mobilnya dengan asal.


Ivander berlari memasuki rumahnya. Berneta menyambutnya dengan ramah.


" Selamat malam Tuan! " Sapa Berneta seperti mana biasanya.


" Di mana Joevanka ? "


Berneta nampak bingung. Ia mengernyitkan keningnya, menatap Ivander lekat-lekat. Bagaimana bisa tuan Ivander menanyakan hal itu kepadanya.


"Dimana Joevanka ? " Ivander meninggikan suaranya.


" Maaf tuan, nona Joevanka sudah berangkat pukul lima tadi. "


" Berangkat? berangkat kemana? "


Lagi lagi pertanyaan itu membuat Berneta bingung sendiri. Tidak mungkin Ivander tidak tahu kepergian Joevanka.


" Berneta??????" Ivander sudah nampak kesal, ia bahkan menyebut nama berneta dengan lantang.


" Nona Joevanka kembali ke London tuan. "


Ivander tertegun, napasnya seakan memburu, ia tersentak tak bisa berkata apa-apa lagi. Saat ini ia seperti orang kebingungan, mencoba mengerti dengan situasi saat ini.


" Kenapa dia pergi? Bukankah dia masih kuliah? apa yang terjadi? "


" Saya tidak tahu tuan, yang jelas saya pernah mendengar nona Joevanka menangis dan minta pulang. " jawab Berneta.


" Apa Joevanka tidak kembali lagi? "


" Sepertinya tidak tuan.."


Ivander memejamkan matanya, berusaha menekan segala perasaannya. Apakah karena perkataannya? apakah Joevanka pulang karena Ivander mengatakan telah menyusahkan keluarga Donisius?


Ivander tersenyum miris, bahkan ia menggelengkan kepalanya, tidak percaya.


" Tuan Maafkan saya, tadi saya menyimpan pakaian tuan Ivander dan melihat tas non Joevanka ada di lemari tuan, rencananya saya ingin mengembalikan kepada nona Joevanka, tapi justru saya lupa tuan, sekarang tas itu saya simpan kembali ke dalam kamar tuan. Saya minta maaf tuan, tidak bisa memberikannya kepada nona Joevanka. " Kata Berneta dengan suara terendahnya.


Tidak ada sahutan dari Ivander, ia hanya berjalan meninggalkan Berneta yang nampak kebingungan.


.


.


BERSAMBUNG


.


.


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMU

__ADS_1


__ADS_2