
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Joevanka membuang napasnya berulang kali, ia nampak frustasi. Kemana lagi dia akan mencari tasnya itu. Ia benar benar tidak tahu keberadaannya .
" Buku diary itu? Oh my God... " Joevanka menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Jelas sekali ia lukis nama Ivander di halaman pertama. Semoga saja buku itu tidak jatuh ke tangan Ivander.
Joevanka memang biasa, membiarkan tangannya menari nari di atas kertas untuk menghilangkan kesedihannya ketika ia baru sampai di sini. Jika ia tidak menggoreskan sesuatu di dalam buku diary-nya ia akan kembali menangis mengingat kesedihannya. Semua tentang perasannya, kerinduan buat orang tuanya, semua ia di tulis di sana. Namun sekarang tas itu tidak tahu kemana rimba nya.
Joevanka merasa gelisah, ia berulang kali mengacak rambutnya. Jika memang tas itu tinggal, seharusnya Ivannia dan Alea yang membawanya. Tapi tas itu benar benar tidak ada.
" Apa jangan jangan Ivander yang menyimpannya? " Kata Joevanka berbicara pada dirinya, ia menggigit jari tangannya, untuk menutupi rasa frustasinya. Ia masih berpikir keras untuk menemukan tas itu.
" Tidak..tidak.." Joevanka menggeleng. " Tidak mungkin ivander tahu, Pada saat itu Ivander jelas tidak ada di rumah sakit saat dia sudah pulang ke rumah. " ucap Joevanka mengingat ingat kembali.
" Ivannia juga tidak membawa tas itu, saat mereka keluar dari rumah sakit . " Tubuhnya lemas dan terduduk di tepi ranjang tempat tidurnya.
Curahan hatinya jelas sekali ia tujukan buat Ivander. Di buku diary itu selalu ia selipkan nama Ivander jika tangannya sudah selesai menari nari diatas kertas.
" Astaga... kemana lagi aku mencarinya. " Joevanka masih kepikiran. Selain buku, tas itu juga memiliki banyak kenangan, itu hadiah daddynya sebelum terjadi kecelakaan.
Tidak masalah jika buku itu hilang, tapi tas itu?
" Ya, Alea! aku belum menghubungi Alea. Hanya Alea yang belum aku tanyakan. Semoga saja Alea menyimpannya. " Joevanka mencari ponselnya.
Joevanka berusaha menghubungi Alea.
Terhubung namun belum diangkat.
" Angkat dong Alea...angkat ! " keluh Joevanka berbisik pada dirinya sendiri. Panggilan terputus, Joevanka menghubungi kembali.
" Hai Joe! " terdengar dari seberang menjawab panggilannya, Joevanka merasa lega.
" Alea, maaf mengganggu, ada yang ingin kutanyakan. " kata Joevanka dengan nada suaranya yang memelas.
" Sama sekali tidak mengganggu kok, ada apa Joe? Apa kau sakit ? " Tanya Alea bisa merasakan dari nada bicara Joevanka terdengar lesu.
" Tidak Alea, aku sehat kok..." sahut Joevanka.
" Jadi apa yang ingin kau tanyakan? " tanya Alea.
" Ini sudah lama sih Alea, aku harap kau masih mengingatnya ! " ucap Joevanka penuh harap.
" Soal apa Joe? " Wajah Alea berkerut.
" Saat dirumah sakit, ada gak lihat tas kecil yang sering aku pakai Alea yang warna hitam? " tanya Joevanka dengan nada lirih.
" Tas hitam? " Alea terdiam dan sesaat ia berpikir. " Aku rasa gak ada tas hitam Joe, mungkin kau lupa simpan di mana atau memang tidak bawa! yang aku ingat, kita hanya bawa tas berwarna biru saja, yang isinya hanya pakaian Ivander dan pakaianmu. " Jawab Alea yakin dengan ucapannya.
" Saya rasa juga seperti itu.." Ucap Joevanka dengan suara terendahnya, Ia lalu membuang napas dan berdecak seperti putus asa.
" Apa tas itu hilang Joe? "
" Ehmmmm..." jawab Joevanka dengan menggumam.
" Apa tas itu begitu penting Joe? biar kita bisa mencari kembali ke rumah sakit! " Usul Alea karena bisa merasakan kesedihan joevanka.
__ADS_1
" Aku sudah menghubungi pihak rumah sakit, tiga hari setelah aku keluar dari sana. Tapi mereka mengatakan tidak ada tas tertinggal disana. Semula aku menduga jika Ivannia yang menyimpannya dan ternyata tidak juga. " sesal Joevanka.
" Jadi kemana ya, tas itu ? " keluh Alea.
" Aku tidak tahu lagi mencari kemana Alea, tas itu menyimpan banyak kenangan saat bersama daddy dan mommy. Tas itu sangat aku sukai karena pemberian dari daddy. Jadi sangat di sayangkan tas itu bisa hilang. " Kata Joevanka terlihat sedih, suara seperti tercekat dileher dan ingin menangis.
" Ya aku tahu itu Joe, lebih baik kita pergi saja ke rumah sakit dan menanyakan langsung ke perawat yang menangani kau dulu. Saya rasa kita bisa mencoba . "
" Saya rasa tas itu sudah hilang Alea, sepertinya aku harus mengikhlaskannya. " Kata Joevanka dengan membuang napasnya dengan berat.
" Maaf Joe, aku tidak bisa membantumu menemukan tas itu! " sesal Alea dengan nada terendahnya.
" Gak apa apa Alea, ya sudah sampai bertemu besok ya! " kata Joevanka ingin mengakhiri panggilan singkatnya dengan Alea.
" Baiklah Joe, sampai bertemu besok. "
Panggilan mereka akhirnya terputus.
Joevanka menatap ponselnya lalu membuang napasnya lesu, pasrah melepaskan tasnya dan buku diary kesayangannya.
Joevanka harus ikhlas, coretan coretan tentang Ivander akan menjadi kenangan dalam buku itu. Buku itu bisa hilang atau bisa dihapus. Namun kata kata yang ia tulis masih bisa ia ingat dan simpan di dalam hatinya. Karena hingga akhir hayat, Joevanka yang mematri di dalam hati untuk seseorang yang akan selalu ia cintai. Kebahagiaan dan kebaikan yang didapat dari daddy dan mommynya yang selalu ia tulis kala ia merindukan mereka akan tetap diingatnya. Agar ia tetap hidup dengan semangat dan selalu kuat. Kasih sayang dan cinta yang ia dapatkan dari orang tuanya tak pernah bisa dihapus oleh waktu. Sementara kenangan yang hanya menjadi miliknya dan cinta pertamanya akan menjadi memori indah.
βββββ
Ivander memarkir mobilnya di restauran terkenal di kota xx. Hari ini adalah perayaan ulang tahun Ivannia.
Seluruh keluarga di undang makan bersama. Ivander setengah jam terlambat dari perkiraan. Ia tidak bisa meninggalkan latihan terakhir untuk acara ulang tahun universitas mereka besok malam.
Ivander melangkah panjang menuju ruangan VIP yang sudah di reservasi mommynya.
Restauran ini menjadi tempat favorit keluarganya jika ada acara keluarga. Pihak restauran sudah memahami selera keluarga besar Donisius itu. Keluarga Donisius selalu menggunakan ruangan VIP yang hanya mereka saja bisa menggunakannya.
Di kelola langsung oleh Chef asli Perancis.
Keluarga besar Donisius menyukai tempat ini karena menu handalannya adalah selera semua keluarga. Restauran ini menyediakan menu degustation, disajikan bersamaan dengan wine. Pihak restauran sudah menyambut kedatangan mereka dan sudah menyajikan makanan pembuka.
Mereka hanya tinggal menunggu Ivander saja.
" Ivander..! " Celin memicingkan matanya ketika ia keluar dari kamar mandi. " Apakah dia bersama Delia? " Celin mengernyitkan keningnya dan mengikuti Ivander yang berjalan agak cepat sembari menerima panggilan.
" Hanya makan berdua saja, kau memilih ruangan kelas VIP. " Celin tersenyum. " Benar benar menantu idaman. " Kata celin masih mengikuti langkah Ivander.
" Daddy ! saya disini...! " Panggil Ivander melambaikan tangannya ketika melihat daddynya masih berbicara dengannya melalui ponsel. Mereka sama sama memutuskan panggilan.
" Kenapa begitu lama my son.." Kata Aaron menyimpan ponselnya dan tersenyum menyambut kedatangan anaknya.
" Maaf dad..." sahut Ivander memeluk daddynya.
" Mommy dari tadi menanyakanmu my son, sekarang kita masuk! " ajak Aaron.
Sementara Celin sudah bersembunyi, ketika mendengar suara yang tidak asing ditelinganya. Ekspresi wajahnya tiba tiba berubah. Wajahnya menegang, napasnya berhembus tidak stabil. Celin menyentuh bagian dadanya. Ia masih mengeluarkan napasnya secara cepat, jantungnya sudah berdebar kencang. Seolah meyakinkan dirinya, bahwa yang dilihatnya adalah benar benar lelaki yang pernah ia cintai.
" Aaron? benarkah itu kau Aaron Donisius? " Kata Celin berbicara dalam hatinya.
Kemudian ia tersenyum licik dan menyeringai. Bibir ujungnya terangkat dan tatapan matanya berkilat, senyum iblisnya keluar, ia berjalan mendekati ruangan VIP restauran. Celin mendengar jelas tawa dari dalam ruangan. Ia menatap pintu dengan tatapan mata yang tajam dan alisnya terangkat lebih tinggi. Celin berlalu pergi, ia langsung meninggalkan teman sosialitanya. Celin hanya ingin cepat cepat tiba di rumah dan menanyakan langsung kepada Delia. Ia kembali tersenyum jahat.
" Ivander berbeda denganmu Aaron? hahahaha...Ivander lelaki lembut dan tidak seperti kau menyiksa istrimu sendiri. " Celin tersenyum kecut dan tiba tiba terdengar tawa membahana di dalam mobil Celin.
" Dunia ini begitu sempit, Ivander sekarang berada dalam genggaman Delia. Kita lihat bagaimana reaksi Aaron ketika anakmu begitu mencintai anak dari mantanmu, Hahahaha... " Celin kembali tertawa seakan menikmati permainan yang baru di mulai babak awal.
" Sekarang kau adalah pengusaha nomor satu tersukses di negeri ini. Suamiku saja berusaha untuk menjatuhkan perusahaanmu begitu sangat sulit. Sekarang kita lihat bagaimana reaksimu ketika anakmu kesayanganmu berada dalam genggamanku, aku ingin lihat sendiri bagaimana reaksi istri kesayanganmu itu ! " Celin kembali tersenyum jahat. Wajahnya terlihat menyeringai tajam. Ia Kembali mengingat ketika ia mendekam dalam penjara.
__ADS_1
" Aku memohon sampai menangis, tapi kau tidak bisa membantuku Aaron....Sekarang aku akan membalaskan perbuatan kalian. Ivander akan kubuat tidak bisa lepas dari anakku..." Kata Celin dengan wajah sangat dingin, rahangnya bahkan mengeras memancarkan kebencian.
Celin semakin menancap gas mobilnya berlari mengejar waktu agar tiba di rumah dengan cepat.
Dengan sekejap celin sudah sampai di rumah.
Ia sedikit berlari dan membuka pintu secara paksa.
" Delia... Delia....! Dimana Delia? " tanya celin ke salah satu pembantu rumah tangga yang ada di rumah.
" Di kamar nyonya! "
Tidak menunggu lama, celin langsung melangkah cepat menuju kamar putrinya.
Ia mengebrak pintu terlalu keras sehingga membuat Delia yang tertidur begitu kaget.
" Mommy, kau mengagetkanku! " pekik Delia meninggikan suaranya, matanya sudah terbelalak menatap mommynya dengan tajam.
" Sekarang kau jujur Delia, siapa sebenarnya Ivander? " Tanya Celin nampak berusaha mengatur napasnya yang tersengal karena ia berlari menaiki tangga.
" Astaga mom, pertanyaan macam apa itu? Ivander ya kekasihku lah..." ketus Delia mendengus kesal, ia kembali tidur.
" Bukan itu maksud mommy sayang, Ivander itu anak siapa dari keluarga mana? " tanya Celin.
" Mom aku tidak tahu dia dari keluarga mana? daddynya siapa? karena Ivander sendiri tidak pernah cerita, yang aku tahu Ivander anak dari pengusaha kaya. itu saja! "
" Oh sayangku... Ivander itu anak dari Aaron Donisius, pengusaha terkaya nomor satu di negeri ini. " kata Celin membuat putrinya agar tersadar.
" Terus...? " kata celin duduk menatap mommynya dengan jengah.
Celin tentu tidak ingin mengatakan jika ayah dari Ivander adalah mantannya. Tidak lucu jika ia mengatakan dia dicampakkan karena telah mengkhianatinya.
" Hubunganmu masih baik baik kan dengan Ivander? " tanya Celin menaikkan alisnya.
" Tentu mom, aku tidak ingin berpisah dengan dia. Karena aku sangat mencintainya. "
" Bagus sayang, mama akan bantu kau agar Ivander semakin mencintaimu." kata Celin tersenyum. " Tapi kenapa Ivander jarang kerumah sayang? "
" Dia sibuk mom..." jawab Delia malas.
" Jangan katakan hubungan kalian tidak baik? " Celin menatap Delia lekat lekat.
" Bantu aku mom, Ivander sepertinya mulai meragukan cintaku. Aku tidak ingin pisah dari Ivander lagi mom. Kita sudah sejauh ini. " Kata Delia putus asa.
" Semuanya akan baik baik sayang, percaya dengan mommy. " Kata Celin memeluk putrinya. " Ivander akan jatuh ke tangan kita sayang ! " Celin menenangkan putrinya dan ia tersenyum licik.
" Aaron suatu saat kita akan bertemu. " ucap Celin dalam hati, ujung bibirnya terangkat satu sisi dan di ikuti dengan tatapan matanya yang tajam.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
__ADS_1
π BERIKAN BINTANGMU π