
💌 Whisper of love 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Tepat pada hari ini, mahasiswa Pecinta alam universitas xx berkumpul di aula kampus. Mahasiswa akan berangkat setelah Dekan melakukan acara pelepasan kepada mahasiswa.
Kegiatan pendakian gunung dan jelajah hutan akan di lakukan selama tiga hari dua malam. Ivander telah mempersiapkan semuanya. Ivander sebelumnya menjabat sebagai wakil ketua dan untuk tahun terpilih sebagai ketua umum. Ia di percaya karena memiliki tanggung jawab yang besar.
Pihak Universitas sendiri sudah menyiapkan semua dari acomadasi, transportasi dan camping ground.
Ivander nampak sibuk, ia berlari di area kampus. Ivander menyisihkan lengan jacket nya untuk melihat jam. Raut wajahnya menunjukkan rasa khawatir karena mobil bus yang akan membawa mereka belum juga datang. Sementara mereka akan berangkat setengah jam lagi. Ivander tidak ingin disebut sebagai ketua yang tidak bertanggung jawab. Ia ingin tetap memberikan yang terbaik dalam mengemban tugas yang di berikan. Baik itu, dalam mengurus hal terbesar maupun yang terkecil.
" Dude! apa mobil bus nya belum datang ?" Samuel berlari kecil menghampiri Ivander yang sibuk menghubungi seseorang.
" Sudah, mobilnya sudah menuju kampus. " Jawab Ivander memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
" Syukurlah..." ucap Samuel merasa lega.
Mobil bus yang di tunggu akhirnya datang juga. Ivander menghampiri supir. Lebih dari lima menit Ivander berbicara.
Samuel kembali berlari untuk menemui Ivander.
" Dude...sekarang kita bisa ke aula acara pelepasan mahasiswa sudah akan di mulai. Dekan dan rekan yang lain sudah berada di sana." Kata Samuel.
" Baiklah, kita bisa ke sana." jawab Ivander, melangkah setelah ia selesai menemui supir bus.
Mereka berjalan menuju aula, ternyata benar mahasiswa sudah berkumpul di sana. Tak menunggu lama acara untuk pelepasan mahasiswa pecinta alam sudah dimulai.
Pelepasan ini dihadiri oleh Dekan, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Kasubag Akademik dan Kasubag Kemahasiswaan.
" Selamat siang buat anak anak mahasiswa dan mahasiswi yang kami cintai, kegiatan mahasiswa pecinta alam ini, memang tiap tahun akan melakukan kegiatan pendakian setelah ulang tahun kampus di adakan. Dan kami sangat bersyukur mahasiswa banyak yang berminat. Mahasiswa pecinta alam ini dikenal sebagai salah satu pelopor cinta kepada alam sekitar kita. Dalam kegiatan pendakian gunung, khususnya di kalangan mahasiswa kita. Sejatinya, mendaki gunung bagaikan sedang menjalani kehidupan. Aktivitas pendakian gunung memiliki banyak bahan pengajaran pendidikan karakter, yang pastinya akan kalian dapatkan di sana. Kalian Lebih Mengenal diri sendiri, akan membentuk mental dan pikiran yang kuat dan sehat, membuka wawasan baru dengan dunia luar, menambah ilmu pengetahuan dan belajar hidup secara mandiri tentunya. "
" Bapak di sini tidak perlu panjang lebar untuk menjelaskan, pesan saya buat kalian semua, yang utama adalah kerja sama tim, tanggap, kreativitas dan dengarkan kata pembimbing kalian. Itu saja menurut saya sudah cukup. Ada tambahan dari Ivander? " tanya Dekan memandang Ivander.
" Tidak pak, saya rasa penjelasan dari bapak sudah cukup. " Sahut Ivander dengan lugas.
" Oke, baiklah acara ini akan kita tutup, tapi sebelum kalian berangkat ada baiknya kita berdoa menurut kepercayaan kita masing masing. Doa dimulai ! "
Semua hening menundukkan kepala, melakukan doa untuk keselamatan mereka selama pendakian.
" Doa Selesai..."
" Oke buat mahasiswa yang mahasiswi yang kami cintai, semoga pendakian kalian berjalan dengan baik, saya harap kan kalian bisa mematuhi peraturan-peraturan khusus yang berlaku di sana. Selamat sampai tujuan semoga perjalanan mahasiswa dan mahasiswi kami menyenangkan. Sekian dan terima kasih. " ucap Dekan mengakhiri ucapannya setelah selesai menjabat tangan para mahasiswa dan mahasiswi yang ikut.
Mahasiswa langsung keluar menuju mobil bus yang telah di siapkan. Sementara Ivander dan samuel masih tetap berdiri belum naik ke dalam bus. Mereka masih tampak berbicara dengan bapak pemimpin fakultas universitas xx.
" Kami berangkat pak ! " ujar Ivander mengakhiri perbincangan yang lumayan panjang. Ia menundukkan kepalanya seraya memberi hormat.
__ADS_1
" Semangat Ivander, tiga kali menjadi wakil ketua mahasiswa pendakian dan yang ke empat ini kau terpilih menjadi ketua, luar biasa. Bapak percaya kau bisa bertanggung jawab kepada rekan rekanmu. " Kata dekan menepuk pundak Ivander dengan lembut.
" Terima kasih pak! " jawab Ivander tersenyum tipis.
" Samuel, bantu Ivander ya..! " Kata pak Dekan menepuk pundak Samuel dengan lembut juga. " Dan hati hati dalam perjalanan, selamat sampai tujuan. "
" Terima kasih pak! " jawab mereka serentak.
Samuel dan Ivander masuk kedalam mobil bus dan meninggalkan halaman kampus.
Samuel langsung mengambil tempat duduk di sebelah Joevanka namun tetap sejajar dengan Ivander di kursi bagian depan, tepatnya di belakang supir.
" Rekan rekan bisa istirahat, perjalanan kita memakan waktu dua jam. " Kata Ivander berdiri di depan mereka dan mengedarkan pandangannya untuk mencari kursi bus yang masih kosong, tidak ada pilihan lagi, ternyata semua kursi telah terisi kecuali di sebelah Delia.
" Sayang, mari duduk di sini! " kata Delia menepuk kursi di sebelahnya yang masih kosong.
Ivander memilih diam, ia duduk tanpa ekspresi dan tidak melihat Delia.
" Sayang..." panggil Delia.
Ivander mendengus kasar, ia menatap Delia dengan tatapan tidak suka.
" Delia, aku harap kau jangan memanggilku dengan panggilan sayang lagi. "
" Kenapa, bukankah kita sepasang kekasih? wajar dong aku memanggilmu sayang. " Delia sedikit meninggikan suaranya, sehingga mengundang yang lain untuk melihat ke arah mereka.
" Suaramu Delia..." bisik Ivander menekan setiap perkataannya.
" Aku tidak perduli. " kata Delia dengan menyilangkan tangan di depan dadanya.
" Sikap apa maksudmu Ivander? " Kata Delia balik bertanya, tatapanya terlihat dingin. Perbincangan yang terkesan menegangkan tapi hanya mereka berdua yang tahu. Karena mereka berbisik.
" Cukup, cukup Delia...Aku tidak ingin berdebat denganmu."
" Berdebat? siapa yang berdebat ivander, kau saja yang membesarkan masalah ini. " kata Delia tidak tahan dengan sikap Ivander.
Joevanka bisa merasakan jika Ivander dengan Delia sedang berdebat. Ia memilih diam dan tetap berbicara dengan Samuel.
" Kau mau tidur Joe? Tidurlah ! " kata Samuel dengan lembut.
" Ehmmmm..." Joevanka hanya menjawabnya dengan gumaman. Ia memejamkan matanya, tapi tidak dengan telinganya. Joevanka masih bisa mendengar perbincangan antara Ivander dan Delia.
Sementara itu,
Ivander terlihat kesal, ia mendengus kasar. Berusaha memenjamkan matanya agar tidak melanjutkan perdebatan dengan Delia.
" Ivander... Ivander dengarkan aku! "
" Delia, lebih baik kau tidur saja, bukankah kamu sakit ? " kata Ivander masih terpejam. Ia tersenyum jahat sembari mengangkat sisi bibir kanannya keatas. Saat ini Ivander akan membiarkan sejauh mana aunty Celin berperan baik di balik Delia.
Jika waktunya tiba semua akan terbongkar dan membuat mereka tidak mampu membela diri lagi.
Ivander nampak menarik napasnya dalam dalam, terlalu sakit di bohongi seperti ini.
__ADS_1
" Ternyata apa yang di katanya Alea benar, Delia pergi ke Singapura untuk menutupi kejahatannya saja. " Ivander terus berbicara pada hatinya. Ia bergelut dengan pikirannya sendiri. Matanya terpejam namun bukannya berarti ia tidur, ia hanya memikirkan kenapa Ivander begitu bodoh mengikuti alur permainan mereka.
Apa karena cinta? Rasa cinta yang terlalu berlebihan justru berbahaya. Delia hanya terlalu obsesi kepadanya. Sehingga apapun mereka lakukan untuk membuat Ivander percaya dan menerima Delia kembali.
⭐⭐⭐⭐⭐
Udara sejuk khas pegunungan langsung menyapa saat mobil yang membawa mereka memasuki area pegunungan. Dinginnya udara pegunungan menusuk sampai tulang. Terdengar sorak sorai dari para mahasiswa ketika mereka memasuki jalanan yang sepi dengan pemandangan pepohonan hijau yang sejuk.
" Akhirnya sampai juga..." kata mereka menatap keluar jendela mobil.
Joevanka turun dari mobil bus yang langsung di ikuti Samuel. Ia tersenyum sembari menengadah ke atas untuk menikmati alam, Joevanka baru ini merasakan udara yang sejuk khas pegunungan. Selama ia di London, Joevanka hanya meringkuk di balik selimut sambil menatap nanar gundukan salju yang semakin menebal di jendela kamarnya.
" Kamu menyukainya Joe? "
" Tempat ini indah sekali kak, aku menyukainya. " jawab Joevanka tersenyum simpul.
Joevanka menarik oksigen sebanyak banyaknya dari mulut dan hidungnya, ia mengumpulkannya di paru paru lalu menghembuskan napasnya sekaligus.
Agar udara pegunungan ini bisa ia ingat selalu.
Ditambah lagi rimbunnya hutan pinus yang akan menambah suasana teduh. Joevanka berjalan mendekati sungai. Air terjun tidak jauh dari camping ground. Suasana ini benar-benar alami.
" Joe, sepertinya kita di suruh kumpul. " kata Samuel menghampiri Joevanka yang sedang berjalan jalan di tepi sungai masih di area camping ground.
" Yuk, kita ke sana ! " ucap Joevanka berjalan sambil memeluk dirinya sendiri.
Ternyata benar semua sudah berkumpul di sana. Ivander memicingkan matanya menatap Samuel dan Joevanka dengan tatapan tak terbaca. Ivander merasa jengah, menunggu mereka sampai 20 menit. Apa ia marah, hanya Ivander sendiri yang tahu. Mereka ikut bergabung untuk mendengarkan beberapa pengarahan dari Ivander.
" Selamat sore rekan rekan semua, kita sudah tiba di area pegunungan di daerah xx. Tempat ini di kenal merupakan gunung paling indah sekaligus paling tinggi. Keindahan gunung ini tak pernah lekang termakan waktu. Keindahan gunung ini membuat para pendaki dari berbagai daerah rela datang jauh-jauh termasuk kita sendiri. Kita bisa menikmati alam dengan baik. Tetap jaga sikap, kita harus ikuti aturan yang berlaku. Jangan coba-coba untuk pergi seorang diri atau tanpa orang yang belum paham jalur pendakian demi meminimalisir kemungkinan tersesat dan risiko berbahaya lainnya. Mengerti? " Kata Ivander menatap Joevanka dengan tatapan dingin dan kaku. Kata katanya seakan ia tujukan hanya untuk Joevanka saja.
" Satu lagi, jangan membuat saya harus menunggu lama untuk mengumpulkan rekan rekan, tetap ikuti peraturan, saya mohon kerja samanya, selalu tanggap, dan dengarkan kata pembimbing. " Kata Ivander dengan tegas. Ia mengalihkan pandangannya ketika Joevanka menatapnya.
DEG DEG DEG
" Apakah kata kata itu untukku? " Joevanka menatap sekelilingnya, semua orang melihatnya. Jelas kata kata itu di tujukan untuknya. Ia menundukkan kepalanya, Joevanka tidak nyaman dengan sorot mata seolah mengintimidasinya. Joevanka meremas tangannya sendiri. Namun tangan kekar tiba tiba menyentuh lengannya dan lelaki itu tersenyum lembut seolah memberikan semangat dan mengatakan semua akan baik baik saja.
" Cih..." Delia menatap sinis, ia membuang mukanya tidak suka dengan Joevanka. Ia menaikkan sisi bibirnya naik ke atas.
" Oke saya rasa cukup. Malam ini pukul tujuh rekan rekan kembali berkumpul di tempat ini, kegiatan kita malam ini menyalakan api unggun dan kita akan mengisi kegiatan yang bermanfaat." Kata Ivander mengakhiri kata katanya.
.
BERSAMBUNG
.
.
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
__ADS_1
💌 BERIKAN BINTANGMU💌