
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Setelah Ivander memberikan barang bukti hasil kerja kerasnya dengan Samuel, Ivannia tidak mau keluar dari kamarnya. Ivannia hanya bisa menangis dan bahkan dia melakukan mogok makan, jelas itu bentuk kekesalannya kepada Ivander. Ivannia menyalahkan Ivander atas semua ini.
Ivander menatap pintu kamar Ivannia yang tertutup. Ia mendengus kasar dan melangkah menuju kamar Ivannia.
Ivander mengetuk pintu, tidak ada sahutan. Tanpa menunggu, akhirnya Ivander
membuka kenop pintu dan mendorong daun pintu hingga kedalam.
Ia memicingkan matanya melihat Ivannia sedang duduk sambil menangis. Terdengar dari isak tangisnya, ia melihat Ivannia sampai sesenggukan. Ivannia sedang membenamkan kepalanya diantara kedua kakinya.
Ivander menyandarkan salah satu bahunya dengan kedua tangan bersedekap, ia mencoba diam dan mengamati Ivannia.
Ivander berdehem, ia melangkah masuk.
" Sampai kapan kamu seperti ini? " tanya Ivander mulai jengah dengan sikap Ivannia yang terus menangis tidak berkesudahan.
Tak ada sahutan, Ivannia hanya diam tak bergeming.
" Ayolah ! ini sama sekali tidak lucu, lelaki brengsek seperti Denian tidak pantas kau tangisi. Harusnya kau bersyukur aku bisa membuka sifat buruknya. " sungut Ivander.
Tangisan itu semakin terdengar, ketika Ivander mengatai Denian. Ivander mengernyitkan keningnya. Ia menggeleng dan tidak mengerti dengan sikap Ivannia.
" Siapa bilang ini lucu kak, kau membuat aku seperti ini. Membuat aku menangis." kata Ivannia menatap Ivander dengan sinis dengan air mata yang mengumpul dikelopak matanya.
" Semua itu aku lakukan untukmu Ivannia, kau dengar sendiri apa yang dikatakan Denian? rekaman itu bukan rekayasa. " ujar Ivander berusaha memberi pengertian.
" Kau sengaja menghajarnya, agar dia mengatakan itu kan ? " sela Ivannia menatap tajam kepada Ivander.
" Kakak menghajarnya karena dia mencumbu dua wanita sekaligus di club. Dia lelaki brengsek yang pantas mendapatkannya." Seru Ivander mulai emosi, suaranya sudah menggema didalam kamar.
" Terserah kau mau bilang apa, aku tidak akan percaya. " Tutur Ivannia tidak mau menatap Ivander.
" Ivannia dengarkan aku, jika kamu seperti ini aku tidak akan izinkan kamu bertemu temanmu lagi, kamu mau ? " Ivander menekan setiap perkataannya, Ivander tersenyum smirk sambil mengangkat setengah alisnya.
" Aku tidak perduli. " ketus Ivannia. Ia membuang mukanya tidak suka.
" Sekarang apa maumu Ivannia? " kata Ivander dengan nada geram. " Kamu mau mengemis cintanya? atau kau mau bersujud dan memohon maaf, begitu? " kata Ivander dengan suara nyaring.
Ivannia hanya diam, tidak menghiraukan perkataan Ivander.
Terdengar ketukan pintu, Ivander menoleh dan melihat Berneta berdiri diluar kamar menundukkan kepalanya.
" Maaf tuan! Ada nona Alea dibawah. " ucap Berneta dengan nada sopan.
__ADS_1
" Suruh naik ! " seru Ivander menghusap wajahnya dengan kasar dan kembali menatap Ivannia.
Berneta langsung pamit undur diri. Setelah melihat kepergian Berneta Ivander melangkah mendekati Ivannia dan duduk disisi ranjang.
" Alea sudah datang, kamu tidak mau ikut ? " tanya Ivander mencoba mengalah, bagaimanapun Ivander harus lebih bersabar menghadapi Ivannia. Adik kecilnya ini terlalu keras dan ingin menang sendiri. Ivander harus mengalah karena Ivannia akan selalu bertahan dengan ego-nya, daddy saja rela minta maaf jika Ivannia sudah marah.
Dengan lembut Ivander membelai rambut Ivannia.
" Bersiaplah kita akan pergi ! "
" Jangan sentuh aku! " ucap Ivannia kasar, ia menepis tangan Ivander agar menjauh darinya.
" Selamat siang ! " Sapa Alea melangkah memasuki kamar Ivannia. Alea nampak bingung, ia menatap ivander dan menunjukkan gestur tubuhnya dan matanya mengarah kepada Ivannia. Alea memakai bahasa tubuhnya seperti mengatakan apa yang terjadi.
Ivander diam tidak menjawab, ia hanya mengangkat kedua bahunya, ia masih duduk disebelah Ivannia.
" Ivannia kamu kenapa? " tanya Alea mendekat.
" Jangan tanya aku kenapa yang jelas kalian senang melihat keadaanku seperti ini. jadi lebih baik kalian keluar! " husir Ivannia dengan nada kesal.
" Hei...kamu kenapa ? " seru Alea masih dikuasai rasa penasaran.
" Keluar...!!!!!! " bentak Ivanna sudah meninggikan suaranya. " Ayo, keluar !!! " teriak Ivannia.
" Oh my God..." Gumam Alea pada dirinya sendiri.
" Terserah dia saja Alea ! sekarang kita keluar. " Ajak Ivander kepada Alea. Ia melangkah cepat meninggalkan kamar , alea ikut menyusul Ivander.
" Hei tunggu aku,Kamu mau kemana Ivander? " tanya Alea mempercepat langkahnya mengikuti Ivander. Mereka membiarkan Ivannia kembali menangis di kamar.
" Dia menyalahkan aku Alea, terserah dia saja. " Ivander mengambil sesuatu di lemari pendingin. Memberikan satu kepada Alea. Ia meneguk soft drink untuk menyegarkan tenggorokannya.
" Kenapa lagi lelaki itu ? "
" Dua hari yang lalu aku mendatangi Denian di Club dan menemui dia bercumbu dengan wanita, aku menghajarnya dan menunjukkan bukti kepada Ivannia. Namun Ivannia tidak terima. " Ivander kembali meneguk minuman yang ada ditangannya.
" Dia menyalahkan kamu, begitu? "
" Kau lihat sendiri bagaimana dia menghusir kita. Dia benar benar keras kepala. " keluh Ivander menghabiskan minumannya.
" Seminggu yang lalu, aku juga bertemu dengan Denian. Seperti yang kau lihat, dia terlihat begitu dekat dengan wanita. Aku menghubungi Ivannia pada saat itu dan mengatakan seperti yang kulihat, Ivannia tidak terima dan marah marah juga. Huft....!" jelas Alea.
" Aku bingung dengan Ivannia, ego-nya terlalu tinggi. Ini semua karena daddy terlalu memanjakannya. " keluh Ivander.
" Diamkan saja, nanti juga dia akan mengerti sendiri." kata Alea akhirnya.
" Bagaimana, kita jadi pergi kan? " Sambung alea mengalihkan pembicaraan.
" Tentu saja, sekarang kita pergi." kata Ivander bangun dari duduknya.
βββββ
Mobil Ivander memasuki basement mall ternama dikota xx .
__ADS_1
Alea langsung turun, hari ini ia akan menghabiskan waktu berbelanja bersama Ivander. Mereka berjalan memasuki mall, sambil bercengkrama bersama.
Alea memilih beberapa pasang pakaian santai untuk Ivander. Alea memang sering memilih pakaian buat Ivander karena Ivander memintanya sendiri. Itu biasa mereka lakukan tiap bulannya. Mencari beberapa lembar pakaian santai untuk mereka gunakan dan berburu pakaian model terbaru.
" Sepertinya warna ini bagus untukmu? bukan, yang ini? atau yang ini? " Kata Alea mencocokkan pakaian itu ke tubuh Ivander.
" Semuanya bagus, ambil saja! " Kata Ivander memeriksa ponselnya, dari tadi Notifikasi ponselnya berbunyi terus.
" Siapa? " kata alea sedikit melirik ke handphone Ivander.
" Ivannia, dia menangis karena kita langsung pergi dan tidak mengajaknya ikut. "
" Astaga bukankah dia yang tidak mau ikut." kata Alea kembali mencari cari pakaian untuknya.
Alea kembali berpindah ke counter pakaian yang menyediakan khusus untuk wanita. Alea sangat menyukai dunia fashion. Itu menjadi salah satu kesenangan semua wanita dalam berburu model busana terbaru. termaksud bagi Alea sendiri, ia ingin selalu tampil sempurna dalam tiap kesempatan. Alea selalu mengikuti tren baju terkini.
Tangannya memilih pakaian yang satu ke yang lain. Ia mengambil salah satu pakaian off shoulder , mencocokkan ketubuhnya melalui cermin yang ada didepannya tanpa harus menyalin pakaiannya.
" Itu bagus Alea, nampak terlihat feminin namun tetap menunjukkan kesan seksi." Kata Ivander memberi saran.
" Benarkah? bagaimana jika ini Ivander? " Tanya Alea kepada Ivander yang asyik membalas pesan WhatsApp.
" Bagus! " jawab Ivander mengalihkan pandangannya kearah pakaian yang dipegang Alea.
" Kalau yang ini? " Alea menunjuk dua pakaian yang ia pegang ditangan kanan dan ditangan kirinya. Ia menunjukkan gaun tanpa lengan dan sweater hoodie.
" Semuanya bagus." Jawabnya singkat.
" Bagaimana ini Ivander, ini cantik jika digunakan Ivannia." Alea mengambil dress dengan model off shoulder, berbahan katun yang pasti nyaman digunakan Ivannia.
" Ivander ! "
Tiba tiba seseorang memanggil Ivander. Ivander dan alea menoleh ke arah sumber suara. Ivander melihat sosok Delia Smith berdiri dibelakangnya.
Delia menunjukkan sikap tidak sukanya kepada Alea yang dari dulu tidak berubah. Selalu hanya menempel kepada Ivander.
Kemana mana hanya tergantung sama Ivander.
Delia tersenyum semanis mungkin dihadapan Ivander namun tidak dengan Alea.
Alea mendengus kasar, ia kembali memilih pakaian dan menunjukkan kepada Ivander. Alea sengaja membuat Delia kesal.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
__ADS_1
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMU π