WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Maafkan aku sayang.


__ADS_3

💌 Whisper of love 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


PAGI HARI DI DALAM LIFT SETELAH JOEVANKA MENGEJAR IVANDER.


Untuk beberapa saat Ivander terdiam dan nafasnya tertahan. lalu menarik kembali napasnya dalam-dalam, ia memejamkan matanya. Ivander berusaha menahan sakit karena melihat Joevanka menangis dan sampai mengejarnya di depan lift. Tatapan matanya seakan menahannya untuk tidak pergi. Ivander jelas melihat kepedihan Joevanka. Namun egonya mengalahkan semuanya.


" Sabar sayang, ini tidak lama kok." Kata Ivander berbicara dalam hatinya.


Ivander terus berusaha agar tetap kuat demi kebaikan hubungan mereka. Walau ia juga merasa hatinya begitu sakit seperti di cengkram kuat. Sangat sakit karena melihat kesedihan Joevanka.


Ivander hanya butuh waktu untuk dirinya agar menenangkan diri sampai pikiran tenang. Pria cenderung lebih memilih diam dan menyembunyikan perasaannya untuk menghindari pertengkaran. Ia memilih tak banyak bicara dan memilih menjauh untuk sementara. Ivander untuk beberapa hari ini harus fokus terhadap pekerjaannya agar hatinya bisa lebih tenang dan menghidupkan kembali kobaran cintanya.


TING


Pintu lift terbuka, nampak beberapa karyawan menunduk dan menyapanya.


" Selamat pagi pak!"


Ivander tidak menjawab. Tak juga bereaksi apa-apa. Pandangannya hanya menatap lurus ke depan dan berjalan menuju parkiran. Semua karyawan memberi salam dan memberi hormat setiap bertemu dengannya. Wajah Ivander berubah dingin dan sama sekali tidak ada senyum. Ia mengeluarkan ponselnya menghubungi Halbret.


TAP TAP TAP


Dengan langkah menggema, Ivander menunggu panggilan nya di jawab.


TUT TUT


"Halo pak!" Halbret menjawabnya.


"Aku tidak ingin menunggu Halbret, sekarang kau turun atau kau ku pecat." Kata Ivander dengan suara cukup nyaring di koridor.


Hingga karyawan sejenak menghentikan pekerjaannya. Mereka seolah ikut merasakan kemarahan pak direktur dan hanya bisa menunduk tidak berani mengangkat wajahnya. Beberapa manager menyapa dan mengikuti langkah Ivander di lobby.


Mereka diam menunggu direktur keluar. Ivander memutar tubuhnya dan melihat manager pemasaran dan manager personalia sedang berdiri di belakangnya.


"Kalian tidak bekerja?" Tanya Ivander menatap tajam kepada dua pria yang berdiri di belakangnya, mereka seolah seperti bodyguard nya.


"Ma-maaf pak, kami hanya ingin menunggu anda sampai pergi."


"Sampai pergi?" Ivander sampai menaikkan alisnya lebih tinggi.


"B-b-bukan seperti itu maksud kami pak, kami hanya menemani bapak di sini."


Ivander menunduk sejenak menghembuskan napas panjang dan menatap ke dua pria itu dengan posisi tangan ia masukkan ke kantong celananya.


"Saya bukan anak kecil yang harus ditemani sampai seseorang datang menjemput ku di sini. Ini perusahaan tempat kamu bekerja dan kalian wajib memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini karena kalian di gaji. Besok aku menunggu bagaimana pencapaian kalian selama satu bulan ini. Aku juga menunggu laporan yang aku minta beberapa hari yang lalu. Jadi dari pada menunggu yang tidak jelas, lebih baik selesaikan tugas kalian." Kata Ivander berdecak dan membalikkan tubuhnya. Ia kembali fokus memeriksa ponselnya.


"Baik pak, kalau begitu kami permisi pak." Jawab mereka serentak. Tidak ada jawaban dari Ivander. Mereka berjalan meninggalkan pak direktur.


"Selalu cari muka.." Lirih Ivander berdecak.


Sambil menunggu kedatangan Halbret. Ivander memeriksa CCTV dari Handphone-nya. Baterai handphone nya low, Astaga ia benar-benar lupa ngecas nya. Tapi ia masih bisa memeriksa CCTV untuk melihat keadaan Joevanka. Ia menarik napasnya yang terasa sesak. Ia ingin kembali berlari dan memeluk wanita pujaannya itu. Ketika melihat Joevanka menangis mengejarnya dan memukul pintu lift berulang kali. Hatinya sesungguhnya begitu sakit. Ivander terus mengikuti pergerakan Joevanka. Ia kembali masuk ke dalam ruangannya setelah Halbret pergi.


Melihat kedatangan Halbret yang sudah siap dengan mobil, Ivander melangkah keluar meninggalkan lobby. Halbret melajukan mobil keluar dari perusahaan Donisius menuju proyek terbaru untuk membangun masa depan Donisius. Hari ini adalah perjuangan yang berat bagi Ivander. Meninggalkan Joevanka yang sedang bersedih.


"Pak, bagian pelaksana proyek yang di kota xx sepertinya sedang ada masalah."


"Saya sudah tahu, sekarang kita langsung ke sana. Jika masalah tidak bisa diselesaikan ada kemungkinan saya harus menginap. Persiapkan penginapan selama tiga hari."

__ADS_1


"Baik pak, tapi ibu Jasmine seperti sudah menuju lokasi."


"Apa tidak ada yang lain mewakili dia Halbret? Kenapa harus Jasmine?"


"Bapak tidak tahu?" Halbret tersenyum menggoda." Karena ibu Jasmine menyukai pak direktur."


"CK..." Ia berdecak kembali.


Ivander membuang napasnya dan kembali menatap jalanan. Pikirannya hanya tertuju pada Joevanka. Dunia-nya hanya dipenuhi Joevanka... joevanka...dan Joevanka.


⭐⭐⭐⭐


Sesaat setelah Halbret berhasil memarkirkan mobil layaknya pembalap, membuka pintu mobil lalu keluar untuk membuka pintu untuk pak direktur sambil terus bergumam pada diri sendiri.


“Mampus…. Mampuuusss…. Aku lupa membawa dokumen yang di minta pak direktur….” Gumam Halbret.


Dengan sigap Halbret membuka pintu buat pak direktur dan mengambil buku agenda untuk menulis beberapa jadwal penting pak direktur. Ia memencet tombol kunci agar mobil terkunci.


TIT!


Ivander berjalan menuju lokasi proyek,


Sementara Halbret sibuk menghubungi Joevanka agar mengirim beberapa laporan melalui email. Sesekali dia membuka buku agenda dan memeriksa apakah ada yang tertinggal ataukah ada yang kurang.


Ivander dan Halbret berjalan yang dipilihnya seperti lubang tanpa cahaya. Gelap, dingin dan berbatu. Ia masuk jauh ke dalam seakan mendekati di sudut bangunan proyek. Tapi Ivander tak peduli. Ia terus berjalan.


Terdengar sayup-sayup suara beberapa orang yang berdebat di sana. Ivander akhirnya sampai berjalan menuju pemukiman warga. Ia terus mendengar aspirasi masyarakat di sini. Walau mereka belum menyadari jika pak direktur sudah berdiri di belakang mereka.


"Aku tidak setuju tanah ku di ganti rugi oleh perusahaan Donisius. Bagaimana dengan kalian?" Kata seseorang dengan suara penuh amarah.


"Bagiku tidak masalah, asal jangan merugikan kita, yang aku tahu perusahaan Donisius di kenal tidak pernah memanfaatkan warga."


"Biarkan perusahaan Donisius mengambil alih dan kontraktor itu merencanakan pembangunan hotel Donisius. Lokasi tanahnya strategis, dan cukup jauh dari pemukiman. Luas tanahnya tiga hektar. Jadi sebenarnya tidak masalah dan tidak mengganggu."


"Kalau pun kau tidak setuju.Tidak masalah. Terpenting dijual harus bersamaan, Yang ada kau sendiri yang rugi." kata Lelaki itu mewakili yang lain.


Ivander datang dan menyapa beberapa warga yang menolak untuk menjual tanahnya. Setelah menjelaskan beberapa rinci dan kemajuan yang akan warga terima di tahun tahun berikutnya. Akhirnya beberapa warga mulai mengerti. Perlahan-lahan akhirnya mereka setuju dan menerima.


Sapaan ramah yang dilakukan langsung dari direktur Donisius membuat warga mempunyai kesan tersendiri. Mereka menilai direktur bisa mengetahui langsung keluh kesah dari warga. Saling menguntungkan agar semua pihak tidak dirugikan. Pertemuan akhirnya berjalan dengan baik, Ivander tersenyum bahagia. Ternyata kehadirannya membawa dampak positif bagi warga.


Jelang siang, usai pertemuannya dengan warga. Ivander mengajak beberapa warga untuk melakukan makan siang bersama di sebuah restoran. Sementara Halbret di minta Ivander untuk kembali ke lokasi proyek.


Kembali ke rencana awal Ivander memang harus menginap di sini. Jasmine baru tiba ke lokasi proyek. Sampai sore hari mereka masih asyik berbicara dengan warga.


"Apa kita kembali hari ini Ivander?" Tanya Jasmine sambil meneguk minumannya.


"Sepertinya kita harus menginap Jasmine. Aku ingin menyelesaikan masalah di sini dulu."


Jasmine mengulum senyum bahagia. "Yes..." Batinnya bersorak gembira.


Selesai pertemuan dan melakukan acara makan siang dengan warga. Rasa lelah dan ngantuk tiba-tiba menguasainya. Ivander ingin kembali ke hotel dan ingin beristirahat. Setelah acara ulang tahun pernikahan orangtuanya. Ivander sama sekali tidak tidur dengan baik.


"Kita kemana pak?" Tanya Halbret mengikuti langkah Ivander, begitu juga dengan Jasmine.


"Aku ingin kembali ke hotel. Nanti malam kita masih ada undangan makan malam bersama bapak walikota." sahut Ivander dengan rasa lelah yang luar biasa.


"Baik pak." Jawab Halbret dengan lugas.


Setiba di hotel, Halbret mempersilakan pak direktur masuk. Sementara Jasmine bersebelahan dengan kamar pak direktur.


"Selamat beristirahat pak, kalau begitu saya permisi dulu." Kata Halbret dengan sopan lalu pamit undur diri.


Ivander berjalan dengan langkah lunglai. Ia mengambil ponselnya untuk mengecas ponselnya. Ia mengingat jika Joevanka sempat menghubunginya. Namun Ia mengalihkan panggilannya karena tengah berbicara dengan warga. Tanpa di sadari ponselnya mati karena kehabisan baterai.


Ivander mencharger ponselnya lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.Tidak butuh lama, Ivander tertidur.

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐⭐


Tidak harus berlama-lama tidur agar mendapatkan kembali kebugaran tubuhnya. Ivander hanya butuh tidur satu jam. Ia menegakkan badannya dan memijit pelan pelipisnya. Menyandarkan punggungnya ke sandaran kasur. Ivander mengambil ponselnya dan yang sudah berisi daya penuh.


Ia ingin melihat Joevanka melalui ponselnya. Keadaan kantor bisa ia lihat melalui handphone nya dari kamera CCTV yang terpasang di kantornya.


Ivander tersenyum sambil terus menatap ponselnya. Ia memulai dari ruangan kantornya. Dimana Joevanka terlihat sibuk entah apa yang di kerjakannya. Ivander terus mengikuti pergerakan Joevanka dari ponselnya. Ivander terus tersenyum melihat kesibukan Joevanka yang terkesan dipaksakan.


Ivander kembali tertawa sampai menunjukkan deretan giginya. Joevanka kembali menunjukkan aksinya. Ia membersihkan ruangan kantor Donisius. Ivander benar-benar terhibur. Seketika perasaannya sangat bahagia, rasa lelahnya hilang. Rindunya terobati.


Namun tiba-tiba senyumnya hilang. Wajah Ivander mengernyit dan terus fokus menatap ponselnya. Ia menghidupkan perangkat untuk memperbesar volume sampai menekan untuk mencapai tingkat maksimum dari handphonenya. Ia mendengar percakapan Joevanka dengan seseorang.


"Gavin?"


"Penyakit? Apakah itu penyakit yang pernah di katakan daddy?" batin Ivander terus berbicara.


Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah. "Operasi?" wajahnya berubah menegang." Apa maksud pembicaraan mereka?" Napasnya berhembus tidak stabil. "Apa Vanka sakit? Apa kau sakit sayang?" Wajah Ivander mulai terlihat pucat. Bibir Ivander terlihat gemetar. "Apa karena penyakit ini kau kehilangan ingatanmu sayang?" Ivander menghembuskan napas terbata-bata. Tidak beraturan dari mulutnya. Ivander terdiam sesaat. Matanya sudah berkaca-kaca.


Ivander kembali melihat ponselnya, Ia melihat Joevanka sedang menangis. Tanpa berpikir panjang Ivander kembali mengenakan jasnya dan langsung berlari dari kamarnya dan menghubungi Halbret.


"Ada apa pak?"


"Siapkan mobil, hari ini aku pulang." Kata Ivander dengan napas memburu dan Ia mematikan ponselnya dengan sepihak.


"Maafkan aku sayang, aku sungguh tidak menyadari jika kau sakit. Ahhhh..daddy sudah pernah mengatakan itu.Tapi aku tidak pernah menanyakan padamu." Kata Ivander dengan suara seperti tercekat di leher.


Di mulutnya hanya terus terucap. " Vanka... Sayangku..."


Ivander terus berlari sekuat tenaga menyusuri koridor hotel. Jassnya sampai melambai ke belakang karena kecepatan berlarinya. Bahkan sepatunya terdengar menggema di koridor hotel.


Ketika kunci mobil sudah di tangannya. Ia sampai menjatuhkan kunci itu beberapa kali karena gugup.


"Apa yang terjadi pak?" Tanya Halbret mengernyit bingung melihat kegugupan pak direktur.


Namun Ivander tidak menjawab, Ia masuk ke dalam mobil dan langsung membanting pintu dengan kuat. Sehingga membuat Halbret mengerjap.


"Pak..pak..apa yang terjadi?" Kata Halbret mulai mencemaskan pak direktur.


Ivander tetap diam dan memutar mobilnya dengan cepat sampai pedal gasnya diinjak terburu-buru hingga menghasilkan decitan ban yang menggesek aspal. Ia meninggalkan Halbret yang nampak frustasi mengacak rambutnya dengan kasar.


"Kenapa kau tidak pernah mengatakan sayang?" Mata Ivander kembali berkaca-kaca, napasnya sesak, Pendek-pendek dan terengah.


Ivander terus menancapkan mobilnya menuju apartemen Joevanka. "Seharusnya kau mau berbagi cerita denganku. maafkan aku, maafkan aku sayangku.." Lirih Ivander.


Jantungnya terpukul kencang, ikut tertahan di dada dengan segala gejolak yang muncul.


Ia terus membawa mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi. Bahkan ia menyalip beberapa mobil yang menghalangi jalannya.


.


.


BERSAMBUNG


❣️ Yuk kita doakan Ivander sampai dengan selamat ya my readers 🤣🤣🤣


❣️ Salam sehat dari Author yang cantik untuk my readers yang paling cantik 😘


.


.


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌


💌 BERIKAN VOTEMU 💌

__ADS_1


💌 BERIKAN BINTANGMU💌


__ADS_2