WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Kebahagiaan semangkok ramen


__ADS_3

💌 Whisper of love 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Malam hari hujan turun dengan derasnya. Hawa dingin menggelayuti tubuh walau mereka berada di dalam apartemen. Joevanka menyiapkan mie ramen yang sudah masak. Sekarang Joevanka membuat seni “Food Plating” cara penataan dan penyajian makanan di atas piring dengan memperhatikan posisi dan komposisi makanan agar menunjukan nilai seni dan kualitas yang tinggi. Hihihihihi Joevanka serasa chef handal. Biasanya seni Plating ini banyak dilakukan oleh professional chef yang memang terlatih dan berpengalaman sementara dia hanya anak kemarin yang baru bisa masak. Joevanka cekikikan sendiri di dapur. Walau hanya sekedar mie ramen, tapi Joevanka memasaknya seenak mungkin seperti yang pernah ia makan di restoran mie ramen Jepang.



Joevanka menyiapkan dua mangkuk mie ramen untuk mereka nikmati.


Dua mangkuk mie ramen tersaji dengan asap masih mengepul di atasnya. Ia menyajikannya di atas meja yang ada di ruang tamu.


Tak lupa bawang goreng, saos tiram, irisan lombok, ia siapkan di atas meja sebagai teman bersantap ramen. Joevanka tersenyum melihat Ivander masih sibuk menatap tablet digitalnya dengan serius.


" Sayang, kita makan dulu. Nanti tugasnya bisa di lanjutkan lagi. Oke..." Joevanka mengambil tablet digital dari tangan Ivander dan menaruhnya di atas meja.


Seketika wajah Ivander berbinar melihat mie ramen yang tersaji di hadapannya. Sajian ramen begitu menarik hingga menggugah selera untuk segera memakannya. Serasa mie ramen yang pernah ia makan bersama Ivannia dan Alea.


" Ini benar-benar seperti di restoran Jepang Vanka. Dari penampilannya pasti enak. "


" Tentu dong, siapa dulu chef-nya." Joevanka menepuk dadanya dengan lembut memuji dirinya. Ivander tertawa renyah dan mencium puncak kepala Joevanka.


" Calon istri pintar ku. " Kata Ivander. Sepersekian detik wajah Joevanka bersemu merah. Ia tersipu malu.


Awalnya, Ivander memang ingin memasak mie ramen sesuai janjinya kepada Joevanka. Namun Halbret mengirimkan email yang harus segera diperiksanya hari ini juga. Beruntung Joevanka pengertian, ia menyiapkan mie ramen sesuai permintaannya.


Joevanka mengajak Ivander ber-selfie ria sebelum mengiringi detik demi detik waktu menyantap ramen. Setelah mengambil beberapa foto untuk menjadi kenangan. Joevanka mempersilahkan Ivander untuk mencicipi masakannya.


" Bagaimana? " Joevanka sedikit mencondongkan tubuhnya dan tersenyum. Wajahnya terlihat serius menunggu penilaian dari juri.


" Astaga, rasanya delizioso...benar-benar sempurna. " Ivander menunjuk gestur oke dengan menghubungkan ibu jari dan telunjuknya. " SEMPURNA. " kata Ivander kembali.


" Benarkah? Aku menambahkan bumbu cinta di dalamnya, sayang..."


Tangan kanan mereka memainkan sumpit sementara sebuah sendok setia bersama tangan kirinya.


" Pantas saja jantung ini berdebar saat menikmati ramen buatanmu. "


" Hahahaha " Joevanka tertawa renyah.


" Kamu seperti chef handal sayang. "


" Aku benar-benar tersanjung. Kau tau sayang hidangan ramen tergolong makanan rumit lho." Kata Joevanka dengan ekspresi serius.


" Benarkah? "


" Ehmm, ciri ramen di Jepang terlihat dari tekstur mie, lauk, aroma, hingga kekentalan kuah dan bumbu yang terkandung di dalamnya. Jadi kita sendiri memang harus benar benar penentu kualitas ramen itu sendiri."


" Aku baru tahu itu, apa kamu pernah kursus belajar masak? yang aku lihat sepertinya kau ahli dalam hal memasak. "


" Kalau untuk masak sehari-hari tentu saja aku bisa. Karena mommy memang bisa masak. Di Sydney ada restoran yang khusus menjual makanan jepang termaksud mie ramen. Aku pernah masuk ke dapur mereka untuk mengintip bagaimana memasak mie ramen yang enak. "


" Memang bisa masuk ke dapurnya? "


" Chef nya kebetulan sahabat Gavin. "


" Oh, ya? "


" Kau tahu, dari racikan dan takaran bumbu, kualitas tekstur mie, hingga cara mengaduk kuah kaldunya, semuanya berbeda. Untuk menghasilkan ramen yang berkualitas, penyaji perlu memperhatikan detail pembuatannya kata chef restoran mie ramen di Sidney. " Jelas Joevanka antuasias.


" Pantas saja mie ramen yang aku nikmatin ini berbeda sekali. "


"Jika sekadar memproduksi ramen saja mungkin outputnya mie ramen yang enak. Tapi, kalau menambahkan passion ke dalamnya, hasilnya adalah mie ramen yang enak dan mengena di hati penikmatnya. Itulah filosofi ramen: Membawa Kebahagian di Hati kita Lewat Setiap Helai Mie dan Sejengkal Kuah. Jadi aku mau tanya, apakah mie ramen yang aku buat ini sudah membuatmu bahagia, tuan tampan?" Kata Joevanka melipat kedua tangannya di atas meja. Menghentikan sejenak aktifitas nya untuk menikmati mie ramen buatannya. Ia menatap Ivander dengan lekat.


" Luar biasa, mungkin saja malam ini aku tidak bisa tidur karena begitu bahagia sayang, apalagi bumbu cintanya." Ivander mencubit lembut pipi Joevanka. " Dan sepertinya kau cocok buka restoran. Aku akan buatkan restoran untukmu dan semua karyawan Donisius akan saya arahkan makan di sana."

__ADS_1


" Serius? Kamu serius sayang?" Joevanka menepuk-nepuk tangannya, ia terlihat begitu bahagia.


Di sela-sela menikmati mie dengan sumpitnya, Joevanka menyeruput kuah ramen. Joevanka meniru gaya ala korea yang pernah ia tonton.


" Kuahnya juga harus di nikmati seperti itu?" Ivander menautkan ke dua alisnya, mengernyit bingung memperhatikan setiap gerakan Joevanka.


" Yes...Kebanyakan para penikmat ramen berpendapat bahwa kekuatan utama makanan khas Jepang ini terletak pada kuah kaldunya. Di samping itu tekstur mie yang juga memegang peranan kuat pada cita rasa ramen. Coba saja..." Kata Joevanka terkekeh.


Ivander mengangguk dan melakukan seperti yang dilakukan Joevanka menyeruput kuah ramen.


Setelah puas menyantap semangkuk ramen, Joevanka dan Ivander kompak menyebut dua kata.


" Kenyang dan mantap. "


" Hahahaha "


Mereka saling menatap dan tertawa. Masing-masing memperlihatkan susunan gigi yang putih dan yang rapi disertai wajah bahagia yang tidak dapat dilukiskan. keduanya tertawa bersama, benar benar kebahagian yang jarang dilakukan oleh pasangan ini. Makan ramen bersama, tentu momen ini akan selalu di ingat.


Setelah Joevanka membereskan mangkuk mie dan membersihkan meja. Ivander dan Joevanka akhirnya memilih tidur dikamar masing-masing. Ivander tidur di kamarnya dan Joevanka tidur di kamar tamu. Hari sudah semakin larut, jam menunjukkan pukul sebelas malam.


⭐⭐⭐⭐⭐


Setelah mendapat informasi mengenai kamar Delia di rawat. Ivander dan Joevanka akhirnya memutuskan pergi menjenguk Delia. Sebelum ke rumah sakit, Joevanka mengajak Ivander untuk membeli buah ke supermarket yang tidak jauh dari rumah sakit.


" Selamat siang nona, ada yang bisa saya bantu." Kata pelayan Supermarket dengan ramah.


" Tolong buatkan parsel yang ukuran besar yang isinya buah melon kuning, apel Fuji, jeruk, anggur hitam dan pokoknya semua buah yang berkualitas baik. Ingat yang berkualitas baik." Ucap nya tersenyum sambil melangkah menuju kasir.


" Baik nona." pelayan ikut tersenyum, ikut merasakan aura kebahagiaan dari pembeli.


Tidak butuh lama setelah Joevanka melakukan pembayaran. Parsel buah sudah ada di tangannya. Joevanka dan Ivander kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit.


Ivander dan Joevanka berjalan di koridor gedung rumah sakit, tempat ruang rawat pasien kelas satu.


" Benarkah ini tempatnya sayang? " Tanya Ivander memandang Joevanka.


" Ehm, tidak salah lagi. Aunty Anastasia memberikan nomor ruangan ini. "


Ivander mengetuk pelan pintu rumah sakit sebanyak tiga kali. Karena tidak ada sahutan, akhirnya Ivander membuka kenop pintu dan mendorong nya ke dalam.


CEKLEK


Begitu membuka pintu, Ivander dan Joevanka mendengar Celin berdebat dengan Delia.


Joevanka dan Ivander sesaat diam, mereka seperti enggan menyapa karena mendengar Delia menangis.


" Aku tidak ingin makan. Aku tidak bernafsu mom." Delia membuang wajahnya.


" Makanlah, walau hanya sedikit saja, kau harus sehat sayang. Ingat masih ada mommy."


" Mommy, aku sudah tidak sanggup lagi. Kanker ini sudah semakin menyebar. Hidupku sudah aku serahkan kepada Tuhan. Aku benar benar-benar tidak kuat." Delia membalikkan tubuhnya tidak ingin melihat Celin. Ia kembali menangis.


" Aku hanya ingin bertemu dengan Ivander mom, " Isak Delia dalam tangisannya.


" Mommy sudah mengusahakannya sayang, mungkin Ivander sibuk dan belum ada waktu menjenguk mu." Celin berusaha memberikan pengertian.


" Tapi aku hanya ingin bertemu dengannya mom. Aku merindukannya." Delia terus menangis.


Joevanka mencengkeram keranjang buah yang ia pegang. Ia menarik napasnya dalam-dalam dan menatap Ivander sambil menganggukkan kepala.


Joevanka kembali mengetuk pintu namun kali ini ketukannya lumayan kuat.


" Permisi..." Sapa Joevanka dengan ramah dan berjalan pelan yang di ikuti Ivander.


Celin menduga jika yang datang itu adalah seorang perawat.


" Aunty..." Ivander akhirnya membuka suara dan bersamaan itu Delia membalikkan tubuhnya, ia mendengar suara yang tidak asing di telinganya.


Celin terkejut dan sangat terkejut melihat Ivander sudah berada di dalam ruangan.


" Nak Ivander, kamu datang sayang? " Celin bangkit dan mengambil tangan Ivander dengan lembut. Mata Celin sudah berkaca-kaca menahan haru. Akhirnya Ivander datang sendiri menemui anaknya. Wanita lemah yang sangat berharap ingin bertemu dengan Ivander.

__ADS_1


Delia menutup mulutnya, menahan Isak tangisnya agar tidak terdengar.


Joevanka meletakkan parsel yang ia bawa di atas meja. " Selamat sore Delia, bagaimana keadaanmu, sudah baikan? "


Tubuh Delia bergetar menahan tubuhnya yang tergoncang karena menahan tangisannya. Matanya tidak lepas menatap Ivander. Sementara Ivander sendiri hanya mengangguk dan membalas senyuman celin.


" Sayang, lihat... Ivander sudah datang melihatmu. Tidak baik tidur terus. Sekarang kamu duduk ya. " Celin begitu semangat menaikkan sedikit ranjang rumah sakit sedikit naik agar tubuh Delia sedikit terangkat.


" Duduklah nak Ivander, " Ia mengambil kursi untuk Ivander. " Kamu teman Ivander ya?" tanya Celin tersenyum ramah kepada Joevanka.


" Perkenalkan sayang Joevanka, sek...."


" Dia adalah calon istriku aunty..." Ivander menyela pembicaraan Joevanka.


Suasana ruangan tiba-tiba berubah kaku. Delia menelan salivanya dengan begitu susah, Ia memaksakan bibirnya untuk tersenyum walau hatinya terluka. Kata-kata itu menyengat di batinnya, dalam sekejap menguasai dentum-dentum sesak yang tak berperi. Sakit, tentu saja begitu sakit. Namun ia harus sadar, Ivander bukan lagi miliknya.


" Begitukah nak Ivander. " Celin tersenyum, ia berusaha mencairkan suasana yang tiba tiba berubah dingin. Mereka saat ini seperti berada di kutup utara.


" Bagaimana perasaanmu Delia, apa sudah baikan?" Kata Ivander menghampiri Delia dan berdiri di sisi kanan tempat tidur. Wajah nya benar-benar kaku dan sangat sulit di tebak.


" Saya rasa kalian perlu bicara berdua nak Ivander. Aku harus mengurus sisa keperluan Delia untuk operasi besok." kata Celin memberi kode kepada Joevanka dengan mengedipkan matanya.


" Tidak, Joevanka tetap disini." Kata Ivander dingin.


Langkah Celin berhenti ketika ia ingin mengajak Joevanka keluar. " Oh begitu ya? " Ucap Celin gugup dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ivander di kenal lebih tegas dari Aaron. Fakta membuktikannya dan ia bisa merasakan dengan hanya melihat ekspresi Ivander.


Joevanka berjalan pelan dan hanya bisa terdiam menatap Ivander. Ia mendekat dengan langkah-langkah kecilnya dan mengelus lengan Ivander dengan lembut.


" Benar kata aunty sayang, kalian berdua butuh bicara. Aku akan menunggu di luar."


" Tidak, kau tetap di sini." Kali ini perkataan Ivander lebih tegas.


Delia menghembuskan napasnya, rasa sakit yang menyayat hatinya tidak bisa ia tutupi. Ia harus mengikhlaskan Ivander dan hanya bisa menutupi lukanya.


Joevanka menggeleng, " Delia hanya ingin bertemu denganmu, kalian bisa bicara baik-baik. " kata Joevanka kembali tersenyum.


Joevanka pun maju berlahan dan mendekati Delia. Joevanka mengambil tangan Delia dan mengusap nya dengan lembut. " Gunakan waktumu dengan baik Delia. Jangan sungkan mengatakannya. Semoga lekas sembuh. " Kata Joevanka tersenyum. Delia mengangguk. Ivander hanya bisa menatap kepergian Joevanka dan membuang napasnya dengan berat.


DI LUAR RUANGAN.


Joevanka berjalan dengan cepat dan tergesa-gesa. Joevanka langsung pergi ke toilet. Ia berusaha kuat untuk menahan rasa sakit yang kian menyiksanya. Di sana ia kembali muntah hebat. Joevanka sampai mencengkeram wastafel untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh, menunduk lemas. Joevanka terdiam di depan wastafel sambil memandang pantulan dirinya yang terlihat berantakan. Tangannya bersandar di sisi beton wastafel. Joevanka memenjamkan matanya. Ia masih berusaha mengatur napasnya. Air matanya tergelincir begitu saja.


" Apakah aku harus menemui dokter, kenapa begitu sakit? " Air matanya lagi-lagi terjatuh, walau ia sendiri tidak mengundangnya.


BERSAMBUNG


❣️ Mbak Hanny Hania


❣️ Mbak Eta Kumalasari


❣️ Miftahur Rahmah


❣️ Mbak Heri Yanti


❣️ Mbak Anizan


❣️ Mbak Prang Bintang


❣️ Beserta mbak yang lain yang tidak bisa aku sebut satu persatu, terima kasih atas Vote nya dan yang selalu memberi komentar dan like cantiknya. Terima kasih ya 😘


❣️ Salam sehat dari Author cantik buat my readers yang paling cantik.


.


.


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌


💌 BERIKAN VOTEMU 💌


💌 BERIKAN BINTANGMU 💌

__ADS_1


__ADS_2