
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Setelah di rasanya tenang, Ivander duduk di lantai menyandarkan punggungnya ke tempat tidur dengan posisi bertongkak lutut dan tangannya ia letakkan di kaki. Ia menunduk lemah. Napsu makannya hilang, perasaannya saat ini campur aduk.
Kini penyesalan selalu datang terlambat. Ia tidak bisa mengubah keadaan.
Ivander hanya bisa berharap dan berdoa semoga kelak ia di pertemukan dengan Joevanka.
Lagi lagi Ivander hanya bisa membuang napasnya, ia memejamkan matanya untuk meredam segala rasa bersalahnya.
Tiba tiba matanya terarah ke tas Joevanka. Ia mengingat perkataan Berneta. Tas ini pernah tinggal di rumah sakit, tas ini begitu lama di simpan pak Arnold dan tas ini ia simpan di dalam lemarinya dan lupa memberikan kepada Joevanka. Tiba tiba tas ini di ambil Berneta dan ingin mengembalikan ke pemilik sebenarnya, namun lagi lagi tertunda dan akhirnya kembali lagi kepada Ivander.
Apa isi tas ini? Kenapa tas ini seolah tidak ingin kembali pada pemiliknya?
Wajah Ivander mengerut, perjalanan tas ini begitu membingungkan nya. Sehingga membuat ivander penasaran.
" Bisakah aku melihatnya Joevanka? "
Ivander melangkah mengambil tas yang ada di atas meja.
Ivander tersenyum samar, ia membolak-balikkan tas itu. Tas ransel yang ukurannya kecil. wajahnya berkerut jelas. " Ini tas hanya bisa menyimpan buku kecil saja? " kata Ivander dengan lirih.
" Apa isinya? " gumam Ivander.
Ivander memberanikan diri membuka tas milik Joevanka, wajah Ivander mengerut.
Isinya hanya buku diary kecil ? Ivander membuka halaman pertama, bersamaan itu Ivander terbelalak dan berkedip berulang kali untuk memastikan pengelihatannya. Tulisan di dalam buku itu jelas namanya. Ekspresi wajah Ivander tiba tiba berubah, wajahnya menegang dan bersamaan itu detak jantungnya ikut terpukul dengan cepat.
Deg deg deg
Ivander mencoba menstabilkan detak jantungnya saat ini ia mencoba mengerti. Apakah ini hanya halusinasi nya saja? Tiba tiba ujung ujung tangannya terasa dingin.
Ivander menahan napasnya. Membaca sedikit demi sedikit kata kata yang di tulis Joevanka. Lengkap tanggal dan hari ia selipkan disana.
Semua ia coret di buku kecil itu dan semua tentang Ivander saja.
Napas Ivander semakin memburu, ia berusaha menahan segala gejolak yang ada di hatinya.
Matanya sendu dan berkaca kaca, debaran jantungnya semakin berdetak kencang. Mulutnya terbuka dan tangannya gemetar.
Ivander menyiapkan batinnya untuk membaca lembaran demi lembaran yang ia tulis di sana.
Jika kau bertanya
Tentang cinta dalam diam.
Mungkin
Ia adalah rasa indah dalam dada,
Yang tak sanggup diungkapkan.
Aku Mencintaimu Dari Kejauhan
Yang mendatangkan rasa cinta ini,
__ADS_1
Memekarkan kekaguman,
Menumbuhkan kerinduan.
Aku hanya pasrah, Tak berdaya.
Hanya tertegun menyaksikan diriku jatuh cinta pada seseorang yang entah, mengapa tak ada keberanian mengungkapkannya.
Aku hanya mengagumimu dalam diam.
Utuh tak tersentuh.
Hidung dan matanya mulai memerah, menahan rasa perih yang mulai terasa di hidungnya. Ia menghentikan untuk membaca isi diary itu. Matanya kembali berkaca kaca dan kembali membaca. Ivander berusaha mengendalikan perasaan.
Aku begitu mencintaimu:
Tapi kau tak izinkan diriku
untuk menggapai hatimu,
Tapi aku Sudah cukup bahagia
Walau hanya melihatmu saja.
Dan aku selalu membawamu dalam doa.
Ivander kenapa aku begitu mencintaimu ?
Ivander kembali menarik cepat napasnya. Matanya berair menahan tangis, ia mendongak keatas menahan air matanya agar tidak keluar.
Kembali Ivander menyiapkan batinnya untuk membaca semua isi dari perasaan Joevanka yang semua dia tujukan untuknya.
Tak semudah itu merangkai kata.
Jika pun sudah terangkai bibir tak bisa semudah itu mengatakannya.
Rasa sayang yang ku tulis dalam tetesan air mata ini dengan diam !!
DEG DEG DEG
Kembali detak jantungnya berdegup kencang seperti genderang. Ia berusaha menguasai perasaannya.
Ivander menghembuskan napasnya terbata bata. Bibirnya bahkan gemetar, air mata yang sedari tadi di tahannya menetes di pipinya. Rasa sesak di dalam dadanya tidak bisa ia gambarkan. Joevanka mencintainya? perasaan yang sebenarnya hanya untuknya? Cinta pertamanya itu adalah Ivander?
Ia berjalan ke balkon, ia ingin menenangkan perasaannya. Ia kembali menarik napas dalam sambil memegang dada. Mulutnya terbuka, menggeleng pelan. Ia tertawa sambil menangis tapi tidak mengeluarkan suara.
Ivander membungkuk dan memegang lutut nya untuk mencoba menstabilkan napasnya yang naik turun begitu cepat. Namun rasa sesak itu masih menghimpit dadanya. Menguasai dentum-dentum sesak yang tak berperi di hati dan meninggalkan bekas-bekas luka yang menyesakkan, luka yang ia buat sendiri.
Ivander bahkan melayangkan tinjunya ke dinding beberapa kali, sampai buku buku tangannya berdarah.
Aaaaahhhhhhhh
Ivander bersandar di sisi tembok, ia tidak tahu apa yang harus di lakukannya. Tubuhnya yang bersandar merosot ke bawah, kakinya terasa lemah ia terduduk dengan posisi kaki bertongkak lutut dan tangannya yang terluka, tetesan darah yang terjatuh ia biarkan begitu saja.
βββββ
Dini hari , hujan masih mengguyur deras di kota xx dan sampai sekarang rintik rintik hujan masih menemani suasana pagi ini. Ivander sama sekali tidak terpejam, ia masih duduk di sudut kamarnya dengan perasaan kacau.
Gumpalan awan yang bersusun-susun diiringi sinaran kilat ataupun petir yang memecah kesunyian dengan sisa sisa hujan yang masih setia menemani Ivander saat ini. Ruangan kamar Ivander yang mencekam seakan mewakili hatinya. Cuaca hari ini mewakili perasaannya yang bersedih. Mengetahui fakta kebenaran jika Joevanka sudah lama memendam rasa untuknya.
Ternyata hari-hari Joevanka hanya berselimutkan kesedihan, mereka sama sama terjerat cinta dalam diam.
Sementara di sisi lain.
Berneta nampak mondar mandir di ruangan keluarga, ia sengaja menghubungi tuan Betran. Karena pada malam ia mengecek keadaan rumah sebelum tidur, ia melihat jelas, Ivander melukai tangannya. Sampai sekarang ia juga belum keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Berneta melangkah cepat ketika yang ditunggunya sedari tadi, sudah datang.
" Apa yang terjadi? " tanya Betran dengan langkah cepat. Ia datang bersama nyonya Felin.
" Maaf tuan, saya tidak tahu. Sejak ia tahu kepergian nona Joevanka. Tuan Ivander tidak keluar lagi dari kamarnya. Dan....." Berneta menggantung kata katanya.
Wajah Betran dan Felin sama sama mengerut. " Kenapa? " tanya Felin merubah wajahnya dengan serius.
" Tuan Ivander menyakiti dirinya."
" Apa? " Kedua pasangan suami-istri itu bahkan serentak mengucapkan kata kata yang sama.
" Ya nyonya, saya lihat sendiri tuan Ivander menghantam tangannya ke dinding dan memukulnya berulang kali. Saya takut tuan jika tuan Ivander melakukan hal bodoh lain di luar nalar kita. Kita tahu sendiri tuan Aaron dan nyonya Anastasia, masih berada di luar kota. " keluh Berneta mengeluarkan uneg-unegnya.
Tidak ada jawaban, mereka langsung melangkah panjang menuju kamar Ivander. Betran membuka kenop pintu yang tidak terkunci. Felin kaget ketika melihat Ivander terduduk dengan mata terpejam.
" Ivander, apa yang terjadi sayang? " Felin langsung berhambur, menangkap pipi Ivander dan memeriksa luka yang ada di tangan Ivander yang sudah mengering.
" Apa yang membuatmu berantakan seperti ini Ivander ? "
Berlahan-lahan Ivander membuka matanya, melihat Uncle dan aunty Felin berada di kamarnya.
" Apa terjadi sayang? jawab aunty! " kata Felin nampak begitu cemas. Karena yang ia tahu Ivander tidak pernah seperti ini.
Ivander menggeleng, " Kenapa Uncle dan aunty ada di sini? " Kata Ivander dengan nada lemah.
" Untuk melihat keadaanmu, Ivander. Berneta mengatakan kau tidak keluar kamar, apa yang terjadi, kenapa tanganmu sampai terluka seperti ini ? " kata Betran menatap Ivander, ia bahkan menaikkan alisnya setengah.
" Aku tidak apa apa uncle..." Kata Ivander bangkit. Ia naik ke atas tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya di sana. Tadi malam ia tidak bisa terpejam, ia hanya memikirkan Joevanka saja.
Betran dan Felin hanya bisa saling pandang.
" Kau tidak ingin menceritakannya Ivander? " kata Felin melihat Ivander kembali memejamkan matanya dan posisi tangannya ia letakkan di keningnya.
" Sepertinya Ivander belum ingin cerita sayang, biarkan dia istirahat dulu. " kata Betran.
" Baiklah, aunty membiarkanmu tidur saat ini Ivander, nanti setelah kau bangun. Kau ada utang cerita kepada aunty, mengerti ? " kata Felin menekan setiap perkataannya.
Tidak ada jawaban. Ivander tetap diam dengan posisi terpejam. Setelah ia mendengar pintu tertutup, Ivander kembali membuka matanya dan ia duduk menyandarkan punggungnya kesandaran kasur.
Ketika ia tahu perasaan Joevanka kepadanya, kini rasa rindu menyergap jiwanya dan membuat rasa sesak di dada.
Mengapa ada rindu ketika dia yang dirindukan tidak memeluk kerinduan yang ada? Mengapa ada rindu ketika asa memiliki, tak jua tercapai? Mengapa ada rindu ketika hampa yang hanya bisa ia peluk?
" Maafkan aku Vanka, aku tidak tahu bahwa kau sesakit ini. "
" Bisakah aku berharap, kau pulang kembali?
" Bisakah aku menangis untuk meredam segala perasaan sedih ini? "
" Apa yang harus aku lakukan Vanka? Luka atas kepergianmu semakin menguak, merajalela dengan penyesalan yang terus menyeruak." lirih Ivander dengan mata sayu. Ivander menatap keluar, Ia ingin menguatkan hatinya, namun ia semakin tidak mampu, rasa luka itu semakin menggores hatinya yang paling dalam dan tak bisa ia ungkapkan dengan kata kata.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
__ADS_1
π BERIKAN BINTANGMU