
💌 Whisper of love 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
JOEVANKA KEMBALI KE KANTOR DONISIUS.
Di dalam lift Joevanka merapikan baju dan rambutnya lalu naik keruangan pak direktur Donisius. Selama di dalam lift Joevanka merenungi perjalanan hidupnya. Banyak hal yang telah dilaluinya.
Ia seperti menyimak kembali gambaran kehidupan yang telah Joevanka lewati. Ia seperti di paksa untuk memandang dan melihat gambaran tampilannya yang akan datang.“ Menjadi seperti apa aku nanti.” Inilah yang menjadi melatar belakangi dirinya.
Aaahhhhh ia menghembuskan napasnya lewat mulut. Semua yang terjadi pada hidupnya adalah bagian dari rencana Tuhan dan ia harus tetap bersyukur.
Awalnya Ia merasa putus asa, terlalu takut mungkin kata itu yang tepat menggambarkan perasaannya saat itu. Kalau boleh jujur, sebenarnya Joevanka bukanlah tipe orang yang gampang pesimis, namun pikiran yang gak karuan, ditambah pikiran negatif membuat dirinya menjadi tidak tenang dan semakin kacau.
Sekarang Joevanka tidak perlu takut lagi. Bahagia adalah segalanya dan tujuan hidupnya adalah untuk mencari kebahagiaan itu. Kenyataannya, Joevanka sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Hidup adalah pengendaraan yang gila dan tidak ada yang menjaminnya.
Joevanka tidak bisa meramalkan masa depan, sekali pun dalam satu detik ke depan. Dia bisa saja berencana untuk menghabiskan waktu dengan siapa dan seperti apa. Tapi Joevanka tidak bisa menjamin pasti bisa melakukan hal tersebut dan berapa lama ia akan hidup di dunia ini. Maka dari itu ia akan nikmati kehidupan yang di milikinya.
TING
Pintu lift terbuka. Joevanka menegakkan badannya, mengangkat wajahnya untuk tersenyum. Hanya ada satu cara menuju kebahagiaan dan itu adalah berhenti mengkhawatirkan hal-hal yang berada di luar kekuatan kehendak kita. Bahagia itu sederhana, sesederhana jika saat tersenyum dan bersyukur dengan apa yang sudah ia punya saat ini. Terkadang kebahagiaan bisa ditemukan dalam hal-hal kecil dalam hidup.
" Perfecto..." Kata Joevanka keluar dari lift. Ia berjalan elegan. Kecepatan berjalannya pas. Posisi tubuh yang seimbang dan mata yang memandang lurus ke depan. Joevanka berjalan mendekati meja Halbret dan tersenyum.
" Selamat siang pak Halbret." Joevanka mengetuk meja Halbret sebanyak tiga kali dengan jari telunjuknya.
Halbret tersentak dan hampir saja terjengkit dari duduknya. Rasa ngantuk nya hilang seketika.
" Selamat siang ibu Jasmine." Ucap Halbret tidak sadar. Ups reflek Halbret menutup mulutnya dengan tangannya dan terbelalak melihat perubahan wajah Joevanka.
" Ibu Jasmine?" Wajah Joevanka mengerut lalu ia menaikkan alisnya menatap Halbret.
" Maaf, sekretaris Joe... kebetulan sekali ibu Jasmine berada di ruangan pak direktur, setelah pulang makan siang tadi, ibu Jasmine langsung menyusul ke kantor untuk membicarakan kelanjutan kerjasama perusahaan Central ."
" Bukannya kerjasama perusahaan Donisius dengan perusahaan Central sudah berakhir pada saat kita meninjau lokasi kemarin pak Halbret?"
" Sepertinya perusahaannya Central masih ingin melanjutkan kerjasamanya di perusahaan Donisius sekretaris Joe." Kata Halbret sedikit gugup.
" Begitu ya?" Kata Joevanka mengerucut.
" Apa sekretaris Joe mau masuk?" tanya Halbret.
" Tidak pak Halbret, lebih baik aku pulang saja."
" Oh, begitu ya...anda tidak menunggu pak direktur pulang bersama anda?" tanya Halbret sedikit ragu.
__ADS_1
Tit!
Tiba-tiba nada interkom di meja Halbret berbunyi.
" Jangan biarkan Joevanka pergi Halbret, suruh masuk. Apa kau mau di pecat? Kau membiarkannya menunggu disitu." Kata Ivander lewat interkom.
Halbret menatap Joevanka dengan wajah mengerut khawatir. "Jangan pergi sekretaris Joe. Aku masih membutuhkan pekerjaan ini. Aku mohon! ehmmm.." pinta Halbret dengan wajah memelas.
Joevanka terkekeh melihat ekspresi wajah Halbret. " Pak direktur sangat membutuhkanmu pak Halbret. Itu tidak akan terjadi. Apalagi sampai memecatmu." Joevanka berusaha menenangkan Halbret dengan tepukan lembut dilengan Halbret sambil mencondongkan tubuhnya. Dan tiba-tiba....
CEKLEK!
Pintu terbuka dan benar saja Jasmine keluar dari ruangan pak direktur tanpa menoleh sedikit pun kepada Joevanka. Halbret reflek membungkukkan badannya untuk memberi hormat. Jasmine masih terus menatap lurus sambil berjalan menuju lift khusus.
"Silakan masuk sekretaris Joe, pak direktur sudah menunggu anda." Kata Halbret mempersilakan Joevanka masuk.
"Oke, terima kasih pak Halbret.." kata Joevanka tersenyum penuh arti. Ia berjalan elegan memasuki ruangan pak direktur.
Sementara Halbret hanya bisa menggeleng dan duduk kembali sambil memikirkan bagaimana lamaran terbaik yang akan disiapkannya nanti. Apalagi pak direktur memintanya secepatnya. Huft...Halbret mendesah. Pak direktur menginginkan lamaran yang berbeda. Astaga... Halbret mengusap wajahnya dengan kasar, ia harus fokus memikirkan rencana pertunangan pak direktur.
SEMENTARA DI DALAM RUANGAN DIREKTUR
Belum juga Joevanka menutup pintu. Ivander menarik tangan Joevanka dan menghimpit tubuhnya pada daun pintu. Tangan Ivander dengan cepat memutar kunci agar pintu tidak bisa dibuka oleh siapapun. Ivander tersenyum menyeringai dan matanya tidak lepas menatap joevanka. Mendapat perlakuan dari Ivander yang secara tiba-tiba membuat jantung Joevanka berdebar. Peredaran darah di tubuh Joevanka mulai tidak stabil. Setiap lirikan dan kontak mata yang dibuat Ivander membuat Joevanka tak berdaya. Tatapan mereka bertemu. Ivander merasa menang. Ia sengaja melakukannya untuk menghukum Joevanka karena membuatnya gelisah. Acara makan siang saja Ivander tidak tenang dan terus memikirkan Joevanka.
" Kau sudah puas membuatku gelisah dan sedari tadi aku terus memikirkanmu, setiap menit bahkan setiap detik sayang." Ivander menaikkan alisnya setengah dan tersenyum menyeringai. Ivander semakin mendekatkan wajahnya, membuat Joevanka merasa tersiksa oleh serangan-serangan yang membuatnya tidak bisa melawan. Pesona mata Ivander begitu jahat mengunci Joevanka.
" Heuh..." Joevanka menahan napasnya dan berkedip cepat.
Joevanka mengepalkan tangannya semakin kuat, ia menutup matanya dengan erat dan tidak lupa mengatupkan bibirnya dengan rapat. Ia semakin merasakan jantungnya terpicu dan bahkan ia sulit bernapas. Debaran itu semakin membuatnya tersiksa.
Joevanka merasakan jika Ivander menarik tubuhnya menjauh darinya. Ia pun membuka matanya secara perlahan, agar ia tidak terkejut. Dan dilihatnya Ivander tidak ada. Joevanka berkedip cepat dan melangkah untuk mencari Ivander.
" Ss-sayang...?" panggilnya.
" Kau mencariku?" Ivander memeluk Joevanka dari belakang, Dagunya ia taruh di pundak Joevanka dan sedikit menunduk karena tubuh Ivander begitu tinggi.
Joevanka kembali terkejut dan sepersekian detik ia tersenyum. Ia menyandarkan pelipisnya pada pipi Ivander dan mulai merasakan dekapan hangat dari tubuh pria kesayangannya.
" Kenapa tidak mengaktifkan ponselmu? Aku sangat takut. Kau berhasil membuatku tidak tenang seharian sayang." Kata Ivander menggoyang tubuhnya sehingga tubuh Joevanka ikut bergoyang.
" Maafkan aku tuan tampan, aku berjanji tidak akan membuatmu takut lagi." Kata Joevanka membalikkan tubuhnya dan menghadap Ivander.
" Jangan ulangi lagi, ehmm..."
Joevanka mengangguk sambil tersenyum.
" Bagaimana masalah apartemen aunty?" Tanya Ivander menatap Joevanka dengan sayang.
Joevanka menghindari tatapan Ivander dan tidak ingin menjawab. Ia salah karena sudah berbohong. Suatu hari Joevanka akan mengatakannya sendiri. Ia memasukkan tangannya ke dalam lengan Ivander dan mengunci tangannya ke pinggang lelaki itu. Sesaat ia membenamkan wajahnya di dada Ivander dan menatap pria kesayangannya itu.
Bibir Joevanka bergetar, ia sedikit melonggarkan pelukannya dan memandang bibir Ivander yang sungguh menggoda itu. Hembusan napas Ivander tercium aroma mint yang menyegarkan. Ia mulai memberanikan dirinya memajukan wajahnya dan..
__ADS_1
CUP
Ciuman mendarat sempurna di bibir Ivander. Sebelum Joevanka menarik bibirnya, Ivander dengan cepat memindahkan tangannya ke tengkuk Joevanka, mendorong kepalanya agar mencium Joevanka kembali. Ivander tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia langsung menciumnya. Bibir mereka bertautan dengan Lmatan yang lembut. Joevanka memejamkan matanya dan mulai membalas, jari-jarinya menelusuri bagian dalam rambut Ivander. Membuat tubuh Ivander merinding. Ia pun semakin terbakar. Joevanka berjinjit agar tidak membuat Ivander kesulitan. Ciuman itu semakin dalam, semakin menuntut lebih dalam lagi.
Ivander semakin mencengkram pundak Joevanka agar tubuh mereka semakin rapat, dada Joevanka membuat Ivander semakin nyaman, membuat ciuman itu semakin membara. Ciuman mereka saling terbalaskan. Ivander terus mengecup dan terus mengejarnya sampai harus membuatnya membungkuk.
Sensasi yang begitu menggetarkan, mereka sesekali memberi sela untuk menghirup udara dan kemudian Ivander melanjutkan aksinya. Terus menjelajahi bibir Joevanka, saling membelit memberikan sensasi kenikmatan. Tangan Ivander terus meraba punggung Joevanka dari atas sampai ke bawah dan tiba-tiba....
TOK TOK TOK
Ciuman mereka terlepas, napas Joevanka dan Ivander masih memburu dan saling berkejaran.
TOK TOK TOK
Kembali ketukan itu terdengar, tentu saja Joevanka mengerjap dan ia melangkah membuka pintu, sementara Ivander duduk dan terlihat sibuk memeriksa berkas yang ada di mejanya. Agar Halbret si tukang ganggu tidak curiga. Sementara napas Joevanka masih terlihat naik turun dan tidak beraturan. Ia masih sangat gugup.
Terlihat Halbret masuk dan tersenyum. "Permisi pak direktur, maaf menganggu." katanya dengan sopan.
" Ehmm, ada apa?" Tanya Ivander, ia tidak mengangkat wajahnya. Perasaannya sama dengan Joevanka, ia juga masih terlihat gugup dengan napas yang memburu. Ia tersenyum kecut karena kesenangannya di ganggu Halbret.
Halbret dapat merasakan kegugupan pak direktur dengan sekretaris Joe. Ia mengerutkan keningnya dan merasa heran. Ia menatap joevanka dan pak direktur secara bergantian. Lalu ia tersenyum menjepit bibirnya dengan erat agar tawanya tidak keluar.
" Ini dokumen yang anda minta pak." Kata Halbret meletakkan dokumen itu di atas meja.
" Oke, terima kasih Halbret." Ivander mengangkat wajahnya dan tersenyum. Bersamaan itu Joevanka menutup mulutnya dan matanya membulat sempurna melihat ke arah Ivander.
Sepersekian detik Halbret tersenyum malu dan yang bisa ia lakukan hanya menahan tawanya agar tidak keluar.
" Kalau begitu saya permisi dulu pak." ucapnya.
" Silakan Halbret. " Kata Ivander.
Dengan cepat, Halbret membungkukkan badannya lalu memberi hormat. Ia langsung berjalan menuju pintu keluar. Setelah berada di luar ruangan pak direktur, Halbret membuang napasnya dan tangannya masih berada di kenop pintu. Halbret tertawa tanpa mengeluarkan suara.
.
.
BERSAMBUNG
❣️ Hayo coba tebak,apa sih yang ditertawakan Halbret? 🤣🤣🤣🤣
.
.
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
💌 BERIKAN BINTANGMU💌
__ADS_1