WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Menikmati kebersamaan.


__ADS_3

πŸ’Œ Whisper of love πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Ivander dan Joevanka memutuskan tetap tinggal di kota xx. Mereka akan menghabiskan waktu berdua di tempat ini. Setelah melalui banyak hal bersama, perasaan haru diakhiri dengan perasaan lega membuat mereka menikmati momen ini sebaik mungkin.


DI DALAM KAMAR JOEVANKA.


Joevanka terus mengatur napasnya. Ia menempelkan telinganya ke pintu hotel. Merasakan kepergian Ivander yang melangkah meninggalkan kamarnya. Joevanka kembali tersenyum. Ia menyandarkan punggungnya di pintu. Menyentuh bagian dadanya yang terpompa lebih kencang karena detak jantungnya yang semakin bergemuruh di dalam dadanya.


Huuuuffft.... Joevanka kembali berkhayal. Kepalanya mendongak keatas. Terus membayangkan apa yang diterimanya hari ini. Lalu memegang lembut mulutnya. Lmatan itu masih membekas di sana. Masih terbayang nyata. Sebelum Joevanka pergi, Ivander menangkap tangan Joevanka dengan kekuatan penuh. Tubuh Joevanka tertarik sampai membuat badannya memutar terjatuh dan mendarat di dada Ivander, Joevanka tersentak, mereka saling menatap.


" Aku masih merindukanmu, biarkan seperti ini vanka. " lirih Ivander.


Joevanka menelan salivanya dan berkedip cepat. Mata Ivander masih menguncinya. Jantungnya kembali terpompa lebih kencang. Hembusan napas Ivander terasa dekat wajahnya.


" Bukankah kita mau makan pak? "


" Ehmm, tapi sebentar saja. " Kata Ivander memejamkan matanya, memeluk tubuh Joevanka dengan erat.


" Tapi aku tidak bisa bernapas pak. "


Ivander sontak melepaskan pelukannya, memeriksa tubuh Joevanka. " Apa ada yang sakit? Bagian mana? " kata Ivander panik.


Joevanka terkekeh melihat reaksi dari Ivander. " Aku tidak apa apa pak. "


" Kenapa memanggil bapak lagi ? "


" Karena bapak adalah direktur utama tempat saya bekerja. " Jawab Joevanka dengan lugas.


" Bisakah jangan memanggilku bapak Vanka? " Keluh Ivander.


" Heuh..." Joevanka bingung. " Jadi saya mau panggil apa pak? "


" Sayang...my love atau bisa Hubby. "


" Hubby? " Joevanka tertawa. " Bapak bisa aja, panggil sayang saja ya pak. " ucap Joevanka.


" Kalau aku maunya memanggilmu Bunny."


" Bunny? Kalau di Inggris Bunny itu artinya kelinci? Setiap orang yang berpacaran di Inggris memang menyebutkan itu. "


" Ya, itu panggilan sayang. Karena kelinci terlihat manis dan lucu. Aku suka memanggilmu itu."


Joevanka tersipu malu, wajahnya bersemu merah.


" Bagaimana my Bunny? atau my angel ? "


Joevanka mengangguk sambil tersenyum. " Tidak buruk juga, aku suka Bunny saja.."


" Baiklah my Bunny manis. " Kata Ivander mendekatkan wajahnya kembali kepada Joevanka.


Membuat Joevanka tersentak dengan kedekatan mereka. Jantungnya seketika terpukul kencang. Debaran debaran itu tercipta lagi.


" Kamu cantik sekali my Bunny? "


Joevanka membuang napasnya dengan desahan. Ivander menyentuh pipi Joevanka dengan lembut. Tangannya kini berpindah ke leher Joevanka, memasukkan jari jarinya ke rambutnya. Mendekatkan wajahnya agar semakin dekat. Pelan pelan namun pasti. Ivander menyentuh bibir Joevanka kembali. Memberikan Lmatan Lmatan yang membuat mereka akan selalu mengingatnya.


Ivander kembali memberikan sensasi yang luar biasa kepada wanita yang ia cintai. Joevanka merasakan tubuhnya bergetar hebat. Deru napas mereka semakin memburu. Joevanka reflek membuka mulutnya dan membalas ciuman Ivander. Ia menggerakkan bibir bawahnya untuk turun. Agar lelaki pujaan hatinya leluasa menjelajahi bagian dalam mulutnya.


Ivander kembali menghisapnya dengan pelan namun berhasil membuat Joevanka melepaskan desahan singkat. Ia mengalungkan tangannya ke leher Ivander. Ciuman berdurasi lama ini membuat mereka terlena. Hidung mereka saling bersentuhan, membiarkan hidung mereka menarik oksigen sebanyak banyaknya.


Ivander memajukan tubuhnya semakin rapat. Mengeratkan pelukannya. Ia mencium Joevanka begitu lembut dan nyaman, mata mereka terus terpejam. Ciuman itu saling terbalaskan.


Aaahhhhhhhhh Joevanka menghentikan khayalannya.


Ia berjalan menuju tempat tidurnya. Ia tersenyum dan membuang tubuhnya dengan gerakan bebas keatas kasur.


Joevanka membiarkan dirinya tersipu malu mengingat kejadian tadi.


" Astaga aku sampai melupakan sarapanku..." Ia menepuk keningnya. " Pantas saja aku lapar. " Joevanka menyentuh perutnya dengan kedua tangannya.


" Apakah jatuh cinta seindah ini. Apalagi cinta kita terbalaskan. Oh...dunia ini milik kita berdua pak. " Joevanka menutup mulutnya. " Dunia ini milik kita sayang. " Ucapnya tersenyum sambil menatap langit langit kamar. Ia menggigit ujung jari telunjuknya. Senyumnya tidak bisa diajak diam, terus melengkung dengan perasaan hati yang bahagia.


Ia menatap jam yang ada ditangannya. " Oh, sudah saatnya bersiap Vanka..."


Ia bangun dari tidurnya dan bergegas untuk membersihkan tubuhnya.


Joevanka sudah rapi menggunakan pakaiannya. Langkahnya mendadak berhenti karena tiba tiba merasakan pusing ia sampai bertumpu di atas nakas. Meletakkan kedua tangannya agar ia tidak terjatuh.


" Ssssshhhhh.. Aaahhhhhhhhh...." Joevanka meringis kesakitan.


" Sakitnya kembali lagi...Jangan sekarang. Please.. " Joevanka kembali menegakkan pandangannya, agar ia bisa melawan sakitnya. Ia mengambil jam tangannya dan menatapnya.


" Dua puluh menit lagi..."


Joevanka kembali meringis kesakitan. Keringat sebesar biji jagung tiba tiba membasahi keningnya.


Perutnya seakan diajak untuk memuntahkan isinya perutnya, sementara ia belum makan.

__ADS_1


" Apa karena aku tidak makan ya? "


Joevanka berlari cepat, ketika rasa mual itu kembali lagi. Joevanka bangkit dengan memegang dinding kamar hotel. Tubuhnya lemah, ia terjatuh dipinggir tempat tidur dan meletakkan kepalanya pinggiran kasur. Ia memejamkan matanya. Agar bisa mengurangi rasa sakitnya.


" AAARGGHH..." Joevanka terus meringis dan menahan kesakitan sampai mencengkeram bagian kepalanya. Ia meraih obat yang ia letakkan diatas nakas.


Obat ini, benar benar penyambung hidupnya. Joevanka menelan beberapa butir obat itu kembali, lagi dan lagi.


Joevanka menarik napasnya dalam dalam. Ia sedikit lega ketika obat itu sudah masuk kedalam tubuhnya. Joevanka menarik napasnya dalam dalam. Ia memejamkan matanya untuk menunggu reaksi dari obat yang diminumnya.


" Bagaimana jika Ivander mengetahuinya ? Apakah dia akan meninggalkan aku? "


" Jangan pikirkan itu Vanka, sekarang nikmati kebahagiaanmu. Kata dokter penyakit ini tidak serius. Ini hanya karena kecelakaan yang sempat membuatmu koma. Jangan takut, kamu akan sembuh. Yang penting tetap tersenyum dan tenangkan pikiranmu. " Joevanka menyemangati dirinya. Ya hanya dirinya yang bisa melakukan itu.


TOK TOK TOK


" Astagaa pak direktur? " Joevanka bangkit dari duduknya. Bersyukur pusingnya sudah berkurang. Joevanka dengan cepat merapikan pakaiannya.


Ivander kembali mengetuk pintu kamar Joevanka.


" Vanka? My Bunny? " Panggil Ivander dari luar.


" Sebentar pak, saya akan segera keluar. " Joevanka setengah berteriak.


Joevanka terus memeriksa penampilannya dan terus memandangi pantulan dirinya di cermin. " Apakah aku sudah cantik? "


Joevanka kembali menepuk menepuk bedak tabur kewajahnya, agar membuat wajahnya terlihat lebih bersih dan segar.


" Sudah oke..." Joevanka Mengerlingkan salah satu matanya dengan menyatukan jempol yang menyentuh jari telunjuknya menunjukkan gestur oke. Ia tersenyum puas.


" Sempurna... " Ucapnya tersenyum tipis. Seakan tidak terjadi apa apa. Joevanka kembali ceria.


CEKLEK


Joevanka membuka pintu dan terkesima melihat penampilan Ivander, ingatan itu kembali semasa mereka masih kuliah dulu.


DEG ! DEG !


DEG ! DEG !


Joevanka mengedip pelan menatap lelaki yang berdiri dihadapannya." Astaga, lelaki ini sempurna sekali, setelah my daddy. Tatapannya? Wajah tegasnya? Ah hanya aku yang memilikimu. "


Joevanka menatap Ivander dari atas sampai kebawah. Ia mengunakan kemeja biru dengan logo berbentuk buaya untuk hari ini. Kemeja motif kotak-kotak itu Ia padukan dengan celana jeans berwarna netral merek Earnest Sewn. Ivander menggunakan sepatu kets Swarovski FilaFX2. Sepatu mewah dengan warna putih dan bergaris merah dan biru benar benar membuat penampilan Ivander sempurna. Kadar cintanya semakin bertambah. Seketika kupu-kupu berterbangan indah keluar dari hatinya.


" Sempurna..." puji Joevanka dari dalam hatinya. Ia menjepit bibirnya dan menatap Ivander dengan lekat.


" Apa yang kau lihat my Bunny...Apa ada yang salah dengan penampilanku? " Ivander menaikkan alisnya setengah. Dan seketika memandang kebawah. Melihat sendiri penampilannya, namun tidak ada yang salah?


" Heuh...? " Joevanka tersentak dari lamunannya.


" Oh, tidak pak, anda tampan sekali. Ah..maksud saya..." Joevanka menggeleng cepat menyadari ia terlalu jujur dengan ucapannya.


" Hahahaha. " Ivander tertawa renyah.


Joevanka semakin menjepit bibirnya semakin dalam. Reflek Joevanka memiringkan kepalanya menikmati tawa dari Ivander.


" Tertawa saja ia begitu tampan, oh Tuhan bisakah engkau menghentikan waktu ini. Hanya lima menit saja. Please...! " pinta joevanka dalam hati.


" Kita sudah bisa pergi my Bunny? "


Joevanka mengangguk cepat. Ivander tersenyum dengan menekuk tangan kirinya seraya mempersilahkan Joevanka untuk menggandeng tangannya.


Joevanka tersenyum menyambut tangan Ivander. Mereka berjalan di koridor hotel.


" Mau makan dimana? "


" Ehmm.." Joevanka menunjukkan gestur berpikirnya. Sambil berjalan seiringan mengikuti langkah Ivander.


" Terserah bapak mau makan dimana? "


Ivander menghentikan langkahnya dan melirik Joevanka.


Joevanka mengerutkan keningnya. " Apa ada yang tinggal pak? "


" Lagi? "


" Lagi apa pak? " Joevanka bertambah bingung.


Ivander membuang napasnya dengan lesu dan menghembuskan sekaligus. " My Bunny, jangan panggil pak lagi ya. Kau cukup memanggilku sayang. "


" Sayang pak? Oh iya, saya lupa pak. "


" Apa kau mau memanggilku Bunny juga? tidak lucu kan? " Ivander tersenyum smrik sambil mengangkat setengah alisnya.


Wajah Joevanka mengerucut, ia hanya mengangguk pasrah. Walau bibirnya masih sulit untuk mengucapkannya.


" Gadis pintar..." Ivander mencium puncak kepala Joevanka dengan lembut. " Sekarang kita bisa pergi. "


Sesampai di basement.


Ivander membuka pintu mobil untuk pujaan hatinya. " Silahkan masuk sayang.." Ivander sengaja mengucapkan kata itu agar Joevanka mengingatnya.


" Terima kasih, Ss-sayang. " ucap Joevanka dengan gugup. Ivander tersenyum. Lalu menutup pintu. Joevanka langsung mengambil Seat belt untuk dipasang.


Ivander sedikit berlari mengitari mobil dan duduk di kursi kemudi.

__ADS_1


" Sudah siap sayang ? "


" Iya, sayang..." bibir Joevanka tidak keluh lagi. Ia harus lebih terbiasa mengucapkan kata kata itu. Joevanka melirik Ivander sambil tersenyum tipis.


Ivander mulai menginjak pedal gas, dan membawa mobil tersebut menuju restoran. dan setelah itu mereka akan berjalan jalan menghabis waktu mereka ditempat ini.


" Apa kabar Aunty, Uncle, Ivannia dan juga Alea? Aku begitu merindukan mereka. "


Ivander tersenyum meraih tangan Joevanka, memasukkan jari tangannya ke jari jari tangan Joevanka. Mengecup punggung tangan Joevanka dengan lembut.


" Mereka baik, nanti aku akan membawamu menemui mereka. " Ivander sekilas melirik dan kembali fokus membawa mobilnya.


" Alea akan menikah bulan depan. "


" Benarkah? " Joevanka terkejut.


" Habis Alea kita akan menyusul mereka. " Kata Ivander kembali menarik tangan Joevanka dan menempelkan di pipinya.


Seketika jantung Joevanka terpukul lebih kencang. " Menikah? " Batin Joevanka berbicara, ia tersenyum. Ada perasaan bahagia menggelitik hatinya dan sepersekian detik wajahnya tiba tiba berubah.


Dddrrrttt dddrrrttt..


Tiba tiba ponsel Ivander berdering. Ia melihat nama panggilan masuk diponselnya ' My Hero' Ivander menekan on dari earphone wireless yang terpasang di telinganya.


" Sebentar My Bunny. " Kata Ivander berbisik.


" Hallo daddy..." Sapa Ivander tersenyum.


" Dimana my son ? "


" Aku masih meninjau lokasi proyek dad. "


" Lusa acara pertunangan Alea, apa kamu tidak akan menghadiri acaranya? " Tanya Aaron dari seberang.


" Tentu saja dad, aku pasti hadir. Besok aku kembali bersama pasanganku. Persiapkan diri kalian untuk menjadi grandpa daddy. "


Seketika diseberang heboh, terdengar suara mommy dan Ivannia berteriak menyerukan,


" Siapa kak? "


" Siapa my son? "


" Astaga kami penasaran. Siapa dia? "


Ternyata mereka sedang berkumpul dikediaman Donisius. Ada auntie Felin dan Uncle juga.


" Kamu serius my son? " Aaron sedikit terkejut.


" Tentu saja dad, apa pernah aku bermain dengan ucapanku? "


" Siapa dia? "


" Nanti kalian tahu sendiri dad, aku ingin memberikan kalian kejutan. " Ivander terkekeh, dan menatap Joevanka dengan sayang. Tangan mereka masih berpaut seakan tidak mau lepas.


" Kau membuat daddy penasaran. "


" Tunggu saja dad, oke... Sampaikan salam buat mereka. Besok aku kembali daddy. "


" Oke my son, sampaikan salam buat calon menantu daddy ya. "


" Nanti akan aku sampaikan dad. "


" Oke, sampai bertemu my son. "


" Baik dad.. " Kata Ivander memutuskan panggilan.


" Kenapa membuat Uncle penasaran? " Tanya Joevanka menatap Ivander.


" Biarkan saja, kau tau bagaimana suara Ivannia berteriak tadi? pasti ia penasaran sekali. " Ivander lagi lagi tertawa. Membayangkan wajah lucu adiknya.


" Kamu siap sayang, jika aku langsung mengajakmu menikah? "


DEG


" Mmm-enikah? " Joevanka mengedipkan matanya dengan cepat. Ia memandang Ivander dengan sayu. Jantung Joevanka kembali terpukul mendengar perkataan Ivander. Pikirannya langsung berkelana.


Menikah dan membangun sebuah keluarga tentunya menjadi impian Joevanka apalagi dengan lelaki yang sangat ia cintai.


Menikah butuh persiapan fisik, mental Dua pasangan yang akan menikah tak hanya butuh cinta. Tetapi harus ada komitmen dan persiapan matang. Pernikahan bukanlah merupakan kebahagiaan semu yang diharapkan oleh banyak pasangan yang akan menikah.


Lewat keadaan yang sulitlah justru cinta dan kesetiaan diuji apakah pasangan tersebut akan mempertahankan janji pernikahannya atau tidak.


Joevanka sendiri masih meragukan itu. Untuk sementara, mereka menjalani sebagai pasangan kekasih dulu.


Sesungguhnya Joevanka takut dan sangat takut jika Ivander mengetahui penyakit yang dideritanya efek dari ia koma selama sebelas bulan.


BERSAMBUNG


.


.


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ

__ADS_1


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMU πŸ’Œ


__ADS_2