WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Apakah ini hasil perbuatanku?


__ADS_3

πŸ’Œ Whisper of love πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Celin berusaha menahan sesak yang menghimpit dadanya. ia mencengkram setir mobilnya, memukul keningnya di sana berulang kali.


Tangisan itu belum juga berhenti. Bibirnya sampai gemetar, napasnya keluar tidak stabil. Ia sungguh tidak tahan dengan segala gejolak yang muncul di dadanya. Kembali mengingat Bagaimana perjuangan Delia sekarang berbaring lemah di rumah sakit, melawan penyakitnya. Anak satu satunya yang selalu ia jaga dengan baik bahkan ia berikan apapun itu untuk Delia. Tubuhnya bergetar menahan tangisannya.


Sekarang Delia tidak bisa bergerak semenjak melakukan operasi keduanya. Makan saja harus menggunakan alat. Kini hanya bisa berbaring lemah dirumah sakit. Celin menyandarkan punggungnya mendongak ke atas. Mengingat kembali bagaimana pertama kali Celin mengetahui penyakit Delia.


Semuanya berawal ketika Ivander memutuskan Delia. Selama satu bulan ia mengurung diri di kamar dan tidak mau kuliah lagi. Delia tidak memiliki semangat hidup, ia bahkan tidak mau makan. Ia hanya bisa minum alkohol dan menghabiskan hari harinya di club saja. Ditambah perceraiannya dengan Moralos , membuat Delia frustrasi. Delia saja tidak mau mendengar nasehat darinya lagi. Celin merasa gagal menjadi seorang ibu.


Pada siang hari Celin yang lagi sibuk mempersiapkan acara ulang tahun Delia, Ia dikagetkan dengan suara tangisan Delia dari kamar. Celin menghentikan kegiatan masaknya dan berlari cepat menuju kamar Delia.


" Ada apa sayang? " Tanya Celin nampak panik, ketika ia berada di dalam kamar Delia.


" Aaahhhhh, sakit...sakit..." Delia meraung kesakitan.


" Apa yang sakit sayang, bagian mana yang sakit? " Celin berusaha bersikap tenang, walau dalam hatinya ia ingin berteriak karena panik.


Mata Celin tertuju pada darah segar yang keluar dari tubuh Delia.


" Aaarrggg, sakit mommy..." Delia mencengkeram bagian perutnya.


" Sayang...Kita ke dokter. " Kata Celin, lalu ia berteriak memanggil pembantu rumah.


Karena menahan sakit yang sungguh luar biasa. Delia pingsan dan langsung dilarikan kerumah sakit. Setelah melakukan rangkaian pemeriksaan, ditemukan gumpalan awan di saluran cerna dan dokter mengatakan kemungkinan besar itu adalah polip. Benar saja, kanker usus besar yang dideritanya ternyata telah memasuki stadium satu dan dokter meminta harus segera dioperasi.


Saat Delia divonis dengan penyakit sangat ditakuti itu, tidak mudah bagi Delia untuk menerima, tapi akhirnya Delia menerima dan kuat menjalani pengobatan karena Celin selalu memberikan kekuatan dan semangat hidup pada Delia.


Operasi berhasil, Delia kembali sehat dan menjalankan aktifitas seperti biasa. Itu sangat sangat disyukuri Celin.


Namun tanpa diketahui Celin, ternyata Delia kembali pada kebiasaannya lagi. Ia merokok, minum bahkan sampai tidak pulang ke rumah.


Hingga suatu hari Celin mendapat kabar jika Delia pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Takdir Tuhan kembali menguji Celin. Dokter kembali melakukan pemeriksaan ulang dan ditemukan hasil tak terduga. Fakta memperlihatkan, terdapat kanker stadium tiga di organ tubuh berbeda yakni paru-parunya.


Mendengar itu, bagaikan tamparan yang melekat tanpa rasa sakit. Terbayang kejadian empat tahun yang lalu ketika Delia dinyatakan kanker usus besar stadium satu. Kini kabar itu ia dengar kembali. Celin hanya bisa menangis. Kini tidak ada tempat untuk berbagi. Suaminya kini meninggalkannya. Ia hanya berjuang seorang diri demi kesembuhan Delia.


Tetapi Celin tidak cengeng dan mengeluh. Yang ada dalam benaknya, Delia harus sehat dan menjalani kemoterapi dan jalan medis lain itu arah menuju kesembuhan untuk putri yang sangat disayanginya.


Ahhhhh mendapatkan Delia saja ia begitu susah dan kini ia tidak memiliki rahim lagi untuk mendapatkan keturunan. Jadi bagaimana pun Delia harus sembuh.


Celin tetap berpikir positif menjadi kunci kesembuhan untuk anaknya. Ia selalu memberi semangat agar Delia tetap kuat. Walau Delia terkadang putus asa dan tidak ingin hidup lagi.


Celin hanya bisa menangis jika Delia sedang tertidur. Penyakit kanker, sebagai momok yang menakutkan. Tidak bisa dipungkiri, bayang-bayang kematian bisa muncul di benaknya. Ahhhhh....air matanya kembali terjatuh, ia membelai rambut Delia dengan sayang.


" Jangan takut sayang, mommy selalu ada untukmu, walau daddy meninggalkan kita. Percaya dengan mommy ya sayang, jangan pikirkan apapun. Kau hanya pikirkan untuk sehat saja. " Ucap celin dengan suara pelan. Agar Delia tidak terbangun.


Saat akhirnya Delia menjalani operasi kanker paru untuk pengambilan lobus kanan bawah, dua tulang rusuknya patah sehingga menimbulkan rasa sakit luar biasa. Hal itu membuat Delia hanya bisa berbaring lurus dua bulan lamanya.


" Sabar sayang, Delia anak kuat, kau pasti sehat. Itu janji mommy, kau akan tetap menjalani pengobatan sampai selesai. Mommy rela menjual harta yang mommy miliki yang penting kamu sehat sayang. "


β€œ Aku tidak sanggup lagi mommy, aku lelah. Untuk miring ke kanan kiri saja luar biasa sakitnya. Setiap kemo, aku harus pakai kursi roda. Makan pun nggak bisa normal karena tanganku nggak bisa diangkat. Aku benar benar tidak sanggup lagi mommy. Kanker ini semakin menyebar." Tangis Delia putus asa.


" Kamu tidak kasihan dengan mommy. Aku berjuang untuk kesembuhanmu. Kenapa kamu begitu lemah. Kamu hanya lihat mommy saja sayang. Kamu harus berjuang sehat demi mommy. "

__ADS_1


" Aku sudah tidak kuat lagi mom, kita sudah dengar sendiri kanker ini sudah menyebar kemana-mana. " Teriak Delia histeris. Ia menangis sekuat ia bisa.


" Jangan katakan itu sayang, kamu pasti sehat. Percaya dengan kuasa Tuhan sayang." Celin ikut menangis dan memeluk putrinya.


" Bisakah mommy memenuhi permintaan ku? " Kata Delia menatap sendu kepada Celin.


" Kalau itu mommy tidak bisa sayang." Kata Celin tegas.


" Aku merindukannya mom, aku sangat merindukan Ivander. Bisakah mommy membawa Ivander ke sini. Aku ingin melihatnya untuk terakhir kali."


" Jangan katakan itu lagi Delia. Mommy mohon. Lupakan Ivander, dia sudah menikah. " Ucap Celin berbohong dengan air mata yang terus membasahi pipinya.


" Aku hanya ingin melihatnya saja mommy. Untuk terakhir kali. Aku mohon! " Pinta Delia menangis sesenggukan.


" Kau ingin bertemu Ivander, hanya untuk meninggalkan mommy selamanya, aku tidak akan izinkan itu DELIA. Kamu harus sehat, kau mengerti! " Kata Celin tegas. Ia keluar dari kamar celin dan berlari sekuat mungkin, agar bisa mengurangi kesesakannya. Celin berlari ke taman tempat biasa Delia duduk sambil berjemur.


Celin bersimpuh dan menangis disana.


" Tuhan, aku mohon jangan ambil Deliaku. Hanya dia yang ku punya di dunia ini. Hanya Delia yang selalu memberikanku kekuatan menjalani hidup ini. Aku mohon! "


Celin tidak bisa menahan kesedihannya, air matanya terus keluar membasahi pipinya. Tidak ada keluarga yang menjadi tempatnya berbagi kesedihan ini. Celin berjuang sendiri untuk kesembuhan anaknya. Suaminya tidak lagi mencintainya, dia pergi meninggalkannya.


Celin terduduk di rumput taman rumah sakit, dengan kaki melipat kebelakang sambil terus menutup mulutnya. Ia terus menangis untuk meluapkan kesedihan.


Apakah ini balasan untuk setiap perbuatan yang telah dilakukannya. Ia kembali mengingat perkataan seseorang kepadanya.


" Kau akan menerima akibat perbuatanmu dengan ratap tangis dan wajah yang berlinang air mata."


" Siapa yang berbuat jahat akan menerima kejahatan. Kebaikan akan berbuah kebaikan.


Tidak ada yang tertukar, keburukan yang kita perbuat, pasti akan berbalik akibatnya kepada kita sendiri."


Aahhhh...Celin mengeluarkan suara lirih yang menyayat hati. Air bening terus mengalir jatuh kepangkuannya. Ia terus-menerus memukul tangannya ke tanah.


" AKU ORANG BERDOSA, AKU SUNGGUH BERDOSA OLEH SEBAB ITU AKU MOHON AMPUNI TUHAN ATAS DOSA DOSAKU. JANGAN AMBIL DELIA KU. HANYA ITU YANG AKU MINTA DARIMU."


Celin berusaha untuk bernapas. Bibirnya semakin gemetar. Tangisannya benar benar mengeluarkan suara lirih. Hatinya begitu hancur melihat keputusasaan putrinya.


TOK TOK TOK


Celin tersadar ketika seorang lelaki berpakaian putih mengetuk kaca mobilnya. Ia mengangkat kepalanya dan dengan cepat menyeka air matanya yang terus tergelincir membahasi pipinya dan menurunkan kaca mobilnya.


" Permisi nyonya, sudah dua jam mobil anda di depan kediaman Donisius, apa anda tersesat, atau sedang mencari alamat? " Kata Arnold dengan ramah.


" Maaf pak, saya..." Celin tiba tiba gugup.


" Anda mencari siapa nyonya? siapa tau saya bisa membantu anda. "


" Saya mencari kediaman Donisius, apa benar ini rumahnya ? "


" Ya, benar nyonya, anda mencari tuan Aaron? " Tanya Arnold dan melihat Wanita dengan lekat.


" Jadi ini benar rumahnya? "


" Benar ini adalah kediaman Donisius. Masuk saja nyonya. Atau mobilnya bisa langsung masuk. " Ucap Arnold dengan ramah.


" Tidak perlu pak, saya parkir disini saja. " Celin akhirnya keluar dari mobilnya.


" Silahkan..." Arnold mempersilahkan masuk.


" Terima kasih..." Ucap Celin.

__ADS_1


Air matanya lagi lagi tergelincir jatuh begitu saja. Sebelum melangkah celin melakukan ritualnya, menghembuskan napasnya lewat mulut, mencobanya menenangkan dirinya.


Akhirnya celin memantapkan langkahnya. Ia melangkah menyusuri taman kecil. Ia berhenti tepat di depan pintu teras rumah.


Sebelum menekan Bell, ia menarik napasnya dalam-dalam. Bersiap dengan apa yang dihadapi. Wanita itu mengumpulkan keberanian. Perlahan ia mengangkat tangannya, menekan Bell kediaman Donisius.


TING NONG


TING NONG


Belum ada reaksi seseorang dari dalam untuk membuka pintu untuknya.


Kembali wanita itu menekan Bell. Ia berharap orang yang dicarinya ada.


Merasa belum ada respon, ia kembali menekan bell.


TING NONG


Pintu mulai terbuka pelan. Muncul seorang wanita paruh baya dari balik pintu.


Seketika Jantung wanita itu berdetak kencang ketika pintu terbuka sempurna.


" Selamat sore, " Sapa Celin dengan sopan.


" Selamat sore juga nyonya, mau mencari siapa? " Ucap Berneta memandang wanita itu dari atas sampai kebawah. Berneta dapat menilai jika wanita ini habis menangis, terlihat dari matanya yang sembab.


" Saya mau mencari Ivander Donisius. " ucapnya dengan pelan.


" Maaf, tuan Ivander tidak ada di rumah nyonya, beliau lagi perjalanan bisnis keluar kota. " Jawab Berneta.


Wanita itu semakin gugup, ia sampai mencengkeram tangannya sendiri.


" Bagaimana dengan Anastasia, apa dia ada di rumah? "


" Kalau nyonya ada dirumah."


" Bisa saya bertemu dengan beliau? "


" Tentu saja nyonya, bisa saya tahu anda siapa? Biar saya sampaikan kepada beliau. "


" Bilang saja Celin ingin bertemu. "


" Silahkan masuk dulu nyonya. " Berneta mempersilahkan tamunya masuk.


Jantung Celin langsung terpukul kencang, Ia mulai merasa gugup. Celin melangkahkan kakinya memasuki rumah itu. Matanya memicing pada foto keluarga yang ukurannya lumayan besar.


Matanya tertuju kepada sosok Lelaki yang pernah hadir selama tiga tahun dalam hidupnya. Ia sedang tersenyum memeluk Anastasia dengan mesra. Lelaki yang dulu pernah mencintainya. Namun karena penghianatannya, akhirnya Aaron meninggalkannya. Celin berusaha menarik napasnya dalam dalam. Kembali air bening mengkristal memenuhi matanya. Celin menguatkan hatinya, tujuannya hanya ingin menemui Ivander.


BERSAMBUNG


❣️ Hai my readers tersayangku, terima kasih masih antusias membaca Whisper of love. Disini gak ada orang ketiga lagi ya 😘


❣️ Malam saya usahakan up lagi 🀣 karena tugas anak daring gak banyak nih..Jadi saya bisa nulis lagi 😍πŸ₯°


❣️ Salam sehat buat my readers sayang 😘


.


.


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ

__ADS_1


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMUπŸ’Œ


__ADS_2