WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Bukan ini yang aku inginkan


__ADS_3

๐Ÿ’Œ Whisper of love ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


Tiga minggu berlalu.


Sore hari di kota London, langit tiba-tiba cerah. Beberapa orang berlalu-lalang, berjalan cepat menuju tujuannya. Tower bridge masih begitu ramai, mobil dan bus datang silih berganti. Menjadikan detak kota ini begitu cepat. Riuh tapi tidak membosankan, gaduh namun masih berbalut keindahan.


Joevanka sendiri duduk menikmati itu. Ia lama di depan Tower of London, menikmati sore di Sungai Thames sembari menatap Tower Bridge yang menawan. Dalam lamun diri, Joevanka mulai berpikir, ingin menikmati wajah kota ini dari ketinggian. Sudah begitu lama ia tidak menikmati keindahan Kota ini. Kota yang di kenal sebagai pusat kebudayaan dunia. Joevanka masih beruntung, bisa menjajaki kecantikan yang tersaji dari Kota London yang sudah lama ia tinggalkan.


Ia berusaha tersenyum melihat orang yang berlalu lalang di sana. Walau hasilnya masih belum bisa mengobati hatinya, ia bahkan tidak bisa bernapas dengan baik. Joevanka sampai tidak fokus membuat adonan kue, sehingga aunty Melisa marah dan mengusirnya. Joevanka menyeka air matanya yang terjatuh di pipinya. Berusaha bertahan. Ternyata kepulangan nya sama sekali tidak di harapkan. Sikap auntie nya berubah semenjak daddynya meninggal. Ia kerap sekali menerima perkataan kasar dari wanita itu.


Joevanka berjalan pelan mengedarkan pandangannya, hari ini ia ingin menenangkan diri dan melupakan kesedihannya.


Pilihannya akhirnya jatuh pada gedung yang tampak paling menonjol ketinggiannya di London. Bahkan dari Tower Bridge Joevanka mampu menatap kegagahannya. Joevanka sangat menyukai pemandangan langit di sore hari. Langit sore seperti obat untuknya. Perpaduan warna yang apik, mampu meluruhkan semua masalahnya. Ya..meskipun sementara.


" Apa anda juga pendatang nona? " tanya seseorang pria berdiri di belakangnya.


Joevanka memutar tubuh, memandang ke belakang. Pria itu tersenyum manis kepadanya. Joevanka hanya diam, dan kembali menatap lurus untuk menikmati pemandangan indah dari atas.


" Ehmm...Sepertinya dugaan saya benar, anda orang baru dan benar benar pendatang di sini. "


Joevanka tersenyum samar, lelaki dibelakangnya kini berdiri di sejajar dengannya. Sama sama menatap ke depan.


" Tidak, saya bukan pendatang tuan, saya memang tinggal di sini. dan sudah beberapa kali berkunjung ke tempat ini. " Kata Joevanka, Ia masih tetap fokus menatap ke depan. Ia tersenyum mengingat kenangan masa kecilnya bersama daddynya.


" Wah berarti saya tidak salah orang. Senang bertemu dengan anda nona! " kata pria itu tersenyum smrik.


" Bisakah anda menjadi pemandu perjalananku nona? " Kata pria itu kembali. Ia bahkan mengerlingkan salah satu matanya dan tersenyum simpul. Pria itu sangat berharap wanita yang berdiri didepannya dengan ikhlas menemaninya berjalan jalan hari ini.


" Apa tuan benar-benar pendatang? " Tanya Joevanka.


" Jangan memanggilku tuan, saya seperti tua sekali nona, panggil nama saja. Perkenalkan nama saya, Gavin Axton." Ia mengulurkan tangannya. " Dan usia saya 25 tahun nona, anda menyebutku tuan kurang tepat menurut saya. " kata Gavin terkekeh. Joevanka tersenyum singkat menyambut tangan pria itu.


" Saya Joevanka Mark. " katanya singkat.


" Nama yang indah nona."


Dan Joevanka merasakan rona merah menjalar di sekitar pipinya. Entah mengapa ada seulas senyum di bibirnya, tentu saja namanya indah karena daddy yang memberikan nama itu untuknya.


" Bisakah anda menjadi pemandu perjalananku nona? " tanya Gavin kembali.


" Apa anda baru pertama kali ke sini? " Tanya Joevanka menatap Gavin.


" Saya mengikuti rapat di perusahaan xx dan besok kembali ke Australia. Untuk menghilangkan kebosanan di hotel, saya ingin berjalan jalan nona. Jadi saya berharap anda bisa membantu saya."


" Tentu bisa Tuan..."


" Eits..jangan panggil tuan, panggil nama saja, Gavin. "

__ADS_1


" Oke Gavin.."


" Anda menyebutnya dengan sempurna...," kata Gavin sedikit terkekeh. " Oke nona, Kemana kamu akan membawa saya ? " Kata Gavin.


" Aku akan membawamu ke tempat the making of Harry Potter untuk melihat sejumlah set film yang populer, seperti Aula Besar di Hogwarts. Sekarang ikuti saya Gavin, kita bisa berjalan dan tempatnya tidak jauh dari sini ." kata Joevanka melangkah mendahului Gavin.


Mereka lanjut berjalan setelah melihat tempat the making of Harry Potter, setelah mengunjungi fitur-fitur menarik, seperti toko penjual tongkat sihir Ollivanders, pintu masuk menuju Platform yang seakan-akan menembus dinding.


Mereka bahkan tertawa menghabiskan waktu, Gavin sendiri sangat bersyukur dipertemukan dengan Joevanka, ia bisa menikmati libur yang singkat dengan perasaan bahagia.


Joevanka kembali mengajak Gavin mengunjungi tempat-tempat seperti yang diceritakan di buku karangan Arthur Conan Doyle. baik dalam adaptasi film layar lebar maupun serial televisi.


Sampai mereka tidak menyadari sore sudah berganti dengan malam. Joevanka kembali membawa Gavin keliling menikmati makanan di pinggir jalan.


" Kita makan di restoran saja Joevanka. " kata Gavin mengernyitkan keningnya, ketika Joevanka membawanya membeli makanan ringan yang di jual di pinggir jalan.


Joevanka menggeleng, " Jika kau sudah mencobanya, kau akan terus mengingat tempat ini. Lihat saja nanti! " kata Joevanka mencondongkan badannya, setengah berbisik kepada Gavin.


" Benarkah? " Gavin tersenyum menatap Joevanka lekat lekat.


Joevanka mengangguk antusias.


Dua buah Burger sudah ada di tangan Joevanka, ia menyerahkan satu burger ukuran besar ke pada Gavin.


" Ini buatmu! ambillah..." kata Joevanka setelah mereka mendapat makanan yang mereka pesan, ia memberikan uang kertas untuk membayar burger mereka. Gavin dengan cepat, menghentikannya.


" Biarkan saya yang membayarnya. " kata Gavin menyerahkan uang kepada si penjual.


" Terima kasih Gavin. "


" Sama sama Gavin..." Kata Joevanka tersenyum lebar.


Mereka menikmati makanan ringan yang mereka beli tadi. Burger yang isinya steak, dan sandwich.


" Bagaimana? " Tanya Joevanka. Ia melirik burger yang tersisa setengah di tangan Gavin.


" Enak dan yang penting mengenyangkan. "


Joevanka tertawa yang di ikuti dengan Gavin. Ia sangat bersyukur walau bagaimana pun keadaannya, ia masih berusaha untuk selalu tersenyum kepada orang lain sehingga senyumnya bisa membuat orang merasa bahagia.


โญโญโญโญโญโญ


Joevanka sengaja minta diturunkan di ujung jalan, jauh dari kediaman auntie Melisa. Ia tidak ingin auntie nya tahu, jika seorang lelaki mengantarnya pulang. Pertemuan yang singkat, membuat Joevanka terhibur. Sikap Gavin mengingatkannya kepada Samuel. Ia tersenyum, menarik napasnya dalam dalam. Joevanka berjalan menatap lampu jalanan. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan auntie Melisa ketika ia terlambat pulang.


" Praaangggg!!! "


Gelagar suara gelas pecah, menghantam dinding ketika Joevanka membuka kenop pintu. Joevanka memejamkan matanya, ia masih mengatur napasnya untuk menghentikan debaran jantungnya karena rasa terkejutnya.


Siapa lagi pelakunya kalau bukan auntie Melisa melemparkan gelas itu kembali kepada-nya . Suara yang memekakan telinga itu sayup-sayup berhenti, sekarang yang tertinggal hanya rasa keheningan yang mencekam. Sorot mata Melisa yang tajam seakan mampu menembus jantung Joevanka saat ini.


" Auntie?! "


Hanya itu yang bisa ia ucapkan saat ini. Ia menelan salivanya berulang kali.


Melisa tersenyum sinis. Ia melangkah panjang dan mendekat untuk memberikan pukulan tepat di bagian kepala Joevanka. Hingga membuatnya terhuyung ke depan dan membuat rambutnya berantakan.

__ADS_1


" Apa kamu pikir, aku senang melihatmu kembali lagi? " sengit Melisa menatapnya dengan tajam.


" Aku bahkan tidak ingin melihatmu, tapi melihatmu menangis dan memohon membuatku merasa iba dan membiarkanmu kembali. "


Joevanka meremas tangannya dengan kuat, Ia kembali membalas menatap auntie nya dengan tajam. Lagi-lagi kata itu yang ia dengarkan dari wanita itu. Joevanka kembali menarik napas sambil terpejam.


" Kenapa auntie seperti ini? " teriak Joevanka, membuat Melisa tersentak. " Dua minggu memperlakukan aku seperti binatang. Apa yang membuat auntie membenciku? bukankan auntie dulu begitu sayang kepadaku ? " Kata Joevanka semakin histeris.


" Kau berani membentak ku! Dasar brengsek! " teriak Melisa mengayunkan tangannya menampar pipi Joevanka dengan keras, sampai Joevanka mengadu kesakitan.


" Dulu dan sekarang berbeda, dulu aku menyanyangimu, karena Lionel memberikan apa yang aku minta, sekarang daddymu sudah mati. Kau...bahkan hanya bisa menyusahkan saja. Aku sangat berharap kau mati di saat kau koma berbulan bulan Joevanka. Tapi sepertinya Tuhan masih sayang kepadamu. Bahkan di hari yang tidak ku harapkan kau sadar..." Kata Mellisa menekan setiap perkataannya. Sampai ia mengeraskan rahangnya karena menahan emosinya.


" Apa maksudmu auntie? " Kata Joevanka menahan emosinya yang siap meledak kapan saja. Namun untuk saat ini ia masih berusaha menahannya. Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan kuat.


" Apa masih kurang faham, aku membiarkanmu bahkan tidak membayar pengobatanmu, agar kau mati...aku muak melihatmu bertahan dengan selang ventilator yang di pasang untuk menyambung pernapasan-mu. " kata Melisa dengan nada sangat dingin.


Mendengar itu, bagikan tamparan yang melekat tanpa rasa sakit. Joevanka melangkah mundur ke belakang dan menggeleng pelan, matanya memandang tangannya yang gemetar. Ekspresi wajahnya menegang. Air matanya langsung terjatuh begitu saja. Ia bahkan tidak percaya dengan apa yang di dengar nya saat ini.


" Kamu hidup, karena bantuan keluarga Donisius. " Melisa tertawa, " Mereka mengirimkan biaya pengobatanmu, jika tidak kau sudah mati bersama Lionel dan Isabel. Jadi sekarang, auntie tidak akan biarkan keluarga Donisius membawamu lagi. Lusa sudah ada pengusaha membeli-mu. Jadi mulai besok, kau tidak di izinkan keluar lagi, Mengerti? " Nada suara di dalam kalimat Melisa begitu kental.


" Auntie, kenapa kau kejam? " teriak Joevanka dengan derai air mata. Ia tidak menginginkan seperti ini. Ia kembali untuk mencari kebahagiaan. Bukan seperti ini yang ia inginkan.


Jemari kuat Melisa mencengkeram pundak Joevanka


" Dari kecantikanmu, kau bisa menghasilan uang banyak, jadi aku menjualmu JOEVANKA..." Kata Melisa dengan ketus. Ia mendorong tubuh Joevanka dengan kasar.


" Sekarang kau masuk...! " kata Melisa menekan setiap perkataannya.


" Jangan lakukan itu auntie..." Joevanka berusaha menghindari cengkraman tangan Melisa.


" Apa yang kau lakukan auntie, lepaskan aku!! " Kata Joevanka memberontak.


โ€œDiammmm !!!.โ€ Suara lantang itu membuat Joevanka tidak mampu melawan. Melisa mendorongnya masuk ke dalam kamar gudang.


Aaahhhhhhhhh tubuh Joevanka terdorong dan membuatnya tersungkur jatuh. Melisa langsung menguncinya di dalam dan membiarkan Joevanka berteriak di sana.


" Cih...dasar menyusahkan, lusa kau akan di beli dengan harga mahal. Tunggu saja, nikmati kehidupan yang sebenarnya. Kau akan merasakan kebahagiaan dari lelaki kaya dan membuatmu tidak kekurangan. " Ucap Melisa menatap pintu kamar dan meninggalkan Joevanka terkurung di sana.


Melisa membuang ponsel Joevanka. Melisa tidak akan membiarkan Joevanka berhubungan dengan Keluarga Donisius lagi. Melisa sampai kesal Ivander bahkan menghubungi Joevanka sampai ribuan kali. Tapi Melisa tidak mengangkatnya, ia bahkan menyimpannya ke laci nakas. Untuk kali ini, Melisa akan memusnahkan ponsel ini. Melisa tersenyum sinis ketika ponsel itu tenggelam di dalam air.


" Selamat tinggal keluarga DONISIUS..."


.


.


BERSAMBUNG


.


.


๐Ÿ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU๐Ÿ’Œ


๐Ÿ’Œ BERIKAN VOTEMU ๐Ÿ’Œ

__ADS_1


๐Ÿ’Œ BERIKAN BINTANGMU


__ADS_2