WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Joevanka merasa bahagia.


__ADS_3

💌 Whisper of love 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Suasana pagi ini begitu sepi. Angin diam, seperti tertahan oleh suatu kesedihan yang mendalam. Bulir-bulir embun yang jatuh dari langit pun beku di atas daun-daun yang berjatuhan menguning kering. Begitu sunyi, sangat sunyi sesuai dengan perasannya saat ini. Joevanka menjatuhkan kakinya di lantai. Berjalan melangkah keluar balkon dan ia bersandar pada pagarnya.


Hari ini Joevanka akan melakukan pemerikasaan untuk meyakinkan dirinya atas teka teki penyakitnya. Di Australia dokter mengatakan penyakitnya tidak serius. Kenapa disini dokter seakan mengatakan seolah hidupnya tidak akan lama lagi. Huftt Joevanka menghembuskan napasnya lewat mulut.


Joevanka menatap jauh, memandang ke arah jalan. Sebagaimana pagi-pagi biasanya, terlihat adanya lalu-lalang para manusia menjalani takdir kehidupan. Sebagian dari mereka mengejar rejeki untuk memenuhi kehidupan mereka.


" Pagi yang menyedihkan? " Joevanka menggumam dalam hati dengan tersenyum miring.


Seharusnya pagi ini adalah simbol dari semangat memulai segala sesuatu. Tapi baginya, pagi ini seperti mengundangnya untuk menangis. Begitu sunyi. Seolah-olah pagi ini seakan tahu isi hatinya dan kesedihannya. Joevanka memejamkan matanya, merasakan angin pagi menyapu wajahnya. Cuaca pagi sehabis hujan masih bisa ia rasakan. Masih terasa sejuk. Namun hatinya tidak bisa merasakan kesejukan pagi ini.


Joevanka sudah minta izin kepada Ivander agar tidak masuk ke kantor. Ia harus bersiap menemui dokter hari ini. Melakukan berbagai pemeriksaan. Jika ia sudah tau pasti dengan hasilnya. Joevanka akan segera memberitahukan kepada Ivander. Lelaki yang selalu membuatnya bahagia. Bahkan Joevanka terkadang senyum-senyum sendiri. Cinta memang luar biasa.


Perlahan-lahan senyum itu hilang terbawa kesunyian pagi. Sesak, hampa, seperti ada lubang tiba-tiba terbuka di dalam dirinya yang terasa menyakitkan. Air matanya meleleh pelan membasahi pipinya.


Suara ponselnya berdering mengagetkannya. Joevanka berjalan dan melihat panggilan masuk dari pria kesayangannya.


" Selamat pagi kelinci manisku! " Ivander menyapa Joevanka dari seberang.


" Selamat pagi juga tuan tampanku." Jawab Joevanka tersipu.


" Sudah sarapan? "


" Belum, aku baru bangun."


" Dari tadi aku tidak tenang vanka, aku gelisah. Apa aku saja yang mengantarmu? "


" Jangan sayang, pagi ini kau ada rapat. Aku bisa pergi sendiri."


" Bagaimana jika Halbret?"


Joevanka tersenyum. "Jangan menyusahkan Halbret. Aku sudah bilang, bisa pergi sendiri. Aku bukan Joevanka yang dulu, yang tidak tahu jalan pulang."


" Hahahaha.." Ivander tertawa. " kau masih ingat?"


" Tentu saja aku masih ingat, pada saat itu aku menyebutmu MY HERO."


Ivander kembali tertawa. " Kau membuatku ingin mencium mu sayang." kata Ivander.


" Nanti kita bisa lakukan itu."


" Hahaha..Baiklah, jika ada apa-apa hubungi aku.Aku dalam perjalanan ke kantor sayang."


" Oke, selamat bekerja pria tampanku."


" Baiklah, aku tutup ya.."


TUT TUT TUT


Panggilan terputus, Joevanka seakan mendapat kekuatan baru. Masih ada harapan. Sekarang ia lebih bersemangat lagi. Hasil dari pemeriksaannya, Joevanka serahkan kepada yang maha kuasa. Kuncinya adalah tidak putus asa, terus berusaha untuk kesembuhannya, dan tetap berpengharapan kepada sang sumber hidup. Jika Tuhan mengijinkan sesuatu terjadi, tentu ada maksud baik di balik hal itu.


" Semangat Vanka, tiada yang mustahil bagi-Nya."


⭐⭐⭐⭐⭐


Joevanka memilih rumah sakit yang memiliki alat Neurologi yang lengkap. Ia membawa amplop coklat hasil dari pemeriksaannya dari London dan Australia. Setelah melakukan pendaftaran, Joevanka menunggu giliran untuk melakukan pemeriksaan.


" Nona JOEVANKA? " panggil perawat berdiri mencari nama yang baru ia disebutkan.


Joevanka bangkit dan mengangkat tangannya, ia langsung mendatangi perawat.


" Kita melakukan pemeriksaan tekanan darah dulu ya.. " Kata perawat dengan ramah.


Joevanka hanya mengangguk dan duduk di hadapan perawat untuk melakukan pemeriksaan. Tak butuh lama setelah perawat mencatat tekanan darahnya. Ia tersenyum dan berkata.


" Oke, silahkan nona, dokter sudah menunggu anda." Kata perawat menunjuk jalan.


" Terima kasih." Kata Joevanka bangun dari duduknya mengikuti satu perawat yang membuka pintu untuknya.


DEG DEG

__ADS_1


Jantung Joevanka berdebar ketika memasuki ruangan dokter. Udara dingin di ruangan itu terasa pas. Wangi jeruk dari pengharum ruangan menambah kesegaran ruangan dokter. Ruangan pemeriksaan dengan pencahayaan yang cukup terang membuat jantung Joevanka berdetak lebih kencang. Ia melakukan ritualnya menghembuskan napasnya lewat mulut mencoba tenang.


Seorang pria berkaca mata lengkap dengan jas putihnya bangun dan dari duduknya menyambut kedatangan pasiennya.


" Selamat pagi ibu Joevanka? Silahkan duduk! " Dokter mempersilahkannya duduk.


Joevanka mengambil duduk tepat di hadapan dokter. Sementara perawat hanya berdiri tidak jauh dari dokter.


Dokter langsung melakukan anamnesis secara sistemik dan memberikan beberapa pertanyaan kepada Joevanka.


" Apa keluhannya ibu Joevanka?"


" Saya sering mengalami muntah dan sakit kepala dokter."


" Sejak kapan anda muntah dan pusing? "


" Dua tahun belakangan ini dokter, terakhir saya mengalami muntah hebat dan tidak bisa mengendalikan rasa sakitnya."


" Apa ibu Joevanka sulit membuka mata atau sulit menutup mata? atau gangguan penglihatan seperti mata kabur atau penurunan tajam penglihatan secara tiba-tiba?" Tanya dokter.


Joevanka menggeleng " Mata saya masih normal dok. Saya pernah mengalami kecelakaan dok dan koma selama 11 bulan."


Wajah dokter mengernyit. "Apa anda dirawat disini?"


" Tidak, saya dirawat di rumah sakit St Thomas, di London."


Dokter duduk bersandar, ekspresi wajahnya berubah sambil memegang dagunya dan berpikir.


" Apa anda membawa hasil medisnya?"


" Ini dok.." Joevanka menyerahkan amplop coklat kepada lelaki yang berjas putih itu. Dokter Mark membuka amplop coklat dan melihat hasil kesehatan pasiennya.


"Saya juga pernah melakukan pengobatan di Australia, kata dokter di sana, ini tidak terlalu serius, dokter hanya menganjurkan istirahat cukup dan banyak mengkonsumsi suplemen dan makan obat teratur. Muntah dan sakit kepala yang saya alami, Itu hanya karena efek dari kecelakaan delapan tahun yang lalu."


" Itu penjelasan dokter di Australia?" tanya dokter Mark membuang napas singkat dan melipat kedua tangannya diatas meja. Memandang Joevanka.


" Ya dok.."


" Hasil pemeriksaan yang saya baca dari rumah sakit di London dan ini terakhir di Australia. Hasilnya memang sudah bagus. Seperti hasil tes laboratorium, foto Rontgen, CT scan, MRI, EEG, yang pernah anda jalani. Tapi? jika anda kurang yakin kita bisa melakukan pemeriksaan EEG. kita perlu melihat bagaimana pemeriksaan dengan menggunakan elektroda yang dipasang di kulit kepala untuk mendeteksi aktivitas listrik pada otak. EEG berfungsi untuk membantu mendiagnosis kejang, kerusakan otak akibat cedera kepala. Pemeriksaan ini membutuhkan waktu 1-3 jam tergantung kondisi ibu Joevanka. Apa anda bersedia melakukannya? "


" Saya bersedia dok." Ucap Joevanka dengan pasti.


" Apa anda datang bersama keluarga?"


" Oke kalau begitu kita bisa mulai." Dokter memberikan kode kepada perawat yang berdiri di sampingnya. "Sebelum ibu Joevanka datang kesini, apa anda mengonsumsi kopi, teh, coklat, atau meminum soda?" Tanya dokter.


" Tidak dok, saya hanya sarapan dan minum air putih saja."


"Bagus..Karena minuman-minuman tersebut harus dihindari karena memiliki pengaruh stimulasi perubahan gelombang EEG." kata dokter Mark.


Joevanka hanya mengangguk pelan tanda ia mengerti maksud dari dokter.


" Sekarang ikut saya ibu Joevanka." kata Dokter mengajak Joevanka menuju ruang bagian khusus untuk melakukan pemeriksaan EEG.


Joevanka diminta untuk berbaring dengan tenang. Dokter Mark masih berdiri di samping Joevanka memperhatikan asisten pribadinya memasangkan elektroda-elektroda pada kulit kepala Joevanka untuk merekam aktivitas elektrik pada berbagai tempat di kepala. Joevanka terlihat tenang dan mulai memejamkan matanya untuk mendapat hasil yang baik. Selama proses berlangsung, aktivitas otak akan terekam pada selembar kertas Ensefalogram.


" Tidak perlu takut ibu Joevanka kita hanya melakukan pemeriksaan EEG ini hanya sekita 60 menit saja."


Joevanka hanya mengangguk, ia mengepalkan tangannya dalam hati Joevanka terus mengucap doa. Semoga hasilnya baik baik saja.


" Ibu Joevanka bisa tidur, karena beberapa gelombang otak abnormal hanya terlihat jika saat anda tidur. Tetap tenang dan jangan takut agar hasilnya bagus. Anda terlihat tegang sekali ibu Joevanka." Kata dokter tersenyum melihat Joevanka menutup matanya hingga garis mata dan hidungnya terlihat.


DI SISI LAIN KANTOR DONISIUS


Setelah melakukan rapat, ia kembali ke kantornya. Halbret berdiri tidak jauh dari pak direktur sudah duduk di kursi kekuasaannya. Ia memejamkan matanya menengadah keatas sambil memutar-mutar kursi kekuasaannya yang beroda empat itu.


Bayangan Joevanka seakan menari-nari di otaknya. Ia tersenyum sampai tidak menyadari jika Halbret menggeleng bingung melihat dirinya.


" Permisi pak.."


Ivander tersadar dari lamunannya. Ia kembali bersikap profesional dan memperbaiki posisi duduknya.


" Ada apa Halbret? " tanya Ivander.


" Saya hanya mengingatkan. Jam makan siang anda bersama bapak Wardian, saya sudah reservasi restoran nya."


" Oke, terima kasih. Kau bisa kembali."


" Baik pak! " Halbret memperbaiki posisi tubuhnya dengan merapatkan kakinya lalu membungkukkan badannya seraya memberi hormat. Ia lalu berjalan meninggalkannya ruangan pak direktur.

__ADS_1


Ivander kembali tersenyum membayangkan wanita yang selalu membuatnya bahagia.


" Belum apa-apa aku sudah merindukanmu kelinci manisku." Ivander mengambil ponsel untuk menghubungi Joevanka. Ia mencari nama kontak 'Sayangku Vanka' dan ia kembali dalam ulasan senyum dan akhirnya Ivander menekan tanda panggil.


" NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK DAPAT MENERIMA PANGGILAN,COBALAH BEBERAPA SAAT LAGI."


Wajah Ivander mengerut " Tidak aktif?" Ivander membuang napasnya dengan kasar. Ia masih tidak percaya dan kembali menatap ponselnya. Joevanka tadi mengatakan ingin mengunjungi apartemen orangtuanya karena sedang bermasalah dan kini ponselnya tidak aktif. Apa Joevanka tidak ingin di ganggu? Ivander menggeleng, ia kembali menekan tombol panggil, namun jawaban operator masih sama.


Ivander kembali bersandar di kursi kekuasaannya. " Apa dia masih sibuk,atau jangan-jangan Joevanka mengalami kesulitan?" Ivander bertanya-tanya dengan kerutan dahi, hatinya mulai gelisah.


Namun karena pekerjaannya yang menumpuk, dimana jam siang, ia harus bertemu dengan Wardian. Ivander menghentikan rasa khawatirnya. Ia harus tetap berpikir positif. Ivander kembali fokus pada pekerjaannya.


⭐⭐⭐⭐


Joevanka kembali duduk diruang dokter setelah ia selesai melakukan pemeriksaan EEG. Joevanka menunggu dengan hati yang gelisah. Ia mencengkram tangannya yang sudah mulai basah karena berkeringat.


Dokter menatap hasil dari selembar kertas yang terekam melalui ensefalogram.


Dokter menarik napasnya dan tersenyum kepada Joevanka " Sudah siap ibu Joevanka?" Dokter memperbaiki posisi duduknya dan kembali menatap kertas untuk membaca hasilnya.


" Sudah dok." jawab Joevanka dengan senyum tipis. Walau gemuruh di dalam hatinya seperti berperang melawan musuh.


" Dari hasil pemeriksaan EEG, tidak ada penyakit ditemukan, seperti tumor atau kelainan otak lainnya."


Mata indah Joevanka sudah berkaca-kaca, penuh dengan air bening yang masih terkumpul dikelopak matanya. Ia masih menunggu penjelasan dokter dengan perasaan was-was.


" Kami hanya menemukan darah yang membeku di dalam otak ibu Joevanka, itulah yang membuat anda muntah disertai sakit kepala yang luar biasa."


" Apa itu membahayakan dok? "


" Tidak terlalu membahayakan, yang saya lihat gumpalan darah ini hanya bekuan Vena terbentuk di pembuluh darah, dan berkembang perlahan dalam jangka waktu yang lama. Karena pengobatan ibu Joevanka terhadap kecelakaan dulu tidak di tuntaskan dengan baik dan ibu Joevanka tidak melakukan terapi obat-obatan. Sekarang terlihat seiring berjalannya waktu dan beruntung gejala itu masih ringan."


" Apa yang harus saya lakukan dokter? " wajah joevanka terlihat mengerut serius. Apapun ia lakukan untuk sembuh. Hatinya begitu campur aduk antara bahagia dan apapun itu.


" Kita akan membuat rencana terapi, tapi sebelumnya kita menentukan jenis terapi pengobatan yang sesuai dengan kondisi anda."


" Seperti apa itu dokter?"


" Kita akan lakukan perawatan, baik rawat jalan atau rawat inap. Tapi untuk sementara kita rawat jalan. Kita akan lihat perkembangannya satu bulan kemudian jika darah itu masih membeku, kita harus melakukan operasi seperti kraniotomi. Tapi kita berharap semoga saja operasi tidak dilakukan." Jelas dokter tersenyum. Joevanka akhirnya menjatuhkan air matanya dan terus mendengar penjelasan dokter.


" Untuk mempercepat penyembuhan hindari makanan junk food ataupun fast food. Konsumsi makanan yang bergizi dan perbanyak makan buah. Saya yakin ibu Joevanka akan cepat sembuh."


" Apa saya akan benar-benar sembuh dok?" Tanya Joevanka.


" Saya yakin anda bisa sembuh, jika melakukan terapi obat dengan baik. Saya akan berikan resep obat untuk anda konsumsi. Ini suplemen vitamin untuk membantu penyembuhan darah membeku dari otak dan bulan depan anda bisa kembali lagi."


" Baik dokter. "


" Apa ada yang mau ditanyakan lagi ibu Joevanka? "


" Sepertinya tidak ada dokter."


" Oke, saya rasa cukup sampai disini." Dokter selesai mencatat resep obat yang akan ditebus Joevanka.


" Anda bisa langsung menebusnya di apotik rumah sakit." Dokter menyerahkan resep obat.


" Terima kasih dokter. Saya pamit undur diri." Joevanka mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan dokter Mark." Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih dokter." Joevanka menundukkan kepalanya.


Perawat membuka pintu untuk Joevanka, Ia tersenyum begitu elegan kepada perawat yang tersenyum dengannya. Ia tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Joevanka begitu bahagia. Apa yang ditakutinya hanyalah sia-sia. Joevanka mendesah menatap langit, Ia menutup matanya menengadah keatas.


Benar..ia harusnya tidak perlu khawatir tentang apapun juga, Ia harusnya lebih percaya dalam segala hal keinginan dan menyerahkan kepada-Nya dalam doa. Joevanka tidak perlu berteriak melintasi ruang untuk menemukan Tuhan. Dia akan tahu apa yang Joevanka perlukan. Lakukan semua yang kamu bisa vanka. Dengan segala cara yang kamu bisa dan selama kamu bisa.


Joevanka tersenyum melangkah pasti sambil menyeka air matanya yang terjatuh di pipinya.


Dia tidak perlu takut lagi.


.


.


BERSAMBUNG


❣️ Butuh perjuangan banget nulis ini, semoga tetap suka ya 🤗 Salam sehat buat my readers tersayang 😘😍🤗


.


.


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌

__ADS_1


💌 BERIKAN VOTEMU 💌


💌 BERIKAN BINTANGMU💌


__ADS_2