
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Ivander bernapas lega dan Ia sangat bersyukur Joevanka baik baik saja.
" Sekarang kita pulang, Ivannia sangat mencemaskanmu terutama mommy. " Kata Ivander membantu joevanka untuk bangkit, Ia mengangkat Joevanka dan Ivander menarik sebelah lengannya. Joevanka sempat terjatuh, kakinya gemetar menahan tubuhnya yang kedinginan.
" Naiklah ke bahuku ! " kata Ivander menekuk salah satu kakinya. Namun sebelum Joevanka naik dalam gendongan Ivander, tubuh joevanka tiba tiba lemas seperti tidak bertulang, Ia terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Ivander sangat terkejut, dan langsung mengangkat kepala Joevanka kedalam pangkuannya.
" Vanka! " Ivander menepuk pipi Joevanka.
Ivander panik dan tidak menunggu lama, ia mengangkat tubuh Joevanka dan menggendongnya di bahu. dengan cara seperti ini Ivander akan mudah membawa joevanka, karena jarak mobil yang ia parkir begitu jauh, Ivander berlari cepat sambil mengatur napasnya yang tersengal, tubuh mereka berdua sama sama basah.
" Bertahanlah joevanka...! " Ucap Ivander membawa Joevanka yang basah karena hujan. Ivander berlari dengan menggendong tubuh Joevanka.
Mereka akhirnya sampai ke mobil, dengan hati hati Ivander meletakkan Joevanka ke kursi belakang mobil .
Dengan wajah panik Ivander segera naik ke kemudi dan menyetir menuju ke rumah sakit. Ivander sudah menghubungi Brian agar menyusul ke rumah sakit untuk membawakan pakaian untuknya.
Sampai dirumah sakit, Ivander menginjak pedal rem dan memarkir asal mobilnya. Ia menarik rem tangan mobil dan langsung berlari menuju IGD untuk meminta bantuan.
Beberapa tim medis yang bekerja sift malam membawa ranjang pasien dan menaruh Joevanka ke atasnya. Ivander mengikuti perawat yang mendorong ranjang pasien menuju IGD.
" Silahkan menunggu diluar tuan ! kami ingin mengganti pakaian pasien. " kata salah satu perawat kepada Ivander.
Dengan raut wajah khawatir, Ivander melangkah keluar dari IGD. Ia menarik napasnya dalam dalam. Ivander nampak mondar mandir didepan pintu ruangan IGD.
Tiba tiba salah satu perawat berhambur keluar. Terlihat jelas wajah perawat sangat panik, karena melihat pasien menggigau dan bergumam tidak jelas. Tubuh pasien menjadi kaku dan sulit bergerak, Joevanka mengalami kejang. Bibirnya terlihat biru, denyut jantungnya lemah dan tidak teratur.
" Dokter pasien mengalami hipotermia ! " seru perawat berlari keluar melihat dokter berjalan menuju IGD untuk melakukan pemeriksaan kepada Joevanka. Mendengar itu dokter dan Ivander melangkah panjang menuju IGD. Dokter menepuk lembut pipi pasien.
" Nona...nona...apa anda bisa mendengarkan suara saya? " kata dokter berusaha berbicara pada pasien.
__ADS_1
Joevanka masih menggigau dan merasakan tubuhnya gemetar. Ia bisa mendengar suara dokter tapi ia tidak mampu membuka matanya, tubuhnya gemetar dan susah bernapas, wajahnya terlihat pucat.
" Apa yang kalian tunggu, pasang oksigen! lembapkan terlebih dahulu melalui masker untuk menghangatkan saluran pernapasan dan membantu meningkatkan suhu tubuh pasien! " Bentak dokter kepada perawat yang terlihat panik. Dengan tidak sabaran dokter langsung mengambil alih. Tangannya bergerak cepat untuk pemberian cairan steril yang telah dihangatkan. Cairan steril dimasukkan ke dalam rongga perut menggunakan selang khusus. Dokter ikut panik karena denyut jantung Joevanka sempat berdetak lemah.
" Apa yang terjadi? kenapa pasien baru dibawa kerumah sakit? " Dokter menatap Ivander dengan tajam dan alisnya melengkung ke tengah, dokter kembali menatap pasien. " Hipotermia bisa membahayakan pasien dan harus mendapatkan penanganan medis, apa kau tahu? Hipotermia dapat berakibat fatal bahkan bisa menyebabkan kematian . " ucap dokter kembali memeriksa tekanan darah joevanka. Ia masih melakukan pertolongan buat Joevanka.
Berlahan-lahan napas Joevanka kembali stabil. Tubuhnya sudah mulai menunjukkan perubahan, suhu tubuhnya sudah mulai normal. Joevanka tidak merasakan kedinginan lagi.
Ivander hanya diam tanpa ekspresi, ia menatap Joevanka yang terbaring lemah. sesungguhnya ia juga tidak mengerti hipotermia itu apa. Setelah dokter menjelaskan, Ivander begitu terkejut. terdengar sepele, ternyata hipotermia bisa menyebabkan kematian. Berapa jam berada diluar dalam keadaan basah tentu membuat Joevanka terkena hipotermia.
" Bagaimana sekarang keadaannya dokter? " tanya ivander dengan suara terendahnya. Ia tetap berdiri disebelah dokter yang masih menangani Joevanka.
" Sudah mulai membaik, napasnya sudah mulai stabil. Begitu juga dengan tekanan darahnya sudah normal." jawab dokter singkat, dokter mulai melepaskan cairan steril yang dimasukkan ke dalam rongga perut Joevanka tadi dan memeriksa suhu tubuh Joevanka agar benar benar normal, baru dokter berani memindahkan pasien.
" Jangan pernah menganggap sepele hal ini. Jika pasien tidak langsung ditangani, nyawanya tidak akan selamat. Tapi sekarang pasien sudah membaik, tidak perlu khawatir lagi. Kami akan mengatur suhu ruangan nanti. Agar tubuhnya tetap hangat. " Kata dokter menjelaskan kepada ivander. Ivander menghembuskan napas lega. Ia tidak tahu bagaimana khawatirnya Ivander tadi.
" Tapi kita tunggu sampai pasien bangun. Bisa saja dampak yang dirasakan pasien hipotermia kembali kejang, Kita akan terus perhatikan keadaan pasien. kita tetap melihat kondisi pasien setelah ia bangun nanti. Jika dalam setengah jam ia tidak mengalami kejang, pasien tidak akan mengalami hipotermia lagi. Asal jangan sampai hal tadi terulang lagi, kemungkinan pasien akan mengalami lagi." jelas dokter
" Baik dokter! terima kasih atas penjelasannya. " kata Ivander menjawab.
" Pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang untuk melakukan perawatan selanjutnya. " ucap dokter kemudian meninggalkan IGD setelah di rasanya pasien sudah mulai membaik.
Sementara para perawat mendorong tubuh Joevanka dengan Brankar menuju ruang perawatan yang diikuti Ivander.
" Tuan Ivander ! " Brian berlari kecil mengikuti Ivander. Langkah Ivander berhenti ketika suara tak asing memanggilnya.
" Apa yang terjadi tuan? " Kata Brian mengikuti langkah ivander yang masih mengikuti perawat.
" Ceritanya panjang, kalau bisa daddy dan mommy jangan sampai tahu kejadian ini, apalagi soal joevanka di rawat. " Kata Ivander dengan nada datar.
Mereka sudah berada di ruangan rawat inap dimana Joevanka harus mendapatkan perawatan selanjutnya. Perawat memindahkan tubuh Joevanka ke tempat ranjang rumah sakit. Setelah mengecek selang infus dan keadaan pasien mereka pamit undur diri.
" Tuan ini pakaian yang anda butuhkan! " Brian menyerahkan paper bag kepada Ivander yang berdiri tanpa ekspresi.
" Apakah anda membutuhkan sesuatu Tuan? " Tanya Brian sedikit menoleh kepada lelaki yang nampak dengan wajah kakunya.
" Besok tolong periksa CCTV di kampus universitas xx ! " Kata Ivander tetap dengan pandangan lurus. Ia tetap memperhatikan Joevanka yang masih nyaman dengan tidurnya.
" Bukankah itu kampus tuan ivander? Buat apa aku memeriksa CCTV disana? " Batin Brian berbicara dalam hati. Ia menghadap ivander meminta penjelasan lebih.
Wajah Brian mengerut. " Besok hari minggu tuan, buat apa saya memeriksa CCTV di kampus tuan? " kata Brian penuh tanda tanya.
__ADS_1
" Aku ingin kau memeriksa CCTV dari jam 17.00 wib. Jangan banyak pertanyaan, tolong besok laksanakan. " titah Ivander.
Brian hanya pasrah dengan mengangguk, Ivander hampir sama watak kerasnya dengan Tuan Aaron. " Baik Tuan ! " jawab Brian dengan pasti.
" Serahkan padaku jika kau sudah mendapatkan salinannya."
" Bagaimana saya mencari tahunya tuan? " Kata kata itu terlontar begitu saja, membuat ia menutup mulutnya dengan cepat.
Dengan wajah kaku dan dingin, Ivander menatap Brian dengan tajam.
" Maafkan saya tuan! Besok saya akan mendapatkan salinannya, bagaimanapun caranya. " Ucap Brian dengan nada canggung.
" Sekarang kau boleh keluar! "
" Keluar mana tuan? ehmmm maksud saya, apakah saya harus menunggu diluar atau langsung pulang saja? " Kata Brian terbelalak, ia kembali menyadari kesalahannya. Ivander mendengus kasar.
" Menunggu di luar Brian! aku masih membutuhkan bantuanmu." Ivander berkata dengan nada datar dan ketus.
" B-baik tuan! " Kini Brian tergagap karena melihat tatapan Ivander yang penuh penghakiman. Brian pamit undur diri, ia membungkukkan badannya seraya memberi hormat.
Ivander kembali menatap Joevanka, ia menarik napasnya dalam dalam lalu menghembuskan napasnya lewat mulut. Ia mencoba menstabilkan napasnya untuk menenangkan diri.
Ivander melangkah menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya yang masih basah.
Tak butuh waktu lama, Ivander sudah selesai membersihkan dirinya. Ia berjalan keluar dari kamar mandi dan melihat Joevanka masih tertidur.
Ivander mendekati ranjang rumah sakit, merapikan selimut agar menutupi seluruh tubuh Joevanka. Ia duduk dan menatap Joevanka. Perasaannya saat ini campur aduk. Ia kembali larut dalam pikirannya. Tidak tahu apa yang dipikirkannya saat ini.
Ivander kembali menatap Joevanka dengan tatapan tak terbaca. Tanpa sadar Ivander tersenyum kecil.....
BERSAMBUNG
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMU π
__ADS_1