
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Beberapa hari setelah kembali dari kegiatan mahasiswa pecinta alam. Seperti biasa Ivander sibuk mempersiapkan Magang Praktik Kerja Bisnis di perusahaan ternama di tengah kota. Mahasiswa diberikan waktu magang selama satu bulan.
Kerja praktek yang akan dilakukan mulai besok. Praktek Kerja Bisnis yaitu mahasiswa melakukan kerja nyata di perusahaan pada bagian pekerjaan dasar ilmu pengetahuan bisnis dan jadwal kerja praktek sesuai kesepakatan dengan perusahaan yang sudah lama menjalin kerjasama dengan universitas xx. Ivander sendiri memiliki IP tertinggi, Ia salah satu mahasiswa yang bisa menyelesaikan kuliahnya dengan cepat.
" Dude, beberapa hari ini kau selalu menghindariku. " keluh Samuel. Ia tidak terima sahabatnya memperlakukannya seperti itu. Ia sengaja menyusul Ivander di perpustakaan.
" Kau lihat sendiri kan, aku sedang sibuk mempersiapkan magang kita besok. " sahut Ivander menatap Samuel, Ia mengambil posisi duduk di depannya.
" Apa kau pikir aku gak sibuk juga? tapi kau berbeda dude..! " Samuel meyakinkan dengan perasaannya, Ivander terlihat berubah ketika mereka kembali dari kegiatan mahasiswa pecinta alam.
" Itu hanya perasaanmu saja. " Kata Ivander menjawab samuel. Ia melirik jam yang ada di tangannya. Ia mengambil tasnya. Ivander bangkit dan berjalan meninggalkan perpustakaan, dengan cepat Samuel menyusulnya.
" Dude, apa kau tahu kabar Joevanka? ia juga berusaha menghindariku, setiap aku telepon, dia tidak mau mengangkatnya. Hatiku sakit dude.." Keluh Samuel menunjukkan wajah sedihnya.
Ivander menghentikan langkahnya, membalikkan badannya dan menatap samuel.
" Apa kau pikir aku bodyguard Joevanka, Samuel? setiap hari kau selalu menanyakan itu. " Kata Ivander disertai tarikan napas yang panjang dan membuangnya dengan kasar.
" Kalian kan satu rumah, gak mungkin juga aku tanya sama pak Dekan, kan gak lucu, dude? " kata samuel.
Ivander merasa jengah mendengar pertanyaan itu setiap hari. Pertanyaan yang selalu sama dan jelas membuat telinganya sakit.
" Aku tidak tahu samuel, lebih baik kau bolos saja dan cari tau sendiri apakah Joevanka ada di rumah atau tidak..! " Kata Ivander menaikkan alisnya setengah, dengan wajah tanpa ekspresi, Ia kembali ke ruangan untuk mengikuti mata kuliah dari dosen pembimbingnya.
Huft...Samuel hanya bisa menghembuskan napasnya seraya mengangkat kedua bahunya. Percuma menanyakannya kepada Ivander. Toh ia tidak akan mendapatkan jawabannya. Lebih baik untuk saat ini mereka fokus dengan praktik kerja saja. Dengan cara seperti itu Samuel bisa melupakan prasangka buruknya.
* Disisi lain di kediaman Donisius *
Joevanka menyandarkan punggungnya kesandaran kasur. Joevanka memeluk lututnya, ia membenamkan wajah di antara kedua kakinya. Bahu Joevanka bergetar, ia terus menunduk dan memejamkan matanya. Tidak tahu sudah beberapa banyak air matanya habis. Semua ia tangisi, Joevanka tidak bisa jika tidak menangis, hatinya akan bertambah sakit. Apalagi mengingat semua
kata kata dari Ivander benar benar mengoyak hatinya. Malam itu, seperti mimpi buruk buatnya.
Tiba tiba panggilan telepon berbunyi di atas nakas, dengan cepat Joevanka melihat dilayar depan tertulis ' Auntie Melisa ' dengan cepat Joevanka menggeser tanda terima dari ponselnya.
" Halo Auntie! " Kata joevanka terdengar dengan suara serak habis menangis.
" Kamu serius vanka, apa benar kamu mau pulang? " pertanyaan pertama yang keluar dari Auntie Melisa.
" Ehmmmm.. " jawab Joevanka dengan gumaman. Ia kembali menutup mulutnya agar auntie Melisa tidak tahu jika ia sedang menangis.
" Kenapa sayang? " Tanya Melisa dengan nada lembut.
Sesaat Joevanka terdiam, Ia takut isak tangis yang sedari tadi di tahannya pecah dan auntie Melisa menjadi khawatir.
__ADS_1
" Vanka ! apa kau mendengar auntie? "
" Aku masih disini auntie. " Ucap Joevanka sesenggukan.
" Kamu menangis sayang? " nada suara auntie Melisa terdengar sangat mengkhawatirkannya.
" Tidak auntie, aku hanya flu . " Jawab Joevanka menutup mulutnya. Air matanya kembali terjatuh di pipinya.
" Kenapa kau mau pulang sayang, bukanlah kuliahmu belum selesai? Apa ada kendala belajarmu? atau kau tidak bisa beradaptasi di sana? " Pertanyaan pertanyaan yang beruntun di ucapkan Melisa.
Diam tidak ada sahutan dari Joevanka.
" Vanka, dengarkan auntie sayang, jika kau pulang, kau tidak bisa melanjutkan kuliahmu, auntie tidak bisa membayar uang kuliahmu. Kau tahu sendiri bagaimana keuangan auntie di sini. Jadi pikirkan baik baik sayang. "
" Biarkan vanka tinggal bersama auntie saja, aku selalu merindukan mendiang Daddy dan Mommy. Aku merindukan semua tentang tempat kelahiranku, bisa kan auntie? " Sesaat Joevanka terdiam.
" Vanka berhenti kuliah saja dan membantu auntie di toko kue. Bisa ya auntie, aku mohon auntie! " Ucap Joevanka terdengar sangat menyedihkan, ia memohon agar di izinkan pulang. Air matanya kembali menganak sungai. Ia tidak bisa tinggal di sini lagi. Apalagi Ivander sudah mengancamnya dan tidak ingin melihatnya, walau itu hanya semenit saja.
Terdengar auntie Melisa membuang napas panjang.
" Apa keluarga Donisius tidak memperlakukan dengan baik vanka? " tanya Melisa dengan suara terendahnya.
" Mereka sangat baik auntie, karena kebaikan mereka aku merasa tidak enak dan Vanka merasa terbebani. Aunty Anastasia sudah menganggap Vanka sebagai anaknya sendiri. " tubuhnya kembali bergetar menahan isak tangisnya kala ia mengingat wajah aunty Anastasia yang lembut dan selalu memberikan perhatian kepadanya.
Melisa kembali membuang napasnya dengan berat. " Auntie pikir Vanka bisa bahagia di sana sayang. Ya sudah, jika kau ingin pulang. Kau harus minta izin dengan mereka. Kapan saja auntie akan menerimamu. Lakukan yang menurutmu terbaik, Vanka." kata Melisa.
" Terima kasih Auntie..."
Tiba tiba panggilan terputus, Joevanka kembali menangis, Rangsangan untuk mengeluarkan air mata tak bisa ditolaknya. Air mata yang dari tadi di tahannya tumpah begitu saja. Terasa sakit dan meninggalkan bekas luka yang menyayat hati. Ia mengambil bantal untuk menutup wajahnya.
Kata kata yang terus terngiang seolah menari nari dalam benaknya.
" Bahkan aku berharap tidak ingin bertemu denganmu dan bahkan melihatmu sedetikpun, aku tidak ingin. "
Mengingat itu, tangisan Joevanka terdengar memenuhi ruangan. Begitu menyakitkan. Air matanya kembali menganak sungai, napasnya sesak. Joevanka mengerang dalam tangisannya. Semua kepedihan yang ia rasakan kembali datang, kehilangan orang tuanya dan semua hal yang menyakitkan hatinya. Luka di dalam hatinya terkoyak kembali.
ββββββ
Aaron Donisius melakukan pertemuan dengan perusahaan asing. Ia di dampingi istrinya Anastasia.
Sementara Betran tidak menjabat sebagai wakil direktur lagi. Daddy Christian memberikannya izin membuka cabang kembali dan Betran menjabat sebagai CEO di sana.
Sekarang, Aaron hanya bisa mempercayai dan mengandalkan istrinya. Aaron selalu mengajaknya walau hanya bagian penandatanganan kontrak saja.
Pukul 12.00 wib , sesuai janji makan siang. Aaron dan istrinya tiba di hotel berbintang yang ada dikota xx. Aaron berjalan seraya memeluk pinggang istrinya dari belakang. Mereka saling melempar senyum memasuki sebuah hotel untuk melakukan pertemuan bisnis dengan Jebran Gohan . Lelaki asal Turki ini sudah begitu lama ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan Donisius, lelaki yang dikenal pekerja keras ini. Jebran Gohan datang langsung bersama istrinya yang bernama Anka Gohan untuk menemui Aaron Donisius.
Aaron memasuki kamar hotel yang sudah di reservasi buat tamu pentingnya dan di sana mereka akan melakukan penandatanganan kontrak. Pegawai hotel membuka pintu kamar hotel dan mempersilahkan mereka masuk. Nampak Jebran dan istrinya sudah menunggu kedatangan Aaron dan Anastasia.
" Selamat siang Mr Gohan ! " sapa Aaron melangkah mendekati lelaki Turki itu, di ikuti oleh Anastasia.
Gohan dan istrinya menyambutnya dengan ramah.
" Apakah perjalanan anda menyenangkan Mr Gohan? " Tanya Aaron menjabat tangan Gohan dengan jabatan tangan yang kuat dan saling melemparkan senyum. Sementara Anastasia memeluk Anka Gohan, setelah mereka saling menanyakan kabar.
__ADS_1
" Tentu saja Mr Aaron! ehm, seperti yang saya lihat ternyata anda jauh lebih tampan dari di majalah bisnis yang sering saya lihat. " Kata Jebran Gohan membalas jabat tangan Aaron.
Hahahahah Aaron tertawa, begitu juga dengan Jebran Gohan membuat suasana menjadi hangat .
" Silahkan duduk! " Kata Jebran Gohan dengan ramah.
Mereka mengambil tempat duduk masing masing, Aaron sengaja melakukan pertemuan dengan Jebran Gohan di tempat ia menginap, karena lelaki Turki itu pertama kali datang ke negaranya. Tak butuh lama muncul pegawai hotel membawakan makanan untuk mereka santap siang ini.
Mereka menikmati makanan dengan baik. Semenjak Anastasia berbicara mengenai anak anak mereka tentunya.
Anastasia hanya bisa tersenyum ketika Anka Gohan memujinya. Sesekali mereka tertawa karena saling memuji.
Acara makan sudah selesai, pegawai hotel sudah membersihkan semua meja dan meletakkan Coffee dan teh di atas meja. Mereka akan menikmatinya di saat mereka membicarakan kerja sama nantinya.
Mereka berdiskusi,membahas urusan bisnis, memberikan pendapat pendapat terkait investasi, pasar dan modal, mereka sangat cerdas dalam soal perekonomian. Mereka pantas disandingkan bersama untuk kesuksesan kerjasama dalam bisnis ini.
Penandatangan kontrak kerja sama berjalan dengan baik, urusan bisnis telah selesai.
mereka belum meninggalkan hotel, perbincangan kecil masih mereka lakukan, sambil menikmati coffee dan teh yang ada diatas meja.
Tidak lama kemudian, Aaron dan Anastasia bangkit dan menyudahi perbincangan mereka.
" Kalau begitu, senang bekerja sama dengan anda tuan Jebran Gohan. " Kata Aaron bangkit berdiri.
" Ok, senang bekerjasama dengan anda tuan Aaron Donisius." Balas jebran Gohan tersenyum lebar, mereka bangkit dan menjabat tangan Aaron dan membalas dengan senyuman formal dan menjabat tangan Jebran, begitu juga dengan Anastasia yang berdiri tepat disebelah Aaron.
Anastasia memeluk Anka Gohan.
" Senang bertemu dengan anda Mrs Anka Gohan. Sampai bertemu kembali, semoga hari anda menyenangkan. "
" Terima kasih.." sahut Anka Gohan dengan lembut.
Jebran Gohan dan istrinya mengantarkan mereka sampai di depan pintu hotel. Mereka saling membungkukkan badan untuk perpisahan terakhir, sebelum Jebran gohan kembali malam ini. Aaron sendiri sudah mempersiapkan semua dari supir dan fasilitas lainnya untuk kenyamanan tamunya. Aaron dan Anastasia berjalan meninggalkan kamar Jebran Gohan. Kerja sama berjalan dengan baik. Aaron dan Anastasia tersenyum bahagia. Ia memeluk tangan suami dengan anggun.
Tiba tiba langkah mereka berhenti ketika seseorang memanggil mereka. Aaron dan begitu juga Anastasia berbalik dan melihat siapa yang memanggil mereka.
Tubuh Aaron menegang, ekspresi wajahnya berubah. Bahkan tubuhnya serasa kaku, ketika melihat wanita yang tidak ingin dilihatnya untuk selamanya, kini berdiri dihadapannya. Rahangnya bahkan mengeras. Kilatan marah jelas terpancar di bola matanya. Sementara Anastasia mencengkeram tangan suaminya dengan kuat. Dengan lembut Aaron menyentuh tangan istrinya, ia menatap istrinya lekat lekat dan tersenyum singkat.
" Jangan takut sayang, tidak ada yang perlu ditakuti. Percaya dengan aku." bisik Aaron tepat ditelinga istrinya.
" APA KABAR AARON DONISIUS? "
.
.
BERSAMBUNG
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
__ADS_1
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMU