
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Joevanka menyadari ini bukan jalan yang mereka lalui tadi. Jalan ini dipenuhi semak belukar dan tidak ada tanda jalur para pendaki.
" Tidak, yang saya ingat, ini bukan jalan menuju tenda. " Joevanka memutar tubuhnya dan kembali ke jalan yang sebenarnya.
Tanpa menyadari Joevanka berselisih jalan dengan Ivander. Dengan langkah cepat Joevanka menyusuri jalan yang sebenarnya, karena Joevanka masih ingat jalan yang sudah dilaluinya. Ia sedikit berlari karena hari sudah mulai gelap.
Terdengar suara memanggil namanya.
" JOEVANKA.....! "
Terdengar sayup sayup memanggil namanya, ia tahu suara itu.
" Samuel...? " Kata Joevanka dengan suara terendahnya, Ia mengernyitkan dahinya, mencari sumber suara. Ia semakin mempercepat langkahnya. Joevanka sangat bersyukur bisa di pertemukan dengan Samuel. Ia lebih bersemangat menyusuri jalan yang curam.
" Samuel.... aku di sini! " teriak Joevanka ketika melihat sosok Samuel. Lima orang yang berada di tim mereka langsung berlari menghampiri Joevanka.
" Kau tidak apa apa? " Kata Samuel memeriksa tubuh Joevanka. Bahkan memutar tubuh Joevanka untuk melihat keadaannya.
Ia mengernyit bingung, " Aku tidak apa apa Samuel. Kalian terlalu berlebihan..." kata Joevanka terkekeh.
" Bagaimana dengan kalungmu? apakah kau menemukannya? " tanya Samuel.
" Aku menemukannya. Ini.... " Joevanka menunjukkan kalung yang di lehernya.
" Semua sudah menunggumu, ini sudah hampir malam. Kita pulang! " Kata Samuel.
" Bagaimana dengan Ivander? " kata Elmon.
" Oh benar, Ivander mencarimu Joevanka. Apa dia sudah Kembali ke pos ya? " kata Samuel.
" Apa, Ivander mencariku? " tanya Joevanka menunjukkan ke dirinya. Ia sedikit terkejut, karena tidak bertemu dengan Ivander.
" Ya, Lona tadi mengatakan jika kau kembali ke gunung, untuk mencari kalungmu yang hilang. " jelas Samuel.
" Aku rasa lebih baik kita kembali dulu, mungkin saja Ivander sudah kembali kan..
" Kata Carles menimpali pembicaraan.
" Baiklah kita kembali.." Kata Samuel.
Mereka berbalik badan lalu pergi. Mereka meninggalkan Ivander yang masih mencari keberadaan joevanka.
Tak menunggu lama mereka sudah sampai di pos tiga, semua orang yang nampak cemas menyambut kedatangan mereka. Namun tidak bagi Delia. Ia sangat terkejut Joevanka bisa kembali dengan selamat. Ia menggeram dan mengepalkan tangannya dengan kuat.
" Joe..." Lona langsung berlari memeluk Joevanka. " Kau tahu aku sangat cemas dan takut jika kau tersesat di hutan. " Keluh Lona dengan mata berkaca-kaca.
Joevanka tersenyum tipis, " Awalnya aku memang tersesat, tapi aku menyadari jika jalan itu bukan jalan yang kita lalui, aku memutar arah lagi. " kata Joevanka melepaskan pelukannya.
" Syukurlah, tapi di mana ketua? " tanya Lona mencari keberadaan ivander, ia menatap samuel untuk meminta jawaban.
" Apa kalian tidak bertemu dengan Ivander? " Sambung Lona.
Carles dan yang lain menggeleng.
" Kalau kita kembali mencari Ivander, yang ada kita saling mencari. Perjalanan kita hanya setengah jam lagi menuju tenda. Kalian lebih baik kembali ke sana. Biar kami di sini menunggu Ivander. " Kata Elmon.
" Samuel kau bisa menjadi penunjuk jalan buat mereka. Biar kami menunggu Ivander di sini. " kata Carles menimpali pembicaraan Elmon.
__ADS_1
" Baiklah... " Kata Samuel.
Mereka Kembali melanjutkan perjalanan menuju tenda. Hari semakin gelap, beruntung jalan jalan pos menerangi langkah mereka. Sementara di hutan tidak ada lampu pencahayaan. Samuel berharap Ivander membawa lampu senternya.
βββββ
Ivander nampak putus asa, untuk saat ini ia memilih kembali. Waktu sekitar pukul 8 malam, lampu senternya sudah mulai redup.
Saat ini kondisi kaki Ivander mengalami cedera ringan, tapi ia masih tetap berjalan di kawasan hutan yang sepi.
Di langit nan kelam menyembul sebuah sabit menunjukkan setengah badannya. Namun masih bisa di lihat oleh Ivander, bulan itu seakan mengikuti langkahnya, walau pohon pohon sangat rapat memenuhi hutan.
Tak tampak awan berjalan beriring mengawalnya, hanya sendiri di dalam hutan dalam sunyi yang senyap. Suara alam diterpa desiran angin mengiringi setiap langkahnya, mencekam dan semakin terasa.
Ivander tampak kesulitan berjalan, Ia merasakan nyeri luar biasa, dengan berjalan tertatih-tatih.
Dengan langkah cepat Ivander tiba di pos tiga. Di sana ada Carles dan Elmon menunggunya.
" Ivander? " Kata mereka berlari mendekat ketika melihat Ivander berjalan kesulitan.
" Apa Joevanka sudah kembali? " Awal kata yang di ucapkan Ivander.
" Ya dia sudah Kembali, Samuel menemukannya. " kata Elmon membantu Ivander duduk di pos untuk istirahat.
" Baguslah, apa Joevanka terluka ? " tanya Ivander kembali, raut wajahnya menunjukkan rasa cemas.
" Joevanka baik baik saja. " sahut Elmon.
" Syukurlah ..." jawab Ivander bernapas lega, ia tersenyum tipis.
" Jadi kalian memang khusus menungguku di sini Charles ? " Ivander bertanya.
" Kami menunggumu, karena kami mencemaskanmu Ivander. " Carles membuka suara.
Ivander tersenyum, ternyata masih ada yang mencemaskannya.
" Terima kasih atas perhatiannya. Aku rasa, sekarang, lebih baik kita kembali ke tenda ? rekan rekan kita pasti mencemaskan kita. " Kata Ivander berusaha bangkit.
" Aku bisa berjalan Elmon," Tolak Ivander ketika Elmon ingin memapah-nya.
" Kita harus cepat kembali ke tenda, aku rasa kalian sudah lelah dan lapar menunggu ku di sini. " Kata Ivander melemparkan senyumnya.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan, rasa sakit yang mendera kakinya semakin ia rasakan. Ivander sampai gemetar karena jatuh bangun sampai lima kali. Ia juga sempat terguling-guling di turunan curam. Membuat kakinya terbentur dan luka.Tanpa menghiraukan semak, rumput berdaun tajam di sepanjang perjalanan turun. Tenaga Ivander nyaris habis. Di tambah suasana malam yang sangat mencekam, seakan tidak perduli dengan apa yang di rasakan Ivander.
Mereka tiba di tenda semua orang sudah berkumpul menikmati makannya dan bernyanyi riang di sana. Delia, Vivian dan Lona memilih tidur. Mereka tidak menikmati malam terakhir di tenda. Wajah Ivander berkerut, Melihat pemandangan itu, membuat Ivander tersenyum miris. Ada hal yang membuat Ia kecewa, di saat ia mencemaskan seseorang dan berusaha mencarinya ternyata orang itu terlihat begitu bahagia bahkan sedikit pun tidak mencemaskannya. Joevanka bahkan bercengkrama berdua jauh dari antara teman teman yang lain . Joevanka bahkan tertawa lepas, ketika Samuel menyanyikan lagu untuknya.
" Kenapa hatiku sakit? " Batin Ivander merasakan hatinya seperti di cengkram oleh sebuah tangan yang besar
Ivander tersenyum getir, ada rasa sesak yang menghimpit dadanya dan tidak bisa ia sembunyikan.
Sepersekian detik, entah dorongan dari mana, rasa marah dan kecewa seakan menguasai dirinya. Ia menatap Joevanka dengan tatapan tajam dan geram. Matanya menyalang dan rahangnya mengencang. Ia mendekat sambil terus menyerang Joevanka dengan tatapan yang siap menghunus jantungnya. Ia berjalan dengan kaki masih sakit. Samuel sudah pergi meninggalkan Joevanka sendiri. Ia mengambil sesuatu untuk Joevanka.
Menyadari Ivander sudah kembali, Joevanka langsung bangkit dari duduknya, ia tersenyum singkat. Namun tiba tiba senyumnya hilang bersama dinginnya malam. Ia menyadari tatapan Ivander saat ini sedang menguncinya. Dengan tatapan nanar dan takut Joevanka hanya bisa mencengkeram bajunya.
" Ivander..." Kata Joevanka tergagap, saat ini seperti tidak melihat diri Ivander. Wajahnya berubah menjadi menakutkan.
" Kau tahu J O E V A N K A ! " Ivander menatap tajam, dan tersenyum miring. " Semenjak kau datang dan masuk keluargaku, kau hanya bisa menyusahkan keluarga Donisius saja.." Desis Ivander, ia berusaha menahan emosinya yang sedari tadi di tahannya.
DEG
Mendengar itu, bagaikan tamparan yang melekat tanpa rasa sakit. Joevanka diam membeku di tempatnya. Untuk menelan salivanya saja ia begitu susah. Lidahnya keluh bak dipatuk ular, ia terdiam seakan tidak percaya dengan apa di dengarnya.
" Kenapa, kau terkejut.. ? Ya tentu kau sangat terkejut, karena kau salah satu manusia yang tidak tahu diri. Setelah mommy ku pergi untuk merawatmu, kami sendiri merasa di abaikan. Ivannia kurang perhatian, dan sering menangis. Karena apa? Kerena kau ! Dan sampai sekarang pun kau selalu menyusahkan semua orang ." Ivander berusaha menahan emosinya, ia menekan semua perkataannya.
Mata Joevanka sudah mengkristal penuh dengan air mata bening yang masih terkumpul dan tidak terjatuh di pipinya.
"Caramu mencari perhatian membuatku muak."
__ADS_1
DEG DEG DEG
Jantungnya seakan terpompa lebih kencang, ia seperti tidak sanggup untuk berdiri. Joevanka tidak percaya dengan apa di dengarnya. Tubuhnya gemetar, bibirnya seakan tidak sanggup untuk berbicara.
"Oh tidak...kau memang sengaja untuk mencari perhatian semua orang dengan tampangmu yang murahan itu. Tapi yang jelas aku tidak suka dengan sikapmu." nada suara di dalam kalimat Ivander begitu kental bahkan sampai mengoyak hati Joevanka saat ini.
"Bahkan aku berharap tidak ingin bertemu denganmu dan bahkan melihatmu sedetikpun, aku tidak ingin." sengit Ivander menatap tajam Joevanka.
Air mata yang sedari tadi terkumpul tergelincir begitu saja membasahi pipinya. Ia mencengkram bajunya. kakinya lunglai seakan tidak mampu untuk memijak bumi lagi.
" Dan ini...." Ivander merampas kalung yang ada di lehernya Joevanka dengan paksa. " Jangan kau jadikan ini alasanmu untuk mencari perhatian semua orang! Apa kau sengaja menjatuhkannya? " Dengan penuh emosi Ivander membuang kalung itu tepat di kaki Joevanka.
" Apa yang kau lakukan Ivander? " Joevanka tidak sanggup mendengar semua perkataan Ivander, terlebih ia membuang kalung pemberian Mommynya. Suaranya gemetar menahan emosi yang sedari tadi ditahannya.
" Kenapa? Kau tidak terima? " Ivander menarik alisnya naik lebih tinggi lagi. Ia menatap Joevanka begitu tajam, bahkan ia menatapnya dengan tatapan permusuhan.
" Apa maksudmu Ivander? " Joevanka sedikit meninggikan suaranya.
" Aku muak denganmu Joevanka, Kau tidak bisa membaca pikiran orang dan bisanya hanya menyakiti perasaan..."
" Aku tidak mengerti apa maksudmu? "
" Aku memintamu pergi dari hadapanku, kau begitu menyusahkan dan aku benar-benar muak dengan semua ini..." sengit Ivander tidak memperdulikan perasaan Joevanka.
DEG DEG
Ia semakin tidak sanggup mendengar perkataan Ivander. Dengan kekuatan penuh, Joevanka mengayunkan tangannya dan menampar pipi Ivander dengan begitu keras.
" Kau brengsek ! "
Napasnya tersengal, menahan emosi yang membuncah di dadanya. Dengan napas yang memburu, tubuh Joevanka bergetar menahan isak tangisnya. Ia mengambil kalung yang di buang ivander dan langsung berlari meninggalkan Ivander yang terdiam terpaku di tempatnya.
Ivander menatap kepergian Joevanka. Bahkan bekas tamparan yang dirasakannya tidak sesakit hatinya. Ia memang sengaja melampiaskan perasaannya, rasa marah dan kekesalannya, ia tumpahkan semua tanpa tersisa. Hatinya begitu sakit, perasaannya seperti campur aduk tidak karuan, yang jelas Ivander sangat kecewa.
Rasa perih dan terluka, itulah yang dirasakan Ivander saat ini. Ia mengepalkan tangannya, menyadari semuanya, bahwa ia menyadari penuh telah menyakiti perasaan Joevanka.
" Dude, kau sudah kembali? " Tanya Samuel mendekati Ivander.
" Di mana Joevanka? " Samuel mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Joevanka.
Namun tidak ada sahutan. Ivander justru meninggalkan Samuel yang nampak kebingungan.
.
.
BERSAMBUNG
Ayo kalian tim yang mana? Joevanka atau Ivander?
Cerita cinta yang sebenarnya nya akan di mulai dari sekarang. Ada kejutan apa selanjutnya ????
Kisah ini masih panjang tapi tidak sepanjang kereta api ya π
Kasih dukungan terus buat author ya, biar semangat terus ππ₯°π
Hihihihihi π
Salam sehat buat my redears tersayang ππ
Tetap bahagia ya cintah π₯°
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
__ADS_1
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMUπ