
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Setelah kembali dari rapat, Ivander kembali memeriksa ulang pekerjaannya. Ia masih terlihat serius dengan berkas berkasnya. Mengevaluasi kinerja para pemimpin cabang. Memeriksa beberapa email yang masuk. Ia memicing dan berkonsentrasi pada dokumen yang dipegangnya. Ia bahkan terlalu tegang untuk mengalihkan perhatian dari pekerjaannya. Apalagi untuk melihat Joevanka yang sedari tadi gelisah, ia tidak mempunyai kesempatan. Pekerjaan yang menumpuk membuatnya seperti itu.
Ivander adalah tipe lelaki pekerja keras. Sehingga perusahaan Donisius berkembang dengan omset tertinggi dan di pandang terbaik di perusahaan luar.
Sementara di meja yang berbeda, Joevanka hanya menatap laptop-nya. Ia mengetik sesuatu untuk mengumpat pak direktur.
Joevanka kembali mengingat beberapa poin yang diberikan pak direktur kepadanya.
Jam makan siang harus tepat waktu pukul dua belas.
Tetap setia mendampingi direktur Kemanapun, baik itu perjalanan bisnis keluar kota.
Menyiapkan kebutuhan direktur dengan baik.
" Astaga...dia pikir aku ini siapa ya? Mommy-nya? Istrinya? bisa mendampinginya selama 24 jam? Apa aku tidak istirahat lagi? " Joevanka menatap Ivander dengan penuh amarah.
" Lihat saja, satu bulan aku akan menyerahkan surat pengunduran diriku. " Joevanka menggeram dan tersenyum sinis.
" Aku tidak akan bekerja di sini lagi. Aku akan pulang dan aku memilih menjadi pengangguran. "
Semakin Joevanka mengingat beberapa poin, Ia semakin kesal. Ditambah pak direktur tidak memberikannya pekerjaan.
Joevanka melirik jam yang ada di tangannya. Sudah menunjukkan pukul lima sore. Ia membuang napasnya dengan lesu. Kenapa jam di tangannya bergerak selambat siput sih? Apakah hanya jam di tangannya yang begitu lambat? Benar benar membosankan. Cuaca di luar terlihat gelap yang mulai turun bersama gerimis.
Seperti biasa, jika ia berada di Australia jika mereka lembur dan mengharuskan untuk bertahan karena pekerjaan yang tak kunjung rampung. Gavin akan membawa makanan untuk timnya. Mereka akan berkutat di depan komputer diiringi dengan tawa dan candaan untuk membuang rasa lelah.
Ahhhh.. Tiba tiba ia merindukan sosok pria itu.
Ia menggerutuk kesal. " Pekerjaan apa seperti ini? Bahkan pak direktur tidak memberikanku pekerjaan. " Joevanka memutar bola matanya. Satu hari saja bagai seribu tahun untuknya.
Lagi lagi Joevanka heran dengan sifat pak direktur.
" Apa pak direktur yang terlalu gila, atau aku yang memang tidak mengerti apa apa ya. Yang aku tahu sekretaris tidak pernah satu ruangan bersama direktur. Sekretaris berdekatan dengan pintu masuk ruangan pimpinan dimana para tamu, relasi, maupun karyawan sendiri yang ingin bertemu dengan pimpinan haruslah melapor atau ijin kepada sekretaris terlebih dahulu. Bukan seperti dirinya, dan sekarang yang berjaga di sana hanya pak Halbert saja. sementara aku? serasa seperti bodyguard nya, menungguinya bekerja seperti ini. Apa dia tidak memikirkan kekasihnya? Bagaimana jika kekasihnya datang, dan mereka bercumbu di ruangan ini? tidak, tidak, " Joevanka menggeleng, membayangkan saja ia tidak mau. Benar benar direktur aneh.
TOK TOK TOK
Halbert membuka pintu, ia membungkukkan badannya di depan pak direktur.
" Permisi pak, bisa bicara dengan sekretaris Joe sebentar. "
Ivander mengangkat wajahnya, ia mengalihkan pandangannya melihat Joevanka yang berdiri dengan semangat.
"Silakan...! " Kata Ivander dengan singkat dan kembali menatap laptopnya yang terbuka stand bye. Ia kembali serius memeriksa laporan dari London.
Halbert memberi gestur, agar Joevanka ikut dengannya. Dengan semangat, Joevanka keluar dari mejanya. " MERDEKA " teriak Joevanka dalam hati. Joevanka tersenyum bahagia, seakan baru lepas dari kandang singa. Ia menegakkan badannya dengan posisi tubuh yang seimbang, langkah kakinya terdengar nyaring, sampai Ivander mengangkat wajahnya dan menatap Joevanka sampai hilang di balik pintu. Ivander tersenyum, ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Halbert berdiri membelakangi Joevanka.
" Ada yang bisa saya bantu pak ? " Tanya Joevanka seperti mendapat angin segar berada di luar ruangan pak direktur.
Halbert langsung berbalik dan melihat Joevanka yang sedang tersenyum kepadanya.
" Kau mau, kita sampai pagi di sini? "
Awal kata yang di dengar Joevanka sampai membuatnya mengernyit heran, " Maksudnya apa pak? saya tidak mengerti. "
" Pak direktur akan bertahan sampai pagi, jika kau tidak mengambil alih pekerjaannya. "
" Astaga pak, saya sudah berulang kali menanyakan itu, bapak tau apa jawaban pak direktur? Tidak ada, silakan nikmati hari-harimu Vanka, kau cukup duduk saja, aku sudah senang." Kata Joevanka meniru ucapan pak direktur.
"Benarkah ? " Halbert menautkan kedua alisnya.
" Bapak tidak percaya, silakan tanya sendiri kepada beliau. Apa bapak pikir, aku tidak bosan seperti ini. Oh my God, lebih baik aku duduk di rumah pak, dari pada bekerja tidak jelas seperti ini. " Ucap Joevanka mengeluarkan keluh kesah nya.
" Oke, oke, saya mengerti, bapak direktur memang tampak berbeda sejak bertemu dengan kau Vanka. " Halbert menunjuk gestur berpikir dan sepersekian detik ia mengangguk paham.
" Berbeda apa pak? " Joevanka mengernyit bingung.
__ADS_1
" Sepertinya pak direktur menyukai anda ibu Joevanka. "
" Apa? menyukai saya? " Joevanka menunjuk hidungnya. Joevanka tertawa. " Bapak bisa saja ya, membuat perutku mual pak. "
" Saya bilang kan sepertinya, kenapa wajahmu bersemu merah? "
Joevanka memegang pipinya. " Bapak lucu juga." Joevanka kembali tertawa.
" Sekarang kita pikirkan pak, bagaimana pak direktur bisa lepas dari pekerjaannya? " Joevanka mulai tampak serius.
" Biasanya bapak direktur pagi dan sore selalu saya buatin kopi. Kopi bisa membuatnya terlihat santai Joe, Jika kau tidak melakukan itu, pak direktur tidak akan berhenti bekerja. "
" Apa hubungannya? "
" Saya juga tidak tahu apa hubungannya. Selama saya berkerja dengan beliau, ya memang kopi bisa menghentikan aktifitas nya."
" Hanya itu aja pak? " kata Joevanka.
" Selanjutnya, pikirankan sendiri, kau harus bisa mengalihkan perhatiannya. Kau bisa ajak makan atau ingatkan beliau, jika tidak baik memaksakan pekerjaan, pokoknya kamu berikan perhatian layaknya kamu sekretaris handalannya. "
" Harus seperti itu pak? " Joevanka sedikit terbelalak. " Ngajak pak direktur bicara saja aku tidak berminat. Huft..." ia menggerutuk dalam hati.
" Semua ini demi kita Joe, kau mau kita disini bekerja sampai tengah malam? "
" Bagaimana jika saya menghubungi kekasihnya? "
" Apa? kekasih? Pak direktur tidak ada waktu untuk berpacaran Joe, bahkan beliau tidak mau menghabiskan waktu seperti pemuda lain untuk bersenang-senang. Apalagi semenjak sahabat terbaiknya yang bernama Samuel pergi ke Austria, pak direktur menghabiskan waktunya untuk bekerja, bekerja, dan bekerja. "
" Samuel?" Joevanka mengerutkan keningnya.
"Nama itu seperti tidak asing." Joevanka memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit. Nama itu seakan berputar di dalam otaknya, ia berusaha mengingat nama itu. Siapa dia?
Potongan potongan ingatan itu kembali lagi. Seperti sebuah puzzle yang di susun dalam ingatannya.
" Samuel....Terima kasih ya, karena selalu memberikan perhatian kepadaku, Kamu orang yang sangat menyenangkan. Kamu lelaki yang sangat baik, dan selalu ada jika aku sedang bersedih. "
Joevanka meringis, ia memegang kepalanya yang terasa sakit.
" Jangan dipaksakan untuk mengingat kembali kenangan masa lalu mu nona, nanti itu memaksa syaraf anda lelah dan memacu kejang itu kembali. "
Perkataan dari dokter Luke, kembali ia ingat ketika melakukan pengobatan di Australia. Joevanka dengan cepat menarik napas kembali. Ritual yang di ajarkan dokter Luke kepadanya. Tenang kan pikiranmu. Tarik oksigen sebanyak banyaknya dari mulut dan hidung. Kumpulkan di paru paru lalu hembuskan napas sekaligus. Joevanka melakukannya berulang kali.
" Joe, apa kamu sudah paham? "
" Heeek...Apa pak, oh ia.. saya sudah mengerti pak, apa saya buatkan kopi sekarang pak? "
Halbret menyisihkan lengan kemeja yang ia gunakan untuk melihat jam, ia menggeleng serius.
" Sepertinya kopi tidak jawaban yang tepat untuk hari ini Joe, sekarang ajak pak direktur pulang. Ini sudah pukul 18.30 wib. "
" Benar juga, sekarang saya masuk pak. " Kata Joevanka.
" Semangat Joe, sekarang tugasmu mengurus pak direktur, saya serahkan sepenuhnya untukmu. Oke ! "
Joevanka mengangguk paham. " Satu bulan saja Joe, berikan waktu terbaikmu untuk dia. Setelah itu berikan surat pengunduran dirimu. " Kata Joevanka menyemangati dirinya.
TOK TOK TOK
Joevanka tidak menunggu sahutan dari dalam, Ia masuk ke dalam ruangan pak direktur.
Ia melihat pak direktur masih terlihat sibuk mengerjakan tugasnya. Benar kata pak Halbret, ia harus mematikan mesinnya agar ia berhenti melakukan pekerjaannya. Joevanka mendekat dan sekarang berdiri di hadapan pak direktur.
" Pak..."
Ivander mengangkat wajahnya, menyadari Joevanka sedang berdiri di hadapannya.
Ia menatap Joevanka dengan lekat seakan obat untuk menghusir lelahnya. Ia rela tidak memberikan tugas kepada wanita yang ia cintai ini. Melihatnya duduk di mejanya saja, Ivander sudah merasa sangat bahagia.
" Ada apa Vanka? " Ivander memberikan senyum terbaiknya. Ia mencondongkan tubuhnya dan berpangku siku di atas meja.
Joevanka tertegun melihat senyuman Ivander. Ia menelan salivanya. Mereka saling berpandangan, Joevanka berubah gugup.
Ivander masih menunggu, ia menaikkan alisnya dan tersenyum miring. " Apa yang ingin kau katakan Vanka ? " Ivander mengulangi pertanyaannya dengan lembut.
" Saya rasa sudah waktunya pulang pak. Ini sudah menunjukkan pukul tujuh. Sebaiknya anda pulang dan beristirahat, besok jadwal pekerjaan anda terlalu padat." Joevanka berbicara sedikit menunduk, ia takut mata mereka dipertemukan kembali.
" Karena kata kata itu dari kau, baiklah kita pulang Vanka. Besok kita lanjutkan kembali. " kata Ivander tersenyum singkat, ia menyimpan beberapa file di laptopnya.
__ADS_1
Joevanka terbelalak heran, " Kita? " Gumam joevanka dalam suara terendahnya. " Maaf pak, sepertinya pak Halbret bisa mengantar anda pulang. "
Ivander mengangkat wajahnya dengan cepat.
" Buat apa kita pulang bersama Halbret, bukankah kau ada Vanka. Kita masih tinggal bersama, jangan merepotkan pak Halbret. "
" Baik pak. " Kata Joevanka memaksakan bibirnya tersenyum. Lagi lagi dia harus pasrah, pasrah dan pasrah.
Ivander mengambil jas dan langsung mengenakannya.
" Kita pulang! " Ivander keluar dari kursinya dan berjalan menuju pintu. Halbret dengan cepat bangun dari duduknya. Ketika melihat pak direktur keluar.
" Selamat malam pak. "
" Kau bisa pulang Halbret. " Kata Ivander kembali berjalan.
" Semoga hari anda menyenangkan pak! " Halbret membungkukkan badan untuk memberi hormat.
Halbret mengerlingkan salah satu matanya kepada Joevanka, ia tersenyum sambil menunjukkan dua jari jempolnya. Bertanda misi mereka berhasil. Joevanka hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia kembali mengikuti langkah pak direktur. Keadaan kantor sudah sangat sepi.
Mereka tiba diparkiran. Dengan cepat Joevanka membuka pintu untuk Ivander. " Silahkan masuk pak! " Kata joevanka tersenyum seramah mungkin.
" Saya rasa lebih menyenangkan duduk didepan bersamamu Vanka. "
" Maaf pak.." Joevanka dengan cepat membuka pintu bagian depan. " Silahkan, pak! " Kata Joevanka kembali.
" Terima kasih Vanka, kau terlihat lebih cantik jika seperti ini. " Kata Ivander tersenyum menggoda.
" Anda terlalu memujiku pak. Terima kasih pak. " Joevanka menutup pintu. Ia hanya membuang napasnya dengan kasar.
" Aku dilahirkan mommy hanya untuk menjadi supir pak direktur. Astaga Vanka, nasibmu sungguh menyedihkan. " Ia berjalan langsung masuk ke dalam mobil untuk membawa direktur pulang.
DALAM PERJALANAN
Hening menyeruak di antara mereka. Joevanka melihat pak direktur sedang memejamkan matanya. Ia bersandar dengan nyaman di kursinya.
" Sepertinya dia lelah. " Joevanka berbicara dalam hati.
Joevanka fokus membawa mobil saja. Ponsel dari Joevanka berbunyi memecahkan keheningan mereka.
" Halo Gavin, maaf aku belum sempat ngasih kabar. Aku terlalu sibuk, setelah tiba disini."
"...."
Joevanka tertawa. " Kabarku? aku baik baik saja. Kabarmu bagaimana? "
"...."
" Syukurlah. Aku lagi diperjalanan pulang Gavin, nanti kita lanjut ya. Ada banyak yang ingin aku ceritakan. "
"...."
" Oke Gavin, Aku pasti jaga kesehatan. Jangan lupa makan yang teratur ya, bye...! "
Joevanka memutuskan panggilannya.
" Ada hubungan apa kau dengan Gavin? " Ivander bertanya, posisinya masih terpejam dan bersedekap, ia masih menyandarkan punggungnya di kursi.
" Apa pak? " Joevanka mengernyit serius. pertanyaan Ivander membuatnya bingung. Tidak mungkin seorang direktur ingin tahu masalah pribadi karyawannya kan?
" Aku tidak mau mengulangi pertanyaanku Vanka. " Ivander membuka matanya dan menatap tajam kepadanya.
Bersamaan itu mobil mereka tiba di depan apartemen. Joevanka mengerem mendadak. Tatapan mereka bertemu, Joevanka menelan salivanya dan berkedip cepat.
" Aku ingin kau menjawabnya Vanka. " kata Ivander dengan ekspresi tidak terbaca. Ia mengangkat setengah alisnya, menunggu jawaban Joevanka.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
__ADS_1
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMUπ