WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Mencintaimu dalam diam.


__ADS_3

πŸ’Œ Whisper of love πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Keesokan paginya matahari mulai bersinar terang dan sebagian cahaya hangatnya masuk melewati celah jendela yang tertutup gorden rumah sakit. Cuaca cerah terasa ke tubuh Joevanka yang tertidur di ranjang rumah sakit.


Joevanka perlahan-lahan membuka matanya. Ia menyesuaikan penglihatannya dan mengedarkan pandangannya, terlihat jelas bahwa ini adalah dinding rumah sakit. Joevanka melihat tangannya sudah tertancap jarum infus.


Ia memicingkan matanya melihat sosok Ivander tertidur di sofa yang ada di ruangan rumah sakit.


" Apakah Ivander menungguiku semalaman? " Batin Joevanka menatap Ivander tertidur dengan damai. Tiba tiba bibirnya menyunggingkan senyum. Ya Joevanka sedang tersenyum melihat sosok yang di cintainya berada satu ruangan dengannya. Joevanka menyadari dirinya sangat mencintai lelaki itu. Semua hal tentang Ivander, Joevanka sukai. Ivander adalah cinta pertamanya. Ia hanya bisa Melihatnya dalam diam, Joevanka sudah merasa bahagia.


Joevanka sampai melupakan kejadian tadi malam yang membuatnya hampir ingin mati karena ketakutan.


Joevanka menyentuh dadanya, begitu jelas debaran itu tercipta dari jantungnya. Ia menikmati debaran debaran itu sampai membuatnya tersenyum sendiri.


" Jika kau tau aku sangat mencintaimu, aku begitu bahagia Ivander, walau kau hanya menganggapku sebagai adik saja. " Joevanka sesaat menarik napasnya. " Cukup aku saja yang memiliki perasaan ini, tidak masalah buatku, aku tau kau hanya mencintai Delia. " Joevanka berbicara pada dirinya sendiri, raut wajahnya terlihat sedih .


Ivander mengerjapkan matanya, ia melihat Joevanka sudah bangun dari tidurnya. Ivander terbelalak. Ia teringat kata dokter yang mengatakan, bisa saja reaksi tubuh Joevanka kembali mengalami hipotermia lagi.


DEG DEG DEG


Tatapan mereka bertemu, mereka saling berpandangan sepersekian detik tubuh Joevanka seperti tersengat aliran listrik. Jantungnya terpompa lebih kencang, napasnya tidak karuan. Ia langsung mengalihkan pandangannya. Joevanka seperti maling yang ketahuan mencuri.


" Kau sudah bangun Joevanka? "


Ivander langsung bangun dari tidurnya, mendekati ranjang rumah sakit ingin melihat keadaan Joevanka.


" Apa yang kau rasakan saat ini? Apa kau kedinginan? atau merasakan hal yang lain? " Tanya Ivander mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening Joevanka. " Suhu tubuhmu sudah normal, tadi malam kau mengalami hipotermia. " kata Ivander tersenyum singkat lalu mengatur bantal Joevanka agar nyaman.

__ADS_1


Hembusan napas Ivander begitu terasa dekat wajahnya. Joevanka hampir tidak bisa bernapas. Ia menelan Salivanya dan berkedip cepat. Baru kali ini merasakan kedekatan ini, biasanya Ivander hanya jaga jarak dan diam dengan wajahnya kaku tanpa ekspresi. Ternyata Ivander memiliki sisi hangat dan perhatian. Tanpa sadar Joevanka menggigit bibir bawahnya. Joevanka dapat melihat jelas wajah Ivander begitu tampan, ia sangat mengakuinya. Hidungnya yang mancung, kulitnya tidak terlalu putih. Garis rahangnya terlihat tegas. Baginya Ivander sangat sempurna. Joevanka mengatur napasnya, merasakan detak jantungnya berdetak semakin kencang ketika Ivander mencondongkan tubuhnya mendekati Joevanka.


" Bagaimana perasaanmu sekarang Joevanka? " Tanya ivander, menaikkan alisnya dan menatap Joevanka yang dari tadi diam dalam lamunannya.


" A-aku baik baik saja." jawab Joevanka gugup dan mengalihkan pandangannya.


Ivander menggeser kursi dan duduk di dekat Joevanka. Ia menatap lekat lekat kepada gadis yang terbaring di ranjang rumah sakit itu.


" Aku ingin bertanya, tapi kau harus menjawabnya dengan jujur. " Kata Ivander menatap Joevanka dengan serius, ia duduk sambil menyilangkan tangannya bersedekap.


" Kau mau menanyakan apa ivander? " Tanya Joevanka menautkan kedua alisnya ia menatap ivander yang terlihat serius. Joevanka kembali merasakan debaran debaran halus yang tercipta dari jantungnya ketika tatapan Ivander menguncinya.


" Di kampus kemarin? apa ada suatu terjadi joevanka? Kenapa kau meninggalkan kampus dan tidak menungguku pulang? " Kata Ivander menatap Joevanka seolah mengintimidasi.


" Maksudnya apa? Aku tidak tahu apa maksud ucapanmu Ivander? " Ucap Joevanka seolah tidak mengerti apa yang di katakan Ivander. Tidak perlu Joevanka mau melapor apa yang telah di lakukan Delia kepadanya.


Ivander terlihat mendengus kasar , Ia menopang dagunya dengan tangan kanannya sambil mengangkat alisnya. Bagaimana mungkin Joevanka tidak tahu apa maksud perkataannya.


" Pak Alex bilang, kamu meninggalkan kampus dalam keadaan menangis. Aku ingin kamu jujur, apa ada seseorang yang mengganggumu? Apa dia pria? Agar aku bisa memberi perhitungan kepadanya. " kata Ivander tegas dengan tatapan serius.


Mendengar itu joevanka terdiam, memang sebelum ia keluar dari gerbang utama kampus, pak Alex memang menyapanya. Tapi ia tidak menyangka jika pak Alex Melihatnya menangis. Joevanka tetap bersikap tenang, ia menarik napas dan kembali menjawab pertanyaan ivander.


" Kau yakin? Jangan kau membuatku mengetahui sendiri apa yang terjadi joevanka, lebih baik kamu mengatakannya sekarang! " Ivander memicingkan matanya melihat Joevanka, dia masih berharap Joevanka jujur.


" Sungguh ivander! tidak ada yang terjadi! " jawab Joevanka mencoba untuk meyakinkan Ivander, namun Joevanka sudah mulai ragu dengan perkataannya.


Ivander menyenderkan tubuhnya di kursi sambil memegang dagunya. Ia kembali menatap Joevanka dengan tatapan serius.


" Jadi tidak ada yang terjadi? " ulang ivander menarik sisi bibirnya naik keatas, ia menatap Joevanka dengan ekspresi tidak terbaca.


Joevanka hanya mengangguk pelan. Ia meremas tangannya dan mulai gugup dengan ekspresi Ivander seakan mengintimidasi.


Ivander tersenyum kecewa, tidak ada kejujuran dari Joevanka. Ivander menarik napasnya dengan berat dan pandangannya menatap lurus ke arah jendela rumah sakit.


" Jadi dugaanku benar, kau sengaja keluar dari kampus? " Ivander kembali menoleh kepada Joevanka. " Sementara kau sendiri tidak tahu jalan pulang Joevanka? " Kata ivander dengan wajah dingin.

__ADS_1


Mendengar kata kata itu, Joevanka seakan mati kutu. Ekspresi wajahnya berubah. Ivander tersenyum kecut, menyadari perubahan wajah dari Joevanka yang terdiam tidak bisa menjawab. Ivander begitu yakin pasti terjadi sesuatu di kampus kemarin. Tapi Joevanka tidak jujur kepadanya. Hal yang paling ivander benci. Ivander membuang napasnya dengan kesal.


Ivander tetap menunggu menatap Joevanka agar jujur kepadanya.


" Apa kau sengaja melakukannya? Untuk mencari perhatian, agar semua orang khawatir mencarimu joevanka, begitukah yang kau inginkan? " Kata Ivander menyeringai tajam hingga menghasilkan sudut bibir Ivander terangkat singkat. Bagaimanapun Ivander tidak menyukai kebohongan. Apalagi itu menyangkut nyawa yang membahayakan joevanka.


Bak suara petir menyambar seakan berbunyi kencang di telinga joevanka, Wajah Joevanka menegang. Ia diam membeku di atas ranjang rumah sakit. Ia menutup mulutnya sambil meremas tangannya begitu kuat. Kata kata itu seakan menghujam jantungnya.


" Aku benar benar kecewa Joevanka, aku tidak menyangka kau sengaja melakukan semua ini, sampai membahayakan nyawamu sendiri. hanya untuk mencari perhatian mommy, yang tiap hari menanyakan kabarmu dan mencemaskanmu? Aku rasa masih banyak cari lain dan tidak harus seperti ini." kata ivander dengan nada ketus, tatapannya begitu dingin.


Mendengar itu, bagaikan tamparan yang melekat tanpa rasa sakit. Joevanka mengulum bibir, ia sampai menekan pada bibir atas dan bawah untuk menutupi rasa sedihnya. Perkataan itu sudah merobek hatinya. Ia tidak menyangka Ivander bisa menilainya sejauh itu. Ia tidak sanggup untuk membela diri. Hatinya begitu sakit seperti tengah di cengkram oleh sebuah tangan yang besar hingga membuatnya terasa sesak. Mata Joevanka sudah berkaca kaca. Bibirnya gemetar, Joevanka menghembuskan napasnya terbata bata.


" Aku harap ini kali terakhir, kau membuatku khawatir Joevanka. Aku berharap jangan sampai daddy dan mommy mengetahui hal ini. " Kata Ivander langsung bangkit dari duduknya. Ia mengepalkan tangannya keluar dari ruangan rumah sakit. Ivander kecewa, Joevanka tidak jujur kepadanya. Brian langsung bangkit ketika melihat Ivander keluar.


" Jangan lupa periksa hari ini Brian! " Kata Ivander melangkah menuju kantin rumah sakit. Ia sengaja meninggalkan Joevanka seorang diri. Untuk merenungi kesalahannya.


Sementara Joevanka menutup mulutnya, napasnya mulai tidak beraturan, hidungnya mulai terasa perih. Rangsangan untuk mengeluarkan air mata tak bisa ditolaknya. Air mata yang dari tadi di tahannya tumpah begitu saja.


Kata kata yang diucapkan Ivander kembali mengiang di telinga joevanka. Terasa sakit dan meninggalkan bekas luka yang menyayat hati.


Ia semakin menangis tersedu, ia memiringkan badannya. Air matanya terus berlinang membasahi bantal. Bahunya sampai bergetar memejamkan matanya, tatapannya lemah dan ia berucap.


" Aku tidak perduli jika kau menyakiti hatiku Ivander ! terserah kau mau menganggapku seperti apa. Bagiku tidak masalah, jika kau terus mengabaikanku. Kau tak perlu memandangku, aku tidak apa apa dan aku tidak akan Kecewa. Aku tahu cintamu bukan tercipta untukku. Aku rela melihat punggungmu dari kejauhan dan selalu mengucapkan didalam hatiku kalau aku mencintaimu, selalu mencintaimu. Aku akan selalu membisikkan cinta ini di setiap waktu dan menyebut namamu dalam doaku. " Kata joevanka sesenggukan, kembali air bening menetes di pipi joevanka.


.


.


BERSAMBUNG


.


.


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ

__ADS_1


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMU


__ADS_2